A BIRTH OF A JEDI

(A present for your birthday, a Jedi is human that becomes a real human)
By : Annisa Dewanti Putri (Your skywalker Mate)

20 Years ago, in a gallaxy far away, there lived a family that waits for a birth of a child. He was one of the super jedi with a superb power. His name is Awaniko. It was a mirror of one word that originated from a word of planet Napaj which means Big.

Awaniko Skywalker was once a best friend of Anakin skywalker. But, in the year of 4, they were seperated cause of the greedy Hutt the Jabba that made a horrifying rule. The rule was about not to be a part of  bestfriend if the two of them are Jedi. So, Awaniko left with  his family to planet Coruscant.

While Awaniko left, Anakin stayed at Planet Tatooine. Awaniko arrived in planet Coruscant in the year of 7th. Just like Anakin, He had not realize at that time that he was a jedi. Coruscant made him to be a great mechanic that is great in fixing or remaking an AT/ST, Cloud Car, Swoop Bike, Starship, podracer etc.

One day, his father saw a sketchbook full of sci fi vehicles which havent exist yet. “What kind of thing  have you designed in your skecthbook?” said his father. Awaniko just smiled and walked away hoping that he couldv make a vehicle or star ship that can work 10x of speed light. His purpose is to move in a unique planet that is far away from its gallaxy right know.

In the age of 18, Awaniko started to implement some of his design and some worked. That surprised the senator of Amdal. Senator Amdal gave him a reward and made the reward bigger if he invented a starship that can land to a unique planet with superb Civilization.

He worked hard, and in the year 19th he did it. The society were really proud of Awaniko, they then called him Awaniko, the big Skywalker. His mission to discover that planet starts. In the age of 19th, he take off using Majesty Jetstar City, the starship that he invented.

Awaniko and his crew began discovering the outer Gallaxy. They passed many challenges.  “Sacrifice and hardwork is a must in this ship and this life” said Awaniko to his crew.

Source: me
For one year they work hard, and finally, they found a blue green planet in that  Milky Way Gallaxy. They landed, and in the port, Awaniko met a person that is a like to him. She’s a human and a captain of that port too. At last, the civilization between the far gallaxy was traded and asimilated. Creating a new beautifull civilization whinch fullfills Awanikos hope.


And from that day, especially when Awaniko turned to be 20, he found out that he has the power of a jedi. He helped people between the two of that planet. And the jedis there were started to be called as a Hero. A hero that invented a Starship beyond the Gallaxy. Happy 20th birthday Awaniko, may Allah SWT be with you.

THE END

0 comments:

KETIKA TULISAN, SIMBOL, DAN RAMBU BERBICARA

Oleh : Annisa Dewanti Putri

Di suatu jalan yang mengarah lurus, seorang tukang pos terlihat menuju kota lain untuk mengantarkan paket kirimanya. Ia tak perlu banyak bertanya pada orang karena hanya membutuhkan satu hal, yaitu petunjuk jalan yang tersebar di sepanjang jalan.

Sumber Ilustrasi : Penulis 2013
Ia sampai berkat semua rambu-rambu petunjuk tersebut. Sebelum memasuki kota tersebut, ia disambut oleh Baliho-baliho raksasa dengan spanduk-spanduk megah seraya menyambut kedatangan seseorang di kota. Semua hal itu membuat tukang pos bersemangat menuju kota itu. Namun, ia tak membaca bahwa di bawah ucapan “Selamat Datang di Kota Kesenangan,” terselip kata “Kota yang membuat anda tidak keluar.”

Cerita tersebut hanya mewakili sebuah kisah pengalaman dengan tulisan seperti rambu-rambu, simbol, spanduk, billboard,  neonbox, dan lainya. Semua tulisan tersebut yang tertera di jalanan atau tempat umum selalu menjadi sebuah pengingat tanpa nyawa dalam setiap kegiatan manusia di suatu tempat.  Namun, ada tidaknya nyawa adalah bergantung setiap manusia yang berinteraksi denganya.

Tulisan yang tertera mewakili semua ocehan masayarakat yang taat terhadap suatu peraturan tertentu. Tulisan tersebut bukaan hanya berupa huruf, bisa juga simbol ataupun gambar yang mewakili tulisan. Pada dasarnya itu adalah objek pengingat yang dibuat bersama demi menjadikan segala kegiatan lebih teratur. Namun, manusia terkadang mencoba untuk mengabaikan tulisan yang berbicara tersebut. Mereka sadar bahwa tulisan tersebut hanya berbicara jika ada yang mengawasinya.

Di jalanan misalnya, ketika sang pengendara melihat simbol rambu merah dengan tanda minus (-) putih di tengah, tanpa diteriaki polisi ia sadar bahwa ia tidak akan melewati jalur itu karena rambu sudah berbicara bahwa jalan itu hanya untuk satu arah baliknya. Itu akan terjadi disaat rambu tersebut diawasi oleh banyak orang yang kemungkinan situasinya adalah di siang hari.

Sang pengendara sudah bisa mendengarkan rambu minus tersebut yang lebih dikenal dengan istilah Verboden. Verboden  pada dasarnya berasal dari kata belanda yang artinya adalah dilarang masuk. Simbol itu berusaha mengingatkan seraya berkata untuk tidak boleh melewati jalan tersebut.

Bayangkan jika situasi momen tersebut adalah malam hari dengan posisi di Jakarta yang mana saat itu tidak terlihat banyak orang di jalan. Sang pengendara kemungkinan besar akan mengabaikan rambu verboden tersebut dan menerobos jalan yang seharusnya tak boleh dilewatinya.

Kondisi berikutnya akan berbeda jika kondisi spasialnya yaitu di Tokyo. Meski malam sekalipun dan tak terlihat petugas/polisi, manusia disana akan dengan senang hati mendengarkan ocehan sang rambu verboden tersebut. Semua tulisan  begitu dihargai tanpa harus ada yang menyuruh untuk menghargainya. Kesadaran manusia yang mengerti bahwa rambu tersebut sebagai rambu larangan saja atau sebagai objek yang berbicara.

Rasa salut juga turut diberikan kepada kota Jogja. Kota yang mendapat predikat pertama sebagai Provinsi Beretika dalam Berlalu Lintas pada September 2013 lalu. Tak heran, banyak pengalaman yang bisa menceritakana begitu didengarnya tulisan di kota ini. Salah satunya ketika  saya diboncengi oleh seorang teman mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada, ia selalu memperhatikan tulisan rambu dan simbol di jalanan.

Saat itu lampu merah, tidak ada kendaraan lain yang hendak lewat. Saat itu jiwa ini masih terbayang oleh kenakalan melanggar lampu merah di Ibukota jadi saya mencoba menghasut dia untuk menyerobot. Namun tetap ia kukuh untuk mematuhi lampu merah itu meski tak ada kendaraan yang ditunggu lewat. Jiwa ini menjadi sadar bahwa kebiasaan tidak memperhatikan rambu/tulisan hendaknya dibuang jauh.

Melompat ke Daerah Administrative khusus Hongkong dimana jalan yang kecil dengan tempat kecil yang sungguh mendengarkan semua tulisan dan rambu. Disini, semua tulisan mewakili semua larangan yang bisa dilontarkan secara lisan. Semua rambu, simbol, tulisan bukan lagi berbicara mengingatkan sang manusia yang melewatinya, namun juga sudah beralih mengawasinya.

Kesadaran yang begitu besar hingga tidak perlu disebar sekelompok petugas kepolisian untuk mengawasi jalanya pembicaraan sang tulisan dengan manusia. Tulisan disini juga bukan saja hanya mengingatkan namun bisa menjadi sumber informasi jelas untuk masyarakat disana. Sesuai dengan fungsi tulisan sebagai media penyalur informasi. Petunjuk jalan menjadi jelas dan selalu menjawab kebingungan manusia yang terlihat bingung mencari arah. Tak hanya itu, semua tulisan memberikan semua informasi kegiatan yang membuat masyarakat disana tidak perlu banyak berbicara dan bertanya karena tipisnya informasi.

Fenomena seperti ini akan sering ditemukan di negara maju dengan peraturanya yang sungguh dipatuhi. Tentunya mereduksi komunikasi secara langsung antar manusia. Karena tulisan, rambu, dan simbol disini sudah mewakili tanya jawab yang bisa terjadi pada masyarakat sementara/turis dengan masyarakat setempat di daerah tertentu. Sementara semua rambu ini memang bisa memacu masyarakat untuk lebih individualis, karena mudahnya mendapatkan informasi dan larangan tanpa harus komunikasi dengan orang lain. Namun, hal itu tidak perlu dicemaskan.

Cukup tulisan, rambu dan simbol yang berbicara maka semua menjadi jelas dan terarah. Tinggal bagaimana manusia memaknai sebuah rambu, tulisan, dan simbol, apakah sebagai objek mati yang tidak bisa berbuat apa-apa? Atau sebagai objek yang selalu mengingatkan  dan memberikan informasi kepada manusia?

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch