New Age, New Inspiration: Happy Birthday Master

New Age, New Inspiration

New age,
where you revolve the sun again
New inspiration,
where you always climb the mountain

I was once a small particle
I never know what I'll reach
As you guide me to the tops of the pine tree
Make me believe that we shouldve always learn
learn how to gather the comets, the galaxy
Revolving around the sun for several years

365 days 
You have inspired lots of tiny stars
The stars that before are too tiny to shine
But, as you say it's gonna be fine
365 days has passed
New Age, New Inspiration
Welcome to your new age master


A sketch dedicated for you Sensei. Your Past where you get your master.
This historic campus full of inspiration

A very big apologize from me.
It's already 20th of December 2015. How shame I am. I forget that thirteen days before, it was my amazing Masters birthday. Congratulation in your new age sensei, Ibu Ririt Aprilin. May Allah SWT always bless you in this world and afterworld. In this moment I dedicate my random post, sketch  and my simple poem for you. Barakallah



Jakarta, 20/12/15

0 comments:

DIANTARA KOLONADE MASJID

Oleh: Annisa Dewanti Putri
Sketsa Al-Mahsun, Medan. Sumber: Penulis, November 2015
Dalam kemeriahan aktivitas para pencari materi, berdirilah suatu ruang dan berkumandanglah Adzan. Ruang yang selalu menjadi alarm pengingat di setiap waktu. Menggetarkan hati untuk selalu mengingat sang pencipta. Ruang itu tak pernah sepi. Ruang arsitektur yang penuh akan makna spiritual dan telah melekat erat dengan aktivitas umat.

Dalam masjid, keindahan arsitekturnya tak pernah luntur. Kebudayaan islam telah banyak mengadopsi sejumlah atribut kebudayaan dari wilayah yang berbeda tanpa harus keluar dari esensi budaya ruangnya tersendiri. Lihatlah kaligrafi, pilar-pilar tinggi, kubah maupun lantai yang berseri. Sebagaimana Arkoun (1983) telah mengatakan soal pewaris sah budaya agung: Byzantium, Persia, Mesir, dan India. Mihrab yang juga bisa berasal dari tradisi Koptik, Minaret, menciptakan kode struktural bagi arsitektural masjid.

Ruang itu sekarang sudah penuh dengan atribut yang berbeda.  Baik bentuk hexagon, polygon, maupun oktahedron, semua tak terkecuali bentuk melingkar ataupun persegi, tetaplah masjid, indah jika dilihat. Simbol bulan, bintang, ataupun lafadz Allah tak menjadi pembeda. Kaum mukminin telah mengenali simbolnya untuk ruang ini sendiri.

Masjid yang kini tak hanya sebagai tempat beribadah, tapi tempat kegiatan sosial serupa pembelajaran dan lainya. Konsep Basilika juga telah mempengaruhinya. Bagi sebuah rumah ibadah sebagai tempat pertemuan (Basilika) telah dikembangkan juga dalam masjid. Bagi Arsitek Akhmad Fanani, waris-mewarisi benda-benda fisik ujud kebudayaan antarkomunitas, sepanjang mampu diolah dengan tanpa mengganggu prinsip akidah, telah diterapkan tanpa ragu oleh kaum Muslimin.

Sketsa Langsung Masjid Raya Bandung A5. Sumber: Penulis, September 2015
Memperhatikan keindahan ruang yang ada, Masjid itu indah. Tak hanya dari bentuk tapi  juga dari ruang simbol yang tersirat nampak. Kolonade (Jajaran Kolom) dalam mayoritas masjid diterapkan sebagai bentuk penyangga atas dari bagian strukturnya. Kolom tinggi itu sengaja diekspose, menjulang tinggi sampai ke ujung kubah-kubahnya. Hingga seraya ketika manusia berdoa mengangkat tangan, semua terasa luas, megah mewakili celah-celah.

Baik Al-Quds yang berbentuk segi delapan, yang hampir serupa dengan masjid Al-Mahsun, ruang ini tetap tak pernah padam untuk dikunjungi. Serupa halnya Masjid Agung, ditengah-tengah alun-alun Bandung, memanggil masyarakat dan tak lupa mengingatkanya untuk lanjut berwudhu. Dimanapun ruang ini berada, ialah pengingat, tak pernah sepi untuk berkumandang.

Masjid. Baik dengan Kolonade ataupun tanpanya, tetaplah ruang yang besar, mampu menjadi pusat untuk kegiatan. Arsitekturnya tak hanya indah dilihat kasat mata, namun juga penuh cerita. Cerita yang tak hanya terkisah dari atribut budaya di dalamnya, tetapi juga dari ruang yang dihiasinya.

Jakarta, 12 Desember 2015

3 comments:

"Sekarang" Antara Ada dan Tiada

 Oleh: Annisa Dewanti Putri

Ftather Time and Lady Luck.  Sumber : belleofthecarnival.com .

WAKTU
Kau yakini setiap detik berlalu.
Sejam yang lalu terasa bagai sedetik yang lalu. Setahun yang lalu terkadang seperti sebulan yang lalu. Inilah dimensi waktu.

Berbeda dengan ruang yang mengisi tiga arah membentuk celah. Ruang bisa begitu konkrit. Sementara, Waktu seakan memiliki dimensinya sendiri. Seabad yang akan datang tak akan pernah disangka. Tapi bisa jadi akan dirasa.

Terlebih sedetik yang akan berlalu.
Itulah sekarang. Pernahkah kita merasa sekarang itu adalah saat ini? Jeda di antara sepersekon menjadi waktu yang seakan berhenti. Padahal sejatinya ia tak berhenti.

Hanya tipu daya gerakan jam tik yang tertahan. Jarum yang menunggu gear nya untuk berpindah dalam satu posisi perdetik.
Itulah waktu yang membeku. Itulah SEKARANG.

Akan berbeda kisah ketika jarum jam itu berotasi secara terus menerus. Tak pernah mengikuti detik. Ia bergerak secara kontinu. Menggambarkan bahwa tak pernah ada waktu SEKARANG. Detik tak akan tertahan untuk seper sekian sekon. Ia tetaplah jarum jam yang hanya sebagai penunjuk waktu.

Ia berkata "Tolong berikan bukuku sekarang." Tak pernah ia sadari bahwa bukunya ia terima bukanlah SEKARANG, tapi beberapa detik yang lalu. Tapi akan sulit ketika ia berkata "Tolong berikan bukuku tiga detik lagi."

Kemungkinan tetaplah kemungkinan. Ia bisa dapatkan bukunya SEKARANG, jika diberikan di sepersekon itu. Bisa juga ia terima tiga detik kemudian yang bukanlah SEKARANG. Asumsi waktu telah berbicara.

PERSEPSI WAKTU

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

"Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta saling menasihati tentang kebenaran dan kesabaran"
 (QS Al Ashr : 1-3)

Relatif. Tak disangka manusia merasakan waktu yang begitu cepat. Tapi yang lain berucap bahwa waktu begitu lambat.

Pernah terbayangkan lalat-lalat yang tak pernah mudah ditangkap oleh cepatnya sang penepuk tangan. Baginya sepersekian sekon itu lebih lama daripada bagi manusia. Lewat sedetik lalat itu mampu beratraksi di sela tangan besar yang melayang. Sebelum akhirnya tangan itu menjadi mesin penumbuk, sang lalat berhasil menyelak keluar.

Itulah persepsi SEKARANG bagi serangga kecil itu. Bisa jadi masalah gerakan telah mempengaruhi persepsi waktu. Bagi sang siput ia rasakan sejam berjalan menyeberangi trotoar mungil itu. Sementara, tikus itu mampu mengalahkanya lewat gerakan kecil kakinya itu.

Persepsi waktu begitu nyata antara kingdom yang berbeda, terlebih spesies yang tak sama. Persepsi SEKARANG yang seolaah ada dan tiada juga bisa beda dirasakan antaranya.

Tak mutlak membenarkan sebatas perbedaan spesies. Nyatanya, sejenis spesies terlebih bisa memiliki persepsi waktu yang berbeda. Tetaplah SEKARANG menjadi pertanyaan.

Sejenis Homo Sapiens. Waktu bagi manusia akan selalu relatif. Manusia hybrid menjadikan dirinya mempertanyakan sendiri SEKARANG baginya. Menjadi tergantung dengan moda transportasi cepat setipe  kereta Shinkansen, pesawat Concorde, atau mungkin speedboat. Persepsi yang tak hanya ruang tapi juga waktu akan sangat mempengaruhinya.

Jarak seakan terasa dekat akibat waktu tempuh yang jadi singkat. Sementara malam lama dirasa karena waktu tiba yang lebih cepat dan awal. Begitupula jarak menjadi seakan jauh padahal hanya berkisar empat kilometer. Akibat sebuah dentuman kendaraan hybrid, semua terjebak macet dan tersesat dalam ruang yang memakan waktu.

Persepsi waktu dimainkan. Manusia menjadi bingung akan persepsinya. Baginya terkadang waktu berlalu cepat, namun bagi sebagianya terasa waktu begitu lama. Yang dinanti menjadikan waktu begitu lama. Sementara yang tak diinginkan untuk dinanti menjadikan waktu seolah cepat.

Persepsi SEKARANG pun perlahan berubah dari "Untuk detik ini" menjadi "Untuk hari ini"atau mungkin "Untuk sewindu ini." Itulah mengapa persepsi waktu amat mempengaruhi ada tidaknya SEKARANG. Bagi waktu, SEKARANG adalah antara ada dan tiada.


Jogjakarta, 3 Desember 2015

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch