Tuesday, June 02, 2020

PELAMPIASAN WARNA-WARNI LK KALA PANDEMI

 "Memang terkadang situasi bisa nampak hitam putih, tapi bagaimana kalau coba ditambahkan sedikit warna-warni, sehingga yang lain menyadari bahwa apapun warnanya pun juga tetap berarti," dalam warna-warni.

Tak lain dan tak bukan karena tahun 2020, sebuah tahun dengan pesona Pandemi COVID19 yang mana imbasnya juga dirasakan oleh pelajar dan pekerja lain di belahan dunia lain juga. Betapa nikmatnya kalau di pikir, kuliah atau kerja daring membuat kita bisa melakukan hal lain secara bersamaan juga dari kejauhan. Terkadang yang buruknya sekalipun (Sambil bermain game). Namun tak apa, itulah Guilty Pleasure yang bisa kita lakukan sementara berusaha produktif di kala ketikdapastian situasi dunia seperti ini.

Ambil kisah sedikit pelambiasan dari Sobku yang bernama Elke Devinna yang selanjtunya berinisial LK, pada semester ini sepenuhnya menjalani kuliah daring. LK ini telah menjadi watermark tak resminya dalam karya di Canvasnya. Mencoba mengingat bahwa jangan lupakan identitas pembuat melalui watermark ketika selesai berkarya. Kali ini, tulisanku sedikit santai, ingin menelisik sedikit warna yang berhasil dihabiskan LK dalam setiap keisengan coretan dalam hidupnya. Haha, entah ini hanya guyonan atau pujian tapi boleh jadi benar, karena ya, sebagai seorang sketcher amatir, aku akui juga kalau karya nya memang berwarna. Inilah yang beberapa diantara kala Pandemi ia tunjukkan.


Sebut saja Nemo, kawannya Dory.


Dia lambaikan tangan-tanganya itu selagi menggores setiap detail yang terjadi pada kertasnya. Ini si Ikan Nemo yang LK ambil contohnya dari semacam buku mewarnai yang sempat dia pakai untuk belajar. Ya, LK memang pernah les mewarnai katanya, artinya jiwa mencampur warna dan gradiennya bisa dibilang cukup sensitif.

Rubah mozilla forefox

Entah apa namun nampaknya LK senang belajar dengan mencontoh apa yang sudah ada. Berikutnya si rubah yang dia lihat dari hasil mencari di internet. Lagi, lagi mari kita tengok sedikit detailnya, ia terapkan gradasi warna campuran pada rerumputan dan kulit si rubah. Media yang dia pakai kali ini adalah Krayon.
daun apa ya, belum sempat tanya LK
Aku belum tau secara detail mengapa dedaunan ini menjadi pilihan berikutnya yang ia gambar di kelas. Shading dan pencahayaan di karya kali ini cukup terang karena aku bisa liat guratan hitam yang memberikan gambaran gradasi warna dari hijau muda menjadi tua. atu dari kuning menjadi hijau.
Koalademit.
Karya terakhir yang tak kalah unik bagiku, adalah sang koala, yang tak bukan adalah disebut sebagai Koalademit. Ini berawal dari aduan LK ketika kameranya ada sedikit bercak sentuhan tak diketahui asalnya. Aku seperti biasa mengolok-oloknya dan bilang kalau itu adalah sentuhan dari Dedemit Bekasi, alhasil tak lama iya menelurkan karya di atas Kanvas nya ini. Menggunakan media berupa Cat Minyak ia bentuk sehingga berujung seperrti itu. Setelah ini, ia bercerita kepadaku bahwa akan terus mencoba berkarya kalau sedang antara bosan dan tidak. Ini wajar, apalagi untuk orang sepertinya yang turun naik moodnya dalam dadakan dan sekejap. Namun, itulah yang unik.

Ada satu hal baru yang kupelajari dari LK, yaitu ia ternyata menyimpan banyak bakat terpendam di hemisfer kanannya. Sebelumnya, aku memang sudah memperkirakan hal ini dari gaya desainya pada pekerjaan lain. Dari cara LK menimbang suatu estetika dan pernah sebenarnya mendapatinya menggambar di Buku sketsaku ketika di GUBEI, gambarnya pun aku posting di tulisan tetntang perjalanan di GUBEI. Tapi aku belum banyak menyadari bahwa ternyata memang dunia seninya sebegitu mendalamnya. Mungkin selama ini sedikit terpoles oleh kegiatan akademis yang lebih banyak melibatkan hemisfer kirinya untuk mendominasi.

Tak heran, akupun juga mengalami hal itu. Sebagai anak Teknik yang bergelut dengan angka, rasanya dunia seni dan musik menjadikanku tempat melampuaskan dari kejenuhan aktivitas otak kiriku yang dipenuhi oleh formalitas keilmuan semata. Ini bukan hanya terjadi pada kita, bahkan Albert Einstein yang terlihat didominasi oleh Sains, mempunyai pelampiasan kuat di bidang musik, Einstein sangat lihai bermain biola yang tak hanya sekedar membaca partitur belaka.

Dewan, 2 Juni 2020,
Saat menjelang New Normal Pandemi

Read more…

Monday, May 04, 2020

Dari Desain Ekologis Menuju TOD?


Oleh: Annisa Dewanti Putri

“A developed country is not a place where the poor have cars, it’s where the rich ride public transportation” ujar Enrique Penalosa, Mayor kota Bogota (1998-2001).

Urban Sustainable Transportation saat ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam kesuksesan perkembangan kota (Drastiani, 2019). Ini adalah bagian dari kelanjutan dari skala desain menuju lingkup yang lebih besar lagi. Belajar dari kota Palembang yang sudah memulai proyek pendukung TOD melalui LRT (Light Rapid Transit). Bagi sebagian Urbanis, proyek ini memang  menjadi dilema. Apakah menjadi pemenuhan untuk kebutuhan sesaat, atau memang dikembankan berkelanjutan memadu prinsip TOD.

Transit oriented Development atau disingkat TOD adalah istilah yang masih belum familiar di khalayak umum. Konsep ini berusaha menggabungkan beberapa elemen yang terpusat dalam satu komunitas untuk keperlruan masyarakat umum. Tentunya, berdasarkan Ditjen Tata Ruang, TOD dimaksudkan untuk pengembangan kawasan seitar simpul transit, integrasi angkutan umum massal juga transportasi tidak bermotor,  pengurangan kendaraan bermotor.

TOD berusaha menjadikan Mixed Used Community yang mendorong manusia untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat kepada kendaraan sendiri (Still 2002, Bernick, and Cerveri 1997). Dari poin ini, TOD menjadi sarana untuk bisa mengurangi emisi karbon dan menuju kota berkelanjutan.

TOD mengadaptasi 6 kunci dari konsep smart growth yaitu Compact, Multi use development, yang mana ruang bisa didgunakan untuk berbagai keprluan masyarakat. Open space atau sarana ruang terbuka untuk keperluan konservasi. Pengembangan mobilitas juga menjadikan TOD menjadi kawasan yang saling terintegrasi antara moda transportas public sehingga memudahkan masyarakat berpindah antara moda satu ke lainnya.

Infill, redevelopment, dan adaptasi dari penggunaan ulang untuk area yang sudah dibangun. Mendayagunakan fasilitas yang sudah ada menjadi ruang public masyarakat. Keuntungan yang bisa ditarik dari sisi keberlanjutan lingkungan yaitu mengurangi kemacetan lalu lintas sebagai salah satu sumber Pencemaran Udara. Selanjutnya, TOD menekan penggunaan bahan bakar juga bisa menjadi konservasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa meningkatkan kualitas udara yang lebih baik.  Interaksi positif masyarakat, meningkatkan akses dan kesempatan untuk pekerja, dan kesehatan juga kedekatan masyarakat.


Gambar: Ilustrasi Konsep TOD. ITDP, 2014. 

Menurut Nirwono, peran angkutan umum semakin besar, modal share angkutan umum menurun hingga 27 persen (2010). Dengan menyatukan sistem yang berbeda antar moda, menyusun keanekaragaman penggunaan, menjadikan variasi dalam pemilihan alternatif perjalanan mendukung konsep yang ada.

Kenyamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap akurasi perjalanan melalui TOD menjadi bagian daripada motivasi yang menyandarkan mereka untuk menggunakan transportasi publik. Kesediaan layanan meningkatkan daya guna masyarakat sehingga di kemudian hari dapat menekan ledakan.

Sekarang, mengikuti perkembangan teknologi dan moda transportasi, lingkungan keberlanjutan memang tidak akan terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan sistemnya. Dalam wacana Proyek Strategi Nasional (PSN), perencanaan dengan konsep TOD memang sudah mulai diselipkan setelah berbagai proyek transportasi TOD, barangkali ialah konsep angan atau benar adanya sebagai konsep Integrasi transportasi dan lingkungan masyrakat. Bisa jadi suatu konsep untuk menjadikan kota memiliki desain ekologis yang tidak wacana belaka.

Referensi:
Fritz Akhmad Nuzir, I Nyoman Gede Mahaputra, et al. 2019. Antologi Kota Indonesia. Jakarta: OMAH Library.

Institute for Transportation & Development Policy (ITDP). www.itdp.org diakses pada tanggal 1 April 2020 pukul 11.16 WIB.

Joga, Nirwono. 2017. Mewariskan Kota Layak Huni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Borneo Publications.

Kubba, S. 2017. Handbook of GREEN BUILDING DESIGN AND CONSTRUCTION: LEED, BREEAM, and Green Globes. Joe Hayton.

Laksono, Eko. 2013. Universalis Metropolis. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Rizka Drastiani. 2019. Esai Dilema LRT dengan Rencana Skema Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Kota Palembang. Jakarta: OMAH Library.

Read more…

Monday, February 17, 2020

Pelangi Juang


Pelangi yang tak Disangka. Penulis, 2020

 "Bagiku sederhana, semoga semua baik-baik saja meski hidup sangat berwarna.
Seperti pelangi mungkin, meski tak selalu muncul, tapi setidaknya keberadaanya menjadi senyum yang dirindukan."


Entah judul dan isi relatif untuk saling dikaitkan atau tidak. Tapi, setidaknya tulisan diakhiri dengan pelangi biar ga pusing sepenuhnya. Cerita sedikit tentang sepinya kantor konsultan desain asing untuk Mega Proyek negara ku ini. Biasanya, ada sekitar lebih dari empat puluh karyawan yang mengurus kesemuanya ini. Maklum, ada force majeure yang cukup berdampak pada negara yang baru saja kena penyebaran Virus nCov.

Aku di lantai 3, lantai para engineer dan designer untuk proyek. Mereka semua adalah senior-seniorku. Tapi sekarang hanya bersisa kami berenam, ada aku (Station Engineer), Mr. Sun (Alignment/Jalan), Mr. Chao (Subgrade), Mr. Wang (Geologi), Mr. Wu (Jembatan) dan Mr. Xu (Terowongan). Ini bukanlah bagian dari komplit untuk mewakili setiap bagian. Seharusnya ada bagian struktur, HVAC, MEP, Signal, Communication, dll. Dan perlu diingat, ini baru cakupan dari pihak internal dalam konsultan kami. Betapa banyaknya departemen yang ada.

Untuk pihak eksternal yang berhubungan dengan subkonsultan, supplier, kontraktor, pengawas, owner, bahkan antar konsultan seklipun, sudah beda lagi garis koordinasinya. Jadilah, ini seperti cerita duri baru buat diriku. Aku sangat belajar dari kemendadakan dan sesuatu yang tidak disangka dalam hidup yang bahkan mungkin sering keluar ungkapan itu dari diriku untuk tetap santai dan kalem.

Mungkin tidak berat bagi ragaku, semoga ia selalu pandai berjuang dan tetap sehat. Tapi jiwalah yang terkadang menantang. Untuk bisa merasakan keadaan orang-orang yang disayangi, ketika tau mereka sedang berjuang entah secara jiwa/raga/sakit juga. Inilah menjadi salah satu tanggung jawabku juga. Mereka hadir dalam hidupku dan tentunya kalau kekuatan diikuti dengan tanggung jawab juga. Artinya aku tetap berusaha kuat dan bisa berjuang untuk mereka yang membutuhkanku. Setidaknya berusaha ada untuk senyumnya.

Namun, ya tetap namanya manusia, dibalik lingkaran yang dia hadapi penuh senyum, sesungguhnya mental dan hati ini tetap berjuang. Bahkan Rasanya, bahagia dan dentuman semangat dari orang-orang terdekatku sangatlah berarti, meski terkadang hal itu hilang dan membuatku sangat menanti, terutama untuk orang-orang yang aku sangat pedulikan dan ingin selalu melihat mereka senyum dan baik-baik saja.



Terimakasih untuk semua warna. Itulah pelangi diantara badai yang tak disangka. Dan Pelangi yang tak disangka dipenuhi warna yang kita suka atau tidak suka. Tetaplah pelangi pada akhirnya.

Ditulis di Jakarta, disela-sela meeting yang entahlah.

Read more…

Monday, February 10, 2020

MENJAGA INDONESIA LEWAT FILM (SEMESTA)

Film Semesta. Sumber gambar: cinemags.com
Suatu kali, kamu seakan menjelajah ribuan pulau, terbang di atasnya. Berada dalam angan-angan layaknya burung garuda sampai pada akhirnya kau tersadar bahwa kau menjalajah nusantara.

Menikmati birunya laut dan pesona hijaunya dedaunan. Semua yang menapaki Negeri ribuan pulau ini memang bisa menikmati setiap sisinya. Namun dibalik itu semua, terdapat banyak sosok yang lebih mengindahkan untuk menjaga dibandingkan dengan menikmatinya.

Terhampar nyata seolah berkata “Indonesia, adakah yang akan merawat Indahmu?” Dalam beberapa cuplikan, penonton dibawa terbang di sebuah desa yang memperjuangkan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) di desanya. Disusul dengan pergerakan berikutnya menuju beberapa daerah tanah air yang salah satunya mungkin familiar bagi sebagian orang. Ialah raja Ampat, di balik itu penonton akan menemukan banyak kisah untuk menjaga salah satu pesona Indonesia tersebut.

Lompat ke Bumi Langit, sebuah tempat yang mengangkat permaculture design dalam pengelolaanya dan mungkin telah saya banyak angkat di beberapa tulisan sebelumnya. Menyoal tentang pengelolaan berbasiskan kearifan lokal dan agrikultur. Tempat ini ada di Jogja. Dan masih banyak tempat lain nya yang akan memberikan beberapa perspektif soal pesona nusantara dengan dalih sambil menjaganya.

Penggarapan oleh Tanakhir Production ini benar-benar mengambil genre Dokuemnter yang tidak biasa. Penekanan terhadap keindahan membuat penonton terpesona dengan kontur, gradasi, dan lukisan tanah air yang diperjuangkan. Perpaduan antara soundtrack dan pengambilan gambar cukup mengantarkan imaji menjelajah di tujuh pesona tempat berbeda di Nusantara.

Film berdurasi kurang lebih sembilan puluh menit ini ternyata memang bertemakan lingkungan dan pernah terseleksi untuk di putar di Suncine International Environmental Film Festival (Barcelona, Spanyol). Untuk penyuka film dokuemnter, tentunya mungkin akan memberikan jempol lebih. Terkhusus bagi pecinta alam dan penjelajah.

Satu celotehan dari seorang Elke Devinna yang sering kusapa dengan Sob, sebongkah kalimat pikiran yang selalu terngiang saat ini setiap ada film Indonesia yang muncul. Celotehan itu tentang bagaimana kita mengapresiasi karya anak Bangsa dengan nonton langsung di Bioskop.

Padahal, sebelumnya aku mendengar sebagian orang justru berpikiran buat apa nonton di layar lebar, sementara film di Indonesia bisa di download bebas atau “Nanti paling keluar di TV biasa.” Namun, kacamata itu berbeda setelah aku tersemprot oleh kata-kata sang Dory itu yang mengarah kepada kecintaanya terhadap kearifan lokal. “Terimakasih sob, celotehanmu selalu terngiang di kepalaku, hehe.”

Tentunya pemirsa, penilaian selalu relatif dan bergantung daripada perbandingan dan bahkan cakupan yang dibandingkan. Namun bagi diri ini sebagai seorang Indonesia yang mengagumi Alamnya, sangat mendorong masyarakat untuk setidaknya menikmati film ini. Agar kita semua tersadar, bahwa Indonesia tak hanya bisa dinikmati tapi juga perlu dijaga.

Read more…

Tuesday, January 07, 2020

Postingan Pertama 2020: Perenungan dan Rasa Syukur

Sedikit sketchwalking olehku.
Postingan kali ini adalah yang pertama di 2020. Mungkin isinya sedikit lebih ngawur dari postingan formal biasanya. Anggaplah ini bisa menjadi tulisan renungan dan rasa syukurku agar aku bisa bangkit dan ikhlas dengan semua yang kujalani. 

2019. Tahun berwarna yang berlalu begitu cepat. Mungkin karena begitu banyak warna yang singgah. Kacamata baru silih berganti. Aku menghabiskan waktu bersama banyak orang-orang spesial yang sulit kudeskripsikan satu persatu. Begitu mendalam bermakna. Kepada kamu, orang-orang yang aku pedulikan, semua bayang dan kenanganmu sungguh menempel. Aku tetap berjanji akan ada untuk mereka selagi aku bisa meski terpisah jarak dan waktu sekalipun. Meski aku merasa banyak meninggalkan hal-hal yang menurutku spesial, tapi dalam kesedihan kenangan, aku pun tetap harus menyadari bahwa inilah ruang dan waktu. Satu hal yang perlu diingat, 2019 ini begitu menantang namun membahagiakan.

2020. Aku bersyukur karena aku masih bisa bernapas. Merasakan sehat dan melihat senyum-senyum orang-orang yang aku sayangi. Padahal, pada 2019, banyak sekali kesalahan yang telah kuperbuat, hingga terkadang sesungguhnya menjadi dinamit untuk diriku sendiri. Hingga, aku sadari sampai sekarang aku harus bersyukur atas segalanya dan menghargainya dengan menjaga kesehatan dan semuanya.

Mengapa? Mereka bersandar semua kepadaku. Aku tak terbayang, ternyata aku bertransformasi menjadi tulang punggung secara perlahan. Keadaan berbeda, nampak aku banyak bermain dan ego sebelumnya. Sekarang, ialah aku yang diandalkan dan ditumpukan. Namun, tetaplah aku bersyukur, meskipun begitu banyak yang harus kulakukan untuk menutupi segala sesuatu, Allah Ta alla, selalu memberi jalan untuk bisa melaluinya. Nyatanya ketepatan waktuku hadir di tanah air ini terbilang tepat. Mungkin jika aku memutuskan merantau lagi, semua akan berbeda cerita. Aku bisa saja kembali kepada ego ku kembali.

Ini adalah tantangan. Mengapa? Selama ini aku selalu merasa seperti bocah yang senang bermain tapi tetap harus bertanggung jawab untuk segala masalah yang ada. Namun sekarang, aku tetap di anggap seperti bocah namun menjadi yang diandalkan. Lagi-lagi ego ku diuji. Hingga suatu waktu rasanya pernah aku tumbang secara jiwa dan raga. Orang-orang khawatir dan begitu menjagaku, hingga terbelisat aku terbayang beberapa omongan kawan-kawanku yang bercerita serupa, bahwa ia harus tetap sehat demi menjaga orang-orang yang dia sayangi. Iya, kita baik bukan hanya untuk diri kita tapi untuk orang lain juga. Jadi sehatlah, bangkitlah, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Intinya tetap tersenyum, agar yang lain ikut tersenyum. Pernahkan terbayang jika semua manusia mengeluh dan tidak tersenyum. Bahkan yang tadinya bahagia bisa berubah jadi muram, dan yang muram bisa bertambah sedih. Itulah mengapa, meskipun sakit melihat yang sakit, tapi senyum ini harus tetap ada. Memang seolah semua baik-baik saja. Tapi perlu diingat, bahkan segenggam tugas matematika yang dibawa pulang pun bisa jadi bencana ketika senyuman sirna. Dan mungkin terkena penyakit luar biasa bisa terlihat baik-baik saja ketika yang menderita tetap tersenyum semangat. Namun, tidak bisa disalahkan, tingkat kebahagiaan dan rasa syukur orang berbeda-beda. Hargailah.
Walaupun hanya dari sedikit senyuman.

Sekian, apa yang ingin disampaikan di awal tahun. Tulisan ini terbelisat dan tertulis di sela-sela mengerjakan pekerjaan gambar.

Read more…