KALIAN ITU ADA: TERUNTUK GENGSOS DAN WARCABS

Warcabs feat gengsos Puskom PPIT

Pusmedkom. Pusat Media dan Komunikasi. Ya namanya juga jembatan ya, kalo katanya di jaket ‘No us, No crowd.’ Ga rame kalo ga ada kita. Ibarat kita itu toa, jembatan, speaker dangdutam, tameng, kame kameha kagebunshin sama koran dan papan billboard PPIT kali ya. Apalagi Ikon nya Saitama dan kepala sukunya Kak Mulia.

Oke, berhubung posisi ku ini ga berarti banget (read:deputi) kenapa? Karena sebagian besar pekerjaan support lebih banyak dilakuin teman-teman lain. Makanya mungkin ucapan terimakasih aku ga ketara banget buat kalian sebagai pedang dan tameng PPIT ini. Dijudul aku ngeduluin Gengsos, tapi di cerita aku bakal ngeduluin Warcabsku, kenapa? Karena kalian ga ada duanya. Sama-sama numero Uno Buat aku.

WARTAWAN CABUTAN

Warcabs ini singkatan dari Wartawan cabutan. Kenapa? Karena mereka mahasiswa yang bisa menjelma jadi Wartawan disela sela kuliah. Bayangin, jarang-jarang ada mahasiswa Indonesia ynag mau berkarya lewat tulisan secara intens. Pada dasarnya mereka pahlawan literasinya PPIT.
Teruntuk Kalian, warcabsku.

Buat Ka Reza sang manajer aceh sebagai Manajer Publikasi, makasih banyak kak sudah banyak nularkan banyak gaya system kerja jurnalis ke dalam system kerja PPIT ini, kami jadi sedikit membuka mata soal ini dan link-link ke berbagai media. Mohon jangan tenggelam ya Kak Reza karena dari Kakak kita bisa banyak belajar.

Lalu, teruntuk somplak TED ku, yang aku ceburkan sedari awal. Mulai dari

Elke sang Elpiji, partner in crimeku, mirip julukannya, dia pandai meledak. Aku mulai ngenalin bakatmu ini sejak habis aku rilis tulisan di acara Permit, pemikiran mu kritis dan aku lihat kamu pandai melihat hal dari berbagai kacamata, aku sering tenggelam dari diskusi yang suka kita bicarakan. Ga salah dia Kuceburin jadi Kadiv Artikel pantas pula jurusannya kan juga jurnalistik, linier sekali. Setelah-setelahnya makasih banyak ya udah mau kecemplung di beberapa hal sama aku, roller coaster bareng kita haha berarti banget. Bos KKIB dan RKTT ini Kalo katanya spesial kaya martabak, makanya selalu enak dikuykan. Haha. Tetap drama yak arena dramamu yang selalu dirindukan.

Lalu, ada Tiffany si Cabe, kawan saingan bodoh2anku. Kenapa Cabe? Karena dia Ketua Cabe-cabean, ga deng karena dia Pimred Cabe Rawit. Ga heran kan kenapa aku geret dia jadi kadiv tabloid. Ini kawan somplakku tetangga kampus sebelah yang sering aku rusuhin. Sering berucap kasar, tapi hatinya padahal lembut bagai marshmellow apalagi kalo lagi terharu. Haha. Seneng kompetisi bodoh-bodohan bareng dia. Makasih Be udah sering bantu backup, nemenin main piano dan nyomplakin aku selagi di Beijing. Tetap semangat skripsi komputernya dan lanjut master medianya sang maestro jago bahasa korea. Haha

Lalu ada pejuang kesayanganya nih mulai dari  abjad ya berdasar panggilan.

Ada Aul si aktivis juga. Udah pernah dua kali berarti kesempatan wawancara dia, dari dia petama jadi mentor di School of Talk, ternyata kita ketemu lagi di divisi ini ya mbak aul. Unik, tinggal tingkatan kepolesanmu di bidang tulisan lagi biar ciamik ya. Rilis RKTT nya oke loh hehe. Ada juga

Dhifa Dokter depok hehe, sesuai nama instagramnya. Dokter ini pegiat luar biasa, senang karena pas di Jakarta bisa dikuyin juga untuk aktfi padahal anak Depok. Responya juga oke soal jadi editor. Semangat terus ya Dok, teruslah menulis.

Boss Falah topi blangkon. Ini ciri khas dia sejak pertama kuwawancarain. Ya paling rajin untuk sharing hal-hal konten PPIT dan paling rajin kasih jempol. Ditunggu bos, produksi tulisan-tulisannya ya. Jangan sampe ketuker lagi nama dan tulisannya hehe.

Mas Regra yang kalem. Luar biasa kalemnya, tapi tulisannya tajam. Salut ketika tau tulisannya pernah naik ke media cetak. Cukup loyal dan lagi-lagi mas reg kuy keluarkan ide-idemu, aku tau tulisanmu dasyat.

Risti andalan kita. Kenapa? Karena aku senang sekali dengan konsistensimu yang terus mengupayakan webinar kepenulisan kita saat itu. Meski banyak bentrok tapi kamu tetap menjalankan tugas dengan baik. Pun, tulisanmu juga unik apalagi yang soal Wisuda itu. Lanjutkan dan ditunggu ya kanda, eh yunda. Haha (keinget panggilan ketuker).

Syafii sang Multitalen. Dokter ini ternyata merambah ke dunia kepenulisan juga. Dan bahkan merambah ke dunia lain sampai ke pertandingan naga-nagaan wuhu.. Salut syaf, jurusan mu ga membatasi semuanya. Pun tulisan-tulisanmu juga. Semakin tajam dan terpercaya. Semoga amanah di proyek sosialmu ya aka Natuna Membaca. Aku percaya kamu disana karena suatu alasan.


GENG SOSIALITA

Nah ini dia tameng nya PPIT juga, garda terdepan macam Knights watch nya Game of Throne. Siapa lagi kalo bukan mimin-mimin kecehku.

Mulai dari bossnya Yuri Manajer Dokter Kekininan. Gaya bicaramu yang khas Yur udah bisa nyiptain bom di PPIT sejak sedari awal rapat pertama kita lewat yel-yel. Suka dengan caramu menjaga garis koordinasi dan selalu terus terang apa adanya. Semagat juga ya Yur di PPID, pastinya sulit ya bagi waktu tapi aku yakin kamu bisa dok. Tetap dijaga kesomplakannya biar unik ya. Tetap jadi Yuri dengan gaya khasnya juga yang mendunia.

Lalu ada Wiwin Sobat Siar Sosialita. Penyiar juga, Kadiv  MSM juga, cocok lah jadi mungkin berkicau di dunia Tarik suara plus di dunia sosial media ya win. Makasih banyak udah bisa koordinasi ke teman-teman secara terstruktur ya sampe dari roda oglek sampe roda stabil. Tetap
Semangat ngelabnya juga Bos Sobat Siarku. Hidup lab jangan lupa hepi.

Buat Bos Juragan Stefani. Pengusaha yang forntal dan cukup kritis, jadi andalannya CSM. Tukang ngeledekin pake eskrim. Dan cukup frontal, ayo pake gas sama remnya stef biar makin jago soal Traditional Chinese medicinenya. Oh iya seperti yang kita pernah bahas stef, jangan lupa yuk kita pakai kacamata yang beda-beda, semangat bos kudeta makin jago bisnisny haha.

Nah, gengsos juga punya prajurit andalannya..

Khatami sang atlet. Mabroo makasih banyak buat kerja samanya sampai ke depanpun juga ya. Tulisanmu juga ga kalah menarik soal WIF, sering-sering nulis biar makin top ya kawan teknikku. Tetap sehat ya dan makin jago olahraga. Tetap eksis juga bro di gengsos.

Retha sang instagramable. Aku sering teralihkan sama postinganmu yang instagrammable banget. Cocok ya, jadi gengsos ternyata hehe, tetap semangat jadi CSM garda sosmed versi CK terdepannya ya Retha.

Sry dokter panutan. Aku udah kenal kamu dari tahun 2016. Perjuangan kita bareng bikin visapun masih kuingat. Makasih banyak sudah selalu bantu dan semangatin dimanapun Sry. Tetap semangat menginspirasi ya Sry makasih banyak udah kerja sama bareng CSMer yang lain.

Meisia yang lembut. Meisia sering banget bilang makasih, maaf, tolong dll. Sungguh baik sekali, hehe. Ayo kalau ada apa-apa di grup silahkan melipir aja ya Mei, jangan sampai dipendem sendiri, makasih banyak sebelumnya ya. Dan semangat.

Pantri sang Fast Response. Halo dokter Pantri yang banyak ide dan gagasan solutif juga di bidang sosial media. Kalau katanya Pantri vakum kalau lagi ujian. Wow, setuju karena kita balik ke niat awal ya Pan kalo kita kan Visa Pelajar. Tetap inovatif semangat 2019.

Via Pendiam Jago Dangdutan. Via yang pendiam di grup tapi padahal luar biasa serunya, keinget pas pertama kali wawancarain di akhir dia mau dangdutan sama kita. Semoga makin toplah ya jadi mimin-minin di gengsos kita. Tetap semangat dan sering-sering sharing di grup vi biar teman-teman ga rindu hehe.

Resolusi ke depan: Kuy kita siap-siap lagi jadi tameng penuh gebrakan dan ide yang berbuah karya. Dari mulai bikin copy write, konten, rilis, jebolin tabloid, sebar manfaat lewat live, webinar dan karya-karya lainnya. Tetap konsisten dan selalu inget sama visa pelajar kita. Plus ojo lali Let it Flow dan tetap senyum :) :) :). Salam hangat penuh dashyat dari skywalker kalian. haha (Maaf star wars geek nih).

Ucapan makasih buat teman-teman Media juga yang sudah banyak kasih support teknis, selebihnya maaf ga bisa dideskripsikan nanti bisa jadi kaya cerpen berlembar-lembar, ini aja grup komunikasi sendiri udh 3 halaman. Hehe. Yang jelas gerbarkan pusmedkom makin mantul. Esensi tulisan ini sebenarnya untuk apresiasi dan evaluasi kita bersama ya. Semoga makin baik, jelih, kritis, berpikir out of the kotak, selalu ngedepanin efek domino, dan semangat jadi yang terdepan dan mendukung dari belakang.

Akhir kata, dulu kalian pernah ngecengin aku ga hafal semua anggota dan keluargaku disini. Pada nyatanya aku ga perlu menghafal, tapi cukup mengenal kalian itu udah jadi bagian dari ceritaku disini. Azzekk haha.  Mungkin suatu hari kisah ini yang bakal jadi yang kurindu dari jutaan album yang aku punya dan pernah kutulis. Yaitu album dimana kita bisa jadi pedang dan jadi tameng bareng-bareng.

0 comments:

2018: Bulan-bulan Penuh seribu Pelangi Bagian 1


Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Januari-Februari: Saatnya Saling berbagi
Saat itu Januari menjadi saat kepulangan sejenak ke Indonesia. Tak lain bulan ini bersama tim School of Talk dari Studi Tiongkok telah mengenalkan ku dengan banyak sosok-sosok baru dari hasil wawancara dengan mereka. Unik, nyatanya setiap orang punya caranya sendiri dalam membantu orang lain.

 Tak lain saat itu pula teman-teman LKM UNJ mengadakan kajian malam bersama bersama diriku mengenai kisah kota sekaligus launchingnya Buku Pasar Ibukota dimana aku adalah salah satu penulisnya bersama rekan Eros. Jiwa membaca ini rasanya tertampar ketika bisa berbagi juga dengan teman-teman mahasiswa baru. Dilanjutkan dengan sesi sharing soal Sponsorhsip bersama unjkita.com menjadikanku mengenal lebih baru teman-teman dari kampus hijauku.

Pada bulan Februari, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bersama beberapa Ormas seperti Lingkar Pengajian Beijing (LPB), KKIB, OBM Manggala, BICF, dll mengadakan acara Bakti Sosial bersama. Saat itu, LPB hanya diwakili oleh aku dan Mbak Anggi, Namun, di hari Baksos aku berkenalan dengan banyak kawan baru yang menyenangkan dan sangat asik untuk diajak kerja sama. Tentunya mereka adalah kawan-kawan satu kota di Beijing. Yang selanjutnya aku semakin semangat ketika diajak untuk ikut kegiatan mereka.

Pertengahan Februari, aku memutuskan mengajak kedua orang tuaku berlibur ke Kuala Lumpur sebelum aku kembali ke Beijing. Sedikit ingin membuat neneku juga tersenyum. Namun disela sela itu aku menyempatkan bertemu dengan geng Indonesian Student and Youth Forumku. Rupanya mereka sudah bekerja dan pindah ke KL semua.

Sebelum pulang kembali ke Beijing, teman-teman event hunter Indonesia (EHI) pun juga menggagas sebuah kegiatan dimana aku menjadi mentor dan narasumber. Kami membuat beberapa video terkait program beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS). Disini, aku semakin terkesima oleh pergerakan dan karya dan semangat teman-teman Indonesia. Mereka adalah entrepreneur sejati.

Sebelum Kembali, aku bersama Dina dan Farhan mewakili stud tiongkok juga menyempatkan untuk hadir Bakti Sosial di Warung Yatim Maseng. Sedikit mengingatkan kami untuk terus berbagi dengan cara apapun itu.


Baksos Permit-LPB-KKIB-Manggala
Baksos bareng Studi Tiongkok, Dina Chaerani (Plan Indonesia) dan Farhan (Duta Bekasi 2015)


Buku Antologi Eros

Berlibur sejenak Ke KL
Habis Live Bareng TIm Event Hunter Indonesia soal Beasiswa (Para calon Pengusaha Muda ini) 


Maret-April: Duka yang tak Disangka
Saat itu memasuki bulan baruku di kota Beijing, aku kembali bersama Filone dan Ibu Alm.Yani (Orang KBRI) yang sengaja menyamakan jadwal tiket pesawatnya agar bisa kembali bersamaku karena beliau memerlukan kursi roda. Bulan itu juga aku terjun ke Laboratoriumku kembali. Laboratorium special yang khusus membahas tentang bangunan bersejarah di Tiongkok. Khususnya, disini aku membahas mengenai uji non destruktif untuk kayu dan evaluasi terhadap deformasinya.

Tantangan terberat berada di Lab yang notabennya sebagian besar adalah Mahasiswa Tiongkok sendiri adalah mereka memiliki standar akademis yang lebih tinggi. Ditambah jika aku harus mendapat sumber pula yang  berbasis Bahasa Mandarin. Kejadian itu pun terulang hingga aku tebiasa dengan sebutan ‘anak lab.’ Pun semakin banyak mahasiswa baru yang baru saja tiba dan mendaftar di Lab ini hingga sampai sekarang aku tak hafal semua nama mereka yang berjumlah 35 orang itu.

Tak lama di akhir Maret, aku mendapat kabar duka dari yang mereka bilang saudara somplak kembaranku Vika, Alm.Bu Yani meninggal dunia, aku tak menyangka, dia seperti Ibu kami di Beijing namun secepat itu dia harus pergi dan saat-saat itu kita membantu dalam prosesi dllnya sampai Jenazah dipulangkan dan aku merasa bertanggung jawab juga berada disamping kawanku itu yang sedang rapuh setelah ditinggal Alm. Ibu. Namun selang beberapa minggu keadaan mulai pulih.

Pada April 2018, kantor Internasional memanggilku untuk mewakili Indonesia dan Mahasiswa Asean dalam China-Asean Youth Summit di kota Shandong. Di sana aku bertemu banyak mahasiswa Indonesia juga yang mewakili dan beberapa mahasiswa Internasional. Yang unik, selama 3 hari kebiasan nomaden ku sejak semester lalu tidak hilang. Meski aku disediakan hotel namun nyatanya temanku dari Shanda yang juga merupakan ketua PPIT Qingdao membujukku untuk selalu nginap di tempatnya karena dia juga tinggal sendiri. Jadilah hanya koperku yang bermalam di hotel. Di forum ini aku mengenal puluhan sosok baru yang sangat unik.

bersama Alm. Ibu Yani sepulang ke Beijing
Delegasi Indonesia untuk ACYF 2018


Mei-Juni: Keberkahan Pindah Ruang
Senangnya hati ketika Jurnal PPI Dunia sebagai bagian dari gebrakan dan milestone pertama di bagian akademis terwujud dimana saat itu aku, Bang zakki, Mba Shinta, Bang Hakam, menjadi inisiatornya. Terlalu lelah memang mengingat proses ini begitu rumit dan cukup menguras pemikiran dan menjadi jembatan karya untuk bidang penelitian. Tapi setidaknya dari sana menjadi lega apa adanya karena Prorgam kerja yang kita harus inisiasi dan sempat dianggap remeh berhasil diwujudkan menjadi JURNAL PERTAMA dalam sejarah PPID. Alhamdulillah.

Saat bulan itu juga menjadikanku tercemplung di Organisasi PPI Tiongkok pusat. Yang mana menjadi cukup tantangan terberat karena aku belum melepaskan amanatku di PPI Dunia. Namun, demi niat kebaikan aku menerima panggilan itu dan pun juga berhasil menggeret beberapa teman-teman kepercayaan ku untuk bisa duduk bersama di organisasi ini. Tanpa mereka, kerjaku bukanlah apa-apa sampai sekarang. Lebih-lebih aku semakin mengenal banyak pelangi baru dan kisahnya disini.
Juni saat itu penelitianku bertajuk lingkungan membuatku terpilih mewakili Indonesia dalam International Student Conference on Environmental and Sustainability (ISCES) 2018 tepatnya di Shanghai. Aku bertemu dengan empat orang delegasi Indonesia lain yang mana mereka adalah hal terunik yang sama-sama memiliki misi lingkungan yang sama bersamaku. Pun, banyak delegasi dari negara lain yang menjadikan diri ini memiliki banyak perspektif baru soal lingkungan. Aku merasakanya ketika saat presentasi dan Focus Group Discussion. Alhamdulillah di acara ini pun aku mendapat penghargaan ‘Best Presentation.’

Pun selanjutnya kelompokku juga berhasil membuat video ‘Eco City.’ Yang hanya kami usung dalam semalam suntuk. Lagi-lagi di Shanghai ini kelakuan nomadenku tak hilang ketika harus mengunjungi seorang teman di Shanghai dan lalu aku terbujuk untuk menginap dan kembali keesokan harinya. Bukan hanya itu, di hari berikutnya akupun ikut buka bersama teman-teman permusim dan hari berikutnya di KJRI Shanghai. Betapa indahnya karena dalam waktu seminggu itu aku telah mengenal sekitar 180an teman-teman baru yang berbeda dan berhasil masuk ke beberapa kisahnya sehingga membuatku banyak belajar.

Kembali dari Shanghai, keesokan harinya aku harus kembali berangkat ke Shanxi, dimana tempat penelitianku berada. Aku berangkat bersama tiga orang kawan labku yang mana mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah aku selama seminggu terpaksa berpikir keras dalam berbahasa. DItambah saat itu adalah bulan puasa yang mendekati lebaran. Sempat aku cemas bahwa aku tidak aku tidak akan berlebaran bersama teman-teman sepenasib sepenanggungan di Beijing. Lebih-lebih aku mencoba mencari masjid terdekat namun nihil. Selisih masjid adalah sejam dan di Kota Wanrong ini tidak ada kendaraan umum selain taksi. Masya Allah H-1 sebelum lebaran kami akhirnya menyelesaikan pengambilan data itu dan pada saat itu aku bisa merayakan Idul Fitri di KBRI bersama kawan-kawan Indonesia ku dan itu cukup mengobati rasa rindu lebaran dari keluarga dan rumah.

Jurnal Perdana PPIDunia
Best Paper dalam ISCES 2018. Alhamdulillah
Petualangan Penelitian di Shanxi

Buka Puasa bareng Ibu KJRI Shanghai, Bu Ining


********Bersambung ke Bagian kedua********

0 comments:

The Hammurabi Codex: A Historical Perspective of Building Codes

by A. Dewanti P

“The Codes are made by the process of learning.”
Live SKetching the USTB Gymnasium. Author, 2018

Building and structures are one of harmless and sensitive case to be overall calculated as single figures. The overall structure that connects between Foundation, Column, Beams, Slabs, joints, and other components will need a deeply considerations toward the planning and designing. Overall, the standards for each component, materials, and even certain part of topic day by day increases due to the development need of infrastructures.

The all case will be very important, as builders know that the consequence of structure failure will overcome to damage and loss of lives. The effect will also impact not only the physically but also psychologically for humans and society. This is why the engineers are nowadays taking a lot of concern related to the Risk Assessment, reliability analysis, and even probability analysis. 

As in the 1750 B.C in Mesopotamia, the earliest code which contains some of building rule values here are written. It’s written on the stone carvings. This codex also contains many harsh consequence that may happen if a failure is discovered among it including to the consequence which is related to building structures.

In this codex, the responsibility of builders were defined based on the consequences of failure. If when the building collapsed has killed the owner’s son, then the builder’s son would be put to death. Then maybe, when the owner is the one who died due to the building failure, therefore the builder are the ones that takes this consequence. This creates a path that standards and rules to be followed as one of the things as lessons which is related to consequence, uncertainties, reliability, and probability for all case of procedures.

Now, the world are fitted by its own trust to the building codes that they made even categorized based on materials, or the method that they use. The most popular standard are standards from the International Standard Organization (ISO). Beside the building standards, all related to life procedures and standards are conducted and reviewed in this institution.

The others are namely American Concrete Institute (ACI) has developed many parts of standards for Concrete materials. Also, the Euro code based on European standards are known for some methods and standard designs. While, for Indonesian itself has its general standards which is the Standar Nasional Indonesia (SNI) with some more specific standards based on their institution. 

Everything should be checked and reliable to make sure that unwanted uncertainties and probabilities that may happen are to be zero. Which is in this case every standards in the world are also uncertain. Everything changes. Relatively, humans adjust and will try to make it reliable than before. Trustable and more precise to make sure that what is planned and designed are based on the lessons that they have learned before. Even, the standards are made by lessons in the past.

Reference: 
Andrzej S. Nowak, Kevin R. Collins. 2000. Reliability of Structures. New York: Mcgraw Hill Education.
https://www.history.com/topics/ancient-history/hammurabi accessed in 22nd of November 2018.

0 comments:

The Night beside the Light


Night skecthing Sanlitun, 2018
Once upon a time, the night has turn the light.
Trying to imitate the daylight.
Between the skyscrapers.
The city has made it seems alive.
Whether only the colors fade and seems alright.

Then, someday the blackout shut the light
turning off the buildings from each of our sight
Feel the crowd and aware so tight
Its just the reason and not to fight.

The night beside the light,
In the night you will realize,
as when you discover that the city is bright
but only because of the light..

0.3 mm archival ink, 110x166 mm,
Resketsa,
Beijing, 20/10/2018


0 comments:

INTRODUCING THE GLOBAL ENERGY INTERCONNECTION

Author, 2018


conference situation

(16/10/18), The day for the Forum on Northeast Asia and Southeast Asia Energy Interconnection Development gives a chance to the public in introducing the Global Energy Interconnection (GEI) as one of a concept to a Renewable energy and sustainable Development. The GEI system is a system to meet global power demand with clean and green alternatives.

The GEI system here is to implement the United Nations “Sustainable Energy for all” and climate change initiatives, and to serve the sustainable development of humanity. The forum is organized by the Global Energy Interconnection Development and Cooperation Organization. It has attract some cooperation, researches, and academicians around the North east and Southeast Asia countries around the world.

The GEI mainly has a basic concept of Multi Grid, UHV Grid and Clean Energy. By implementing the concept, the green principle of sustainable development will be one of a pathway in dealing global environmental problems. 

As this forum has Release some research findings around ASEAN and energy transition. Clean development and energy interconnection and open cooperation as delivered by Beni Suryadi (Indonesia) has given a chance for ASEAN countries to develop this mission.

This will be the one of the world step for green development movements as it will not only involve governments, organization, company sector, but also researches, academicians including students and society.

-Dewan, Civil Engineering, Beijing Jiaotong University-


Conference Kit


0 comments:

Water Coloring Prince Kungs Mansion Beijing




0 comments:

Teknologi NDT untuk Bangunan Bersejarah



Oleh: Annisa Dewanti Putri[1]


Sketsa Bangunan Tradisional Kayu adat Minang, Rumah Gadang. Sumber: Penulis 2017

Indonesia. Melihat tanah air ini memiliki banyak budaya dan peninggalan bersejarah yang cukup menarik perhatian dunia. Terlihat rapuh namun sebenarnya antik, itulah yang tergambar jika menorah masing-masing peninggalan bersejarah dari sekian tempat diantara ribuan pulau nusantara ini. Ada beberapa yang masih kokoh, dipugar, bahkan di rekonstruksi ulang.

Pemeliharaan bangunan menjadi tantangan sendiri bagi para ahli sipil, arsitek, dan budayawan dimana bangunan cagar budaya yang dihadapi adalah bangunan yang renta dan tidak sembarangan mudah diambil sampelnya untuk diuji. Sementara ini, Indonesia memang taka sing dengan pengujian langsung terhadap material pada bangunan. Sampel uji yang bisa diambil melalui beberapa contoh sampel serupa. Namun, hal ini hanya berlaku bagi bangunan modern yang memiliki data lengkap keadaan eksistingnya muali dari perencanaan, desain, sampai konstruksi.

Bagaimana dengan bangunan bersejarah dan cagar budaya yang data awalnya sulit ditemukan dan tidak tersedia? Hal ini bisa saja terjadi pada bangunan-bangunan dengan nuansa tradisional dan vernakuler. Bangunan yang didirikan dengan berdasar pada pengetahuan, material, dan keahlian masyarakat lokal. Terlebih beberapa bangunan bersejarah yang mana sumber perencanaan ya karena perpindahan cerita yang begitu cepat tidak diketahui tinta birunya.

Sementara, pengujian langsung seperti kuat uji tekan, Tarik, dll dapat merusak komponen bangunan itu sendiri ketika diambil sampel nya, sekarang, peneiliti sedang mengembangkan optimalisasi untuk penggunaan uji lapangan dengan metode Non-destructive Test (NDT). Teknologi ini sesuai namanya yang berarti  uji yang tidak merusak, memberikan solusi untuk material yang hendak diuji namun renta. Dalam artian untuk memperoleh suatu hasil uji dari material itu tidak perlu merusaknya. Hal ini dikarenakan teknologi NDT lebih banyak memanfaatkan sensor dan gelombang untuk mendeteksinya.



Cukup diuji, Lalu diestimasi
Sekarang ini, banyak pilihan dan pengembangan dari teknologi NDT yang banyak dipakai oleh para assessor dan pengamat bangunan atau material. Bahkan untuk lebih akurat lagi ada teknologi semi NDT yang sedikit mengambil sampel dan menggores material guna mendeteksi kerusakan yang terdapat di dalam internal material.


Hal ini menjadi keuntungan karena peneliti atau assessor tak perlu mengambil sampel dari bangunan bersejarah tersebut. Terkhusus bangunan berkayu yang dan candi-candi yang renta sekali untuk diambil sampelnya. Untuk proses pemugaran pun sebelumnya dibutuhkan pemetaan terhadap komponen bangunan yang perlu di restorasi dan tingkat kerusakannya. Melalui NDT, proses ini bisa dilakukan. Dengan menguji secara langsung di lapangan menggunakan salah satu atau beberapa alat kombinasi, hasil deteksi dan pemetaan dapat dilakukan.

Semisal menggunakan Stress Wave analyzer dan Pylodyn test sebagai dua contoh NDT. Dengan menempelkan alat ke kedua sisi material yang hendak diuji, maka hasil waktu tempuh bisa di analisa dan bisa terlihat bagian material mana yang mengalami defect atau kerusakan. Jika waktu tempuh atau Time of Flight lebih cepat dari rata-ratanya artinya kondisi permukaan mulus. Begitupun sebaliknya, maka ada kerusakan yang dilalui yang menyebabkan waktu tempuh lambat.

Dari hasil sesedarhan itu dapat terlihat bagian struktur mana saja yang mengalami kerusakan dan masih dalam kondisi bagus. Disamping itu, dari hasil Time of flight pun, keadaan Modulus Elastisitas yang berkaitan dengan sifat material suatu bangunan dapat dihitung dan dipredisiki menggunakan beberapa pengambilan data.

Dengan begitu, restorasi dapat berjalan lebih singkat, presisi dan terlebih bisa mendeteksi tanpa harus merusak sebagian kecil atau besar bangunan bersejarah yang diamati. Teknologi ini sangat bermanfaat untuk diterpakan terkhusus untuk negara dengan jumalah bangunan bercagar budaya yang cukup tinggi seperti di Indonesia.

Referensi:
M. Teder, K. Pilt, M. Miljan, M. Lainurm, R. Kruuda. Overview of Some Non-Destructive Methods For In Situ Assessment Of Structural Timber: 137-143. 3rd International Conference Civil Engineering`11 Proceedings II Materials and Structures.
S. Gao, X. Wang, M.C. Wiemann, B.K. Brashaw, R.J. Ross, L.Wang. A Critical Analysis of Methods for Rapid and Nondestructive Determination of Wood Density in Standing Trees. Annals of Forest Science. INRA and Springer-Verlag France 2017.
C. Gao, J. Wang and Q. S. Yang. Rapid In-Site Survey and Assessment Method For Structural Members In Traditional Chinese Traditional Timber Structure[J]. Structural Health Assessment of Timber Structures. 2017: 119-130.





[1] Mahasiswa Master of Civil Engineering, Beijin Jiaotong University
Key Laboratory of Ancient Culture Relics, School of Civil Engineering

0 comments:

SKETCHING CHINA: WHERE THE LAND WIDTH NEVER ENDS

-Dewan, 李李婉美, Student of Beijing Jioatong University, SKetchwalker-



Since 2016, Iv decide to continue my study in China. Most of all because of its development and technology, well known as one of the populous country in the world. Beside, this country has provide so many interesting culture and heritage to be observed. Before I arrived here, I have promised myself to sketch every site that I visit no matter what I see or Experience.

As 2016, Beijing, the city that I stay, the place where I mostly study, gives so many chance until now for me to discover every single of its urban spaces. Namely the Urban Place which is modern, Traditional cultural space, and even natural place or say it as gardens. Here, you can find it all.
Beside this marvelous city, in the end of the year, I got a chance to visit Qingdao, a city near the beaches. I sketched the Red Landmark of this city also. A landmark which shows the symbols of the movements for the people here.

In the beginning of the year 2017, I was curious of the Urban Sketching Community of Beijing. So I decide to join them sketchwalking in Lama Temple, Yonghegong. My first sketch blending was done with the other sketcher living in Beijing. Then, the next future sketchwalking adventure encourage me to do some sketching also to some of spaces around China.

So, as in one year I discovered mostly places in Beijing including all the landmarks. As I also learn some Chinese language from them as they stop by to ask what am I excactly doing. The Interaction between the city, space, and art happens as I try to sketch some of places here.

The next city I have discovered is Shandong, as this city gives me opportunity to join the Asean-China Youth Forum. It’s a quite peaceful city and that time I just got to sketch the University. Another chance was when I get to sketch Shanghai, another urban city which gives me many interesting spots including the famous Bund in the middle of the city and along the river.
     
Sketching the Cave, Sketching Shanghai, and Sketching Great wall
Sketching the city of Daixin as it was in the event of International Cycling Event 2018, creates another challenges as this city is so silent and hot. But yet, every city and village that I experience deserve to be sketched.

Tianjin gives me another artsy style of the city. It has thousands of artistic views and it glows in the night. A place which is worth it to visit again.  Don’t forget also Gubei Water town, the Cave, and other surrounding cities beside Beijing. I am very sure they are all artsy to be sketched.


 

Sketching Tianjin and Forbidden City


Sketching My Research
I never imagine that my research will be related to one of an ancient timber structure protected by the government. It is full of complexity. Known as one of the Pagoda which is preserved in Wanrong County.

Beside, my research site which is located in Shanxi Province gives me another inspiration to sketch one of an important site to be visited. The ancient Feiyun Building where I met so many obstacles in finishing my research here. Also I found some enjoyments.

A third floor building with timber as its wooden material. As till know Im still struggling and dealing with this problem of research but I really enjoy every single site that I visit there. It will be an interesting life experience that I gain beside sketching China.

Sketching Feiyun Building, 


0 comments:

Review Ciamik dari Mbak Riri Sang Petualang: Kata dalam Sketsa



Sudah terbaca!!

Sangat jarang ada orang yang mau menggabungkan karya literasi dengan karya seni (rupa). Apalagi didukung dengan background keilmuan yang sesuai, teknik sipil.
Annisa Dewanti Putri berhasil memadukannya. Cantik!

Review singkatku untuk buku yang baru selesai kubaca dalam dua kali duduk:

1. Ada prolog baiknya ada epilog. Sebenarnya dibanyak karya literasi, suatu bab yang judulnya sama dengan judul bukunya akan diletakkan di awal atau akhir. Nah buku ini belum memiliki epilog yang greget. Harusnya esai yg berjudul "Kata dalam Sketsa" itu sendiri diletakkan di belakang. Sesuai judulnya, seharusnya esai tersebut bisa menjadi gong yang membelalakan mata, tidak hanya menarasikan sketsa tetapi juga harapan dimasa depan yang akan terus berkarya melalui kata dalam sketsa.

2. Dewan berhasil mempergunakan teknik menulis feature dengan baik. Diksi-diksinya beragam dan menarik. Kemampuannya menulis dengan teknik ini sudah tak perlu disangsikan lagi, karena jam terbangnya menulis diberbagai media cukup tinggi.
Hanya saja, ada beberapa istilah asing yang makna awamnya tak segera tersuratkan. Terkadang pembaca baru mengerti makna sederhananya di beberapa kalimat setelah istilah asing tersebut dimunculkan. Akibatnya, orang awam akan merasa lelah dan bosan membaca, meskipun tujuan awal penulis sesungguhnya ingin memberikan kejutan-kejutan tak terduga.

3. Dalam buku ini terselipkan kisah perjalanan penulis ke Jepang. Awalnya terkesan menyenangkan dengan alur runtut dan detail yang cukup memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Namun, dua tempat lain yang penulis coba ejawantahkan ke dalam bentuk tulisan terasa ala kadarnya, seperti hanya pelengkap yang dipaksakan ada. Pembaca jadi bergumam, "njuk ngopo? lalu apa yang istimewa? udah gini aja?"

4. Sarat ilmu baru. Pengetahuan-pengetahuan istimewa dari soal rancangan bangunan hingga pertanian berkelanjutan ditularkan ke pembaca dengan luwes. Layak diberi acungan jempol.

5. Pengingat anak muda untuk selalu menjaga nasionalisme. Kalimat-kalimat yang dilontarkan mengandung makna kebanggaan bagi Indonesia raya meskipun memiliki banyak masalah yang dihadapi. Tercantum pula solusi-solusi teoris tapi tepat dan tidak mustahil untuk diwujudkan, yang dituliskan dengan halus. Tak terkesan menggurui.

6. Dalam beropini, Dewan berbicara fakta yang didukung bukti-bukti nyata. Bahkan referensinya dicantumkan di akhir buku, sesuatu yang seringkali diabaikan para penulis esai. Ada pepatah: penulis boleh salah, tapi nggak boleh bohong; dan Dewan sanggup mengikuti kiblat itu.

Secara keseluruhan, buku ini menarik dan layak untuk dibaca :)
Sangat berharap Dewan bisa kembali menulis dan mengkolaborasikan dengan garis-garis indah sketsa "berwarna"nya yang menawan. Dunia literasi menunggu karya-karyamu selanjutnya.

Sukses selalu Dewan, adek 11 bulanku :)

Oleh: Janne Hillary, UGM

0 comments:

Kunjungan Pemuda Indonesia, PPI Tiongkok, bersama KBRI Beijing


Beijing, 16  Mei 2018, pagi itu suasana begitu ramai. Tak hanya dihiasi oleh kegiatan yang saat itu juga berlangsung di Aula, namun juga ramainya pemuda dari Indonesia yang sedang melakukan kunjungan ke Tiongkok. Beberapa diantaranya mewakili akademisi dari Jogja, mahasiswa London School of Public Relation (LSPR), Miss Asia 2018, dan akivis Rumah Millenial.

Tak kalah menarik, saat itu Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) 2018-2020 juga sedang di Beijing dan ikut melakukan kunjungan bersama beberapa perwakilan pengurus lainnya dari berbagai belahan di negeri Tiongkok diantaranya Harbin, Hangzhou, Shanghai dan lainnya.


Pelajar dan aktivis asal Indonesia bersama KBRI dan PPIT

Di hari sebelumnya, bersama beberapa atase, staff, dan perwakilan mahasiswa Indonesia, Bapak Djauhari Oratmangun selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok merangkap Mongolia menggelar makan bersama para penyabet Juara Internasional Panjat tebing Indonesia yang belum lama diadakan di kota Chongqing. Bapak Duta Besar yang akrab disapa Pak Jo ini mengapresiasi usaha luar biasa para pejuang bendera merah putih ini dikancah Internasional.

Di hari berikutnya, bersama beberapa tim pengurus Pusat, Fadlan Muzakki selaku ketua PPIT 2018/2020 mengadakan diskusi pengenalan bersama Pak Jo dan beberapa rekan staff KBRI Beijing lainnya. Diskusi berlangsung sekitar sejam dan bisa disaksikan live di instagram @ppitiongkok . Pada dasarnya diskusi berisi perkenalan mengenai program ke depan yang akan coba diinisiasi PPI Tiongkok dalam kepengurusannya.

Diskusi bersama Duta Besar Indonesia yang berlangung live di @ppitiongkok
Hal ini terutama membahas kemungkinan Tiongkok sebagai tuan rumah untuk Simposium PPI Asia-Oseania 2018. Harapannya, seluruh komponen dapat bekerja sama menyukseskan acara ini dan lebih mengenalkan Indonesia di tingkat Internasional.

Silaturahmi dan kosnolidasi menjadi hal yang penting juga yang ingin dibawa PPIT kepengurusan baru. Dalam diskusi dengan Pak Jo, PPIT mengenalkan soal prinsip Kolaborasi, Kontribusi dan Inspirasi yang ke depannya akan diterapkan dalam program-programnya. Harapannya, dalam Kolaborasi dapat menyatukan berbagai pelajar-pelajar Indonesia di TIongkok yang di cabang maupun dengan Indonesia dan beberapa organisasi dan media lain.

Sementara, Kontribusi menjadi bagian dari kolaborasi untuk memberikan sumbangsih nyata bagi Negara. Lalu, setelah semua terlaksana, harapannya semua yang terlibat menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan positif yang dilakukan. Sebagaiamana dalam akhir diskusi Pak Jo mengatakan “Do what you think is right for you, yourself and Your Country.”

Tentunya dari hasil diskusi perlu komunikasi yang kuat antara mahasiswa dan KBRI jikalau ada kendala dalam proses studinya yang nantinya bisa mengarah ke pemcahan masalah bersama. Di hari yang sama, audiensi juga dilakukan dengan atase Pendidikan KBRI Beijing bersama Bapak Prihantono dan Ibu Rukmini. Beliau juga mengingatkan sama halnya seperti Pak Jo agar mahasiswa dan pelajar tak lupa dengan tujuan utamanya di negeri tirai bambu yaitu belajar.

0 comments:

Live sketching while raining: Mosque Sketch


Checklisted ✔️
Sketching against the rain.

Have i ever imagine how its hard to scratch a story between the rain.
Its seems like its a pain.
But again, its not about being chased by a train called rain.
But its about how you flow the line from your vein.
And from your vein to a paper which is still plain.

The qianbing seller has a story behind its food truck.
It seems he has sold a dozen of menu in this small space.
By just giving a smile, its not about money, but the passion that matters.
That is what happens even you are watercoloring beneath the rain.
afraid to let the rain wipe the shades and stain.
Yeah, lets learn from Mr.qianbing, the rain fighters, yet the rain lovers.
Why the rain lovers? Because i can use the rain drops to color the scratches 😀



东大清真寺
0.8 mm, archival ink and watercolorset
8/7/18

0 comments:

FEIYUN LOU: THE COMPLEXITY OF THE ANCIENT SKY BUILDING


The Ancient Building of Feiyun Lou (Author, 2018)

13/6/18. Between the blue sky, a complex of three story of ancient timber structure there relies. With a height of 23.19 meters, it consist of five layers above with a 3 main floor. Feiyun Building is located in Wanrong County of the Shanxi province and is known as one of the first ancient timber building.  Using a train to Yuncheng Station, this city of Shanxi can be accessed. Heading to the Wanrong County, we can enter a peaceful region with the  Dongyue Complex on it. A taxi from Yuncheng to Feiyun Road will last then one hours. There, travelers can stay in some hostels or hotels which is not far from the location.

The main area consist of other relic and building which represents the ancient Chinese timber structure. In which here it has about 129 columns, with a 204 beams, and a special number of 345 brackets or Dougongs among it. The entire structure has completely seem to be flexible enough. The covered area of 204 m2 has urge people to come and see. At the first time maybe they charged you for entrance, meanwhile nowadays due to some protection lines, they don’t charge anymore.

As explained by the experts, the building has its four main features which are first, it is a pure timber structure, which the tenon rivets are used for all sizes of joints without a nail. Second,  the base floor consist of five wide sizes, as the the main four pillar stands and surrounded by the other 32 columns around linked into a check board shape supporting the building together and at the bottom of the building people can clearly see the Tong Tian Zhu which has a single height of 15.49 m.

Then, it has five layers which consist of three floor, both have railing and has two pillars which is divided into three and above will be pointed as the roof that has a flower shaped. After that, there are a total of 345 dougoungs or bucket arches which overcomes the building with  extremely rich counter lines and the surroundings with the canopies around the corner that represent the impression of flying in the sky as the the Feiyun Building means so as the cloud.  Besides, the four  Yongding Columns also support the structure ahead to be more rigid.

This building has been a project sample to the test conducted mainly to earthquake, wind, strain test, temperature, and deformation modelling. The complexity of structures which brings dougongs as one of their uniqueness has encounter the point that Feiyun Building can stand to the disaster and some of particular destruction. The Dougoung or the brackets are the answer to it as it is the main thing as a solution for the particular shakes and counters to the load around.

The Interior of Feiyun Lou

It is accessible and interesting that the visitors are allowed to see the upper structure of the three floor. That to experience the inner part of the structure which is still original, but has some reinforcement to help on its preservation. Behind this Building are also the other interesting ancient structure which in the last section behind, the visitors may encounter an interesting basement with diorama and statues of the deaths and spirits.

Travelers and ancient hunters are urged and welcome to visit this unique anctient timber structure. This structure will open your horizon in the representation to the historical timber structure. A unique place to discover within the shape and the environment. As it could be one of the heart for human to realize that to preserve culture and ancient building will be a mast for the others.

Annisa Dewanti Putri
Master Student of Beijing Jiaotong University,
Wanrong County, Shanxi, China

0 comments:

Pasar Ibukota, Perjalanan Jual Beli Urban Berbagai Lapisan



Judul Buku: Pasar Ibukota (Kumpulan Feature Menelisik Geliat Pasar Tradisional Jakarta
Penulis                         : Hadi Setioko, Rahmat Mustakim, Annisa Dewanti Putri, Tina Rosiana, Rita Apriani, Egi Ryan Aldino, Rizki Pujianto, Risda Maleva Juni, Anis Septiani
Jenis                            : Antologi Feature
Penerbit                       : Pustaka Kaji
Cetakan Tahun            : Cetakan I  Januari 2018
Tebal Buku                  : 150 Halaman
Panjang Buku              : 21cm
Lebar Buku                 : 14 cm
No. ISBN                    : 978-602-60546-2-3


7 April 2018. Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (LKM UNJ) bersama Penerbit Pustaka Kaji akan meluncurkan 3 Buku Antologi karya Pemuda Indonesia. Mereka adalah bagian daripada anggota dan alumni LKM UNJ yang mengupas suatu tema tulisan menjadi satu antologi buku. Salah satu buku itu berjudul Pasar Ibukota.

Buku ini membahas setiap pasar unik yang tipikal barang daganganya. Tak lain, beberapa diantaranya adalah Pasar Batu cincin di Jatinegara, Pasar Bunga Rawadas, Pasar Obat di Pramuka dan masih banyak pasar lainnya. Setiap penulis memiliki caranya sendiri untuk tenggelam dalam setiap pasar yang punya kisah. Ada yang masuk sampai ke kisah pedagangnya, bahkan ada yang sampai masuk ke kisah penjualnya.

Pengemasan tulisan dalam bentuk Feature. Santai, mengalir, mengajak pembaca untuk terjun diantara hiruk pikuk jual beli yang begitu berwarna. Penggalian reportase pun cukup mendalam hingga pada akhirnya setelah sekian lama di revisi dan terjun ke lapangan, karya ini terbit juga.

Harapannya, dalam kegamangan kehidupan urban yang penuh dengan gedung pencakar. Dibalik tiang-tiang itu, ada aktivitas tulang punggung penuh pelangi yang terjadi di tengah Ibukota. Ialah pasar, tempat mata uang berputar, tempat semua orang bertukar cerita.


0 comments:

Family, That's what it Matters

Masjid Al-azhar, Jakarta. By: Dewanti, 2017

We start to open our eyes with the smile of our mom.
We begin to walk with the support of our dad.
We try to learn with our brothers and sister.
They are all what it matters.

Then in the  new place, we start to help each other with different friends.
We start to work with other colleagues.
We start something that is new for life.
New love and new family.

We went back to hug our greatest family.
We saw them from the smile and gave us a so called home.
Our parents, their smile, every thing form their heart.

It began from a small heart that brings you to a new journey.
But in the end your heart miss the home more.
The love from where you begin.
The love where you can get hugs and kisses for free.

The love from family,
That's what it matters.

Even this city is bad till now, but here is where I was born.
Where I start my new memories with all my lovely family.
Home Sweet Home,
Jakarta, 2nd of March 2018.

From the one that will miss you all the most

0 comments:

Bapak Kerang di Kanal Banjir Timur.

Senja di kanal Banjir Timur. Sumber: Penulis 2018

Jalan di samping Kanal atau yang lebih familiar disebut orang sebagai BKT kala itu begitu ramai. Tak hanya oleh motor dan hiruk pikuk manusia yang senang membeli jajanan kecil penuh warna, namun juga ramai oleh senja yang hendak nampak.


Sebelum matahari mengucap salam pergi, aku bergegas menyelesaikan garis tak beraturan bersama warna ala kadarnya itu. Sebelumnya Bapak kerang telah menyajikan pesanan kerang dan kepiting yang begitu menyentil lidah. Bapak kerang begitu penasaran dan seolah selalu melihat apa yang kulakukan, sampai ia pun mengira aku hanya membuat catatan pelangganya dan orang2 yang berlalu lalang di buku perkakasku. 

Sebegitu penasaranya hingga ia mengintip, dan terkejut ketika kuselesai dan mengambil potret kilasnya. Tak lama, bapak kerang mengucap lewat kata “wah bagus juga warnanya, boleh ya buat saya ditaruh tempel di gerobak,”

Tanpa pikir panjang ku iyakan dan turuti permintaan Bapak kerang. Yang kubayangkan, boleh juga jika goresanku itu sesekali jadi saksi bisu antara senjanya langit Jakarta di setiap harinya, lewat masyarakat, jalan kota, iapun bisa melihat tapi jadi punya cerita.

Ini soal kota Rumah Kita dan kisah dibalik sketsa.




Tempat dan Waktu: Kanal banjir timur, jakarta, 16/2/18.
Media: Kertas canson, 0.3 mm archival ink+portable wc. 

0 comments:

Ekspektasi lawan Kenyataan

Lost but not lost. Sumber: Penulis 2018

Tulisan adalah bagian dari kata
Pelampiasan, gambaran, bisa jadi pencintraan
tapi bukanlah saat ini.
Ini adalah perasaan kenyataan.

Ketika ribuan manusia saling memberi harapan,
saling menyandarkan gagasan.
Muncullah impian.
Tapi ia takut tak sesuai kenyataan.
Segalanya tak sesuai dengan yang diinginkan.
Berikan semua yang tak hanya cercaan

Bisik pilu tak pernah sama
Pengabaian, harapan yang berbeda dari kenyataan
Semua hanya ilusi
seolah mimpi..

Menjadi beban, tapi dibalikkan jadi motivasi,
seolah mengandalkan diri.
Terpaan, tekanan, semua adalah pelajaran
Berbuah menjadi pengorbanan.

Perasaan memang menyeramkan
Ia adalah batas pengendalian.
Hanya doa yang bisa jadi kekuatan.
Melawan semua masalah dalam genggaman.

Jakarta, 14 Februari 2108
Disaat hati tak karuan menerima tekanan.
Resketsa

0 comments:

Mendapatkan Sponsorship untuk Kegiatan

Halo semua,

Terkadang kita sebagai mahasiswa dan pemuda mau mencoba melakukan hal baru dan berkontribusi untuk negara lewat berbagai lomba, acara, maupun kegiatan sosial. Permasalahnya, terkadang dana menjadi penghambat dalam mewujudkan hal itu. Ada beberapa opsi yang bisa dilakukan salah satunya dengan melayangkan proposal dan surat pengajuan dana.

Berhubung belum lama aku isi materi tentang pengalamanku untuk dapat sponsorhip buat kegiatan kemahasiswaan dan kegiatan di luar kampus, artikel ini aku bakal upload beberapa materi tersebut yang insya Allah mungkin bisa jadi referensi teman-teman ke depan.



0 comments:

The Greatest Movie of The Greatest Showman (Movie Review)

The greatest Showman. Poster Source: www.foxmovies.com

30th of January 2018. Its a bit late from the released date of The day where I dont know what to watch as we planned to watch a movie with some of our cousins. As I already watch Maze Runner, then the next of the so recommended movie that some people were talking about is "The Greatest Showman." I wasn't expecting too high for this kind of Musical movie, maybe Lala land was better than this.

Unexpectedly, the first song beat opens the beginning of the movie. With some dance and choreographs of the circus team, the beat keeps on going until it brings us to the flashback of our main character, Mr. Barnum (Hugh Jackman)  that since kid has struggle from a hard life but never give up and believe in his dreams and imaginations. Until finally he marries his lovable Charity that he admires and lived in a small family, then started to begin his new life after the company that he worked bankrupted.

He decide to borrow money from bank then tried to establish a new business which has a relation to artistically museum. Then, developed to be a more livable performance which has to involve some of unique People with special appearance and performance. The based on true story from an Inspirational nobel awardee P.T Barnum, that has initiated the Baily and Barnum Circus attraction.

IMdb has put a high rating (8/10) to this movie, as it is based on a true story, and has a unique feature in the musical parts. With many choreos, the actress dance and sing very well. As this movie has taught so many valuable lessons for family, dream, and life. The valuable lessons are that everyone can do something big even from nothing.

As this movie has a specialty also on its musical drama style, here are the lists of the Soundtracks that I think all are so meaningful, touchable music and lyrics :
1. The Greatest Show
2. Million Dreams
3. Come Alive
4. The Other Side
5. Never Enough
6. This is me
7. Rewrite The stars
8. Tightrope
9. Never enough
10. From Now on

Overall, this movie will really give a shocking experience on the up and down of PT. Barnums life with all of the dramatic moves and songs.

Annisa Dewanti Putri
31st of January 2019

0 comments:

Wasting a Waste

Hutong Sketch. Between tha alley and Recycled Waste. (Author, 2018)

The world is more instant than it used to be before. The more instant it is, the more easier everything can be done. But, the more damaging it can be. This earth is getting more damaged than it was before the humankind start their modern life. Im feeling terrible for the things I have done and waste.

The earth is in a terrible danger. The smarter the human, the simplest way to live, the more the earth is buried down till the bottom. The sea becomes a garbage. The land becomes a landfill. The island becomes something that we only can notice by its smell.

I just realize that im living in this kind of system. Creating negative domino effect for the nature. As the time pass by, the more damage it can be. The more sorrow the earth is about to be. As we race between the time and space.

ZERO WASTE?

No, Im still doing the Trillion Waste.

Wake up, yes it is hard to move.
Run, yup its too easy to walk.
Fight, yeah it is more comfy to sleep.
Shout out, hmm it is better to keep quite.

Reciprocity? Yeah, I have to realize, the things that we have eaten.
The things we have thrown
The things we have keep it away
the things we have abandon
The things we have ignore
The things we have forgotten
and the things we have Wasted.

Wasting a Waste.



0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch