Example of Position Paper (Model United Nation, Representing Botswana)

Below is an example of a postition paper that I made for the Model United Nations (Jakarta MUN 2013). I hope it helps for the others that are interested in joining the event related to the MUN.

BOTSWANA ON DISEASE FOLLOWING NATURAL DISASTER

Country          : Botswana
Topic Area     : Disease following Natural Disaster
  Global Warming, Natural Disaster, and Public Health.
Commitee       : World Health Organization

            Global warming as one of the trending global issues that can cause many natural disaster. With a documented increase in average global surface temperatures of 0.6º C since 1975, Earth now appears to be warming due to a variety of climatic effects. This could cause various problems including an increase of natral disaster. A natural disaster especially in botswana that is mostly happened because of flood or epidemic. This affect many people, & had killed some people after the following Disaster.

Causes
Natural disaster that could affect many people in botswana, & especially has killed 470 people because of an epidemic case caused by disaster[1].  Flood are the other natural disaster that affects the people and could cause a major problem in health. Lately, between 16-23 January 2013, heavy rains caused an extensive flooding in the central province of Botswana. Safe drinking water, is one of the most problem that the government must note.

Policies
The overall guiding documents for national development in Botswana is vision 2016, a broad based national approach adopted in 1996 focusing on the aspiration of Botswana towards the 50th anniversery of their independence. This cold help to face the public health problem.

Solution
1.      Emergency Centre
Refugees are the ones that the government must care of. In a case when a natural disaster occur in that region. An EC (emergeny Centre) from the WHO (world Health Organization must act quickly and build a camp in the middle of people. This camp is like a medical centre that gives medical supplies, so that the refugees caused of the disaster could feel healthier. Beside medical supplies & medical helps, the camp offers flood kits (Raft,life jacket, & other survival pack).  The aim of the program is to help the 338 health in handling the public health proble after the disaster happens.

2.       Disaster Mitigation (Public Health)
The country recall a help form ither country in giving medical service after the disaster. It is important to make sure that the families and people are in a health condition, especially after they caught a disaster. The health test must be done in all region/part of Botswana.

3.      Malaria Protector.
As after the flood, malaria could cause problems. The WHO with help of the government will provide a spray & Fogging for the area that has a big potention in Malaria Disease.

0 comments:

BERKARYA DALAM RUANG DAN WAKTU

Oleh: Annisa Dewanti Putri

“Baca, tulis, dan suarakan. Itulah tagline terbaru dari newsletter terbitan lembaga dalam ruang kecil ini.”
picture Source :5dspace-time.org

Manusia memiliki arah dan geraknya sendiri seiring manusia berpindah ruang  dan waktu yang senantiasa terus bergerak. Dahulu (2011), sekelompok Eros (angkatan 2011) menemukan sebuah ruang baru setelah menjadi nomad sebelumnya. Tempat itu adalah ruang G305 (Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta). Sebuah markas yang dari tahun ke tahun merubah tata letaknya, namun tetap memancarkan koleksi terindahnya.

Koleksi terindah itu adalah buku. Memang tak sebanyak rak yang tersaji dalam perpustakaan. Namun, koleksi-koleksi dalam lemari kaca itu seraya mengingatkan kita untuk terus meliriknya dan teman-temannya meski kita sedang tak berada di markas kecil itu. Setidaknya, bagi yang sudah menyukainya, maka ia tambah menyayanginya. Sebaliknya, beberapa dari kami yang biasanya hanya menyentuh koleksi yang kaku  alias buku pelajaran, secara bertahap menyukai koleksi terindah lainya yang tak kalah menarik dan bisa mengantarkan menuju ruang lain.

Melihat koleksi terindah dalam markas kecil itu mengingatkan saya pada seorang filsuf bernama Cicero yang pernah berkata, “A room whithout books, is like a body whithout soul.” Koleksi terindah tersebut mengantarkan setiap manusia menjadi seorang Homo Ludens (Manusia Petualang) dalam pikiranya. Mengantarkan menuju ruang dan waktu berbeda, meski sebenarnya berada di ruang yang sama. Maka, dari ruang ini ungkapan “Buku adalah senjata” menjadi kuat adanya terutama ketika kita berada dalam sebuah diskusi.

Dalam semua diskusi, ungkapan semua sahabat Arete begitu berharga. Mendapatkan perspektif berbeda dari kaca mata yang berbeda dari setiap argumen mereka menjadi hal yang menarik pula. Meski tak jarang argumen yang dilontarkan bentrok. Maka waktu diskusi menjadi momen yang berharga.

Lagi-lagi, sebuah koleksi yang kali ini tak berbentuk (diskusi) mengantarkan kami yang berada di lingkaranya, menuju ruang dan waktu yang berbeda sesuai dengan topik bahasan yang sedang diperbincangkan. Beberapa pendapat oleh beberapa pengunjung di markas kecil ini terlontar sampai terkadang lupa waktu. Karena itu, seorang moderator menjadi sungguh berarti dalam penjelajahan ruang dan waktu untuk koleksi ini.

Integrasi antara pengetahuan yang mereka (peserta maupun pemateri) ketahui baik dari koleksi yang mereka baca maupun yang mereka dapatkan dari hasil diskusi lain menggagaskan sebuah ide untuk memunculkan koleksi kecil yang baru. Koleksi kecil tersebut yang saya sebut sebagai tulisan. Kali ini bentuknya kembali berwujud.  

Tulisan, tentunya menjadi sebuah bagian koleksi dari semua penulisnya. Dari ruang ini saya banyak melihat berbagai koleksi berbeda yang unik bergantung dari penulisnya. Ada yang membuat esai, resensi, cerita pendek, artikel, dan ada pula yang senang membuat puisi sebagai koleksi pribadinya. Bahkan, tak sedikit yang senang membuat  tulisan berisi curahan hati mengenai kehidupanya. Di sini ruang dan waktu mulai menemukan dirinya dalam sebuah  tulisan.

Disamping itu, tulisan berbentuk feature juga sudah diperkenalkan kepada para penghuni ruang ini. Teringat buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” menjadi referensi dalam pembelajaran awal feature disini. Mencoba memahami sebuah ruang dan penghuninya melalui sebuah wawancara dan reportase menjadi bagian dalam pembelajaran meningkatkan kualitas koleksi kecil kami (tulisan).

Tulisan sebagai bentuk karya yang perlu di apresiasi. Koleksi itu dikelola beberapa di markas kecil ini. Meski tidak menutup kemungkinan hal itu bisa juga terjadi dalam ruang lain. Tak terkecuali melihat koleksi  teman-teman terpampang dalam suatu media baik media sosial, web, blog, buletin, newsletter, bahkan beberapa media massa menjadi hal yang sungguh membuat hati kecil ini tersenyum.

Bentuk apresiasi ini merupakan hal yang terus menjadi cambuk untuk terus berkarya. Tak memandang apakah koleksi (tulisan) tersebut terlihat fantastis atau cukup. Yang paling terpenting dari sebuah apresiasi adalah bisa ditunjukkan karya teman-teman yang orisinil tanpa jiplak sana sini. Dari sini, diri seorang penulislah yang bisa menilai sampai sejauh mana perkembangan koleksi yang telah ia buat.  Terkhusus ketika ia melihat sejumlah koleksi buatanya dari waktu ke waktu.

Ada yang tertawa membaca tulisanya di tahun pertama ia mulai berproses di markas kecil ini, ada pula yang tertegun sambil berseru bahwa tulisanya begitu main-main saat itu. Saya pun merasa demikian. Namun begitu, melalui apresiasi, tulisan dan karya tersebut menandakan eksistensi seorang manusia yang pernah menjelajah ruang dan waktu di dunia ini.


Dari sana, saya tak pernah lupa nasihat dari para guru juga maestro (senior dan teman) yang kerapkali diulang-ulang, nasihat tersebut berupa peringatan untuk terus membaca, berdiskusi dan tak pernah putus untuk berkarya melalui tulisan. Seiring terus lahirnya sebuah koleksi dari setiap prajuritnya, apresiasi menjadi alat yang baik untuk menjadi kendaraan ruang dan waktu. Mempublikasikan dan menggarap koleksi teman-teman agar mudah dilihat masyarakat. Maka dengan begitu semua prajurit di markas kecil ini tak akan pernah henti menjelajah ruang dan waktu. 

2 comments:

Dunia Nyata atau Maya (catatan kecil)

Nyata..
Tak pernah menjadi samar.
Namun, bunga kecil itu bisa terlihat samar.
Sementara sang bintang yang jauh terlihat samar.
Seolah maya..

Tapi tak pernah maya karena terlukis seribu galaksi..

Nyata adalah sebuah kata yang mengungkapkan hal yg bisa dirasa, dipegang, dilihat atau di di di lainya secara langsung. Jelasnya nyata berbentuk fisik. Kau tak bisa mengelak jika seorang berkata "ini kejadian nyata" atau "kenyataanya pahit." "Kenyataan Manis" seolah selalu menjadi nyata. Samar ketika ternyata itu hanya mimpi.

Apa yang sudah terjadi dan benar-benar terjadi membuat manusia menyebutnya sebagai nyata. Bagaimana dengan hidup ini, aku rasa ini antara nyata atau maya. Mari kita sadari dunia yang kita sebut 'nyata' adalah karena kita mengalaminya secara langsung. Bagaimana dengan 'maya' . Tak nampak, samar, berada di dimensi lain, baik dimensi yang manusia sebut itu sebagai dimensi gaib, dimensi matriks komputer, dimensi 2d atau gambar dan lainya.

Namun, mengapa jika serang manusia yang ditingal oleh orang yang disayanginya seolah olah tak percaya dan menganggap ini maya. Karena ia tak mampu menerima kenyataan. Tapi asal diketahui bahwa dunia ii berada antara nyata dan maya. Mengapa? Manusia hanya sebagai pengendara dalam kendaraan yang kita sebut sebagai tubuh ini, dan ini 'nyata'. Bagaimana dengan maya? Kita adalah yang maya.

Sebagai bagian dari dunia yang jelas berada antara nyata dan maya. Maka tak dipungkiri, manusia dengan hati kecilnya berupa perasaan yang maya dan hati yang berrdekatan dengan empedu yang merupakan nyata patutnya menyadari bahwa sedang di dunia apaa mereka saat ini. Semua itu bergantung. Renungkalah...

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch