Night skecthing Sanlitun, 2018
Once upon a time, the night has turn the light.
Trying to imitate the daylight.
Between the skyscrapers.
The city has made it seems alive.
Whether only the colors fade and seems alright.

Then, someday the blackout shut the light
turning off the buildings from each of our sight
Feel the crowd and aware so tight
Its just the reason and not to fight.

The night beside the light,
In the night you will realize,
as when you discover that the city is bright
but only because of the light..

0.3 mm archival ink, 110x166 mm,
Resketsa,
Beijing, 20/10/2018


Author, 2018


conference situation

(16/10/18), The day for the Forum on Northeast Asia and Southeast Asia Energy Interconnection Development gives a chance to the public in introducing the Global Energy Interconnection (GEI) as one of a concept to a Renewable energy and sustainable Development. The GEI system is a system to meet global power demand with clean and green alternatives.

The GEI system here is to implement the United Nations “Sustainable Energy for all” and climate change initiatives, and to serve the sustainable development of humanity. The forum is organized by the Global Energy Interconnection Development and Cooperation Organization. It has attract some cooperation, researches, and academicians around the North east and Southeast Asia countries around the world.

The GEI mainly has a basic concept of Multi Grid, UHV Grid and Clean Energy. By implementing the concept, the green principle of sustainable development will be one of a pathway in dealing global environmental problems. 

As this forum has Release some research findings around ASEAN and energy transition. Clean development and energy interconnection and open cooperation as delivered by Beni Suryadi (Indonesia) has given a chance for ASEAN countries to develop this mission.

This will be the one of the world step for green development movements as it will not only involve governments, organization, company sector, but also researches, academicians including students and society.

-Dewan, Civil Engineering, Beijing Jiaotong University-


Conference Kit







Oleh: Annisa Dewanti Putri[1]


Sketsa Bangunan Tradisional Kayu adat Minang, Rumah Gadang. Sumber: Penulis 2017

Indonesia. Melihat tanah air ini memiliki banyak budaya dan peninggalan bersejarah yang cukup menarik perhatian dunia. Terlihat rapuh namun sebenarnya antik, itulah yang tergambar jika menorah masing-masing peninggalan bersejarah dari sekian tempat diantara ribuan pulau nusantara ini. Ada beberapa yang masih kokoh, dipugar, bahkan di rekonstruksi ulang.

Pemeliharaan bangunan menjadi tantangan sendiri bagi para ahli sipil, arsitek, dan budayawan dimana bangunan cagar budaya yang dihadapi adalah bangunan yang renta dan tidak sembarangan mudah diambil sampelnya untuk diuji. Sementara ini, Indonesia memang taka sing dengan pengujian langsung terhadap material pada bangunan. Sampel uji yang bisa diambil melalui beberapa contoh sampel serupa. Namun, hal ini hanya berlaku bagi bangunan modern yang memiliki data lengkap keadaan eksistingnya muali dari perencanaan, desain, sampai konstruksi.

Bagaimana dengan bangunan bersejarah dan cagar budaya yang data awalnya sulit ditemukan dan tidak tersedia? Hal ini bisa saja terjadi pada bangunan-bangunan dengan nuansa tradisional dan vernakuler. Bangunan yang didirikan dengan berdasar pada pengetahuan, material, dan keahlian masyarakat lokal. Terlebih beberapa bangunan bersejarah yang mana sumber perencanaan ya karena perpindahan cerita yang begitu cepat tidak diketahui tinta birunya.

Sementara, pengujian langsung seperti kuat uji tekan, Tarik, dll dapat merusak komponen bangunan itu sendiri ketika diambil sampel nya, sekarang, peneiliti sedang mengembangkan optimalisasi untuk penggunaan uji lapangan dengan metode Non-destructive Test (NDT). Teknologi ini sesuai namanya yang berarti  uji yang tidak merusak, memberikan solusi untuk material yang hendak diuji namun renta. Dalam artian untuk memperoleh suatu hasil uji dari material itu tidak perlu merusaknya. Hal ini dikarenakan teknologi NDT lebih banyak memanfaatkan sensor dan gelombang untuk mendeteksinya.



Cukup diuji, Lalu diestimasi
Sekarang ini, banyak pilihan dan pengembangan dari teknologi NDT yang banyak dipakai oleh para assessor dan pengamat bangunan atau material. Bahkan untuk lebih akurat lagi ada teknologi semi NDT yang sedikit mengambil sampel dan menggores material guna mendeteksi kerusakan yang terdapat di dalam internal material.


Hal ini menjadi keuntungan karena peneliti atau assessor tak perlu mengambil sampel dari bangunan bersejarah tersebut. Terkhusus bangunan berkayu yang dan candi-candi yang renta sekali untuk diambil sampelnya. Untuk proses pemugaran pun sebelumnya dibutuhkan pemetaan terhadap komponen bangunan yang perlu di restorasi dan tingkat kerusakannya. Melalui NDT, proses ini bisa dilakukan. Dengan menguji secara langsung di lapangan menggunakan salah satu atau beberapa alat kombinasi, hasil deteksi dan pemetaan dapat dilakukan.

Semisal menggunakan Stress Wave analyzer dan Pylodyn test sebagai dua contoh NDT. Dengan menempelkan alat ke kedua sisi material yang hendak diuji, maka hasil waktu tempuh bisa di analisa dan bisa terlihat bagian material mana yang mengalami defect atau kerusakan. Jika waktu tempuh atau Time of Flight lebih cepat dari rata-ratanya artinya kondisi permukaan mulus. Begitupun sebaliknya, maka ada kerusakan yang dilalui yang menyebabkan waktu tempuh lambat.

Dari hasil sesedarhan itu dapat terlihat bagian struktur mana saja yang mengalami kerusakan dan masih dalam kondisi bagus. Disamping itu, dari hasil Time of flight pun, keadaan Modulus Elastisitas yang berkaitan dengan sifat material suatu bangunan dapat dihitung dan dipredisiki menggunakan beberapa pengambilan data.

Dengan begitu, restorasi dapat berjalan lebih singkat, presisi dan terlebih bisa mendeteksi tanpa harus merusak sebagian kecil atau besar bangunan bersejarah yang diamati. Teknologi ini sangat bermanfaat untuk diterpakan terkhusus untuk negara dengan jumalah bangunan bercagar budaya yang cukup tinggi seperti di Indonesia.

Referensi:
M. Teder, K. Pilt, M. Miljan, M. Lainurm, R. Kruuda. Overview of Some Non-Destructive Methods For In Situ Assessment Of Structural Timber: 137-143. 3rd International Conference Civil Engineering`11 Proceedings II Materials and Structures.
S. Gao, X. Wang, M.C. Wiemann, B.K. Brashaw, R.J. Ross, L.Wang. A Critical Analysis of Methods for Rapid and Nondestructive Determination of Wood Density in Standing Trees. Annals of Forest Science. INRA and Springer-Verlag France 2017.
C. Gao, J. Wang and Q. S. Yang. Rapid In-Site Survey and Assessment Method For Structural Members In Traditional Chinese Traditional Timber Structure[J]. Structural Health Assessment of Timber Structures. 2017: 119-130.





[1] Mahasiswa Master of Civil Engineering, Beijin Jiaotong University
Key Laboratory of Ancient Culture Relics, School of Civil Engineering

-Dewan, 李李婉美, Student of Beijing Jioatong University, SKetchwalker-



Since 2016, Iv decide to continue my study in China. Most of all because of its development and technology, well known as one of the populous country in the world. Beside, this country has provide so many interesting culture and heritage to be observed. Before I arrived here, I have promised myself to sketch every site that I visit no matter what I see or Experience.

As 2016, Beijing, the city that I stay, the place where I mostly study, gives so many chance until now for me to discover every single of its urban spaces. Namely the Urban Place which is modern, Traditional cultural space, and even natural place or say it as gardens. Here, you can find it all.
Beside this marvelous city, in the end of the year, I got a chance to visit Qingdao, a city near the beaches. I sketched the Red Landmark of this city also. A landmark which shows the symbols of the movements for the people here.

In the beginning of the year 2017, I was curious of the Urban Sketching Community of Beijing. So I decide to join them sketchwalking in Lama Temple, Yonghegong. My first sketch blending was done with the other sketcher living in Beijing. Then, the next future sketchwalking adventure encourage me to do some sketching also to some of spaces around China.

So, as in one year I discovered mostly places in Beijing including all the landmarks. As I also learn some Chinese language from them as they stop by to ask what am I excactly doing. The Interaction between the city, space, and art happens as I try to sketch some of places here.

The next city I have discovered is Shandong, as this city gives me opportunity to join the Asean-China Youth Forum. It’s a quite peaceful city and that time I just got to sketch the University. Another chance was when I get to sketch Shanghai, another urban city which gives me many interesting spots including the famous Bund in the middle of the city and along the river.
     
Sketching the Cave, Sketching Shanghai, and Sketching Great wall
Sketching the city of Daixin as it was in the event of International Cycling Event 2018, creates another challenges as this city is so silent and hot. But yet, every city and village that I experience deserve to be sketched.

Tianjin gives me another artsy style of the city. It has thousands of artistic views and it glows in the night. A place which is worth it to visit again.  Don’t forget also Gubei Water town, the Cave, and other surrounding cities beside Beijing. I am very sure they are all artsy to be sketched.


 

Sketching Tianjin and Forbidden City


Sketching My Research
I never imagine that my research will be related to one of an ancient timber structure protected by the government. It is full of complexity. Known as one of the Pagoda which is preserved in Wanrong County.

Beside, my research site which is located in Shanxi Province gives me another inspiration to sketch one of an important site to be visited. The ancient Feiyun Building where I met so many obstacles in finishing my research here. Also I found some enjoyments.

A third floor building with timber as its wooden material. As till know Im still struggling and dealing with this problem of research but I really enjoy every single site that I visit there. It will be an interesting life experience that I gain beside sketching China.

Sketching Feiyun Building, 




Sudah terbaca!!

Sangat jarang ada orang yang mau menggabungkan karya literasi dengan karya seni (rupa). Apalagi didukung dengan background keilmuan yang sesuai, teknik sipil.
Annisa Dewanti Putri berhasil memadukannya. Cantik!

Review singkatku untuk buku yang baru selesai kubaca dalam dua kali duduk:

1. Ada prolog baiknya ada epilog. Sebenarnya dibanyak karya literasi, suatu bab yang judulnya sama dengan judul bukunya akan diletakkan di awal atau akhir. Nah buku ini belum memiliki epilog yang greget. Harusnya esai yg berjudul "Kata dalam Sketsa" itu sendiri diletakkan di belakang. Sesuai judulnya, seharusnya esai tersebut bisa menjadi gong yang membelalakan mata, tidak hanya menarasikan sketsa tetapi juga harapan dimasa depan yang akan terus berkarya melalui kata dalam sketsa.

2. Dewan berhasil mempergunakan teknik menulis feature dengan baik. Diksi-diksinya beragam dan menarik. Kemampuannya menulis dengan teknik ini sudah tak perlu disangsikan lagi, karena jam terbangnya menulis diberbagai media cukup tinggi.
Hanya saja, ada beberapa istilah asing yang makna awamnya tak segera tersuratkan. Terkadang pembaca baru mengerti makna sederhananya di beberapa kalimat setelah istilah asing tersebut dimunculkan. Akibatnya, orang awam akan merasa lelah dan bosan membaca, meskipun tujuan awal penulis sesungguhnya ingin memberikan kejutan-kejutan tak terduga.

3. Dalam buku ini terselipkan kisah perjalanan penulis ke Jepang. Awalnya terkesan menyenangkan dengan alur runtut dan detail yang cukup memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Namun, dua tempat lain yang penulis coba ejawantahkan ke dalam bentuk tulisan terasa ala kadarnya, seperti hanya pelengkap yang dipaksakan ada. Pembaca jadi bergumam, "njuk ngopo? lalu apa yang istimewa? udah gini aja?"

4. Sarat ilmu baru. Pengetahuan-pengetahuan istimewa dari soal rancangan bangunan hingga pertanian berkelanjutan ditularkan ke pembaca dengan luwes. Layak diberi acungan jempol.

5. Pengingat anak muda untuk selalu menjaga nasionalisme. Kalimat-kalimat yang dilontarkan mengandung makna kebanggaan bagi Indonesia raya meskipun memiliki banyak masalah yang dihadapi. Tercantum pula solusi-solusi teoris tapi tepat dan tidak mustahil untuk diwujudkan, yang dituliskan dengan halus. Tak terkesan menggurui.

6. Dalam beropini, Dewan berbicara fakta yang didukung bukti-bukti nyata. Bahkan referensinya dicantumkan di akhir buku, sesuatu yang seringkali diabaikan para penulis esai. Ada pepatah: penulis boleh salah, tapi nggak boleh bohong; dan Dewan sanggup mengikuti kiblat itu.

Secara keseluruhan, buku ini menarik dan layak untuk dibaca :)
Sangat berharap Dewan bisa kembali menulis dan mengkolaborasikan dengan garis-garis indah sketsa "berwarna"nya yang menawan. Dunia literasi menunggu karya-karyamu selanjutnya.

Sukses selalu Dewan, adek 11 bulanku :)

Oleh: Janne Hillary, UGM

Beijing, 16  Mei 2018, pagi itu suasana begitu ramai. Tak hanya dihiasi oleh kegiatan yang saat itu juga berlangsung di Aula, namun juga ramainya pemuda dari Indonesia yang sedang melakukan kunjungan ke Tiongkok. Beberapa diantaranya mewakili akademisi dari Jogja, mahasiswa London School of Public Relation (LSPR), Miss Asia 2018, dan akivis Rumah Millenial.

Tak kalah menarik, saat itu Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) 2018-2020 juga sedang di Beijing dan ikut melakukan kunjungan bersama beberapa perwakilan pengurus lainnya dari berbagai belahan di negeri Tiongkok diantaranya Harbin, Hangzhou, Shanghai dan lainnya.


Pelajar dan aktivis asal Indonesia bersama KBRI dan PPIT

Di hari sebelumnya, bersama beberapa atase, staff, dan perwakilan mahasiswa Indonesia, Bapak Djauhari Oratmangun selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Tiongkok merangkap Mongolia menggelar makan bersama para penyabet Juara Internasional Panjat tebing Indonesia yang belum lama diadakan di kota Chongqing. Bapak Duta Besar yang akrab disapa Pak Jo ini mengapresiasi usaha luar biasa para pejuang bendera merah putih ini dikancah Internasional.

Di hari berikutnya, bersama beberapa tim pengurus Pusat, Fadlan Muzakki selaku ketua PPIT 2018/2020 mengadakan diskusi pengenalan bersama Pak Jo dan beberapa rekan staff KBRI Beijing lainnya. Diskusi berlangsung sekitar sejam dan bisa disaksikan live di instagram @ppitiongkok . Pada dasarnya diskusi berisi perkenalan mengenai program ke depan yang akan coba diinisiasi PPI Tiongkok dalam kepengurusannya.

Diskusi bersama Duta Besar Indonesia yang berlangung live di @ppitiongkok
Hal ini terutama membahas kemungkinan Tiongkok sebagai tuan rumah untuk Simposium PPI Asia-Oseania 2018. Harapannya, seluruh komponen dapat bekerja sama menyukseskan acara ini dan lebih mengenalkan Indonesia di tingkat Internasional.

Silaturahmi dan kosnolidasi menjadi hal yang penting juga yang ingin dibawa PPIT kepengurusan baru. Dalam diskusi dengan Pak Jo, PPIT mengenalkan soal prinsip Kolaborasi, Kontribusi dan Inspirasi yang ke depannya akan diterapkan dalam program-programnya. Harapannya, dalam Kolaborasi dapat menyatukan berbagai pelajar-pelajar Indonesia di TIongkok yang di cabang maupun dengan Indonesia dan beberapa organisasi dan media lain.

Sementara, Kontribusi menjadi bagian dari kolaborasi untuk memberikan sumbangsih nyata bagi Negara. Lalu, setelah semua terlaksana, harapannya semua yang terlibat menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan positif yang dilakukan. Sebagaiamana dalam akhir diskusi Pak Jo mengatakan “Do what you think is right for you, yourself and Your Country.”

Tentunya dari hasil diskusi perlu komunikasi yang kuat antara mahasiswa dan KBRI jikalau ada kendala dalam proses studinya yang nantinya bisa mengarah ke pemcahan masalah bersama. Di hari yang sama, audiensi juga dilakukan dengan atase Pendidikan KBRI Beijing bersama Bapak Prihantono dan Ibu Rukmini. Beliau juga mengingatkan sama halnya seperti Pak Jo agar mahasiswa dan pelajar tak lupa dengan tujuan utamanya di negeri tirai bambu yaitu belajar.


Checklisted ✔️
Sketching against the rain.

Have i ever imagine how its hard to scratch a story between the rain.
Its seems like its a pain.
But again, its not about being chased by a train called rain.
But its about how you flow the line from your vein.
And from your vein to a paper which is still plain.

The qianbing seller has a story behind its food truck.
It seems he has sold a dozen of menu in this small space.
By just giving a smile, its not about money, but the passion that matters.
That is what happens even you are watercoloring beneath the rain.
afraid to let the rain wipe the shades and stain.
Yeah, lets learn from Mr.qianbing, the rain fighters, yet the rain lovers.
Why the rain lovers? Because i can use the rain drops to color the scratches 😀



东大清真寺
0.8 mm, archival ink and watercolorset
8/7/18

The Ancient Building of Feiyun Lou (Author, 2018)

13/6/18. Between the blue sky, a complex of three story of ancient timber structure there relies. With a height of 23.19 meters, it consist of five layers above with a 3 main floor. Feiyun Building is located in Wanrong County of the Shanxi province and is known as one of the first ancient timber building.  Using a train to Yuncheng Station, this city of Shanxi can be accessed. Heading to the Wanrong County, we can enter a peaceful region with the  Dongyue Complex on it. A taxi from Yuncheng to Feiyun Road will last then one hours. There, travelers can stay in some hostels or hotels which is not far from the location.

The main area consist of other relic and building which represents the ancient Chinese timber structure. In which here it has about 129 columns, with a 204 beams, and a special number of 345 brackets or Dougongs among it. The entire structure has completely seem to be flexible enough. The covered area of 204 m2 has urge people to come and see. At the first time maybe they charged you for entrance, meanwhile nowadays due to some protection lines, they don’t charge anymore.

As explained by the experts, the building has its four main features which are first, it is a pure timber structure, which the tenon rivets are used for all sizes of joints without a nail. Second,  the base floor consist of five wide sizes, as the the main four pillar stands and surrounded by the other 32 columns around linked into a check board shape supporting the building together and at the bottom of the building people can clearly see the Tong Tian Zhu which has a single height of 15.49 m.

Then, it has five layers which consist of three floor, both have railing and has two pillars which is divided into three and above will be pointed as the roof that has a flower shaped. After that, there are a total of 345 dougoungs or bucket arches which overcomes the building with  extremely rich counter lines and the surroundings with the canopies around the corner that represent the impression of flying in the sky as the the Feiyun Building means so as the cloud.  Besides, the four  Yongding Columns also support the structure ahead to be more rigid.

This building has been a project sample to the test conducted mainly to earthquake, wind, strain test, temperature, and deformation modelling. The complexity of structures which brings dougongs as one of their uniqueness has encounter the point that Feiyun Building can stand to the disaster and some of particular destruction. The Dougoung or the brackets are the answer to it as it is the main thing as a solution for the particular shakes and counters to the load around.

The Interior of Feiyun Lou

It is accessible and interesting that the visitors are allowed to see the upper structure of the three floor. That to experience the inner part of the structure which is still original, but has some reinforcement to help on its preservation. Behind this Building are also the other interesting ancient structure which in the last section behind, the visitors may encounter an interesting basement with diorama and statues of the deaths and spirits.

Travelers and ancient hunters are urged and welcome to visit this unique anctient timber structure. This structure will open your horizon in the representation to the historical timber structure. A unique place to discover within the shape and the environment. As it could be one of the heart for human to realize that to preserve culture and ancient building will be a mast for the others.

Annisa Dewanti Putri
Master Student of Beijing Jiaotong University,
Wanrong County, Shanxi, China



Judul Buku: Pasar Ibukota (Kumpulan Feature Menelisik Geliat Pasar Tradisional Jakarta
Penulis                         : Hadi Setioko, Rahmat Mustakim, Annisa Dewanti Putri, Tina Rosiana, Rita Apriani, Egi Ryan Aldino, Rizki Pujianto, Risda Maleva Juni, Anis Septiani
Jenis                            : Antologi Feature
Penerbit                       : Pustaka Kaji
Cetakan Tahun            : Cetakan I  Januari 2018
Tebal Buku                  : 150 Halaman
Panjang Buku              : 21cm
Lebar Buku                 : 14 cm
No. ISBN                    : 978-602-60546-2-3


7 April 2018. Lembaga Kajian Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (LKM UNJ) bersama Penerbit Pustaka Kaji akan meluncurkan 3 Buku Antologi karya Pemuda Indonesia. Mereka adalah bagian daripada anggota dan alumni LKM UNJ yang mengupas suatu tema tulisan menjadi satu antologi buku. Salah satu buku itu berjudul Pasar Ibukota.

Buku ini membahas setiap pasar unik yang tipikal barang daganganya. Tak lain, beberapa diantaranya adalah Pasar Batu cincin di Jatinegara, Pasar Bunga Rawadas, Pasar Obat di Pramuka dan masih banyak pasar lainnya. Setiap penulis memiliki caranya sendiri untuk tenggelam dalam setiap pasar yang punya kisah. Ada yang masuk sampai ke kisah pedagangnya, bahkan ada yang sampai masuk ke kisah penjualnya.

Pengemasan tulisan dalam bentuk Feature. Santai, mengalir, mengajak pembaca untuk terjun diantara hiruk pikuk jual beli yang begitu berwarna. Penggalian reportase pun cukup mendalam hingga pada akhirnya setelah sekian lama di revisi dan terjun ke lapangan, karya ini terbit juga.

Harapannya, dalam kegamangan kehidupan urban yang penuh dengan gedung pencakar. Dibalik tiang-tiang itu, ada aktivitas tulang punggung penuh pelangi yang terjadi di tengah Ibukota. Ialah pasar, tempat mata uang berputar, tempat semua orang bertukar cerita.


Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch