KALIAN ITU ADA: TERUNTUK GENGSOS DAN WARCABS

Warcabs feat gengsos Puskom PPIT

Pusmedkom. Pusat Media dan Komunikasi. Ya namanya juga jembatan ya, kalo katanya di jaket ‘No us, No crowd.’ Ga rame kalo ga ada kita. Ibarat kita itu toa, jembatan, speaker dangdutam, tameng, kame kameha kagebunshin sama koran dan papan billboard PPIT kali ya. Apalagi Ikon nya Saitama dan kepala sukunya Kak Mulia.

Oke, berhubung posisi ku ini ga berarti banget (read:deputi) kenapa? Karena sebagian besar pekerjaan support lebih banyak dilakuin teman-teman lain. Makanya mungkin ucapan terimakasih aku ga ketara banget buat kalian sebagai pedang dan tameng PPIT ini. Dijudul aku ngeduluin Gengsos, tapi di cerita aku bakal ngeduluin Warcabsku, kenapa? Karena kalian ga ada duanya. Sama-sama numero Uno Buat aku.

WARTAWAN CABUTAN

Warcabs ini singkatan dari Wartawan cabutan. Kenapa? Karena mereka mahasiswa yang bisa menjelma jadi Wartawan disela sela kuliah. Bayangin, jarang-jarang ada mahasiswa Indonesia ynag mau berkarya lewat tulisan secara intens. Pada dasarnya mereka pahlawan literasinya PPIT.
Teruntuk Kalian, warcabsku.

Buat Ka Reza sang manajer aceh sebagai Manajer Publikasi, makasih banyak kak sudah banyak nularkan banyak gaya system kerja jurnalis ke dalam system kerja PPIT ini, kami jadi sedikit membuka mata soal ini dan link-link ke berbagai media. Mohon jangan tenggelam ya Kak Reza karena dari Kakak kita bisa banyak belajar.

Lalu, teruntuk somplak TED ku, yang aku ceburkan sedari awal. Mulai dari

Elke sang Elpiji, partner in crimeku, mirip julukannya, dia pandai meledak. Aku mulai ngenalin bakatmu ini sejak habis aku rilis tulisan di acara Permit, pemikiran mu kritis dan aku lihat kamu pandai melihat hal dari berbagai kacamata, aku sering tenggelam dari diskusi yang suka kita bicarakan. Ga salah dia Kuceburin jadi Kadiv Artikel pantas pula jurusannya kan juga jurnalistik, linier sekali. Setelah-setelahnya makasih banyak ya udah mau kecemplung di beberapa hal sama aku, roller coaster bareng kita haha berarti banget. Bos KKIB dan RKTT ini Kalo katanya spesial kaya martabak, makanya selalu enak dikuykan. Haha. Tetap drama yak arena dramamu yang selalu dirindukan.

Lalu, ada Tiffany si Cabe, kawan saingan bodoh2anku. Kenapa Cabe? Karena dia Ketua Cabe-cabean, ga deng karena dia Pimred Cabe Rawit. Ga heran kan kenapa aku geret dia jadi kadiv tabloid. Ini kawan somplakku tetangga kampus sebelah yang sering aku rusuhin. Sering berucap kasar, tapi hatinya padahal lembut bagai marshmellow apalagi kalo lagi terharu. Haha. Seneng kompetisi bodoh-bodohan bareng dia. Makasih Be udah sering bantu backup, nemenin main piano dan nyomplakin aku selagi di Beijing. Tetap semangat skripsi komputernya dan lanjut master medianya sang maestro jago bahasa korea. Haha

Lalu ada pejuang kesayanganya nih mulai dari  abjad ya berdasar panggilan.

Ada Aul si aktivis juga. Udah pernah dua kali berarti kesempatan wawancara dia, dari dia petama jadi mentor di School of Talk, ternyata kita ketemu lagi di divisi ini ya mbak aul. Unik, tinggal tingkatan kepolesanmu di bidang tulisan lagi biar ciamik ya. Rilis RKTT nya oke loh hehe. Ada juga

Dhifa Dokter depok hehe, sesuai nama instagramnya. Dokter ini pegiat luar biasa, senang karena pas di Jakarta bisa dikuyin juga untuk aktfi padahal anak Depok. Responya juga oke soal jadi editor. Semangat terus ya Dok, teruslah menulis.

Boss Falah topi blangkon. Ini ciri khas dia sejak pertama kuwawancarain. Ya paling rajin untuk sharing hal-hal konten PPIT dan paling rajin kasih jempol. Ditunggu bos, produksi tulisan-tulisannya ya. Jangan sampe ketuker lagi nama dan tulisannya hehe.

Mas Regra yang kalem. Luar biasa kalemnya, tapi tulisannya tajam. Salut ketika tau tulisannya pernah naik ke media cetak. Cukup loyal dan lagi-lagi mas reg kuy keluarkan ide-idemu, aku tau tulisanmu dasyat.

Risti andalan kita. Kenapa? Karena aku senang sekali dengan konsistensimu yang terus mengupayakan webinar kepenulisan kita saat itu. Meski banyak bentrok tapi kamu tetap menjalankan tugas dengan baik. Pun, tulisanmu juga unik apalagi yang soal Wisuda itu. Lanjutkan dan ditunggu ya kanda, eh yunda. Haha (keinget panggilan ketuker).

Syafii sang Multitalen. Dokter ini ternyata merambah ke dunia kepenulisan juga. Dan bahkan merambah ke dunia lain sampai ke pertandingan naga-nagaan wuhu.. Salut syaf, jurusan mu ga membatasi semuanya. Pun tulisan-tulisanmu juga. Semakin tajam dan terpercaya. Semoga amanah di proyek sosialmu ya aka Natuna Membaca. Aku percaya kamu disana karena suatu alasan.


GENG SOSIALITA

Nah ini dia tameng nya PPIT juga, garda terdepan macam Knights watch nya Game of Throne. Siapa lagi kalo bukan mimin-mimin kecehku.

Mulai dari bossnya Yuri Manajer Dokter Kekininan. Gaya bicaramu yang khas Yur udah bisa nyiptain bom di PPIT sejak sedari awal rapat pertama kita lewat yel-yel. Suka dengan caramu menjaga garis koordinasi dan selalu terus terang apa adanya. Semagat juga ya Yur di PPID, pastinya sulit ya bagi waktu tapi aku yakin kamu bisa dok. Tetap dijaga kesomplakannya biar unik ya. Tetap jadi Yuri dengan gaya khasnya juga yang mendunia.

Lalu ada Wiwin Sobat Siar Sosialita. Penyiar juga, Kadiv  MSM juga, cocok lah jadi mungkin berkicau di dunia Tarik suara plus di dunia sosial media ya win. Makasih banyak udah bisa koordinasi ke teman-teman secara terstruktur ya sampe dari roda oglek sampe roda stabil. Tetap
Semangat ngelabnya juga Bos Sobat Siarku. Hidup lab jangan lupa hepi.

Buat Bos Juragan Stefani. Pengusaha yang forntal dan cukup kritis, jadi andalannya CSM. Tukang ngeledekin pake eskrim. Dan cukup frontal, ayo pake gas sama remnya stef biar makin jago soal Traditional Chinese medicinenya. Oh iya seperti yang kita pernah bahas stef, jangan lupa yuk kita pakai kacamata yang beda-beda, semangat bos kudeta makin jago bisnisny haha.

Nah, gengsos juga punya prajurit andalannya..

Khatami sang atlet. Mabroo makasih banyak buat kerja samanya sampai ke depanpun juga ya. Tulisanmu juga ga kalah menarik soal WIF, sering-sering nulis biar makin top ya kawan teknikku. Tetap sehat ya dan makin jago olahraga. Tetap eksis juga bro di gengsos.

Retha sang instagramable. Aku sering teralihkan sama postinganmu yang instagrammable banget. Cocok ya, jadi gengsos ternyata hehe, tetap semangat jadi CSM garda sosmed versi CK terdepannya ya Retha.

Sry dokter panutan. Aku udah kenal kamu dari tahun 2016. Perjuangan kita bareng bikin visapun masih kuingat. Makasih banyak sudah selalu bantu dan semangatin dimanapun Sry. Tetap semangat menginspirasi ya Sry makasih banyak udah kerja sama bareng CSMer yang lain.

Meisia yang lembut. Meisia sering banget bilang makasih, maaf, tolong dll. Sungguh baik sekali, hehe. Ayo kalau ada apa-apa di grup silahkan melipir aja ya Mei, jangan sampai dipendem sendiri, makasih banyak sebelumnya ya. Dan semangat.

Pantri sang Fast Response. Halo dokter Pantri yang banyak ide dan gagasan solutif juga di bidang sosial media. Kalau katanya Pantri vakum kalau lagi ujian. Wow, setuju karena kita balik ke niat awal ya Pan kalo kita kan Visa Pelajar. Tetap inovatif semangat 2019.

Via Pendiam Jago Dangdutan. Via yang pendiam di grup tapi padahal luar biasa serunya, keinget pas pertama kali wawancarain di akhir dia mau dangdutan sama kita. Semoga makin toplah ya jadi mimin-minin di gengsos kita. Tetap semangat dan sering-sering sharing di grup vi biar teman-teman ga rindu hehe.

Resolusi ke depan: Kuy kita siap-siap lagi jadi tameng penuh gebrakan dan ide yang berbuah karya. Dari mulai bikin copy write, konten, rilis, jebolin tabloid, sebar manfaat lewat live, webinar dan karya-karya lainnya. Tetap konsisten dan selalu inget sama visa pelajar kita. Plus ojo lali Let it Flow dan tetap senyum :) :) :). Salam hangat penuh dashyat dari skywalker kalian. haha (Maaf star wars geek nih).

Ucapan makasih buat teman-teman Media juga yang sudah banyak kasih support teknis, selebihnya maaf ga bisa dideskripsikan nanti bisa jadi kaya cerpen berlembar-lembar, ini aja grup komunikasi sendiri udh 3 halaman. Hehe. Yang jelas gerbarkan pusmedkom makin mantul. Esensi tulisan ini sebenarnya untuk apresiasi dan evaluasi kita bersama ya. Semoga makin baik, jelih, kritis, berpikir out of the kotak, selalu ngedepanin efek domino, dan semangat jadi yang terdepan dan mendukung dari belakang.

Akhir kata, dulu kalian pernah ngecengin aku ga hafal semua anggota dan keluargaku disini. Pada nyatanya aku ga perlu menghafal, tapi cukup mengenal kalian itu udah jadi bagian dari ceritaku disini. Azzekk haha.  Mungkin suatu hari kisah ini yang bakal jadi yang kurindu dari jutaan album yang aku punya dan pernah kutulis. Yaitu album dimana kita bisa jadi pedang dan jadi tameng bareng-bareng.

0 comments:

2018: Bulan-bulan Penuh seribu Pelangi Bagian 1


Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Januari-Februari: Saatnya Saling berbagi
Saat itu Januari menjadi saat kepulangan sejenak ke Indonesia. Tak lain bulan ini bersama tim School of Talk dari Studi Tiongkok telah mengenalkan ku dengan banyak sosok-sosok baru dari hasil wawancara dengan mereka. Unik, nyatanya setiap orang punya caranya sendiri dalam membantu orang lain.

 Tak lain saat itu pula teman-teman LKM UNJ mengadakan kajian malam bersama bersama diriku mengenai kisah kota sekaligus launchingnya Buku Pasar Ibukota dimana aku adalah salah satu penulisnya bersama rekan Eros. Jiwa membaca ini rasanya tertampar ketika bisa berbagi juga dengan teman-teman mahasiswa baru. Dilanjutkan dengan sesi sharing soal Sponsorhsip bersama unjkita.com menjadikanku mengenal lebih baru teman-teman dari kampus hijauku.

Pada bulan Februari, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bersama beberapa Ormas seperti Lingkar Pengajian Beijing (LPB), KKIB, OBM Manggala, BICF, dll mengadakan acara Bakti Sosial bersama. Saat itu, LPB hanya diwakili oleh aku dan Mbak Anggi, Namun, di hari Baksos aku berkenalan dengan banyak kawan baru yang menyenangkan dan sangat asik untuk diajak kerja sama. Tentunya mereka adalah kawan-kawan satu kota di Beijing. Yang selanjutnya aku semakin semangat ketika diajak untuk ikut kegiatan mereka.

Pertengahan Februari, aku memutuskan mengajak kedua orang tuaku berlibur ke Kuala Lumpur sebelum aku kembali ke Beijing. Sedikit ingin membuat neneku juga tersenyum. Namun disela sela itu aku menyempatkan bertemu dengan geng Indonesian Student and Youth Forumku. Rupanya mereka sudah bekerja dan pindah ke KL semua.

Sebelum pulang kembali ke Beijing, teman-teman event hunter Indonesia (EHI) pun juga menggagas sebuah kegiatan dimana aku menjadi mentor dan narasumber. Kami membuat beberapa video terkait program beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS). Disini, aku semakin terkesima oleh pergerakan dan karya dan semangat teman-teman Indonesia. Mereka adalah entrepreneur sejati.

Sebelum Kembali, aku bersama Dina dan Farhan mewakili stud tiongkok juga menyempatkan untuk hadir Bakti Sosial di Warung Yatim Maseng. Sedikit mengingatkan kami untuk terus berbagi dengan cara apapun itu.


Baksos Permit-LPB-KKIB-Manggala
Baksos bareng Studi Tiongkok, Dina Chaerani (Plan Indonesia) dan Farhan (Duta Bekasi 2015)


Buku Antologi Eros

Berlibur sejenak Ke KL
Habis Live Bareng TIm Event Hunter Indonesia soal Beasiswa (Para calon Pengusaha Muda ini) 


Maret-April: Duka yang tak Disangka
Saat itu memasuki bulan baruku di kota Beijing, aku kembali bersama Filone dan Ibu Alm.Yani (Orang KBRI) yang sengaja menyamakan jadwal tiket pesawatnya agar bisa kembali bersamaku karena beliau memerlukan kursi roda. Bulan itu juga aku terjun ke Laboratoriumku kembali. Laboratorium special yang khusus membahas tentang bangunan bersejarah di Tiongkok. Khususnya, disini aku membahas mengenai uji non destruktif untuk kayu dan evaluasi terhadap deformasinya.

Tantangan terberat berada di Lab yang notabennya sebagian besar adalah Mahasiswa Tiongkok sendiri adalah mereka memiliki standar akademis yang lebih tinggi. Ditambah jika aku harus mendapat sumber pula yang  berbasis Bahasa Mandarin. Kejadian itu pun terulang hingga aku tebiasa dengan sebutan ‘anak lab.’ Pun semakin banyak mahasiswa baru yang baru saja tiba dan mendaftar di Lab ini hingga sampai sekarang aku tak hafal semua nama mereka yang berjumlah 35 orang itu.

Tak lama di akhir Maret, aku mendapat kabar duka dari yang mereka bilang saudara somplak kembaranku Vika, Alm.Bu Yani meninggal dunia, aku tak menyangka, dia seperti Ibu kami di Beijing namun secepat itu dia harus pergi dan saat-saat itu kita membantu dalam prosesi dllnya sampai Jenazah dipulangkan dan aku merasa bertanggung jawab juga berada disamping kawanku itu yang sedang rapuh setelah ditinggal Alm. Ibu. Namun selang beberapa minggu keadaan mulai pulih.

Pada April 2018, kantor Internasional memanggilku untuk mewakili Indonesia dan Mahasiswa Asean dalam China-Asean Youth Summit di kota Shandong. Di sana aku bertemu banyak mahasiswa Indonesia juga yang mewakili dan beberapa mahasiswa Internasional. Yang unik, selama 3 hari kebiasan nomaden ku sejak semester lalu tidak hilang. Meski aku disediakan hotel namun nyatanya temanku dari Shanda yang juga merupakan ketua PPIT Qingdao membujukku untuk selalu nginap di tempatnya karena dia juga tinggal sendiri. Jadilah hanya koperku yang bermalam di hotel. Di forum ini aku mengenal puluhan sosok baru yang sangat unik.

bersama Alm. Ibu Yani sepulang ke Beijing
Delegasi Indonesia untuk ACYF 2018


Mei-Juni: Keberkahan Pindah Ruang
Senangnya hati ketika Jurnal PPI Dunia sebagai bagian dari gebrakan dan milestone pertama di bagian akademis terwujud dimana saat itu aku, Bang zakki, Mba Shinta, Bang Hakam, menjadi inisiatornya. Terlalu lelah memang mengingat proses ini begitu rumit dan cukup menguras pemikiran dan menjadi jembatan karya untuk bidang penelitian. Tapi setidaknya dari sana menjadi lega apa adanya karena Prorgam kerja yang kita harus inisiasi dan sempat dianggap remeh berhasil diwujudkan menjadi JURNAL PERTAMA dalam sejarah PPID. Alhamdulillah.

Saat bulan itu juga menjadikanku tercemplung di Organisasi PPI Tiongkok pusat. Yang mana menjadi cukup tantangan terberat karena aku belum melepaskan amanatku di PPI Dunia. Namun, demi niat kebaikan aku menerima panggilan itu dan pun juga berhasil menggeret beberapa teman-teman kepercayaan ku untuk bisa duduk bersama di organisasi ini. Tanpa mereka, kerjaku bukanlah apa-apa sampai sekarang. Lebih-lebih aku semakin mengenal banyak pelangi baru dan kisahnya disini.
Juni saat itu penelitianku bertajuk lingkungan membuatku terpilih mewakili Indonesia dalam International Student Conference on Environmental and Sustainability (ISCES) 2018 tepatnya di Shanghai. Aku bertemu dengan empat orang delegasi Indonesia lain yang mana mereka adalah hal terunik yang sama-sama memiliki misi lingkungan yang sama bersamaku. Pun, banyak delegasi dari negara lain yang menjadikan diri ini memiliki banyak perspektif baru soal lingkungan. Aku merasakanya ketika saat presentasi dan Focus Group Discussion. Alhamdulillah di acara ini pun aku mendapat penghargaan ‘Best Presentation.’

Pun selanjutnya kelompokku juga berhasil membuat video ‘Eco City.’ Yang hanya kami usung dalam semalam suntuk. Lagi-lagi di Shanghai ini kelakuan nomadenku tak hilang ketika harus mengunjungi seorang teman di Shanghai dan lalu aku terbujuk untuk menginap dan kembali keesokan harinya. Bukan hanya itu, di hari berikutnya akupun ikut buka bersama teman-teman permusim dan hari berikutnya di KJRI Shanghai. Betapa indahnya karena dalam waktu seminggu itu aku telah mengenal sekitar 180an teman-teman baru yang berbeda dan berhasil masuk ke beberapa kisahnya sehingga membuatku banyak belajar.

Kembali dari Shanghai, keesokan harinya aku harus kembali berangkat ke Shanxi, dimana tempat penelitianku berada. Aku berangkat bersama tiga orang kawan labku yang mana mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah aku selama seminggu terpaksa berpikir keras dalam berbahasa. DItambah saat itu adalah bulan puasa yang mendekati lebaran. Sempat aku cemas bahwa aku tidak aku tidak akan berlebaran bersama teman-teman sepenasib sepenanggungan di Beijing. Lebih-lebih aku mencoba mencari masjid terdekat namun nihil. Selisih masjid adalah sejam dan di Kota Wanrong ini tidak ada kendaraan umum selain taksi. Masya Allah H-1 sebelum lebaran kami akhirnya menyelesaikan pengambilan data itu dan pada saat itu aku bisa merayakan Idul Fitri di KBRI bersama kawan-kawan Indonesia ku dan itu cukup mengobati rasa rindu lebaran dari keluarga dan rumah.

Jurnal Perdana PPIDunia
Best Paper dalam ISCES 2018. Alhamdulillah
Petualangan Penelitian di Shanxi

Buka Puasa bareng Ibu KJRI Shanghai, Bu Ining


********Bersambung ke Bagian kedua********

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch