Dear Scholarship Hunter Part 2 (Epilogue)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Ilustrasi:Penulis 2016

Untuk sang pejuang mimpi,
Teruslah berlari,
Banyak jalur di setiap jalan
Biarkan proses menjadi pembelajaran,
Dimana tak lolos bukan berarti gagal
Disaat penolakan bukanlah akhir dari percobaan
Selagi niat masih mengalir, biarlah ia berjalan,
Belajar mengenal manisnya perjuangan..


Luruskan Niat, Lakukan Usaha, Iringi dengan Doa

www.visaliarcfoundation.com 
Sebagai catatan penutup, perjalanan memburu beasiswa tidak akan semulus yang kita bayangkan. Melanjutkan kuliah Banyak rintangan baik yang bersifat teknis maupun administratif yang perlu kita hadapi. Tentunya hal yang pertama sebelum memulai adalah pasang niat kuat dan akhiri dengan kepasrahan melalui doa apapun hasilnya.

Mendengar kisah proses menuju kelulusan seaorang penerima beasiswa bisa membantu kita dalam mempersiapkan mental. Beberapa teman-teman dan senior bisa dijadikan sumber informan dalam memperoleh beasiswa yang ada.

Semua tak akan mudah, ada yang sebelumnya perlu meluangkan waktu mereka untuk melakukan persiapan bahasa. Kisah lainya, ada yang rela bekerja terlebih dahulu untuk menutupi kekurangan mengurus biaya kelengkapan berkas (Medical Checkuptranslate ijazah, uang pendaftaran universitas dll).

Adapula yang harus merelakan tenaganya dengan bolak-balik kampus asal ke kota asal untuk mendapatkan surat rekomendasi dari dosen/atasan/pengajar. Sampai, adapula yang harus merelakan pekerjaan nya untuk mengikuti serangkaian seleksi yang belum jelas hasilnya.

Semua itu adalah pilihan dalam proses menuju hasil. Proses dan kisah dalam menggapai mimpi beasiswa tersebut akan kita temui setiap berbincang dengan para penerima beasiswa. Artinya, hasil manis memang membutuhkan perjuangan lebih yang tak akan selalu mulus. Namun, jika dijalani dengan niat tulus, percayalah hasil tak akan mengkhianati usaha. Begitulah kata mereka.

2 comments:

MENJELAJAH QINGDAO BERSAMA OMBAK

Oleh: A. Dewanti Putri


Sketsa May4th Square, Qingdao. Oleh: Penulis 2016

May 4th Movement, Seafood, Pantai, Hotpot, dan Bir. Itulah kata-kata kunci yang muncul di kala orang-orang tiongkok membicarakan soal kota Qingdao. Banyak tempat yang bisa dinikmati para penikmat wisata baik dari mancanagera maupun lokal. Bagi penikmat gaya urban yang menikmati pantai sebagai penghias kesenangannya, kota di negeri Tiongkok ini sangatlah cocok dikunjungi.

Saat itu, 10 November 2016, kami mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi kota ini selama empat hari bersama jurusan Teknik Sipil, Beijing Jiaotong University. Qingdao, sebuah subprovinsi dari provinsi Shandong. Berada setelah Beijing dan setelah Jinan. Kota ini dikenal sebagai port city alias kota pelabuhan juga. Mengingat Tiongkok sebagai negara yang daratan yang hanya kota-kota tertentu yang merasakan pantai.

Hari pertama dari Beijing menuju Qingdao, rombongan kami  menuju stasiun dan berangkat menggunakan High Speed Railway (HSR). Kecepatan maksimalnya bisa mencapai 350 m/s. Perjalanan dari Beijing South Railway station sampai stasiun Qingdao memakan waktu hanya lima jam. Harga tiket untuk kereta jenis G atau Bullet Train itu adalah 314 RMB.

Rata-rata, hotel penginapan yang ditawarkan daerah ini yang diminati adalah daerah sekitar pantai seperti Heiminwei Hotel, Beihai Hotel, PICC Hotel dkk. Di hari pertama, sajian menu yang ditawarkan adalah seafood. Tentunya meskipun halal tanpa babi atau daging-dagingan lain, untuk muslim perlu ditanyakan juga apakah mereka menggunakan minyak babi atau tidak. Jika tidak, maka seafood tersebut aman dikonsumsi.

Qingdao dan Sekitarnya
Qingdao Bridge.
Ketika Minuman Keras Diabadikan

Di hari terakhir sebuah perjalanan kampus, rombongan membawa kami ke beberapa tempat wisata diluar kunjungan lapangan di Qingdao. Kami menghabiskan waktu di tempat-tempat wisata yang dikenal di kota tersebut.

Salah satu tempat yang biasannya didatangi wisatawan adalah museum Bir. Kota ini telah menjadi terkenal akan birnya terkhusus untuk jenis merk  “Tsingtao.” Maka dari itu, sebagai saran selingan, berhati-hatilah dikala keluar malam karena banyak sekali orang-orang yang mabuk karena minuman keras.  Bagi saya seorang muslim, cukup mengetahui saja proses pembuatannya dari museum dan pabrik ini berikut teknologi-teknologi yang dipakai dalam produksi.

Uniknya, dalam museum ini ada semacam ruangan khusus mabuk. Jangan khawatir, ini bukanlah untuk mabuk-mabukan secara nyata, tapi rumah ini dibuat secara miring agar pengunjung merasakan sensasi seakan-akan sedang mabuk.

Musium Tampak Depan
Semua proses dari Hop menjadi malt kemudian difermentasi dan menjadi Bir bisa Hal ini akan ditemukan jika menelusuri Gedung B. Karena, gedung A lebih bersifat historical dan penjelasan mengenai penjajahan dan perkembangan bir saat itu. Dimulai dari penjajahan Jerman yang mana beralih kepada penjajah jepang dan kini berkahir ke pemerintah Tiongkok sendiri. Pabrik Tsingtao telah banyak berpindah tangan dari asing le lokal. Secara historis, kota ini telah menjadi lading bisnis dan berpengaruh pada penjajah kala itu.

Wisata Pantai dan Bawah Laut

Wisata menarik berikutnya adalah Qingdao Underworld Water. Wisata ini berada pada bawah muka luat dan berfungsi untuk mengenalkan biota laut sekitar. Berbeda dengan akuarium atau tempat wisata akuatik lainnya, tempat ini  menggunakan habitat asli bawah laut langsung untuk konsevasi biota laut.

Berbicara soal tiket, hraga saat itu yang kami peroleh adalah 110 RMB. Terkhusus untuk kawan-kawan mahasiswa, jangan lupa untuk membawa kartu pelajar untuk semua lokasi yang dikunjungi di negeri Tiongkok. Hal ini agar membuka peluang mendapat potongan tiket wisata meski memang tidak semua bisa berlaku terkhusus untuk graduate atau language student.

Secara garis besar, banyak tempat yang bisa dikunjungi baik secara gratis maupun berbayar. Kota ini layak dikunjungi Karena secara gaya hidup yang tidak berlebih. Ada kesan  dan keunikan tersendiri ketika berada di subprovinsi Shandong ini. Layaknya sebuah tempat dengan cerita, disini pergerakan bisa dilirik.

Underworld Water. sumber foto: Menghy 2016



0 comments:

Between The Trees (Poem)

Between The trees. By: Dewan, B5 using Watercolor & 0,5mm DW

Between the trees, You never know
A thousands of beautiful things imagining how to grow
Once there was a rainbow line
Reminding the nature that is fine

Long live the animals, long live the plants
As the water flows it will not pause
As the wind blows the tiny rose

The day becomes white but the sky’s are still blue
The roots starting to shrivel but the trunks are never true

Between the trees the rocks are scattered and formed a crown
Between the dew as the muds turn brown
And now they’re found
A great dynasty between the trees
The wide colonies of humble bumble bees

Beijing, 17/12/2016

2 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch