Berkelana dalam Dunia Semesta (Resensi)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Judul Novel        : Dunia Anna
Penulis            : Jostein Gaarder   
Penerbit            : PT. Mizan Pustaka
Tahun Terbit        : 2012
Tebal            : 244 Halaman

Anna, seorang gadis pemikir yang beranjak berusia 16 tahun membayangkan bumi yang semakin terancam oleh ulah manusia. Ketakutannya nyatanya bukanlah sebuah penyakit atau phobia berlebih yang sempat dikhawatirkan Ibunya. Dokter Benjamin mengetahuinya sejak pertama kali memeriksa Anna. Pikirannya tak sakit. Ketakutan itu nyata. Bagi Dokter Benjamin, pemikiran dan mimpi Anna adalah sebuah lompatan magis antara dimensi ruang dan waktu yang mencoba menyadarkan bahwa Lingkungan Bumi sedang terancam.

Novel ini mengangkat isu lingkungan dalam drama kehidupan seorang Anna sebelum hari ulang tahun yang ke-16 nya tersebut. Cincin batu merah asal Persia, sebagai tanda hadiah ulang tahun nya diberikan secara turun-temurun. Benda ini adalah bagian dari warisan keluarga Anna. Kaitan antara cincin batu dan kekhawatiranya terhadap lingkungan menjadi amat erat saat Anna mulai bermimpi sebagai Nova. Ialah seorang cicit masa depan Anna yang nantinya juga menggunakan cincin tersebut.

Dalam karakter Nova, ketakutan benar-benar menjadi nyata. Tepatnya generasi sesudah Anna yang sedikit banyak merasakan kerusakan Bumi yang begitu parah. Masih di Norwegia dimana kadar
CO2 sudah tak terkendali, terjadi penurunan suhu, perubahan iklim, kelangkaan energi, hingga punahnya spesies bumi selain manusia. Semua tokoh dalam novel ini diajak berpikir hingga memancing pembaca untuk ikut berpikir masalah isu lingkungan atau yang sekarang marak disebut Global Warming.

Alur yang dipakai dalam novel adalah alur campuran dimana penulis memecahnya kedalam dua dimensi waktu yang berbeda. Setiap bab dalam novel ini menyajikan frame dan setting cerita yang berselang antara kehidupan Anna di masa ini dengan kehidupan Nova (dalam mimpi) yang berlatar waktu tahun 2082. Sementara, kejadian dalam mimpi terasa amat nyata dan meyakinkan Anna bahwa saat itu dirinya adalah Olla (panggilan nenek buyut) yang ternyata ia temui saat sedang menjadi Nova.

Batu cincin itu seolah mengabulkan permohonan Nova agar bisa mengembalikan keadaan bumi sediakala. Tepat saat itu, Anna terbangun dari mimpinya dan kembali menjadi Anna. Darisini ia mulai menyadari bahwa ialah yang bertanggung jawab dalam kerusakan di bumi pada generasi sesudahnya. Batu cincin itu telah mengabulkan permohonanya untuk kembali ke masa Bumi masih Hijau.

Sementara Jonas, kekasih Anna dalam kehidupan nyatanya berupaya membantu Anna dalam mengatasi dilemanya menghadapi ketakutan kerusakan tersebut. Dialog mengenai rancangan pergerakan dan komunitas lingkungan yang hendak mereka bentuk terjadi secara intens. Begitupula sampai pada puncaknya Jonas memaparkan idenya tentang mesin otomat pengingat punahnya seekor spesies lewat sebuah tulisan esainya.

Semua hal yang terjadi di kehidupan nyata dirasa Anna telah terjadi sebelumnya dalam mimpi sebagai Nova, dan itu semua persis terjadi.
Selain konflik masalah ketakutan personal Anna terkait Bumi, Dokter Benjamin juga telah mencampuri pikiranya dengan sebuah ketakutan akan penyanderaan Ester. Ialah anak Dokter Benjamin. Jostein Gaarder setidaknya telah membawa pembaca untuk menghubungkan satu konflik ke konflik lainya.

Pada dasarnya, pemikiran filsafat tidak diuraikan secara dalam layaknya novel Jostein Gaarder sebelumnya yang berjudul “Dunia Sophie.” Pemahaman lebih tertuang secara konkrit dalam bayangan langsung tokoh dan pemikiranya. Sehingga, teori filsafat tidak terlalu dititikberatkan dalam cerita di novel ini. Hasrat Jostein sebagai salah seorang pegiat lingkungan amat ketara dalam novel ini. Ia begitu menggambarkan dan selayaknya seorang aktivis lingkungan menyerukan suara ini lewat tulisanya.

Namun demikian, permainan kata terhadap alam dan semesta membawa pembaca untuk sedikit berpikir dan merenung. Dengan Bahasa yang masih dipahami, Jostein Gaarder mengulas hal terkait pemikiran “Resiprositas” yang perlu dipertimbangkan oleh antar manusia. Inilah sebuah pemahaman bahwa dalam memperlakukan seseorang haruslah sama sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Tentunya harapan Jostein Gaarder terletak pada Resiprositas vertikal, dimana hubungan dan perlakuan tersebut tak hanya untuk manusia saat ini, tapi juga untuk generasi yang akan datang. Secara keseluruhan, novel ini asik dibaca untuk manusia yang mencoba mencari arti kehidupan untuk semua makhluk hidup di bumi saat ini.

2 comments:

Ilmunya Tak Berhenti Disini


Teruntuk dosen kebanggan kami, Sumarno, ST, MT.
إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
 Innalillahi Wa innailaihi Rojiun.

Berita itu begitu cepat terhampar di ruang atmosfer jurusan kami. Pak Marno, engkau memang tak akan membaca tulisan ini. Mata bapak telah menutup meninggalkan beberapa pesan di ruang kelas yang mungkin terakhir Bapak hadiri.

Kami, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Negeri Jakarta sangat berduka kehilangan sesosok dosen yang begitu muda, unik, dan bersemangat seperti Bapak. Seorang dosen yang bersedia memberikan pembelajaran kehidupan disela-sela pembelajarannya. Meski angka teknik (Matematika) yang diajarkan, tapi entah budaya literasi selalu menghiasi ucapanmu diantara ribuan angka di papan kelas itu.

novel remy sylado. Sumber:goodreads
Sedikit bercerita, saya teringat saat Bapak Marno merekomendasikan buku karya Remy Sylado berjudul “Namaku Matahari.” Sesosok wanita yang digambarkan bertindak di luar kebiasaannya. Berperan sebagai agen ganda pada masa Perang Dunia Ke-I. Ia juga tetap berani dalam menampilkan tarian erotik Jawa pada perjalanan hidupnya meski berada di luar Indonesia.

Hal apapun tentang sosok Matahari yang kau kisahkan melalui hasil bacaan Bapak membuat diri ini sadar. Sastra begitu indah di antara angka yang berjelimat. Tak peduli kita yang hidup di dunia Keteknikan.

Bapak, pelajaran angka-angka:  pelajaran terkait Logaritma, Trigonometri, Integral, dll begitu terlihat kompleks. Namun, semangat Bapak dalam mengajar dan menunjuk kami untuk bisa maju dalam setiap soal yang Bapak berikan begitu memacu kami untuk bisa memecahkan sebuah persoalan matematika. Teringat bahwa, salah satu atau dua dari kami pasti setiap pertemuanya selalu ada yang terpanggil untuk mengerjakan soal di depan. Tentunya, Bapak tak akan menyerah dalam membantu kami menjawab soal tersebut.

Bagi saya, semua catatan itu berarti awet tetap disimpan hingga sampai pada semester 8 ini. Hal ini karena catatan angka-angka itu begitu sistematis. Padahal, saya selalu ingat Bapak mengajar tanpa membawa-bawa sebuah buku. Bapak begitu menguasai materi ini, hingga cara untuk mengajar begitu spontan kau ajarkan. Itulah Transfer Ilmu sesungguhnya.

Persoalan karya Tulis. Teringat dalam lomba Karya Tulis Ilmiah yang di adakan UNTIRTA TRAS tahun 2012 lalu. Saya membuat karya tulis mengenai KOPER (Kotak Penampung) Hujan. Dimana, ide tersebut berangkat dari solusi untuk mengatasi kebakaran, artinya kotak itu digunakan sebagai kotak hidran. Bimbingan dan motivasi yang telah Bapak berikan mengantarkan karya tulis ini menjadi Juara III tingkat nasional. Terimakasih Bapak Marno.

Saya teringat di ruang kelas, Bapak selalu bercerita akan prestasi anak bangsa yang bisa menjadi cambukan buat kami, Mahasiswa lainnya. Semua itu selalu terjadi disela-sela sibuknya kami memecahkan masalah soal penuh dengan angka itu.

Terakhir, saya ingin berterimakasih lagi Pak. Mungkin, salaman dengan Bapak sekitar dua minggu yang lalu adalah pertemuan terakhir dengan saya Pak. Atau mungkin di beberapa hari kemarin adalah pertemuan terakhir dengan beberapa mahasiswa lain juga. Namun, di pertemuan terakhir itu saya selalu ingat dengan kata-kata Bapak soal “Teruslah Menulis, berbagi, dan jangan lupa di share ya kalau masuk media lagi. Kalaupun tidak, sering-seringlah nulis di blog.”

Alm. Bapak Sumarno, ST, MT
Sumber: Dokumentasi Pribadi Pak Marno
Ya, tulisan ini membuat saya sadar bahwa telah sedikit lama saya meninggalkan kebiasaan menulis dan membuka blog ini hingga lumut di blog ini mulai Nampak. Mungkin terlalu focus dan khawatir akan tulisan skripsi (Mungkin). Hingga akhirnya saya teringat dengan ucapan Rahmat. Seorang penyair dan juga kawan saya. “Menulislah Selain SKripsi.” Begitulah yang ia tuliskan dalam esainya. Intinya, saya semakin tersadar dan teringat segala omongan dan pesan yang Bapak sampaikan sebagai seorang dosen dan pecinta sastra.


Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan kenangan untuk diri Bapak Marno. Seorang dosen muda yang menurut saya dan mahasiswa lain sebagai salah satu dosen kesayangan yang baik. Tulisan ini adala sebagai ungkapan terimakasih saya terhadap semua atensi yang diberikan Bapak kepada kami. Terimakasih atas jasa dan pengabdian Bapak.  Selamat jalan Bapak Marno, semoga amalan dari ilmu Bapak tak pernah putus dan semoga segala yang Bapak ajarkan ilmunya tak berhenti disini.

4 comments:

Maju dengan Membuka Ruang Dunia (Perpustakaan)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Akademi (Academia), sebagaimana sebuah ruang pertama berbentuk taman tempat  Plato dan muridnya belajar mengenai dunia. Begitupula dengan Pendidikan Tinggi atau yang erat kaitanya dengan nama Universitas, Institut, Sekolah Tinggi dll. Memajukan Pendidikan Tinggi, mengarah kepada memajukan pusat peradaban. Semua hal ini tak akan lepas dari segala aspek dan ruang yang berkaitan mempengaruhi keberadaanya.

Memajukan Pendidikan Tinggi, tak hanya melulu soal sistem akademik, prestasi, kualitas pengajar, dan lainya. Hal lain yang bisa kita maknai adalah sebuah ruang penuh literasi yang bisa mengantar seorang individu untuk mempelajari dunia dan berbagai detailnya. Sebuah ruang penuh lembaran kumpulan penelitian, tumpukan buku, rak-rak, meja, yang erat disebut sebagai ruang perpustakaan.

Ruang dokumentasi penuh kisah melalui berbagai tumpukan buku yang ada, seharusnya bisa
mempertimbangkan kemudahan dalam akses. Tak hanya untuk mahasiswa, dosen dan akademisi lainya, bangunan penuh rak ini bisa menjadi sebuah ruang wisata bagi masyarakat di luar kampus juga. Ruang ini bisa menjadi celah yang mengantarkan masyarakat menuju dunia yang berbeda tentunya melalui berbagai tulisan dalam buku maupun media lainya di Perpustakaan.

Melihat Perpustakaan di Central University City Campus Library (1949) di kota Meksiko bisa dijadikan pelajaran dalam menarik masyarakat untuk berkunjung. Melalui desain arsitektur dan mural pada dindingnya membuatnya menjadi unik, bahkan menjadikanya salah satu warisan dunia. Akses bagi masyarakat begitu terbuka seakan disini proses transfer ilmu dari dunia kepada masyarakat terjadi secara rutin. Tentunya ruang ini menjadi salah satu contoh yang begitu tinggi.

Meski begitu, tak harus menjadi perpustakaan mewah untuk melayani dan menarik masayarakat. Dengan kemudahan akses didukung sarana prasarana yang memadai tanpa komersialisasi,  bisa memancing kebiasaan selain akademisi untuk tetap berliterasi melalui perpustakaan Pendidikan Tinggi. Ini adalah bentuk dari pengabdian masyarakat secara tidak langsung, karena disanalah tujuan lembaran dan buku-buku itu dipajang, tak lain adalah untuk dibaca. Dibaca tak hanya oleh masyarakat kampus, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia.

Tak hanya ruang publik, perpustakaan di suatu instansi pendidikan tinggi dapat menjadi sentra pertemuan berbagai ide dan sarana diskusi untuk beberapa titik. Tinggal bagaimana membentuk batasan ruangnya sendiri sehingga ruang lain khusus untuk melahirkan ide/diskusi dapat dinikmati.  Maka, pandangan bahwa perpustakaan hanyalah tempat untuk membaca sebuah buku perlu ditandai. Teknologi yang maju memungkinkan pengunjung bisa mengakses komputer dan gadget yang tersedia lainya. Ini berperan penting, karena selain dari lembaran, mempelajari berbagai pengetahuan dapat juga dilakukan melalui media elektronik.

 Sebuah ruang  yang bisa menyatukan berbagai profesi dan kalangan masyarakat tak terkecuali melalui pelayanan yang setara. Dengan begini, perguruan tinggi tak hanya menjadi “Universitas magistrorum et Scholarium” yang mana berarti sebagai komunitas guru dan akademisi, namun juga sebagai komunitas masyarakat dan dunia. 



*Dimuat dalam Rubrik Esai Poros Mahasiswa Koran SINDO, edisi Februari 2015.

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch