New Age, New Inspiration: Happy Birthday Master

New Age, New Inspiration

New age,
where you revolve the sun again
New inspiration,
where you always climb the mountain

I was once a small particle
I never know what I'll reach
As you guide me to the tops of the pine tree
Make me believe that we shouldve always learn
learn how to gather the comets, the galaxy
Revolving around the sun for several years

365 days 
You have inspired lots of tiny stars
The stars that before are too tiny to shine
But, as you say it's gonna be fine
365 days has passed
New Age, New Inspiration
Welcome to your new age master


A sketch dedicated for you Sensei. Your Past where you get your master.
This historic campus full of inspiration

A very big apologize from me.
It's already 20th of December 2015. How shame I am. I forget that thirteen days before, it was my amazing Masters birthday. Congratulation in your new age sensei, Ibu Ririt Aprilin. May Allah SWT always bless you in this world and afterworld. In this moment I dedicate my random post, sketch  and my simple poem for you. Barakallah



Jakarta, 20/12/15

0 comments:

DIANTARA KOLONADE MASJID

Oleh: Annisa Dewanti Putri
Sketsa Al-Mahsun, Medan. Sumber: Penulis, November 2015
Dalam kemeriahan aktivitas para pencari materi, berdirilah suatu ruang dan berkumandanglah Adzan. Ruang yang selalu menjadi alarm pengingat di setiap waktu. Menggetarkan hati untuk selalu mengingat sang pencipta. Ruang itu tak pernah sepi. Ruang arsitektur yang penuh akan makna spiritual dan telah melekat erat dengan aktivitas umat.

Dalam masjid, keindahan arsitekturnya tak pernah luntur. Kebudayaan islam telah banyak mengadopsi sejumlah atribut kebudayaan dari wilayah yang berbeda tanpa harus keluar dari esensi budaya ruangnya tersendiri. Lihatlah kaligrafi, pilar-pilar tinggi, kubah maupun lantai yang berseri. Sebagaimana Arkoun (1983) telah mengatakan soal pewaris sah budaya agung: Byzantium, Persia, Mesir, dan India. Mihrab yang juga bisa berasal dari tradisi Koptik, Minaret, menciptakan kode struktural bagi arsitektural masjid.

Ruang itu sekarang sudah penuh dengan atribut yang berbeda.  Baik bentuk hexagon, polygon, maupun oktahedron, semua tak terkecuali bentuk melingkar ataupun persegi, tetaplah masjid, indah jika dilihat. Simbol bulan, bintang, ataupun lafadz Allah tak menjadi pembeda. Kaum mukminin telah mengenali simbolnya untuk ruang ini sendiri.

Masjid yang kini tak hanya sebagai tempat beribadah, tapi tempat kegiatan sosial serupa pembelajaran dan lainya. Konsep Basilika juga telah mempengaruhinya. Bagi sebuah rumah ibadah sebagai tempat pertemuan (Basilika) telah dikembangkan juga dalam masjid. Bagi Arsitek Akhmad Fanani, waris-mewarisi benda-benda fisik ujud kebudayaan antarkomunitas, sepanjang mampu diolah dengan tanpa mengganggu prinsip akidah, telah diterapkan tanpa ragu oleh kaum Muslimin.

Sketsa Langsung Masjid Raya Bandung A5. Sumber: Penulis, September 2015
Memperhatikan keindahan ruang yang ada, Masjid itu indah. Tak hanya dari bentuk tapi  juga dari ruang simbol yang tersirat nampak. Kolonade (Jajaran Kolom) dalam mayoritas masjid diterapkan sebagai bentuk penyangga atas dari bagian strukturnya. Kolom tinggi itu sengaja diekspose, menjulang tinggi sampai ke ujung kubah-kubahnya. Hingga seraya ketika manusia berdoa mengangkat tangan, semua terasa luas, megah mewakili celah-celah.

Baik Al-Quds yang berbentuk segi delapan, yang hampir serupa dengan masjid Al-Mahsun, ruang ini tetap tak pernah padam untuk dikunjungi. Serupa halnya Masjid Agung, ditengah-tengah alun-alun Bandung, memanggil masyarakat dan tak lupa mengingatkanya untuk lanjut berwudhu. Dimanapun ruang ini berada, ialah pengingat, tak pernah sepi untuk berkumandang.

Masjid. Baik dengan Kolonade ataupun tanpanya, tetaplah ruang yang besar, mampu menjadi pusat untuk kegiatan. Arsitekturnya tak hanya indah dilihat kasat mata, namun juga penuh cerita. Cerita yang tak hanya terkisah dari atribut budaya di dalamnya, tetapi juga dari ruang yang dihiasinya.

Jakarta, 12 Desember 2015

3 comments:

"Sekarang" Antara Ada dan Tiada

 Oleh: Annisa Dewanti Putri

Ftather Time and Lady Luck.  Sumber : belleofthecarnival.com .

WAKTU
Kau yakini setiap detik berlalu.
Sejam yang lalu terasa bagai sedetik yang lalu. Setahun yang lalu terkadang seperti sebulan yang lalu. Inilah dimensi waktu.

Berbeda dengan ruang yang mengisi tiga arah membentuk celah. Ruang bisa begitu konkrit. Sementara, Waktu seakan memiliki dimensinya sendiri. Seabad yang akan datang tak akan pernah disangka. Tapi bisa jadi akan dirasa.

Terlebih sedetik yang akan berlalu.
Itulah sekarang. Pernahkah kita merasa sekarang itu adalah saat ini? Jeda di antara sepersekon menjadi waktu yang seakan berhenti. Padahal sejatinya ia tak berhenti.

Hanya tipu daya gerakan jam tik yang tertahan. Jarum yang menunggu gear nya untuk berpindah dalam satu posisi perdetik.
Itulah waktu yang membeku. Itulah SEKARANG.

Akan berbeda kisah ketika jarum jam itu berotasi secara terus menerus. Tak pernah mengikuti detik. Ia bergerak secara kontinu. Menggambarkan bahwa tak pernah ada waktu SEKARANG. Detik tak akan tertahan untuk seper sekian sekon. Ia tetaplah jarum jam yang hanya sebagai penunjuk waktu.

Ia berkata "Tolong berikan bukuku sekarang." Tak pernah ia sadari bahwa bukunya ia terima bukanlah SEKARANG, tapi beberapa detik yang lalu. Tapi akan sulit ketika ia berkata "Tolong berikan bukuku tiga detik lagi."

Kemungkinan tetaplah kemungkinan. Ia bisa dapatkan bukunya SEKARANG, jika diberikan di sepersekon itu. Bisa juga ia terima tiga detik kemudian yang bukanlah SEKARANG. Asumsi waktu telah berbicara.

PERSEPSI WAKTU

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

"Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran"
 (QS Al Ashr : 1-3)

Relatif. Tak disangka manusia merasakan waktu yang begitu cepat. Tapi yang lain berucap bahwa waktu begitu lambat.

Pernah terbayangkan lalat-lalat yang tak pernah mudah ditangkap oleh cepatnya sang penepuk tangan. Baginya sepersekian sekon itu lebih lama daripada bagi manusia. Lewat sedetik lalat itu mampu beratraksi di sela tangan besar yang melayang. Sebelum akhirnya tangan itu menjadi mesin penumbuk, sang lalat berhasil menyelak keluar.

Itulah persepsi SEKARANG bagi serangga kecil itu. Bisa jadi masalah gerakan telah mempengaruhi persepsi waktu. Bagi sang siput ia rasakan sejam berjalan menyeberangi trotoar mungil itu. Sementara, tikus itu mampu mengalahkanya lewat gerakan kecil kakinya itu.

Persepsi waktu begitu nyata antara kingdom yang berbeda, terlebih spesies yang tak sama. Persepsi SEKARANG yang seolaah ada dan tiada juga bisa beda dirasakan antaranya.

Tak mutlak membenarkan sebatas perbedaan spesies. Nyatanya, sejenis spesies terlebih bisa memiliki persepsi waktu yang berbeda. Tetaplah SEKARANG menjadi pertanyaan.

Sejenis Homo Sapiens. Waktu bagi manusia akan selalu relatif. Manusia hybrid menjadikan dirinya mempertanyakan sendiri SEKARANG baginya. Menjadi tergantung dengan moda transportasi cepat setipe  kereta Shinkansen, pesawat Concorde, atau mungkin speedboat. Persepsi yang tak hanya ruang tapi juga waktu akan sangat mempengaruhinya.

Jarak seakan terasa dekat akibat waktu tempuh yang jadi singkat. Sementara malam lama dirasa karena waktu tiba yang lebih cepat dan awal. Begitupula jarak menjadi seakan jauh padahal hanya berkisar empat kilometer. Akibat sebuah dentuman kendaraan hybrid, semua terjebak macet dan tersesat dalam ruang yang memakan waktu.

Persepsi waktu dimainkan. Manusia menjadi bingung akan persepsinya. Baginya terkadang waktu berlalu cepat, namun bagi sebagianya terasa waktu begitu lama. Yang dinanti menjadikan waktu begitu lama. Sementara yang tak diinginkan untuk dinanti menjadikan waktu seolah cepat.

Persepsi SEKARANG pun perlahan berubah dari "Untuk detik ini" menjadi "Untuk hari ini"atau mungkin "Untuk sewindu ini." Itulah mengapa persepsi waktu amat mempengaruhi ada tidaknya SEKARANG. Bagi waktu, SEKARANG adalah antara ada dan tiada.


Jogjakarta, 3 Desember 2015

0 comments:

Zero Waste Indonesia: Plastik Punya Kisah

 
Peranahkah manusia sebagai Khalifah berpikir bahwa sekecil apapun sampah plastik yang ia tinggalkan di muka bumi sama saja meninggalkan kerusakan yang cukup abadi? Plastik. Lama mengurai. Tak pernah lekang oleh waktu. Bagaikan sebuah tameng yang sulit ditembus musuh.

 Konon, Kukusan diketahui masyarakat sebagai kelurahan dengan sanitasi yang buruk. Selain itu, sampah menjadi problema masyarakat. Sampah begitu mudah dipandang mata. Jalan kecil penuh lubang dihiasi bungkus plastik warna-warni. Selokan-selokan dihiasi oleh botol mineral yang sudah remuk tak terpakai. Tak jauh dari persimpangan, terlihat bukit sampah. Tak lain bukit itu selanjutnya dibakar hitam seperti bukit-bukit sebelahnya.

Bakar Sampah di Kelurahan Kukusan


Kumpulan Lapak. Letaknya tak jauh dari Pintu Kukusan Kelurahan yang berada di gerbang menuju Kampus Kuning. Kelurahan Kukusan menjadi saksi lapak-lapak itu berdiri.  Sebuah jalan disamping rel menemani pejalan kaki yang hendak menyusurinya. Tiga tiang sutet itu berjejer menghiasi pandangan mata. Tak lama belokan ke kanan nampak  beberapa lapak untuk berbagai jenis sampah.

Lapak memiliki arti penting dalam siklus 3R (Reuse, Recycle, Reduce). Tanpanya rantai untuk alur tersebut menjadi pecah tak karuan. Kukusan memiliki beberapa zona lapak. Mulai dari lapak logam, lapak Kardus dan Kertas, sampai pada lapak Plastik.

Tak lepas dari zona lapak, Zero Waste Indonesia (ZWI) menyempil di salah satu lahanya. Memberi sedikit harapan pada plastik-plastik tak terpakai. Plastik solid itu tentunya dikumpulkan untuk selanjutnya berakhir menjadi cacahan dan serpihan potong plastik.

Lapak Zero Waste Indonesia
Sekelompok mahasiswa pada mulanya menjadikannya sebagai wadah usaha yang Profit Oriented.  Bagi Fajri dkk, hal ini tak selamanya bisa menjadi bagian daripada tujuan kisah program ZWI ini. Pada akhirnya, uang lebih tak seberapa, untung hanya lebih menutup modal dan upah semata. ZWI setidaknya telah memberikan kisah untuk mencoba mengurangi sampah plastik yang ada. Dengan memberdayakan kaum marjinal disana, plastik bisa berujung duit.


Sebelum mencapai ujung-ujung duit tersebut, alur plastik hingga penjualan perlu melalui beberapa alur. Alur dari ZWI bermula dari sampah plastik yang dikumpulkan dari warga dan beberapa pemulung lainya. Jenis plastik yang diterima adalah jenis Polyethilene Tereftalat (PET) dan (High Density Polyethilene)  HDPE. Untuk sisanya akan menjadi sampah residu. Sampah residu ini yang selanjutnya setiap tiga hari sekali akan dibawa oleh Dinas Kebersihan untuk diproses lebih lanjut.

Sampah yang dipisahkan dan di Press
Setelah dipisahkan berdasarkan jenis plastik, maka sampah plastik dipilih dan dipisahkan berdasarkan variasi warna yang ada. Jika diklasifikasikan berdasarkan jenis plastik dan warna, semua kombinasi tersebut bisa mencapai 30 jenis kantong yang berbeda.

Beralih dari pemisahan jenis berdasarkan warna tersebut, maka selanjutnya dilakukan proses pencacahan dengan mesin pencacah. Disini, akan nampak dua buah mesin pencacah siap memotong plastik-plastik malang tersebut. Selanjutnya hasil cacahan tersebut akan masuk ke bak pembersih untuk selanjutnya dicuci dan disaring.


Salah satu Mesin Pencacah
Kolam Pencucian

 Tahap terakhir daripada Pencucian cacahan plastik adalah dengan menjemurnya. Setelah kering lepas dari air, maka cacahan plastik tersebut siap dibungkus dan dikirmkan ke pabrik-pabrik untuk selanjutnya diolah dan digunakan kembali. Dari sini uang mengalir untuk menghidupi ke-tujuh pekerja ZWI. Sociopreneurship menjadi dasar dari program ini. Memang, tantangan terbesar tak hanya berasal dari dana, kecaman masyarakat dan para pelaku serupa menjadi angin bagi ZWI, namun mau tak mau harus tetap bertahan teguh.

Bagi pemulung yang bekerja disana, tempat itu menjadi sebuah tempat menyimpan pahala. Rumahnya disana menjadi saksi bisu untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Bagi plastik, ZWI telah memberikan tempat singgahnya tersendiri. Menjadikanya untuk bisa berguna dan hidup kembali.

 
Tempat Tinggal Pekerja Zero Waste Indonesia



**Jakarta, 23 November 2015
Kukusan, Depok

0 comments:

THE READY MIX WORLD

In the middle of district 8, Before Mass Concrete

 A precious experience and quality time that I did in this full pressure place. A ready mix concrete is one of a material that is used for construction. This is formed by the combination of aggregate, silt, sand, cement and water. This material is well known cause of it can stand in a high compression and is easy to be formed.

In the last 3 months, I worked in one of a Ready mix concrete (RMC) company and maybe Ill give a little review on the experience of work and how I was so grateful to this awesome team. This is a place where we can meet awesome people with strong mental and high loyalty. People that are willing to work in a 24 hours’ time.

The corporate team. Mr. PH has given me his project, so I handle it for a moment, and this a very big challenge for me. By handling his project with a total of more than 22 Project, it really made me had  a bad sleep. Well RMC is a product that is commonly used and poured in the middle of night. Why? Cause it can avoid the traffic while making the setting time well and properly. The condition of the temperature at night may effect it too. These are some of the technical problems. So you wanna work in the RMC world? Just prepare yourself to be awaken in some of your nights.

Lets get in to some of this RMC team. Where I learn many things from them. They are people that is willing to teach the others and I think that all of them are kind person. No more time to think of bad attitude etc. The Rush in this atmosphere of company makes them focus on their job. Good enough and comfy to make friends here.

Firstly, Meet my Boss, Mrs. FW. She’s a very strong women and has many experience in promoting and making tender to some of big contractors. Say it to all of Construction Company, Im sure that most of them knows her. She is the one that inspire me to work hard and always accept peoples aspiration, complaints, because why? Construction and structure is a very crucial matter. If we don’t take it serious from just a small thing, it will impact the strength of the entire structure.

Next, lets meet our technical team. When we make a request of a mix design, here we go. They are willing to make the mix design or redesign based on the quality that is requested by us. As an example, a quality of a concrete with a type of Fc 25 with a 20 mm of aggregate needs a special mix design. For your information, there could be hundreds or maybe thousands of different mix design based on the specification from the project. With different slumps and qualities will definitely impact the price of the RMC.

After all of the mix design of the RMC is done and the project is okay with the Trial Mix result, the next step is to input the mixcode to the IT system. Well this is important cause we don’t want to produce RMC with a wrong quality that may effect the strength of building that is settled.
The Central dispatch (CD) here will soon helps us to give scheduled to be delivered from the plant to the Project place. With a high Global Positioning system helps the TM (Truck Mixer) to arrive properly in which the project is done. To find the coordinate is one of my job while visiting the project. This will really help the central dispatch in doing their job.
Trial Mix from the Batching Plant to ensure the quality
Hop in to the production division. Divided in to some of area and Batching plant. Where Silos and truck mixer can be found. Meet Mr. EW, Mr. JW and the other team. Mr. EW is one of the Area Plant Manager of West. An easy going man, always laugh even in the middle of a mass concrete occasion. He thinks that A laugh from him helps him to keep the life happy while your in the middle of a busy production of a concrete. The one that could be relied when we face the hard condition in delivering the RMC from some plants. “Noted bro” That is what he always reply after our memo.

When the last step comes out. We can meet the Accounting team that delivers the docket to be paid by the project. To Mrs. W, Mr. C, etc, thank you for them, the payment could be collected based on the data from the system which means the volume is equal based on the delivery and the actual case.
The project people. Site Engineers, logistic, Quality Control staffs etc, the people that is related to this world. I am very thankful to work with them too. Yes, they are in some case mean, but they have a reason to be mad of. Progress of the project and the quality of their structure of course. By the way, they’r external people that influence me to get many the knowledge in construction projects.

Finally, I would like to say a bunch of thanks for giving me a chance to work an spend my time in this very hectic company, surely with an amazing team that always reminds me about how to be happy with the life even you’re squeezed by the matter of life. Thank you RMC team.

Regards,
Annisa Dewanti Putri

0 comments:

Sarjana Teknik Humanis

Oleh: Annisa Dewanti Putri


Bagiku, belajar darimu menjadikanku belajar soal hidup.
Hidup yang tak melulu soal apa yang mudah dimengerti.
Hidup yang sesungguhnya ada dibalik kata itu.
Kau begitu kuat, mengajarkan arti kuat tekan sebenarnya.
Kuat  Tarik dari baja yang sesungguhnya.
Ucapan selamat bagiku bukan hanya bagimu sang sarjana teknik,
Bagimu kau juga sarjana Humanis,
Bukan karena kau ingin dikata seperti itu tapi
Melalui pikir kau berhasil menjadi Sarjana Teknik Humanis
Selamat RAK kau berhasil
Menjadi Sarjana yang tak hanya teknik tapi juga humanis.

Jakarta, 29 Oktober 2015

0 comments:

BINTANG REDUP

source:thumbnail Sky Full of Stars: www.youtube.com

Dari balik celah, cahaya kurasakan antara cabang pohon yang saling bergesekan. Terlelap, aku ternyata telah tertidur di bawah rimbunan pohon ini semalaman. Mata ini begitu silau pedih mengintip cahaya yang perlahan masuk menyelinap pupil. Ini sudah Pagi..

Malam itu begitu indah. Lautan bintang boleh kusebut. Hanya saja kondisinya terbalik. Lautan itu berada tepat di atas kepala ini. Ada sebuah bintang kecil paling redup yang selalu menarik perhatianku.

Ini berbeda. Aku tahu bahwa kebanyakan orang memilih bintang paling gemerlap untuk diperhatikan. Tapi bagiku bintang redup itu menyentil pandanganku.

Kami saling berjauhan. Cahaya bintang lain memang mampu mengaburkan bintang kecil itu. Namun, itulah yang justru membuatku memperhatikannya. Ia redup, sendiri, berbeda.

Itulah mengapa ia berhasil menang untuk kulihat. Sedari kecil bintang paling gemerlap selalu menang dari cerita para pendongeng di seberang sana. Aku pun heran, mengapa bintang kecil yang terlihat redup itu tak pernah diceritakan.

Sekarang, aku tau mengapa. Ia hanya mau dilihat dan diperhatikan oleh jarang orang yang senang melihat sinarnya saja tanpa melihat gelapnya.

Kurasa, bintang redup itu akan jadi yang paling terang saat langit gelap  menghamparkan lautanya. Tak perlu khawatir bintang redup, kau telah membawaku untuk melirikmu.

Meski aku tau, saat ini di ruang yang berbeda dan waktu yang sama dirimu bisa jadi telah padam. Aku paham apa yang kulihat bukanlah apa yang sedang terjadi. Ialah ilusi waktu dan penglihatan.

Bintang redup, kau jauh dari jutaan tahun cahaya. AKu tahu cahaya mu dalam mataku adalah yang kulihat dari masa lalumu.

Kau sesungguhnya telah padam. Tapi, terimakasih bintang redup, kau berhasil menyadarkanku bahwa kau sebenarnya istimewa diantara jutaan bintang di lautan langit sana. Diantara lautan bintang terang, kau tetap berhasil terang dengan caramu sendiri, meski itu jutaan cahayamu yang telah kau pancarkan waktu lalu.


*******
Skywalker
Annisa Dewanti Putri,
Jakarta, 16/10/15

0 comments:

What To Say? (Random Poem)



I Don’t know what to say, Then Ill write what I think these days.
Well sometimes the river just flows.
I am like doing which isn’t one of something that I mus do
Im just like following the trail, Which I should’ve go out if I don’t feel I fit in

But when the time comes and I don’t feel like I am there anymore,
Yes I’ll go and find the better place that I should’ve been there
A place where I get my Passion
A place where I I should be

Is it too late?
No, as long as you beilive in the creator
And your still there, then do the right thing,
Sometimes I feel that im doing it not from my full heart

How can I stand still?
Just see, someday we’ll consider this as our past,
Or maybe we’ll make it as a very disturbing moment
While, we can not say that times fly but sometimes stuck stills
It is only the matter how you treat the world
The matter is that will you learn from this sacrifice you made.
It’s about orientation,

Why are you doing this?
Random things happen
Unpredictible, Unplanned, Yet it’ll show up
As like this random post,

Are we doing it for ourselves our for the others?
The most essential thing to be questioned.
Or maybe we’r doing it for no reason.
No, this world is still in a humanistic view
There is Zon Politicon motives, while
Ego still exist in this world.


Jakarta, 11/10/2015

0 comments:

EVEREST: Pengorbanan di Kaki dan Puncak Tertinggi

Sumber Gambar: www.Broadsheet.ie

Judul Film: Everest
Produksi: Baltasar Kolmakur (Sutradara), Tim Bevan dan Eric Fellner (Produser), Universal Pictures
Jenis: Petualangan, Thriller, Novel Baseed Story
Durasi: 121 Menit

Bagi traveler dan pendaki, mungkin banyak persepsi berbeda terhadap film bergenre adventure dan thriller ini. Film garapan Baltasar Kormakur ini menguraikan kisah pendakian sekelompok grup pendakian menuju Everest. Everest  menyajikan petualangan lengkap proses pendakian menuju salah satu dari 7 summit (Puncak Bumi). Melalui visi yang berbeda dari setiap pendaki, tekad membawa mereka untuk menuju puncak Gunung Everest bersama dengan Adventure Consultant.

Bagi Doug yang berprofesi sebagai salah seorang tukang pos, mencapai Puncak Everest adalah impian bagi anak-anak asuhnya. Dari sini, inspirasi bisa muncul. Tak jauh dari itu, Yasuko Namba, seorang wanita berumur 47 tahun menginginkan Everest sebagai pelengkap Pendakian nya yang ke-7 dari total 7 Summit. Alasan lain diungkapkan oleh Beck cukup singkat, “Becaues I can.” Baginya alasanya menaklukan Everest adalah karena Ia yakin Bisa.

Persaingan antara Konsultan pendakian disini terjadi, namun karena rintangan cuaca yang begitu berat, maka berujung pada kerja sama yang seharusnya sudah dilakukan sejak awal. 

Jika boleh dibandingkan dengan Film 5 cm yang berlatar di puncak Mahameru, film ini lebih menunjukkan realita dan pengorbanan berat daripada suatu pendakian menuju puncak. Everest tak hanya menunjukkan pengorbanan dan tantangan selama naik sebelum sampai puncak. Bagi mereka, untuk turun membutuhkan pengorbanan yang tak jauh berbeda saat naik.

Disinilah realita lebih banyak dimunculkan tanpa drama kebahagian karena pencapaian di atas puncak. Jika dikisah pendakian lain seolah segala hal berakhir bahagia setelah menyentuh puncak. Di Everest, mimpi mereka dapat menjadi nyata namun pada akhirnya sebagian harus ada yang dikorbankan. Terlebih, terlihat disaat oksigen menipis dan tabung portable menjadi hal yang paling krusial meski dalam perjalanan turun.

Yasuko, Doug, dan Rob lah yang selanjutnya menjadi korban. Tubuh mereka membatu di Everest karena kekurangan oksigen saat badai turun. Tak hanya orang-orang dari Adventure Conslutant, Scott dan Harold yang berusaha menyelamatkan kawanya berujung pada hypothermia berlebih.

Tinggalah perjuangan Beck turun yang sempat diprediksi mati di tengah badai salju. Ia berhasil mencapai Camp akhir meski pada akhirnya sudah tak dapat kembali turun karena luka yang cukup parah. Untungnya, pihak kedutaan Nepal bersedia menerbangkan Helikopter pada ketinggian yang dilarang untuk menyelamatkan Beck turun.

Epilogue ditutup oleh dokumentasi akhir memorial dari tokoh nyata film yang diangkat dari novel nyata berjudul Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest Disaster (John Krakauer). Setidaknya, Film yang berdurasi kurang lebih dua jam ini berhasil memberikan efek pendakian nyata di puncak tertinggi bumi. Ialah Everest, tepatnya di perbatasan antara negara Cina dan Nepal, puncak Es tertinggi ini berdiri. Di satu sisi pencapaian dan perjuangan patut diacungi jempol, namun alasan dan pertimbangan resiko dalam melakukan hal serupa ini patut dipikirkan. Karena, setidaknya pengorbanan tak hanya menghiasi sebelum puncak namun juga dirasa setelah menuruninya.

**Review film oleh Annisa Dewanti Putri









2 comments:

Singgah (Puisi)

Singgah dalam senyuman
Secarik kenangan
dimana lampu tak pernah padam
lepas dari kata, tawa dan isak tangisan
Jalan tak selalu indah, jua tak selalu merana

Semisal air bisa ditapaki
tanpa basah bisa dilewati
Mungkin, persinggahan tak akan berarti
Tanpa sesuatu yang ingin dinanti

Di negeri ujung kapal karam menghadang bebatuan
Kapten berteriak meminta pertolongan
datang dengan jangkar tua yang karatan
Menuju persinggahan seolah akan ada keajaiban

"Hai pelaut, dimana geram suaramu"
"Tak ada yang bisa kukatakan"
"Kapalku Singgah dan kini telah ditelan lautan"
Biarlah kisah itu singgah,
kapten kapal kembali berbenah

Singgah, tak pernah terpikir
singgah, tanpa banyak berpikir
Singgah, saat disana bisa melipir
 
 19/09/2015




0 comments:

Dari Nuklir menjadi New & Clear

“Boom.”. Ledakan itu terjadi pada tanggal 22, 23, dan 24 November 2014. Tapi tunggu dulu, ledakan ini bukanlah ledakan biasa melainkan ledakan kehebohan perbincangan dan diskusi mengenai Teknologi Nuklir. Perbincangan itu diwarnai oleh berbagai mahasiswa dengan latar belakang berbeda dan dari beberapa asal daerah yang berbeda pula.

Tidak hanya itu, beberapa negara sahabat dari benua Asia dan Australia juga ikut mewarnai diskusi itu. Ialah NYS (Nuclear Youth Summit) 2014 yang berusaha menyatukan ide kita terkait nuklir sambil memperluas jaringan pemuda dan ilmuan dari berbagai ruang.

Berkenalan dengan Nuklir

Tepatnya hari itu, Sabtu, 22 November 2014, aku menyegerakan diri berangkat menuju Hotel Royal Kuningan Jakarta bersama kawan kampusku, Abdul Goffar. Niatnya, Desy Rakhmawati juga hendak berangkat bareng, hanya ternyata ia berangkat dari Cileungsi dan ia pun sampai terlebih dahulu.

Masuk ke cerita awal. Saat itu kami sampai dan langsung menemui kelompok masing-masing berdasarkan warna. Aku dapat kelompok cokelat dan sebelum registrasi kami diperekanankan berkumpul bersama dengan LO (Laison Officer) yang saat itu dialah Abdul Rahman dengan Jas elegan hitam yang dikenakannya. Perkenalan pertamaku dengan teman-teman Indonesia lain terjadi di depan pintu itu.

Ialah Nuril, Femi, Imam, Niki, Yaser, Ilham, Kak Nurun, Zanky, Abidin, Lina, Uswa, mbak Diyah, Rifki, Heri, dan Mardi. Merekalah yang akan menghiasi pembicaraan dalam FGD (Focus Group Discussion) kelompok Cokelat pada malam nantinya itu.

Masuk ke sesi pertama, ialah Kuliah Umum yang disampaikan oleh Mr. IreJ Jalal dari  IAEA (International Atomic Energy Association). Sesi ini begitu menarik karena memperkenalkan hal sesungguhnya terkait nuklir. Hal ini memancingku bertanya mengenai  Kondisi Indonesia yang termasuk negara dengan potensi bencana Alam yang begitu besar dan terletak dalam ring of fire. Hal itu terkait tantanganya dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Yang saya simpulkan dari jawabanya adalah terkait pemilihan site plan  yang sesuai studi kelayakan, dan dalam hal metode konstruksinya.

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Mr. Anhar dari BATAN (Badan Atom dan Tenaga Nasional) yang lebih kepada perkembangan Teknologi Nuklir di Indonesia. Hal ini yang disampaikan tidak melulu soal PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga  Nuklir) tapi juga kepada aplikasi teknologi nuklir di bidang Industri.  Menurutku ini sangat menarik, karena banyak produk BATAN hasil dari pengembangan teknologi nuklir menjadi produk berguna. Beberapa produk untuk industri di antaranya  Coloumn Scanning, pipe scanning (Mendeteksi Kebocoran), produk Iradiasi Makanan, Bone Allograf dimana bisa membantu sterilisasi tisu, juga produk kesehatan lainya. Ini yang patut dikembangkan.

Beralih ke sesi ketiga bersama Prof. Terry Mark dari ICTP. Ia berbicara soal Nuclear Human Resource Development. Memang tidak sembarang, beliau mengungkapkan dalam pengembangan PLTN sendiri, Sumber Daya Manusianya  membutuhkan persiapan sekitar sepuluh tahun, dalam hal ini adequate training sangat diperlukan.

Belum lagi perihal teknis, hal ini sangat diperhatikan karena safety factor adalah hal yang utama. Teringat kata Mr. Irej, “Improve safety, improve safety, improve safety.” Karena mulai dari hal ini bisa mengubah pandangan masyarakt mengenai bahaya dalam nuklir itu sendiri yang lebih banyak terlihat.

Masuk ke sesi General Lecture yang terakhir dari Ketua KOMMUN (Koumunitas Muda Nuklir) saudara Sayid Mubarok. Kali ini sesi lebih berjalan santai, perubahan bahasa pun terjadi karena hanya sesi ini yang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Sesi ini lebih berbicara soal pergerakan pemuda dalam pengembangan Nuklir. Saya pikir KOMMUN sudah memulai hal itu.

Setelah selesai semua rangkaian Kulah umum, maka dilanjutkan dengan sesi berikutnya yaitu FGD. Hal ini sangat menarik karena terjadi berbagai ledakan dari teman-teman dengan latar belakang studi berbeda yang memang mayoritas di bidang sains. Namun, hal itu tak mematahkan semangat salah satu kawanku Yasser dari Universitas Andalas dengan latar belakangnya sebagai seorang mahasiswa Sosiologi.

Pada sesi ini, aku banyak menemukan momen dan peraduan pemikiran yang luar biasa. Berbicara Nuklir yang tak melulu soal Teknis dan mungkin lebih kepada permasalah sosial masyarakat. Sampai seorang teman dari Teknik Lingkungan ITB (Niki) yang jurusan nya memiliki kaitanya di Jurusan ku yaitu Teknik Sipil mengungkapkan pendapatnya dari sudut pandangan Lingkungan dan hal itu telah membuka gerbang solusi melalui pendekatan masyarakat secara langsung melalui empathyc design.

Selanjutnya, semua masukan dan saran ditampung oleh Fasilitator yang selanjutnya akan dimasukan dalam butir-butir petisi untuk dipertimbangkan dan diajukan ke pemerintah berikutnya.

Minggu, Regional Sharing soal Nuklir

Pukul 07.00 WIB kami sudah standby untuk makan pagi. Teringat perbincanganku dengan beberapa mahasiswa Teknik Fisika mengenai Film Interstellar yang belum lama tayang di Bioskop. Satu hal yang kudapat, science fiction tidak bisa disamakan dengan science di kehidupan nyata. Stephen Hawking pun memisahkan hal tersebut.

Setelah makan pagi, dimulailah  acara konferensi pertama di Ballroom,
Setelah sesi tersebut, berikutnya diisi dengan pembahasan dan penandatanganan petisi bersama.
Pada malamnya, sesi Gala Dinner terakhir dinikmati semua delegasi. Selanjutnya setiap kelompok diperkenakan menerbangkan Lampion Kelompok mereka di Area Hotel Pool.

Senin, Pertemuan dengan Reaktor

Tepatnya di Serpong, salah satu reaktor nuklir Batan yang dibangun untuk melaksanakan kegiatan Litbangyasa iptek nuklir. Sebuah area  pengembangan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) untuk PLTN (Nuklir) di Indonesia dengan luas kawasan mencapai sekitar 25 hektare.

Perjalanan ini mengantarkan kami ke  Pusat Reaktor Serba Guna (PRSG). Fasilitas utama yang terdapat di kawasan ini adalah Reaktor Serba Guna GA. Siwabessy (RSG-GAS). Dengan daya 30 MegaWatt, Fasilitas ini terdiri dariInstalasi Produksi Elemen Bakar Reaktor Riset, Instalasi Radioisotop dan Radiofarmaka, Instalasi Elemen Bakar Eksperimental, Instalasi Pengolahan Limbah Radioaktif, Instalasi Radiometalurgi, Instalasi Keselamatan dan Keteknikan Reaktor, dan lainya.
Memasuki area ini memang sedikit ketat, diperlukan screening dan segala macam APD (Alat Pelindung Diri) yang nantinya terdiri dari jas, sarung tangan, shoes protector, dll.  Tak lain, dalam suatu teknologi reaktor memang dibutuhkan keamanan tingkat tinggi demi mencegah resiko yang ada.

Dalam pengembanganya, saya pikir nuklir dalam hal teknologi rekayasa makanan memang diperlukan dan patut dikembangkan. Hal ini mengingat Indonesia yang merupakan negara agraris dimana rekayasa pertanian dengan memanfaatkan Iradiasi makanan menjadi hal yang menguntungkan. Tak lupa juga untuk bidang Industri, kemudian terlebih di bidang kesehatan juga bisa membuahkan keuntungan, seperti untuk regenarasi kulit dsb. Skala kecil lebih baik dimanfaatkan,

Namun untuk pemanfaatan teknologi nuklir dalam skala besar seperti penerapanya pada reaktor atau yang mengarah pada pembangkit listrik tenaga nuklir memerlukan perhatian dan pertimbangan lebih khusus. Mengingat, sumber energi Indonesia masih banyak yang lebih potensial untuk dimanfaatkan seperti Tenaga air, Geothermal dll. Disamping itu dari segi keselamatan dalam Fasilitas Infrastruktur memerlukan studi lebih lanjut dengan mempertimbangkan negara Indonesia, sebagai negara ditengah Ring of Fire yang penuh resiko bencana.

Pengaman Reaktor Serbaguna Siwabessy

Fasilitas Nuklir, Serpong, Reaktor Siwabessy


0 comments:

Sehari Menggenggam Kyoto

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Jumat, 28 Agustus 2015. Hanya ada waktu sehari kami bisa mengunjungi kota yang katanya bagaikan Jogja nya Jepang. Kyoto, kota di pulau Honshu, Jepang. Kota penuh budaya dimana bisa ditemui rumah ala jepang yang sesungguhnya. Kota dimana shrine dan temple bertebaran di setiap sudutnya.

Saat itu kami pergi berlima. Awalnya bertemu di Umeda Station, Osaka. Barulah mengambil kereta menuju Kyoto Station yang memakan waktu sekitar empat puluh menit. Banyak wisata Kyoto yang bisa dinikmati kaum penjelajah ini, namun jika waktu tak megizinkan, biarlah tiga tempat ini menjadi tujuan kita. Tiga tempat menarik ini yang sangat mewakili Kyoto sehari ini.

Atap Emas di Kinkaku-ji Temple

Kinnkaku-Ji.
Refleksinya begitu indah. Atap berlapis emasnya itu dapat nampak di atas danau yang mengelilinginya. Jam buka untuk Kinkaku-Ji adalah pukul 09.00 s/d 17.00 waktu Jepang. Berbeda dengan kuil Ginnkaku-Ji dimana Gin sebagai perak, disini kinkaku-Ji merefleksikan emas. Ini adalah kuil yang semula berfungsi sebagai Villa milik Shogun Ashikaga.

Harga tiket masuk saat itu ialah 400 yen atau sekitar Rp. 42.500 saat itu. Setelah membayar tiket unik bertuliskan kanji dengan stempel  akan diterima pengunjung. Sedikit lurus akan kita temui sebuah panorama hijau, indah layaknya rerimbunan Kasur hijau menghampar.

Saat itu musim panas. Hijaulah yang ditemui. Di musim gugur, mereka mengatakan bahwa merah oranye yang akan menghiasinya. Lain halnya saat musim semi, bunga sakura bertebaran disana. Sementara, saat musim dingin ada kala seharinya kita bisa melihat selimut salju yang menutupi atap kecil kinnkaku-Ji itu.

Kinnka-Ji dan tamanya memang sangat mewakili taman jepang yang terlihat klasik. Taman jepang dikala periode Muromachi. Semacam inilah kompleksitas yang bisa kita saksikan, tak beda jauh dari beberapa taman lain disekitar.

Disini, bisa ditemui toko souvenir khas Kinnka-Ji yang tak bisa ditemui diluar. Berbagai macam alat kerajinan hingga aksesoris bisa didapatkan. Sebagai contoh untuk kisaran harga gantungan kunci disana antara 450 s/d 1.000 yen. Memang cukup mahal, setidaknya kartu pos dengan gambar Kinnkaku-Ji atau gambar khas jepang lainya bisa didapatkan seharga 90 s/d 100 yen (sekitar Rp.12.000,00 saat itu).

Kunjungan kami saat itu berlangsung sekitar satu jam di Kinkaku-Ji. Keluar dari gapura disana, akan nampak semacam bukit dengan lahan kosong berbentuk bintang yang katanya akan menyala dikala festival atau ritual.

Kyoto Imperial Palace

Menapaki gerbang dan hamparan jalan yang begitu luas, kami sebelumnya perlu memasuki bagian kantor informasi terlebih dahulu. Sedikit berbeda, Kyoto Imperial Palace memanjakan pengunjungnya dengan menyediakan pendaftaran berdasarkan rombongan pengunjung. Pihak pengelola selanjutnya memberikan form untuk selanjutnya diisi pengunjung dan dikumpulkan terlebih dahulu.

Saat itu, kami daftar pukul 11.00 dan mendapatkan giliran rombongan kunjungan pukul 14.00. Meski perlu mendaftar terlebih dahulu, sangat diuntungkan karena tiket masuk disini gratis. Jadilah kami menyempatkan berkunjung ke Kyoto Islamic centre  sebelum jadwal tur rombongan di Kyoto Imperial Palace dimulai. Letak Islamic centre juga tak jauh dari lokasi ini, tepatnya berdekatan dengan Kyoto, School of Medicine.

Kembali sebelum pukul 14.00, maka pengunjung diperkenankan menunggu di ruang tunggu gerbang Kyoto Imperial Palace sebelum semua pengunjung terdaftar berkumpul. Tepat jadwal pukul 14.00, tur pun dimulai dengan mengelilingi setiap sudut. Hal yang sering diungkap oleh tour guide bahwa memang sistem kasta pada zaman dahulu sangat terlihat. Nampak pada semacam garis pemisah dalam setiap bagian  rumah di tempat ini.

Sekitar 1 jam tur berbahasa inggris itu pun selesai. Perlu diingat, untuk pengunjung yang membawa barang berlebih, sebenarnya terdapat fasilitas loker di tempat menunggu. Jadi ada baiknya datang lebih awal agar tidak kehabisan loker.

Puncak di Fushimi Inari

Bagi kami, perjalanan disini memang seharusnya dilakukan saat tubuh dalam keadaan bugar. Tak kalah dengan pendakian biasanya ke puncak gunung, Fushimi Inari menawarkan hal tersebut namun dengan gaya pendakian menggunakan tangga. Layaknya sebuah stairventure, kaki kita ditantang untuk terus mendaki sampai pada puncaknya.

Masuk menapaki jalan yang akan disambut oleh sekitar 10.000 Tori Gate. Seolah-olah seperti domino, sepanjang jalan tersusun sampai pada puncaknya. Untuk menambah semangat, satu hal yang perlu dicatat, bahwa masuk ke Fushimi Inari tidak dikenakan harga alias gratis. Namun, tetaplah tantangan menuju atap puncak Fushimi Inari yang ternyata menyediakan trail (sejenis kereta tua) untuk turun setelah pendakian.

Sesungguhnya, waktu yang terbilang sudah mendekati malam dan tubuh yang sudah lelah sebelumnya membuat kami hanya sampai pada stop point. Sudah cukup memuaskan, disini panorama kota Kyoto sudah bisa terlihat jelas. Namun, lebih menyenangkan lagi jika dilakukan di pagi hari secara santai hingga puncak teratas Mount Inari.

Panorama Kyoto
Meski begitu, pendakian mendekat malam juga tak kalah seru, gemerlap lampu seolah menerangi malam sangat indah dilihat dikala itu. Jadi selamat menikmati dan menggenggam Kyoto lebih erat melalui tempat-tempat luar biasa lain yang tak kalah epic.

Tak lupa, sebelumnya penulis ingin mengucapkan terimakasih special untuk kedua Dosen Penulis, Ibu Sittati Musalamah dan Ibu Ririt Aprilin yang selalu membimbing dan tak pernah kehabisan semangat layaknya Kakashi-Sensei yang membimbing Naruto. Juga untuk rekan seperjuangan, Ines Wahyuniati Riza yang selalu berapi-api bagai matahari. Lalu terakhir Kak Syafri Wardi, sang pemandu cerdas yang handal mengatur waktu dan tak pernah lelah layaknya Ultraman. Tanpa kalian, aku hanyalah setitik debu yang tak mengerti apa-apa di Jepang.

Arigato Gozaimasu.

0 comments:

Past, When the Time Flies



The leaves and the sky (by: Author, 2015)

When is the past?
When the time flies


Involution, evolution, revolution
this is when time flies with the past

It is when you remember
Some kind of memories, lost but still there
A wooden swing may hang on the tree
Seems like moving free
It is the past where it meant to be

While the tree grows high
But, the leaves fell and die.
The ocean looks blue as we saw yesterday
And the skies were brighter then last day
It is when you remember that today is already yesterday

It is now Past..
Seconds are now minutes, then Minutes are now hours
Hours are now days, Days are now months
Months are now years, while years are now Decades
And the end,
realities are now memories

When the time flies..
You realize that the water has turned into ice
he realize that the snow has turned into water
She realize that the wood has turned into paper
And I realize that the reality has turned into memory

Annisa Dewanti Putri 9/06/15

0 comments:

BERKARYA DALAM ACCMES 2015 (OSAKA, JEPANG)


(Konsep Rumah Urban Dengan Pencahayaan Alami)
 
Oleh: Ines Wahyuniati & Annisa Dewanti Putri

Asian Conference on Civil Materials and Environmental Sciences 2015
Selasa, 25 Agustus 2015. Saat itu cuaca terik melanda Osaka, Jepang. Namun tidak menyurutkan niat dua mahasiswi jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Jakarta untuk mempresentasikan hasil penelitian pada Asian Conference of Civil, Material and Environmental Science (ACCMES). Acara tersebut adalah acara tahunan yang digelar oleh Higher Education Forum dalam upaya meningkatkan diskusi interdisipliner yang meliputi akademisi dan penelitian pada skala internasional.

Pada kesempatan itu, Annisa Dewanti Putri (Teknik Sipil 2011) membawakan karya tulis berjudul “Lighting Energy Efficiency Analysis in Slum Area (Case Study: Kramat Kwitang, Jakarta, Indonesia.” Paper ini berbicara soal seberapa besar penghematan yang diperkirakan antara bangunan rumah eksisting dengan desain barunya. Penelitian tersebut merupakan kelanjutan dari karya yang dibawakan Ines Wahyuniati Riza (Teknik Sipil 2012) berjudul “Upgrading Sunlight Expose for Better Residence in Slum Area: A Case of Kwitang Region, Jakarta, Indonesia”.

Penulis saat Presentasi
Inti daripada kedua karya tulis tersebut adalah penekanan terhadap pembangunan rumah untuk pemukiman kumuh pada wilayah urban. Tentunya konsep tersebut disesuaikan berdasarkan standar luasan tinggal manusia. Beberapa modifikasi dalam modelling telah ditambah guna membuat rumah yang terang dengan cahaya alami yang tetap masuk kedalam rumah. Selanjutnya, pengurangan terhadap pemakaian lampu pada area yang semula tak terkena cahaya dapat diminimalisir. Perhitungan efisiensi tersebut didapatkan dengan meninjau indeks konsumsi energi.

Mt. Fushimi Inari, Kyoto
Setelah penelitian diselesaikan, presentasi perlu dilakukan pada puncak acara ACCMES guna mendapatkan kritik, saran dan masukan dari beberapa ahli yang turut serta. Sebelum bisa sampai pada tahap ini, seleksi abstrak telah dilalui sejak Juni 2015 dibawah bimbingan Ibu Ririt Aprilin M.Sc.Eng dan Ibu Sittati Musalamah M.T, selaku dosen teknik Sipil.

Ikukunitama Shrine, Osaka
Membawa nama Universitas Negeri Jakarta khususnya Indonesia dihadapan para peneliti, ahli dan Professor dari beberapa negara di dunia telah memberikan pengalaman baru bagi dua mahasiswi ini. Ide-ide baru, inovasi, perkembangan ilmu pengetahuan di bidang teknik sipil, material dan lingkungan menjadi wawasan baru setelah mengikuti acara tersebut. Selain Indonesia, negara lain seperti Taiwan, Jepang, China, Malaysia, Turkey, India, Hongkong, Korea, Australia, Singapore, Thailand, dan lainnya turut berpartisipasi dalam memaparkan penelitian terkait. Alih mendapatkan pengalaman baru, pertukaran soal wawasan dan teknologi juga terjadi disini.

Kunjungan ke Osaka University

Setelah melalui rangkaian kegiatan acara ACCMES 2015 di Osaka International House selama tiga hari berturut-turut, tiba saatnya menikmati keindahan negeri sakura. Kunjungan ke Kyoto Imperial Palace, Kinnkakuji Temple, Fushimi Inari, juga landmark lainnya sekitar Osaka dan Kyoto menjadi cerita tersendiri. Tidak hanya itu, kesempatan luar biasa mengunjungi salah satu kampus terbaik di Osaka dirasakan. Osaka University atau lebih familiar disebut sebagai Hendai University oleh masyarakat disana, kampus ini memiliki fasilitas dan lahan yang terbilang besar.

Bracing Untuk Gempa
Selanjutnya, pertemuan dengan Professor Yasushi Sanada dari Division of Global Architecture, Graduated School of Engineering, Osaka University menjadi pengalaman langka berikutnya. Secara garis besar menyoal Divisi arsitektur pada kampus ini dan international coursenya ia terangkan. Disini nyatanya telah dibuka jenjang langsung dari master ke doctoral selama 5 tahun.



Tak hanya itu, Professor Sanada selanjutnya memperkenalkan fasilitas dan bangunan di Divisi Arsitektur disini. Yang menjadikanya unik adalah beberapa inovasi dan metode oleh beberapa Professor disini telah diaplikasikan di beberapa bangunan kampus. Salah satunya seperti retrovit pada gedung barunya guna menahan beban gempa yang terjadi. Sebelumnya menggunakan bracing, namun Karena mengurangi nilai estetika alias menghalangi jendela, maka digunakanlah retrofit. Model dibiarkan sebagian Nampak dari luar bangunan guna tujuan edukasi.

Retrofit pada bangunan baru (S1)
Tak hanya itu, nyatanya Osaka University telah berhasil memberikan kenyamanan tersendiri bagi mahasiswanya dengan menawarkan banyak fasilitas pendukung yang lengkap. Taman lanskap menjadikanya tetap hijau di hamparan area kampus yang terlihat luas.  Setidaknya bagi Jepang, Osaka telah memberikan ceritanya sendiri lewat wawasan dan pengetahuan di kampus ini.

4 comments:

Kembali Sembuh


Oleh Annisa Dewanti Putri 
Lukisan Paul Robbinson "Mother and Daughter" Sumber: www.redraggallery.co.uk

            Wajah itu tersenyum. Tanpa perlu berkata-kata, hanya mencoba mengutarakan apa yang ingin ditimpalinya. Melalui ekspresi hangat ia mengangkat bibirnya itu. Mata yang begitu lemah memandang namun penuh perhatian. Ibu memang selalu begitu. Itulah yang terjadi kali setiap aku mencurahkan hati dan pikiranku kepadanya. Meski tak banyak komentar, aku tahu ia cukup memperhatikan. Setidaknya aku tambah yakin setelah dipeluknya.

            “Bu, aku memiliki sahabat yang aku rasa ketulusanya melebihi dari sekedar sahabat, rasanya cukup menyenangkan bertukar pikiran denganya,” seruku sambil membalikkan beberapa lembaran pekerjaan yang telah kuselesaikan. Itu setidaknya salah satu kalimat yang pernah kucoba utarakan. Berharap ada timbal balik dari Ibu, aku terkadang tak hentinya berceloteh tentang apapun.

            Pernah sekali waktu aku berbicara soal Entablature. Sebuah kosakata baru mengenai komponen unik antara kolom dan tumpukan diatas balok. Sebuah pengistilahan langka dalam arsitektur. Aneh memang. Bagiku, sebenarnya tak masuk akal aku harus berbicara soal itu pada Ibu yang hanya lulusan Sekolah Menengah. Tapi begitulah, bagiku orang tua adalah tempat kita bisa menyalurkan keluh kesah maupun suka kehidupan. Ialah tempat kita pertama berbicara Mama, atau mungkin Papa, Ibu, Ummi atau panggilan lazim lainya seorang anak.

            Soal kata, memang tak pernah keluar banyak dari mulutnya yang selalu tersenyum itu. Ini terjadi sejak delapan tahun lalu ia menderita suatu kelainan yang bisa dikatakan penyakit cukup langka. Dari segi medis ia sempat divonis Myastenia Graphis. Ada lagi sebuah vonis dengan berbagai macam pengistilahan yang bisa membuat telinga gatal. Tak jarang sekarang, semakin banyak penelitian dan kecanggihan teknologi kesehatan, maka semakin banyak berbagai versi penyakit.

            Hingga suatu hari, Karena merasa lelah dengan penyelesaian secara medis yang tak berujung, alternatif dicoba untuk ditempuhnya. Sebuah jalan yang sebenarnya tak kusangka. Ia dipaksa untuk tidak bergantung pada obat.

            Menderita. Hingga tak kutahan rasanya melihat geraman kesakitan tanda ia membutuhkan obat andalanya itu untuk menghilangkan rasa sakitnya itu. Matanya sendu berharap belas kasihan. Namun tak ada yang mampu meredakanya. Hanya sebuah pil yang ia andalkan.

            Pernah sekali ketika ia terjaga semalaman tak bisa tidur menahan sakitnya itu. Aku hanya bisa menemaninya memeluknya membantunya untuk merasakan ruang mimpi indah yang sudah lama tak ia rasakan.

            Penyakit. Hal ini yang paling bisa menjadi duri bagi manusia. Duri tajam penyiksa namun juga pengingat bahwa manusia bukanlah apa-apa dibanding penciptanya Allah ta’ala. Suatu kali pernah kuberkisah untuk menengkan hati Ibu, bahwa ia bukanlah yang terparah dalam penyakitnya. Seorang Presiden semacam Ir. Soekarno pun pernah sakit dalam detik-detik proklamasi. Bahkan, seorang Nabi Ayub AS juga sepanjang hidupnya mengalami sakit. Pengingat bagi manusia. Bahwa terkadang harta, materi, fisik dan raga tak akan berarti ketika ia diurai rasa sakit.

            Baginya, hati dan pikiran lebih berharga dikala itu. Ya, saat itu sejak mencoba mengurangi penggunaan obat Ibu kembali menjadi Ibu yang kuingat saat masih berumur 6 tahun. Sikapnya kembali, ia seperti mencoba peduli layaknya dulu sebelum ia sakit. Wajah penuh perhatian mencoba merujuku untuk istirahat sejenak. Ia membaca wajahku yang lelah.

            Darisini aku menyadari bahwa ia kembali sehat, bukan hanya secara raga namun juga jiwa. Yang dulu pernah ada kembali menempel pada jiwanya. Ia Ibuku. Yang dulu selalu berkata, “Nak, kamu kenapa?” Yang selalu merasa sedih dikala aku sedih, dan selalu merasa senang dikala aku bahagia. Ialah Ibu yang mencoba kembali sembuh, yang selalu kami rindu.


Jakarta Timur, 29 Juli 2015

2 comments:

Sebuah Puisi Darimu

Sumber: Crisbrusco.com
Postingan kali ini bukanlah aku penulisnya. Ada seorang manusia yang bisa kudeskripsikan dengan kata 'Tulus.' Mencoba merangkai kata, dari hati katanya ia bicara...


Cinta itu seperti Beton
Bisa mengalami Shrinkage diawal dan Creep di akhir

Cinta itu Batasan
Sama halnya Beton yang mempunyai tegangan Ultimite dan izin

Cinta itu Ujian
Sama halnya beton  yang harus di uji tekan

Cinta itu Pengorbanan
Sama halnya beton yang harus di uji tarik meskipun lemah tapi bertahan

Cinta itu Tumbuh
Sama halnya beton beton yang harus menunggu umur rencana.

Cinta itu Saling Support
Sama halnya beton yang membutuhkan scaffolding dan bekisting

Cinta itu 2 Insan yang menyatu
Sama halnya seperti beton yang membutuhkan besi tulangan agar lebih kuat

Cinta itu Seperti Beton
Yang bisa kuat tahan lama meskipun terkena beban (Dead Load, Live Load, Gempa)
Sama seperti aku yang akan hanya terpaku pada satu titik (kamu),
meskipun banyak godaan datang menghadang

Cinta itu aku dan kamu.


Semarang, 28 Juni 2015
RAK

0 comments:

Salam Untuk Bintang


Sumber Gambar: wattpad.com

Hai bintang, aku tak pernah tau kalau kau ada.

Sebelum kulihat lautan cahaya di atas ubun-ubun kepala ini, aku pikir itu hanya bayang.
Tapi setiap orang selalu bercerita tentang dirimu. Dengan cahaya dan ruapmu yang terkadang digambar seperti sebuah segi-segi yang memliki sisi runcing diujungnya. Itukah dirimu? Tak apa, aku tetap menikmati setiap rupamu yang digambarkan.

Sebenarnya ada satu hal yang ingin kutanya, apakah dirimu yang kulihat sekarang adalah dirimu di masa lalu? Apakah dirimu sebenarnya sudah redup wahai bintangku.

Aku tak pernah menyangka akan mempertanyakan pertanyaan bodoh ini ke dalam benak diriku sendiri. Adik ku pun aku bingung jika kutanya. Tak bisakah jawaban datang langsung ketika pertanyaan terbisik dalam pikiran. Lucu.

0 comments:

Lewat Karya Tulisan (Sebuah Pengantar Call For Paper)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

    Menjadi pemuda adalah bagian produktif di masa hidup sebagai manusia. Sebagaimana banyak ahli dan tokoh menyebutkan bahwa kekuatan pemuda melebihi daripada kekuatan manusia di masa lainnya. Utamanya mahasiswa, sebagai bagian daripada masyarakat muda memiliki arti sendiri dalam sebutannya. Ia adalah manusia yang berdiri netral dan seharusnya bisa berkontribusi tanpa pamrih untuk kemajuan bangsa.

    Saat ini, kegiatan volunteering menjadi hal yang tak asing lagi di dunia kampus dan kepemudaan. Dibutuhkanya aktivis dan penggiat tanpa orientasi uang semata menjadi panggilan tersendiri bagi mereka. Tak hanya itu, produktivitas berupa karya menjadi bahan pertimbangan yang lain bagi pemuda dalam menjalani proses pembelejarannya.

    Tak heran, jika seorang pemuda, terkhusus pemuda dituntut untuk terus berkarya baik berupa objek konkrit, karya lisan, maupun lewat tulisan. Tulisan dapat menjadi wadah dokumentasi khasanah pengetahuan bagi individu, baik disekitarnya maupun untuk individu di generasi berikutnya.

    Tulisan nonfiksi yang mengarah kepada karya tulis dan penelitian menjadi jembatan pengembangan dalam budaya literatur dan keilmiahan. Biasanya, karya ini dipertanggunjawaban melalui bentuk konferensi atau summit, symposium dll. Hal tersebut agar terjadi sebuah pertukaran pemikiran dengan bidang ilmu relative dalam melihat objek tersebut. Berikut adalah beberapa uraian singkat mengenai tips dan informasi terkait konferensi dan publikasi paper yang bisa diikuti.
Berikut beberapa tips jika ingin berpartisipasi dalam suatu agenda kegiatan keilmiahan (Konferensi, Summit, Forum, maupun symposium):
  1. Persiapkan ide penelitian/karya, diusahakan relevan dengan latar belakang pendidikan.
  2. Buatlah abstrak dan outline sementara sebelum masuk ke bagian full paper.
  3. Dalam sebuah paper ilmiah umum, biasanya bagian terdiri dari abstrak, 
  4. Carilah agenda kegiatan yang memiliki sub tema yang bisa melingkupi latar belakang keilmuan atau topic area dari ide yang dibahas.
  5. Sesuaikan format penulisan dengan kegiatan yang ada.
  6. Dalam pembuatan full paper mengaculah pada banyak buku dan jurnal dengan penelitian yang relevan, hindari pengutipan langsung dari jejaring maya.
  7. Untuk pendanaan, hubungi pihak yang bisa terkait dengan bidang ide/penelitian paper. Pihak terebsebut dapat dimasukkan ke dalam bagian  Acknowledgement pada paper.
Gambar: Salah satu website yang mewadahi dalam Pencarian jenis acara/konferensi/forum yang bisa kita ikuti

Untuk mencari info terkait dengan kegiatan nasional maupun internasional yang bisa diikuti dapat melalui banyak cara, salah satunya melalui cara berikut:
  • Jika aktif dalam facebook, bisa diikuti page Youth Opportunities (https://www.facebook.com/YouthOpportunities atau banyak page lain serupa.
  • Beberapa website menyediakan pengingat dan timeline untuk setiap konferensi yang dilaksanakan di beberapa Negara seperti:  http://www.conferencealerts.com/  
  • Jika aktif dalam twitter, bisa di follow @tweetkuliah , akun ini memliki banyak tweet terkait acara yang melibatkan pelajar, pemuda dan mahasiswa baik nasional maupun internasional.
  • Atau banyak cara lain dengan menelusuri sendiri melalui search engine sesuai kata kunci atau diikuti Negara tujuan, misal: Youth Conference 2015, Engineering Summit, Asia Economic Forum, Lomba Karya Tulis Nasional 2015, International Social Conference dll.
Rawamangun, Jakarta Timur,
1 April 2015
**Disampaikan saat menjadi pembicara dalam kajian Rebo, Asrama Sunan Giri

0 comments:

A Poem of a Package

An ilustration by me

I rarely write poems.
 Its not what Im good of. But yup, it doesn't mean because your not feeling good of it then you don't wanna try it. This is about a package that i try to order. Not really important, but the thing that I order makes me awaits.

Waiting is the enemy of time. And, yeah my time perception thinks that this time is getting faster. Luckily the bugs from the "Epic" one of this animated movie shows that bugs has a slow perception of time, that is why they can escape fast when we tried to slap them. Okay, Im not gonna talk about this film. The point is time and waiting. Just like waiting this package.

Do you ever buy something indirectly maybe by an online shop or social media. In this era, that is called Cyber-shopping.  Cool right, it's all about cyber that may solve problems and may cause problems. This random post is dedicated for you Package. A package that I ordered by online. RANDOM. This is a Random Post.

Hereby, I wrote this poem for you Package

Package 

Dear Package, 
will a letter delivered by mail say "Dear me?"
But no, this time is not a letter for me.
A letter or a package, 
this world is full of package,
its delivery really needs to be managed

getting lost, while the other waits..
waiting for this package.
A package that could ride me to the world.
A world that may give silence,
or the world that may bring me to crowd.
 
A space where we never been
or the place that I have visitted only in my dream.

Or maybe it could make me different,
at that time not being as me.
but only at that time.
Im still me, its just when I explore my imagination

Yeah, this package is a book.
Not only A BOOK, but some books.
Wait and see, a review maybe

Duren Sawit, 11th of July 2015


A code from me for some of my new random posts.
Yeah, if they have arrived, Ill make some book reviews from it.

0 comments:

Air Mengalir dalam darah Pemuda: Water, Sanitation, and Cities Forum (WSC) 2015


 
Jumat (29/05/15), Sebuah acara bernama Youth Program 2015 sebagai hasil kerja sama antara Kementerian Pekerjaan Umum dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga selesai dilaksanakan. Dalam acara ini pemuda dengan latar daerah berbeda dilibatkan dalam isu perbaikan air bersih, sanitasi, dan Permukiman.. Youth Program 2015 telah mengumpulkan 75 peserta nasional maupun internasional dengan kategori sebaai pemuda yang telah/sedang berkiprah di bidang keciptakaryaan dan sosial.

Acara ini diadakan dari tanggal 23 s/d 29 Mei 2015 sebagai bagian dari rangkaian acara Indonesia International Water Week 2015. Puncak acara diadakan di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan bersamaan dengan forum serupa lain. Sebelum acara puncak, peserta dikerahkan untuk mengikuti Field Trip menuju Komplek Rusun BuddhaTzu Chi dimana terdapat komplek Permukiman yang menerapkan konsep sustainable settlement.

Selain itu, kunjungan lapangan juga dilakukan di daerah kelurahan Lenteng Agung. Dua hal terkait pembelajaran soal lingkungan yang peserta bisa dipetik, yaitu mengenai sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan TPST (Tempat Pengelolaan  Sampah Terpadu). Untuk TPST Lenteng Agung dikelola dan dijelaskan oleh Bapak Sarmili, seorang tokoh lingkungan peraih penghargaan Kalpataru yang menjadikan sampah bernilai ekonomis tinggi. Sementara, IPAL Lenteng Agung yang berbasis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dikunjungi peserta setelahnya.

Tujuan dari kunjungan ini adalah agar peserta meninjau kondisi tiap lokasi dari segi keciptakaryaanya yang meliputi penataan bangunan gedung, penataan permukiman, pengelolaan sampah, air limbah dan minuman. Sebagaimana Bapak Aryananda Sihombing (Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya) menyebutkan dalam presentasinya bahwa target 100-0-100 untuk permukiman berkelanjutan adalah pada tahun 2019, sehingga diperlukan peran pemuda dalam mewujudkannya.

Selain itu, bagi Dominik Schott (Delegasi Jerman) kegiatan ini menjadi hal yang penting dalam mengimplementasikan program berkelanjutan. “The field visits were in my opinion very important because you can get in touch with real problems,” tutur Dominik, ketika ditanya soal manfaat kegiatan ini. Baginya acara ini meningkatkan relasi antara beberapa Negara partisipan seperti Jerman, India, Thailand, dan Indonesia, sehingga pemuda dalam lingkungan dapat diberdayakan untuk pembangunan berkelanjutan.

Menjadi Sociopreneur Lingkungan

Disamping  kunjungan lapangan, terdapat beberapa seminar/pelatihan yang dibawakan oleh beberapa tokoh muda inspiratif. Salah satunya adalah Nezatullah Ramadhan sebagai pendiri Yayasan Nara Kreatif yang mengusung yayasan peduli lingkungan pengolahan limbah kertas dan organik menjadi produk berdaya guna serta berdaya jual untuk kegiatan sosial. Neza menjelaskan bahwa  sociopreneurship bukanlah sekedar usaha mendapatkan uang semata, melainkan juga bisa memberikan dampak positif pada lingkungan.

Bagi Direktorat Jenderal Cipta Karya, solusi inovatif dari permasalahan pemukiman kumuh, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan sumber air minum yang layak di berbagai wilayah Indonesia diharapkan dapat dikembangkan melalui ide dan kreativitas pemuda. Melalui lomba proposal dan pelatihan sebagai bagian dari acara Youth Program 2015, diharapkan dapat memunculkan ide serta jiwa sociopreneurship pemuda dalam memperbaiki wilayahnya.

Peserta lebih diarahkan kepada pengembangan diri untuk bisa menjadi seorang sociopreneurship muda, terkhusus dalam hal ini yang berkaitan dengan sanitasi dan permukiman. Sebagaimana salah satu peserta, Fajri Mulya Iresha menyebutkan, “Acara ini membuat banyak orang lebih peduli dan beraksi dalam menyelesaikan permasalahan permukiman berkelanjutan.” Sebagai Founder dari Zero Waste Indonesia, Fajri berharap masing-masing daerah juga punya program yang sama agar lebih banyak orang yang bergerak. Dengan acara akhir yang ditutup oleh lantunan lagu-lagu daerah dari Jurang Dik Doank (JDK), peserta Youth Program berpisah dibekali semangat pemuda dengan jiwa nasionalismenya.

0 comments:

Teka-teki Cinta dalam Sejarah Jakarta (Review Film)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

sumber Gambar: Anakfilm.com
Judul: Adriana
Sutradara: Fajar Nugros
Produksi: Visi Lintas Film
Tahun: 2013
Genre: Romansa, Misteri, Sejarah


Cinta nampaknya tak selamanya mengarah pada jalan sesat, tanpa arah. Cinta seolah sudah memiliki jalannya sendiri. Tinggal apakah si subjek ‘cinta’ mau memecahkan jalan untuk menemukan cinta sejatinya atau hanya pasrah menanti jawaban. Itulah gambaran yang setidaknya ingin diangkat oleh film berjudul Adriana.

Film garapan Fajar Nugros, bukanlah hanya berujung teka-teki cinta semata. Dimulai dari pertemuan Mamen (Adipati Dolken) dengan seorang wanita bernama Adriana (Eva Celia) di perpsustakaan Nasional, memercikan kembang cinta Mamen untuk ingin berkenalan denganya. Namun, Adriana tak semudah itu menerima tawaran pertemuan, ia memberikan sebuah petunjuk untuk menemuinya di tempat lain.

Sebagaimana, Adriana seorang pecinta sejarah yang namanyapun diambil dari Adriana Van Den Bosch, anak dari gubernur Hindia Belanda (Jenderal Van Den Bosch). Ia telah setidaknya membawa penonton membuka pintu sejarah ruang Jakarta. Dari petunjuk dan secarik demi secarik kertas yang diperoleh Mamen semua sejarah itu terungkap.

Disinilah petualangan Mamen dimulai untuk bertemu cinta sejatinya. Melalui perjuangan, Mamen bersama Sobar (Kevin Julio), seorang sahabat sepermainan Mamen mencari Adriana. Teka-teki itu ternyata tak hanya sebuah permainan. Teka-teki itu ialah sebuah perjalanan sejarah Jakarta, terkhusus sejarah beberapa monument dan ruang ikonik Jakarta.

Mulai dari teka-teki yang menggiring ke Patung Proklamasi, menemukan teka-teki berikutnya yang menggiring Mamen dan Sobar ke tempat museum Fatahillah berada. Mamen yang awalnya seorang mahasiswa yang sedari dulu lalai akan pelajaran menjadi amat antusias dalam mendalami sejarah, utamanya Sejarah Ibu Kota Jakarta.

Adriana dan Adriana Van Den Bosch
Sumber: grazie.co.id
Namun, misteri cinta dan sejarah tak berhenti disana. Seiring berjalannya kisah, terkuaklah bahwa Adriana sebenarnya adalah kawan lama dari Mamen dan Sobar. Dilema pun bertambah saat Sobar menyatakan bahwa Adriana adalah cinta pertamanya sejak SMA dahulu. Kedua pasangan kutu buku sejarah ini memang sebenarnya terlihat cocok. Sobar yang selalu lebih dahulu menjawab tek-teki dari Adriana sempat membuat Mamen kecewa.

Sobar dan Mamen "Antara Bung Hatta dan Bung Karno"
Persahabatan layaknya dikalahkan oleh cinta tak membuat Sobar jatuh dalam palung. Baginya persahabatan adalah yang utama dari cinta. Pada akhirnya, meski Sobar yang utama kali menyentuh teka-teki terakhir Adriana di atas Monumen Nasional (Monas), Mamen lah yang ia relakan untuk menggandeng cinta pertamanya tersebut mengingat perjuangannya yang lebih keras dari menelusuri sejarah Jakarta itu sendiri. Kisah kedua sahabat inipun dianalogikan dengan persahabatan antara Bung Karno dan Bung Hatta.

Meski sebenarnya, dibalik misteri itu, semua teka-teki sejarah ini nyatanya adalah rekayasa sang guru semasa kecilnya Adriana (Agus Kuncoro) yang sengaja menggiring mereka semua dalam satu titik zero point Jakarta (Monas). Semua itu terkuak pada akhir kisah.
Pancoran Punya Cerita Tempo Dulu
Sumber: fotografer.net
Film ini diperkaya dengan soundtrack memukau karya dari Indra Lesmana. Campur tangannya dalam paduan instrumental dan Jazz klasik menjadikan kota Jakarta yang seolah berada pada Utopia sejarah monumental menjadi kota penuh misteri. Semisal, saat Mamen mempertanyakan arti dari arah Patung Pancoran menunjuk. Patung gagasan Soekarno yang terakhir itu nyatanya ditinggalkan terlebih dahulu oleh Soekarno sebelum rampung.

Alur cerita dari Film ini adalah campuran. Tak jarang penonton dibawa pada petualangan Mamen dan Sobar dalam mencari Adriana yang diselipkan tayangan sejarah setiap ruang Jakarta. Juga tapak tilas yang dilalui Adriana, Mamen, dan Sobar selama masa remaja mereka. Kelemahannya adalah pada penokohan Mamen yang terkesan sangat egois digambarkan dari zaman SMA hingga pada akhir cerita yang selesai dengan Mamen menggandeng tangan Adriana. Sementara, demi sebuah sejarah dan persahabatan, Sobar memilih untuk tulus mengalah.

Secara keseluruhan, Fajar Nugros berhasil membawa penonton dalam Romansa misteri bernuansa sejarah. Indonesia memang memerlukan film-film berkualitas seperti ini yang tak hanya melulu soal cinta tapi juga soal seluk beluk Indonesia. Menjadikan film tak hanya hiburan semata, namun juga wawasan dunia.

6 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch