The Fantasy World?


I was just thinking. If one day all the fantasy things in the movies could become real, How will we feel about it. I think we’ll just feel how it was as usuall. Maybe now it looks amazing, but can you imagine you’r in a postition that you will be used to it.

Fantasy world dream by www.artwallpaperhi.com 
The first thing will maybe spectacular, amazing and imagineble. But have you realize that the chararcters in the each movies just felt the same like the others. Yup, its just like what we could imagine and what usually happens in our life. My writting maybe cant define what’s the truth meaning of being real.

Im really sure that all of fantasy worlds such as Narnia, Hogwarts, Neverland, Fable world, The lost Kingdom etc will give an image of a challenging beautifull world with many conflicts and magics. But yes, we feel it as just an imagination that if we go inside it might be a quite good idea.

Used to.

You’ll get use too. All you get is that you’ll find that there arent any place better than our home (Earth). I kinda  laugh at myself because of writting this post. It’s useless but I think that if you understand what Im talking about which I meant these fantasy world, you might quite get what I mean before.

Here are some poems that may help you define what I think:

To feel What?

Magic are like ice, could make the water melt twice

Flying really helps instead of driving,

But dont you feel the world is afraid of Height.

Dungeons are terrifying, but people knows that crocodiles are thrilling.

And what will you love to meet more?

Princess and Prince are charming, but they just only have one.

The rainbow evolves to a candy with lots of fun,

but now the moon won’t turn into sun

They’re the fantasy not the real one.

Just to think of, but not to be done.

Jakarta, 20th of December 2014 



Dear readers, I love fantasy, they are on my imagination, but what I wanna say is that why sometimes it made us stuck in the middle of our imagination. Life is real, go play with your imagination, and enjoy then struggle in the real world.
Hope you enjoy.

4 comments:

Ancient Sketch (The ruins and the sacred Space)

Here are some of my sketches that I categorize as the ancient ones. The most important thing, before the architecture really forms the civilization of this world.

Ancient buildings that expose beautifull sense of architecture always gives a different taste of Wastu Citra  as Mangunwijaya said. The wastus which we are talking here are about the ancient architecture. A common theme running through many of the early structures that are built was made as some religious object. Stonehenge, Ziggurats, Giza, are some of the examples. And here I sketched some of what I think the precious ancient objects from some place.

Kaaba, The Most Sacred Space.


Caption:
It is not purely called as an ancient building even it is built befor century. But the most amazing thing that I see is this simple design that really unites us (moslems in the world). I never forget to say Subhanallah after seeing this Masjidil Haram in Mecca
. A building that has a power as the sacred point.

Blandongan Temple


Caption:
This ruins really describes what Ruins in Indonesia are commonly look like. Still in the site, the view that I got before sketching is a bit messy. But the beauty of this temple replace all the mess. This temple is  Located in Batu Jaya Site, Karawang. A place full of various myths that maybe helps to describe what this temple is. 


Persepolis, the Old Iran


Caption: 
A sketch of the ruins of persepolis. City of the persians. The pillars are the ones that stand stills and shows the true strenght of a column in the ancient Structures. This ruins Begin as a single palace, it grew into a vast complex of colossal, post and lintel palaces. The angle that I got is based on Sutherland Lyalls book of "World Architecture."

****

0 comments:

Bahasa Indonesia Vs Bahasa Daerah

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Jika ditanya soal Bahasa yang mayoritas dipakai seorang Warga Negara Indonesia, ia tak akan ragu untuk menjawab ‘Bahasa Indonesia.’ Beberapa hal terkait dampak yang dapat dianalisa mengenai Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah bisa terlihat.  Pertemukan segala macam suku dalam satu ruang yang sama, maka mereka semua akan memakai Bahasa Indonesia antara indivu. Dalam hal ini, Bahasa Indonesia sebagai  bahasa pemersatu antara semua bahasa daerah sehingga meningkatkan kesepahaman.

Ada beberapa kata dalam bahasa Indonesia seperti ‘sontek’  atau bahkan yang lebih rumit seperti ‘segregasi’ yang tak dapat ditemukan dalam bahasa daerah. Melihat hal itu   Kosakata dalam bahasa indonesia dapat melengkapi kosakata yang tidak terdapat dalam bahasa daerah, terutama kosakata yang berasal dari aktivitas global. Segala makna khusus sulit ditemukan dalam suatu bahasa daerah. Bahasa Indonesia akan lebih bersifat spesifik dan kosa katanya mengalami perkembangan seiring dengan berjalanya waktu dan bertambahnya teori di dunia.

sumber gambar: Google Image
Selain daripada dampak Positif yang bisa disebar oleh Bahasa Indonesia, pengaruh negatif juga bisa menjadikan Bahasa Indonesia sebagai pedang beracun bagi Bahasa Daerah. Salah satunya adalah berkurangnya penutur bahasa daerah yang berjumlah sekitar 756 bahasa. Berdasarkan majalah Tempo edisi 12 Maret 2012, terdapat 5 bahasa dengan penutur paling sedikit seperti bahasa Beilel (NTT), Mapia (Papua), Hukumina (Maluku), Tandia (Papua), dan Kayeli (Maluku). Penggunaan Bahasa Indonesia yang lebih sering dan umum menjadikan masyarakat daerah malas untuk mempelajari dan mengembangkan  Bahasa Daerahnya karena sebuah dominasi. Hal inilah yang menyebabkan kepunahan bahasa daerah karena jarang yang menguasainya.

Daerah urban yang lebih beragam dengan suku karena sebagai daerah pusat menjadikan penggunaan bahasa indonesia menjadi bahasa jembatan berbagai pihak, meski kota tersebut merupakan daerah teritorial suatu suku.  Dari hal seperti ini, Bahasa Indonesia dapat menimbulkan pergeseran bahasa, dimana bahasa daerah tidak lazim dipakai dalam daerah urban tertentu karena pluralnya suatu daerah urban. Sehingga bahasa yang jadi dominan digunakan oleh individu tertentu adalah bahasa nasional (Bahasa Indonesia).

Sekarang, jika beralih ke Bahasa Daerah pun memiliki dampak yang postitif dan negatif jika digunakan. Hal pertama yang bisa diberikan sebuah Bahasa Daerah dapat menambah dan melengkapi perbendaharaan/kosa kata dalam bahasa indonesia. Banyak istilah budaya yang bisa ditemukan dalam suatu suku. Salah satu contohnya  bisa dirasakan pada penamaan warisan budaya tertentu seperti moko atau bonang pada gamelan. Bahkan dalam suatu acara istilah sekaten mungkin tidak akan asing kedengaranya.

Dampak baik berikutnya pada penggunaan bahasa daerah yaitu sebagai pendukung dan pelengkap bahasa indonesia. Bahasa daerah bisa menjadi pengantar awal menuju bahasa Indonesia. Karena, secara tidak langsung beberapa bahasa daerah tidak jauh berbeda dengan bahasa indonesia. Tak lebih, kosa kata dalam Bahasa Indonesia banyak yang berasal dari Bahasa daerah itu sendiri. Maka tak jarang melihat KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) yang di dalamnya tertera beberapa kosa kata dari bahasa daerah itu sendiri.

Selain daripada pengaruh positif yang bisa ditimbulkan sebuah Bahasa Daerah, iapun tetap memiliki pengaruh buruknya juga. Salah satunya yaitu dapat menimbulkan gejala pemertahanan bahasa. Dimana bahasa lokal atau daerah tetaplah menjadi keseharian bahasa di daerah tertentu, sehingga masayarakat tidak memahami bahasa indonesia secara mendalam.

Sebuah ancaman berikutnya dari penggunaan Bahasa Daerah yaitu  dapat menimbulkan ambiguitas makna. Hal ini, mengingat banyaknya bahasa daerah dengan arti yang berbeda bisa memicu kesalahpahaman karena bunyi yang sama namun makna berbeda. Misalkan kata Mangga dalam bahasa indonesia adalah buah, sedangkan dalam bahasa sunda berarti silahkan. Tercampurnya istilah bahasa indonesia dengan bahasa daerah sehingga muncul kosa kata yang baru sesuai daerah asal atau logat penutur.

Segala macam dampak yang bisa diberikan pemakaian Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah memang menjadi sebuah tantangan. Tak heran, kedua bahasa ini merupakan hal penting untuk Negara Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, sementara Bahasa Daerah sebagai aset warisan budaya bangsa. Penggunaan keduanya sama-sama penting, tinggal bagaimana Warga Negara Indonesia dapat menempatkan kedua penggunaanya secara seimbang dan penuh guna, karena tak dapat dipungkiri bahasa me
miliki banyak makna.

Jakarta, 21 Oktober 2014
Postingan ini didedikasikan untuk KOMBUN, karena saya sedsng belajar menjadi blogger bermanfaat dan menginspirasi.
Istimewa Bulan Oktober: Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda


0 comments:

Tuan Rumah Di Negeri Sendiri (Esai Poros Mahasiswa)

Oleh: Annisa Dewanti Putri 



Sebelum di Edit:

Tahun 2014 sebagai tahun pergantian pemerintahan  dengan kursi Presiden beserta kabinetnya yang baru. Kejadian ini bertepatan dengan setahun sebelum Indonesia masuk ke dunia AEC (Asean Economic Community) 2015.  Bagi rakyat, negara ini menjadi teramat tertantang dengan Masyarakat Ekonomi Asean sebagai wadah persaingan global yang lebih luas.

Pemerintah tak akan lepas dalam tanggung jawabnya pada perhelatan liberalisasi perdagangan dalam AEC 2015. Persiapan dalam waktu kurang dari setengah tahun lagi akan menjadi tantangan yang besar. Hal tersebut mengingat negara ini akan menghadapi aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih (Skilled Labor).

Pemerintah perlu menitikberatkan peran manusia Indonesia (Warga Negara Indonesia) sebagai baterai kemajuan Negara, mengingat persaingan ini tak akan berhasil tanpa Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten dan berintegritas.  Baiknya peringkat Indonesia dalam Global Competitiveness Index Asian Economies meningkat dari peringkat 50 pada tahun 2013, kemudian peringkat 37 pada tahun 2014. Peningkatan yang cukup drastis, namun akan menjadi tantangan yang besar bagi pemerintahan baru mengingat tahun depan sebagai tahun AEC mulai terjadi.

Semua pertanyaan tersebut akan menjadi tantangan bagi pemerintahan baru, Bagaimana SDM dapat diangkat kualitasnya dibarengi dengan kuantitasnya yang tak kalah banyak. Begitupula mengangkat perihal Bagaimana agar semua jerih payah dari para SDM Indonesia sendiri dapat dinikmati oleh rakyat secara langsung tanpa dikuasai oleh Negara Asing tersendiri.

Sebagai negara kepulauan, SDM yang berkualitas perlu tersebar secara merata sehingga kemajuan tak hanya dirasakan daerah urban namun juga daerah rural. SDM tak lebih merupakan kunci dari pemecahan masalah dalam setiap tantangan yang dihadapi pemerintah bersama rakyatnya. Tak dapat dipungkiri bahwa keduanya merupakan bagian daripada SDM itu sendiri.

Pemerintah perlu menjadikan SDM dalam hal ini Manusia Indonesia beralih menjadi manusia yang mandiri tanpa banyak bergantung pada pasokan asing dan mengurangi perilaku konsumtif tetapi produktif. Mochtar Lobis dalam Manusia Indonesia (sebuah Pertanggungjawaban) juga telah menyinggung beberapa hal terkait perilaku negatif yang cenderung dimiliki Indonesia, salah satunya adalah tidak hemat dan cenderung boros. Hal ini akan mengarah kepada perilaku yang jauh dari kata produktif. Peluang seperti ini menciptakan kesempatan  bagi asing untuk lebih menguasai manusia

Indonesia dibandingkan dengan manusia Indonesianya yang menguasai dirinya.
Manusia Indonesia haruslah menjadi tuan rumah dalam negaranya sendiri, bahkan jikalau bisa menjadi saudagar di negara lainya. Pemerintah memegang peranan penting dalam membawa SDM  menghadapi persaingan global terkhusus AEC 2015 yang tak terasa akan berlangsung kurang dari setahun duduknya pemerintahan baru. Harapannya pemerintah bisa menjadi bos besar bersama rakyatnya sendiri tanpa perlu menjadi pion catur yang digerakkan oleh negara asing. Manusia Indonesia yang menjadi pemenang dan pemain dalam papan caturnya sendiri.

Jakarta, 20 Oktober 2014
Dimuat dalam Koran SINDO rubrik Poros Mahasiswa, dengan Tema Tantangan Pemerintahan Baru
(24/10/14)

0 comments:

Cahaya diantara Harapan dan Hasrat

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Tiga tahun sudah tubuh ini menjadi pengelana dalam ruang G305 (Lembaga Kajian Mahasiswa, Universitas Negeri Jakarta). Di tahun pertama aku mendapatkan pelangi pertamaku bersama Eros. Ialah sebuah nama angkatan 2011 yang berarti hasrat. Mungkin, sebagian dari teman-teman saat ini baru mengetahui makna dari nama itu. Ya, hasrat yang kami yakini akan terus ada dalam pembelajaran, hasrat untuk terus berkarya, dan bahkan hasrat untuk terus menjaga persahabatan.

Aku tak akan banyak membahas mengenai Eros dalam tulisan ini, karena dari seluruh tulisan yang ada sebelum-sebelumnya, Eros selalu ada sebagai tokoh utama dalam tulisanku. Eros telah menghiasi berbagai tulisanku hingga memberikan warna disetiap perjalanan di markas kecil ini. Eros kumaknai tak hanya sebagai hasrat, namun juga sebagai Pelangi.

Makna yang berbeda dari nama setiap angkatan teratas dahulu yang sempat mengalami proses bersama kami, merekalah sang kakak baik bernama Dreamworker, Brain, dan Plato. Dan sampai sekarang, meski mereka tak berada pada ruang yang sama dan beberapa telah berkelana menuju ruang lain, makna akan keberadaan mereka tetaplah membekas disini (Sambil menunjuk Hati).

Tepatnya dua tahun lalu, ada satu harapan lahir dari ruang G305. Harapan itu seakan akan memberikan semangat, bahwa mimpi selalu berlaku bagi mereka. Seperti berkata, “Percayalah, harapan itu selalu ada,  Hope, itulah kami,” seru hati kecil angkatan 2012 yang baru lahir itu. Aku selalu percaya dengan mereka, meski terkadang si sisi jahat (baca: Hopeless) menggerogoti jiwa.

Namun, setidaknya mereka tetap memiliki Harapan dalam persahabatan,  dan terasa begitu indah membaca tulisan secercah harapan yang mereka buat. Permainan kata dalam Harapan itu begitu mengalir.

Setidaknya aku telah memaknai harapan sebagai sesuatu yang berbisik “lanjutkanlah, masih ada harapan” meski di samping dunia berkata “tidak bisa.” Hope adalah sebuah Harapan dan kekuatan, setidaknya menurut kata dan ruang mungil G305. Teruntuk Izza, Gustaf, Yanu, Shinta, Hartadi, Bayu, Upil, Yeti, Ester, Heni, dan Terong, Kalian adalah Harapan bagi ruang G305. Tetaplah jaga harapan itu hingga harapan memang tak pernah ada di dunia ini.

Lalumiere. Tepatnya nama sulit ini mucul setahun yang lalu dan membuat lidah orang sedikit terpleset saat harus mengucapkanya. Lebih baik menyingkat dengan menyebutnya Nur atau mungkin Lumer. Namun, Lalumiere tetaplah Lalumiere, cahaya tetaplah cahaya yang menerangi setiap sudut kegelapan dalam muka bumi.

Setidaknya aku selalu memaknai Cahaya sebagai sesuatu yang dasyat dalam ilmu fisika. Ia adalah objek tercepat dengan kecepatan rata-rata 300.000 km/s di udara.  Dan janganlah meremehkan makna dari cahaya sekalipun itu Lalumiere, karena ia adalah penerang di setiap sisi markas kecil G305.

Kepada Lisda, Silvia, Ayu, Hamdan, Qiqi, David, Aflah, Ika, Lala, duo Dina, Fajri Linda, Lina, Afiful, Julia, Aprilia, kalian adalah cahaya dalam ruang G305. Pertanyaannya tinggalah, “Apakah kalian ingin menjadi cahaya yang bersinar, cahaya yang redup, atau cahaya yang mati dalam ruang itu? Semua jawaban ada pada diri kalian, para agen Cahaya.

Eros, Hope, dan Lalumiere, kita berada bersama untuk memberikan Cahaya diantara Harapan dan Hasrat. Begitulah setidaknya ruang G305 memaknai kalian, tak hanya sekedar kata, namun sebagai kalimat yang jika disatukan memberikan makna yang begitu luar biasa.

Jakarta, 18 September 2014
**Tulisan refleksi untuk acara Heart2Heart LKM UNJ 2014/2015, dengan tema “All about LKM” 

0 comments:

Yang tak Pernah Menunggu (Puisi)

sumber: thedatingpapers.com


Aku bukanlah orang yang senang Berpuisi,
namun, saat ini kata-kata seolah ingin keluar layaknya sebuah puisi,
meski ini bukanlah puisi yang seharusnya
Dan perlu diingat, puisi ini tak menggambarkan segala hal yang sedang kupikirkan
ialah hanya sebuah permainan kata
..
Yang Tak Pernah Menunggu

Senja tak pernah menunggu sore,
Begitu juga Bahagia,
ia tak pernah menjadikan sedih menghalanginya,
Malam tak pernah menunggu pagi,
Hingga kekalahan tak pernah menunggu kemenangan.
Begitupula kesalahan, ia tak pernah menunggu kebenaran menyalahinya
Semua hanya paradoks, dimana objek menjadi aneh.

Namun, tak semuanya tak menunggu.
Jawaban selalu menunggu pertanyaan,
Kertas selalu setia  menunggu Pensil,
Menjadi terisi melengkapi yang tak perlu dilengkapi.
 Semua seolah saling menunggu,

Bagaimana dengan huruf, 
apakah huruf selalu menunggunya?
Sempurna selalu mempertanyakan ketidaksempurnaan
Namun, ketidaksempurnaan tak pernah menunggu kesempurnaan.

Tak pernah menunggu, 
Dan  menunggu yang tak pernah.

Jakarta, 13 September 2014



4 comments:

Menjulangnya Kemerdekaan (Arsitektur)

Oleh: Annisa Dewanti Putri
Gambar Sketsa Jakarta, Sumber : Penulis 2014
Saat itu, nampak beberapa bangunan mulai membenahi diri dan menambah ketinggianya. Tak lain, selain roda pemerintahan,  rakyat Indonesia mulai merasakan Euforia kemerdekaan. Tepat tanggal 17 Agustus suara Ir. Soekarno mengalahkan ketinggian semua ujung bangunan di sekitarnya. Membuahkan semangat membara dalam menghidupkan kembali semangat kemandirian.

Manusia mencoba berlomba dalam segala bidang. Terutama yang paling nampak dalam  horison adalah menjulangnya dan semakin munculnya skyscraper terkhusus di Ibukota Jakarta. Tentunya, Founding Father negara ini tak akan mau kalah dengan  Firauan Cheops yang berusaha membangun Piramid tertingginya di Istana Mesir. Bung Karno berusaha membangkitkan semangat merdekanya Indonesia dari berbagai bangunan yang ia tanami.

Dalam buku "Zaman Baru Generasi Modernis" telah dikisahkan beberapa pandangan Bung Karno terkait pembangunan yang ia canangkan demi memberikan kekuatan Modern dan sebagai simbol kemajuan. Terutama dalam bidang Arsitektur yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi peradaban selain daripada bahasa. Dalam hal ini, membangun berarti pula mengatur ruang yang menjadi saksi dalam sebuah peradaban.

Kembali kepada Bung Karno yang berusaha memerdekakan tak hanya secara tubuh namun juga secara jiwa rakyat Indonesia. Di Ibukota sebagai pusat pertama dikumandangkanya kemerdaan, ia kembali menuangkanya pada Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Beliau yang merupakan seorang tokoh anti-Kolonialisme & anti-Imperialisme berusaha membangkitkan gelora kemerdekaan Indonesia di tahun 1962 melalui GBK tersebut.

Lebih-lebih setahun sebelumnya, tepat pada titik Zero Point kota Jakarta dan Lapangan Merdeka, disana mulai menjulang sebuah simbol arsitektur kemerdekaan. Ialah yang disebut Monas atau Monumen Nasional dengan arsiteknya Friedrich Silaban dan Soedarsono. Sebuah Monere yang bukan hanya sekedar tempat mengenang tapi ialah sebagai pengingat untuk manusia di tahun berikutnya, terutama saat kemerdekaan.

Istiqlal pun tak akan kalah sebagai salah satu masjid terbesar se-Asia Tenggara. Dengan gaya arsitekturnya memberikan semangat ruang yang luas dan besar simbol kekuatan kemerdekaan Indonesia dan semangat realigi  yang tinggi. Semua semakin jelas ketika semakin bertambahanya bangunan berikut yang ikut meramaikan Ibukota negara.

Di abad ini, tepatnya setelah 69 tahun kemerdekaan Indonesia, semakin banyak muncul skyscraper dan segala rupa macam arsitektur dengan gayanya masing-masing. Namun, semua itu kebanyakan lebih berorientasi pada paham Kapitalisme belaka. Modal seolah berbicara membawa bangsa ini menjulang tinggi.

Meskipun begitu, Arsitektur kemerdekaan seharusnya dapat menjadi sebuah saksi biksu kemerdekaan Indonesia dari tahun ke tahun dan dapat menjadi tameng untuk sebuah tujuan murni memajukan bangsa bertubuh kecil, namun berjiwa besar ini. Ruang yang besar, disitulah kemerdekaan seharusnya tinggal.

Jakarta, 27 Agustus 2014
Generasi Muda Bicara Kemerdekaan Indonesia

4 comments:

500 days of Summer dan Google Sketchup?

500 Days of Summer. Sebuah film drama komedi yang bernuansa cinta. Mungkin tak akan terasa keterkaitanya ketika melihat judul postingan terkait Google Sketchup dan 500daysOf Summer sebuah film Love Bird tersebut. Bagaimana tidak, Sketchup adalah program keluaran google semacam Autocad, 3dmax, Archicad, dan program desain ruang lainya. Sementara, 500DoS adalah sebuah film romansa.

tumblr.500daysofsummer
Mengapa saya mengaitkanya dengan 500 days of Summer. Jadi seperti ini, ada seorang tokoh bernama Tom Hanson yang bisa dibilang arsitektur gagal yang bekerja di sebuah perusahaan kartu ucapan. Namun, meski ia terlihat gagal dan terpuruk ditambah akibat dari skenario cinta nya dengan Summer yang dilematis, ia tetap memeluk ketertarikanya menyeketsa sebuah kota sebagai hobinya.

Dilematis cinta yang ia rasakan bersama Summer (Gadis cintanya) nampaknya tak sejalan dengan definisi cinta yang Summer artikan. Artinya begitu Kompleks. Namun, saya tak akan membahas jauh mengenai review 500dos ini. Karena, inti dari tulisan ini akan lebih menitikberatkan kepada trial permulaan saya untuk software Google Sketch Up.

Sketchup Logo


Kota. Arsitektur. Bangunan. Konstruksi. Lanskap.
Apapun yang terlintas terkait Ruang. Itulah yang mendorong diri ini mencoba mendownload Sketchup. Mungkin bagi manusia yang pernah belajar dan mencoba Autocad, 3dmax, Archicad, dll tak akan asing dengan software serupanya yaitu Sketchup. Serupa namun tak sama.

Sketchup dapat di download secara gratis melalui google. Jadi jangan khawatir. Memori yang dihabiskan juga tak terlalu besar yaitu sekitar 80 MB. Mungkin karena kesederhanaan fitur nya, juga beberapa tambahan yang sisanya harus di download melalui Google.

Okey, langsung saya tampakan, dibawah adalah kali pertama saya mencoba mengotak atik Google SKetchup. Terlihat begitu berantakan dan terlihat amatur sekali. Maklum, saya bukanlah seorang yang ahli, hanya hobi mencoba saja.
First Trial from me
Saya sempat kaget membuka beberapa perintah dan toolbar yang terlihat lebih sedikit dan sederhana. Berbeda dengan Autocad yang lebih banyak dan mungkin membutuhkan tutorial dan latihan sebelum benar-benar terjun ke 3D (Tiga Dimensi). Saya pun masih banyak asing dengan perintah dan ikon dalam Autocad atau program lain serupa. Di sketchup perintah begitu sederhana jadi tinggalah kita memilih ikon yang sekiranya ingin kita coba. Misal ikon dasarnya adalah Garis, kotak, lingkaran, menaikan, mewarnai (Bucket).

Pada intinya dengan mencoba-coba semua ikon maka akan semakin mudah menampakkan funsginya, ukuran detail pun akan lebih sederhana. Terlihat di sisi kanan bawah dari jendela kerja.

Setelah melihat-lihat beberapa tutorial di Youtube, saya mencoba  kembali bermain dengan software tersebut. Lama-kelamaan Sketchup terasa seperti The Sims namun lebih akurat dan pengukuran bisa di atur. Tak bisa di samakan dengan autocad yang sangat akurat, kompleks dan lebih detail. Kelemahan dari Software  ini adalah penggunaan yang secara universal saja dan lebih cocok untuk tampak estesis.

Berikut adalah Trial kedua yang saya coba mainkan. Tak nampak rapih dan proporsianal melihat sebenarnya ukuran pintu tidak sesuai dan dibawah tinggi karakter jika diperhatikan. Artinya disini saya hanya mencoba tanpa mempertimbangkan ukuran. Hanya mencoba karena terasa asik tidak ribet.
Second Trial from Me
Hal menarik yang dapat saya tangkap adalah untuk sekedar estetika dalam bangunan vertikal sangat asyik menggunakan SKetchup. Tekstur, warna dan Komponen tambahan (karakter, mobil dll) dapat dengan mudah dimasukkan dan didownload sesuai keinginan jikalau tersedia.

Tom Hanson dan Summer di downtoan LA
Kembali lagi ke kisah 500 days of Summer, salah satu video fast mode dari youtube berusaha membuat sebuah tata kota layaknya yang Tom Hanson gambarkan di daerah Urban Los Angeles. Terutama saat duduk di bangku Downtown LA. Kota begitu nyata dan telah menyemangati saya untuk mempelajari software ini.

Sungguh segala hal bisa dijadikan pembelajaran untuk seorang manusia kecil ini yang hidup di ruang yang begitu luas dengan waktu yang tak terkira.

********

Untuk mendownload Google SKetch Up, silahkan klik link  GOOGLE SKETCHUP
atau dapat juga di cari di alamat lain yang banyak tersedia bermacam versi.
Selamat mencoba

6 comments:

Urban Sketch (The road, City of Hoax, and Necropolis)

This is what I do when I get Bored or inspired by some kind of Horizontal View of City.
This small sketch book and an ordinary mechanic pencil will always be my friend as long as it works.

Sketch 1
Caption of Sketch 1:
I name it "Road to life from Life"
The first one that I sketched in my Sketch book. Unfinished yet.

sketch 2
Caption of Sketch 2:
I shot this when I went to Hongkong. Another sketch about urban, that book (rumah kota kita) from Marco k wijaya,inspired me to sketch about this "city of Hoax" where it invites us but it'll trap us.

urban Sketch 3
Caption of Sketch 3:
Back again with my little sketch book & pencil. I hope what Lewis Mumford said could be wrong. "Will a megaloplis city turn to be a necropolis? " Just wait.

These are some of my sketches that you can enjoy. Not good enough, but maybe it represents on what I think at that time.
For more sketches, you can sneek a peek >> Instagram .. http://instagram.com/adp_skywalker

0 comments:

MALAM UNTUK GAZA (PALESTINA)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

A Blinding, Flash of white light,
Lit up the sky over Gaza Tonight
...
...
We will not Go down in the night without a fight
......
We will not go down in Gaza Tonight

(Sebuah potongan lirik lagu karya Michael Heart)

Lagu itu selalu terlintas di pikiran ini sejak dahulu aku duduk di bangku kelas X SMA (sekolah Menengah Atas). Aku selalu mengingat potongan lirik-lirik menyentuh itu saat mendengar berita terkait pertumpahan darah atau Genosida yang terjadi.

Saat itu perbincangan soal jalur Gaza yang gencar di serang oleh zionis Israel mulai kukenali. Berawal dari kaset VCD mungil yang di bawa ayahku dari kantor. VCD itu nampak biasa saja hingga suatu saat aku penasaran melihat isinya.

Aku mencoba menyaksikanya hingga kaget melihat berbagai pertumpahan darah yang terjadi tak jauh berbeda dengan film Perang Amerika berjudul Saving Private Ryan yang adeganya benar-benar menunjukkan kondisi ketakutan perang yang sesungguhnya. Hanya saja yang membedakan kaset VCD dengan cover Palestina itu adalah pemeranya yang lebih banyak dihiasi oleh anak-anak dan aksi yang benar-benar dilakukan secara nyata.

Tak ada aktor dalam film itu, semua yang tertembak atau terluka benar-benar bersimbah darah sungguhan. Saat itu, pertama kali air mataku menetes untuk negara lain yang belum terlalu kukenali. Disanalah letak Masjid dunia kedua setelah Masjidil Haram. Ialah Masjidil Aqsha yang mereka coba lindungi.

sumber Gambar: www.globalresearch.ca
Hanya saja semua ini bukan saja persoalan politik, suku, atau agama. Dimana letak kemanusiaan saat ini? Darah seakan-akan adalah sirup merah yang jika tumpah masih bisa dibuat lagi. Darah seakan bukan hal yang mengerikan lagi. Darah seolah tidak dibuthkan untuk sesama manusia, darah seolah hanya dibutuhkan untuk penghias pada AK-47 atau Sniper mereka.

Perlawanan mereka tidak adil. Selalu kubandingkan secara jauh ketika memainkan Battlefield atau Conflict Global Storm. Tim Bravo selalu berhadapan dengan tentara selevel dengan persenjataan yang sama lengkapnya.Terlihat adil, hanya tinggal strategilah yang menentukan kemenangan. Di Gaza & Palestina, tak pernah terbayang seorang atau sekelompok tentara menyerang seorang anak kecil yang hanya bersenjatakan ketapel kayu. Tapi hal itu terjadi dan selalu menghiasi berbagai gambar yang ada.

Hingga aku teringat kisah percakapan dari  VCD tersebut dimana seorang bercerita mengenai anaknya yang selalu menantang sebuah tank yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Dan saat ini ia telah tiada. Itu baru sebuah kisah dari beribu kisah serupa yang terjadi disana.

Teruntuk Gaza-Palestina, manusia dengan senjata Ketapel yang berani menantang sebuah tank.
Tiada kisah terbesar meski mereka jauh lebih sebentar merasakan kehidupan di dunia, lontaran ketapel mereka jauh lebih besar dari kisah kita. Namun, jauh lebih besar Doa yang bisa  dilantunkan. Doa yang merupakan peluru penolong & tak pernah disangka seranganya.


Duren Sawit, 9 Juli 2014

0 comments:

Saat Pertama Tulisan Terbit Koran SINDO

Pagi itu langit nampak seperti biasa. Lucu ketika pikiranku juga masih mengambang memikirkan diskusi malam mengenai peristiwa MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari). Pikiranku masih mengabur hingga selesai aku membaca doa bangun tidur, pesan di Handphone terlihat ramai memberi ucapan selamat akan tulisanku yang terbit di koran nasional SINDO (Sinar Indonesia). Terimakasih untuk kawan-kawan LKMers yang selalu memotivasi dan mengingatkan.

Tak percaya hingga aku membeli langsung koran itu dan melihat wajahku yang kurang apik terpapampang di rubrik POROS MAHASISWA. Alhamdulillah, kali pertama dalam sekali mecoba tulisanku bisa masuk. Berikut dibawah, adalah tulisan yang di publikasi. Ada beberapa perbedaan dengan naskah asli saya yang mungkin memang perlu di revisi oleh editor. Terimakasih sebelumnya untuk koran SINDO edisi Sabtu, 21 Juni 2014 yang telah menerbitkan tulisan saya dengan judul "Kampanye Negatif Berujung Golput"


Berikut naskah asli saya sebelum di edit:

KAMPANYE BERUJUNG GOLPUT

Isu Black Campaign atau kampanye hitam saat ini menjadi sebuah fenomena antar dua kubu persaingan.  Seolah cara itu bisa menjadi penjatuh bagi pihak oposisi dan pendukung beralih ke pihaknya. Semua cara itu tak hanya dilakukan melalui dunia nyata menggunakan poster dan spanduk sindiran berikut fakta buruk sang Calon, semua itu juga terjadi di dunia maya.

Semua menjadi panas saat social media ikut mengambil peran sebagai medium perantara. Suatu berita terunggah cepat ketika tombol klik di hentakkan dan link  melesat kilat bak kecepatan cahaya ke berbagai belahan dunia.

Manusia yang disebut sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) tak hanya yang menetap di Indonesia, mereka yang merantau jauh dari ruang ini pun memiliki hak memilih yang sama. Namun, mampukah mereka menentukan tanpa melihat banyak spanduk/pamflet/poster bertebaran di jalan. Ya, bisa saja melakukan streaming dan menonton berbagai media Televisi yang berisi mengenai pencitraan para calon.
Dunia maya menjadi peranan yang teramat penting mengingat persoalan jarak dan waktu saat ini. Terlebih Social Media yang banyak mencetak link berisi artikel mengenai kejelekan dari suatu Calon. Seolah berita-berita kejelekan kubu lawan tersebut menjadi cara agar bisa menarik pemilih di kubunya. Padahal, hal tersebut bisa menimbulkan suatu kebingungan besar bagi individu.

Seolah semakin tersebar berita dan artikel buruk terhadap setiap calon, maka semakin terlihat bahwa semua calon tak layak menduduki bangku kenegaraan merah putih. Manusia berusaha memilih calon dengan track record yang paling baik. Tapi berbeda jikalau semua saling mengadu kubu dengan berita-berita buruk kubu lawanya, menjadikan kampanye hitam justru mengarahkan rakyat untuk malas memilih keduanya.
Golput atau golongan putih menjadi hal yang ingin dihindari, tapi berkat berita hitam yang tak jelas kebenaranya ini tersebar, kemuningkinan Golput dapat terjadi. Sebagian orang menjadi bingung dengan kubu yang harus dipilih. Mau tak mau, Golput menjadi slousi.

Perubahan sikap (Attitude Change) yang menurut Carl Hovland dalam Communication and Persuasion bisa saja terjadi karena media. Perubahan opini dalam memihak kubu nomor satu bisa saja berubah menjad nomor 2, atau sebaliknya. Bertindak untuk tak memilih membuahkan kemungkinan juga karena terlalu banyak berita buruk yang mencemari kedua kubu. Keduanya seakan tak patut duduk di kursi negara.

Kampanye hitam yang berujung Golput patut menjadi renungan mengingat jumlah Golongan putih yang dari tahun ke tahun meningkat. Lembaga Survei Indonesia (LSI) memperkirakan kenaikan Linear Golput Pemilihan Presiden 2014 bisa mencapai lima puluh persen. Angka ini bisa saja menjadi terbukti atau malah melebihi perkiraan. Manusia Indonesia tinggal menentukan sebagai pemilih atau Golongan Putih, barulah bisa menjawab. 



**Tips-tips Tulisan dipublikasi:

-Menulis OPINI atau esai terkait dengan tema yang sedang diangkat oleh rubrik POROS MAHASISWA.
-Usahakan lakukan pengembangan berbeda terhadap tulisan yang mungkin sebelumnya pernah dipublikasi.
-Periksa tulisan kembali, jangan sampai ada kesalahan terutama dalam logika klausa kalimat.
-Kirimkan CV atau biodata lengkap dalam Ms.Word plus Foto diri dan scan KTM (Kartu tanda Mahasiwa)
-Semua File dikirimkan baik tulisan, CV, Biodata lengkap, dan scan KTM  melalui email poros.mahasiswa.sindo@gmail.com
-Semakin banyak berlatih mengirimkan menulis dan membaca, semakin besar peluang, kemungkinan selalu ada, jadi jangan pernah berhenti untuk mencoba.

5 comments:

Manusia dan Arus (Puisi)


Manusia. 
Ia tak pernah berhenti mencari arah. 
Walaupun jalan tiada jelas, 
tetaplah ia menjadi bagian dari sebuah jalan. 

Tak kenal ketika menjadikan jalan seolah arus yang melaju lurus. 
Dahan yang mengalir mengikuti arus. 
Tersangku terkilir begitu jua manusia yang menaikinya. 
Tiada ia mengapung di atas dahan. 
Seolah ia telah terlindung dari buayan setan. 

Namun, ttp baginya tersenggol sedikit batu bagaikan terombang karang.
Tiada terkecuali batu sekecil buih. 

Manusia itu berguncang. 
Dahan ikut retak menumbangkan rasa cahaya bara. 
Sebuah ujung air terjun nampak. 
Seolah itu ujung kematian. 
Ia tak tau bahwa si dahan juga sudah rapuh. 
Arus ttp membawanya meski terasa ingin melawanya. 

Tak pelak sampai di ujung. 
Air terjun menyapa sang pengendara dahan. 
Manusia begitu kuat seperti baja, namun ia juga rapuh seperti kaca.

Jakarta, 16 Mei 2014
Annisa Dewanti Putri

0 comments:

Taipei, Sebuah Perjalanan Sekotak Pengalaman

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Semua keberangkatan menuju ibukota Negara Taiwan ini berawal dari ide dan semangat Dosenku Ibu Ririt Aprilin yang meyakinkan untuk bisa ikut mengirimkan abstrak sederhana mengenai topik terkait tersebut, terkhusus mengenai bangunan. Maka setelah mengawali penulisan abstrak yang bagiku sama saja sudah memulai suatu langkah menuju jalan tertentu, maka aku harus mengakhirinya juga.

Saat itu hari Selasa, 20 Mei 2014. 
Langit Jakarta terlihat cerah. Bersama kedua orang tua aku berangkat menuju bandara Internasional Soekarno Hatta. Kepergianku dari tanah air saat itu bertujuan untuk menghadiri International Symposium on Reliability Engineering 2014. Sebuah simposium yang membahas mengenai masalah manajemen resiko dalam bidang teknik.

National Taiwan University of Science & Tech.
Jadwal dihari itu sebenarnya tak cukup padat, hanya sebuah wellcome reception yang dihadiri oleh delegasi yang sudah lebih awal sampai, termasuk kedua dosenku (Ibu Ririt Aprilin S, dan Ibu Sittati Musalamah). Aku melewatkan momen itu karena baru menginjakkan kaki di Kota Taipei sekitar pukul 21.20 waktu setempat. Kedatanganku lagi-lagi disambut oleh dosenku dan temannya yang turut mengantar (Mbak Lilik dan Mas Yusuf).  

Mba lilik merupakan mahasiswi Taiwan Tech (NTUST) yang sedang mengambil program Phd, ia juga seorang chef handal. Sementara, Mas Yusuf adalah seorang lulusan Master yang sedang bekerja di Taiwan. Mereka mengantar kami sampai depan Dorm sekaligus Guest House yang letaknya masih dalam area kampus National Taiwan University of Science and Technology. Ungkapan terimakasih teramat tak terhingga untuk mereka. :D

Malam itu karena acara telah selesai, aku hanya bisa menikmati istirahat dalam kamar yang kata dosenku telah direservasi oleh Professor Chien Kuo Chiu untuk kami. Kamar itu begitu nyaman menyambut tubuh ini yang begitu lelah, terimakasih banyak Ibu Ririt dan Profesor Chien.

Rabu, 21 Mei 2014.

Langit diluar jendela terlihat murung dan hujan. Namun, semangat ini tetap membara untuk langsung salat dan bersiap-siap mengikuti ISRERM 2014. Pukul 05.30 waktu Taiwan sudah menunjukkan kondisi langit yang sudah mulai siang. Namun, pukul 08.30 adalah waktu tepat aku harus bersiap di depan kamar untuk berangkat bersama kedua dosen.

Acara berlangsung di International Building Taiwan Tech. Letaknya persis disebelah gerbang masuk kampus. Rangkaian acara di hari itu diawali dengan Opening Ceremony diikuti dengan materi oleh Prof. Luis Esteva asal National University of Mexico. Ia berbicara mengenai evaluasi kegempaan pada bangunan tidak beraturan.  Dr.John Chien Chung Li juga memberikan materi perihal Proyek Wu Yang yang cukup menarik.

Agenda berikutnya adalah terkait simposium delegasi. Delegasi yang telah melengkapi full paper dipersilakan untuk mempresentasikanya di depan para peneliti, mahasiswa, dosen, ahli dan pihak lainya dalam simposium ini. Kedua dosenku termasuk yang mendapatkan jadwal presentasi dihari ini.  Kunjungan TBTC adalah yang berikutnya, namun akan membuahkan tulisan tersendiri.

Usai agenda simposium telah selesai, aku memutuskan untuk ikut bersama dosen-dosenku keluar untuk makan malam di Kota Taipei. Malam disana begitu hidup, manusia masih mencari arah dibawah gemerlapnya lampu dan cahaya gedung. Taipei adalah kota, namun ia bukanlah nekropolis (sebuah kota mati yang memisahkan diri). Semua manusia membaru menjadi satu dalam wadah moda transportasi publik.

Aku mencicipi menaiki salah satu moda tersebut, MRT. Bersama mbak Lili kami ditemani dan sampai pada sebuah resto Halal yang menyediakn menu Nuo Ro Mien, begitulah katanya. Sejenis mie dengan kuah daging yang kami makan bersama dimsum sapi. Pulang dengan keadaan gerimis kami lalui lagi. Perjalanan selama di Taipei dilalui menggunakan Bus seharga ± 12-15 NTD. Tak lupa demi menghemat kami juga menaiki MRT (Mass Rapid Transit) seharga 20-30 NTD. Terbilang cukup murah karena saat itu nilai 1 NTD adalah ± Rp.360,00.

Hari menegangkan. Kamis, 22 Mei 2014.

Awal sesi dibuka oleh kuliah oleh  Prof. Zhao yang berbicara mengenai metode sederhana dalam Load Resistance Factor (LRFD), kemudian dilanjutkan oleh dua profesor lainya yang tak kalah handal.  Setelah sesi kuliah, seperti biasa agenda berikutnya adalah Parallel Session dan saat itu giliranku.

Aku tak pernah menyangka bahwa harus berbicara mengenai karya tulis yang kubahas  mengenai rumah tradisional Provinsi Papua, didepan para ahli yang tingkat ilmunya jauh diatasku. Aku saat itu merasa seperti seekor burung yang ingin mencoba terbang depan seekor Rajawali. Setelah mencoba santai dan penjelasan dariku berakhir, Profesor Fu Pei sedikit bertanya. Mungkin jawabanku tak terlalu lengkap namun karena waktu, beliau memahami dan mengangguk. Setelah saat itu aku merasa bebas beban.

Pada malam hari setelah simposiusm, kedua dosenku memutuskan untuk berjalan membeli buah tangan di daerah Taipei Main Station. Lagi, untuk menghemat, MRT menjadi andalan transportasi kami. Menggunakan koin biru kecil yang keluar dari mesin, kami sampai di mall sederhana yang merangkap sebagai statsiun juga.

Penutupan. Jumat, 23 Mei  2014

Di hari Jumat, aku tak merasakan kepadatan yang teramat. Mengingat setelah pemaparan Keynote Speaker, hanya diikuti oleh Parallel Session 1. Artinya hanya sampai pukul 15.00 waktu setempat.
Kuliah pertama disampaikan oleh Prof.Chen. Ia membahas mengenai Reliabilitas Global dari struktur yang terkena gempa.  Angka demi rumus berjalan disetiap slide, menjadikan otak seperti harus berkonsentrasi penuh. Dilanjutkan oleh materi Dr. Li Min Zhang terkait evaluasi resiko pada DAM atau bendungan. Bagian ini sedikit mengarah ke perairan. Sampai pada sesi terakhir Prof. Kok Kwang Phoon  menyampaikan risk assessment lebih kearah Geoteknik. Disini aku sedikit sulit menyerap materi, namun kubayangkan semua materi adalah hal yang menarik untuk dipelajari.

Parallel session edisi terakhir berlangsung setelah makan siang. Aku dan ibu ririt menuju ruang 201 yang selanjutnya disusul oleh ibu Sitta. Pembahasan di ruang ini lebih terofkus pada pengamblan keputusan dalam sebuah resiko bencana. Tak salah memilih ruang ini, mengingat banyak hal menarik dari para pemakalah yang disampaikan.

Beberapa diantaranya adalah mengenai ide membuat jalur evakuasi otomatis oleh salah satu mahasiswa NTU (National Taiwan University). Dalam hal ini, aku teringat oleh beberapa ide PKM (Program Kreavitias Mahasiswa) mahasiswa di Indonesia. Mereka sebenarnya memiliki ide yang lebih mumpun dan bisa dikembangkan di tingkat internasional.


Bersama prof. Esteva, Prof. Chien dll.
 Sesi ini dittup oleh pemaparan seorang ahli Psikologi konseling yang tersasar dalam simposium keteknikan ini. Cukup menarik, dosenku sempat berkata “Saya serasa dicuci otaknya setelah banyak pemaparan tentang rumus, lalu nyasar pemaparan mengenai Ilmu Jiwa.” Materi yang dipaparkan memang terkait Teknik Keandalan dan manajemen resiko, namun ia lebih kepada perasaan manusia terhadap sebuah kebijakan atas bahaya yang mungkin mengancam manusia. Dalam hal ini, manusia tak merasa nyaman. Siapakah yang salah, insinyur, psikolog, pemerintah, atau individu tersendiri? 
Semua masih berupa tanda tanya dan tak perlu saling menyalahkan. Itulah akhir simposium dan Penutupan dilakukan.

Epiloge Post Symposium Tour. Sabtu, 24 Mei 2014

Dihari itu penuh dengan cerita karena kami mengunjungi tiga tempat ajaib di Taiwan. Tempat itu adalah National Palace Museum, Yamingkashen National Park, dan Beitou Spring. Pembahasan mengenai ketiga tempat tersebut akan menjadi tulisan tersendiri berikutnya. Hari itu memang hari terkahir yang sungguh bermakna.
National Pallace Museum

Malam terkahir kami bertemu dengan Ms.Candice. Wanita Taiwan yang selalu membuat ketawa dan selalu ingin belajar hal baru mengenai trend Indonesia. Menurutku ia memang sudah mengenal negara Indonesia namun mungkin kebanyakan bagian hitamnya saja. Itu selalu dijadikan lawakan. Satu yang kuingat “We can pay using Leaves in Indonesia.” Teringat Film Susana.

Malam itu malam yang sempurna ketika diakhiri dengan perjalanan menuju Taipei 101 yang selalu kulihat di National Geographic. Sebuah bangunan yang memiliki damper diatasnya untuk menstabilkan beban angin dan gempa yang terjadi.

Banyak hal yang kupelajari dari mengikuti simposium ini, tak lain bahwa resiko dalam hidup perlu dipertimbangkan mengingat manusia sebagai makhluk memiliki Hak untuk hidup. Rasa aman akan berbagai hal terutama bencana menjadi bagian dalam kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. Manusia butuh dihargai.


Salam dari Penulis :D
 Taipei berbicara hal lain tentang sebuah kota. Terimakasih untuk semua  kesempatan dan support yang telah diberikan untuk mahasiswa ini. Tanpa semua support itu, aku tak mungkin menerima sekotak pengalaman berharga dari negara mungil ini. :D

7 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch