Friday, August 28, 2020

Petualangan Virtual Bareng Teman Lewat Game pun Tak Kalah Menyenangkan

 Oleh: Annisa Dewanti Putri



 

Social Distancing masih diberlakukan kala Pandemi hingga sekarang dan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Beberapa orang cenderung untuk mengurangi perjalanan ke luar tempat umum sekalipun untuk wisata. Pilihan bertemu lewat dunia virtual bisa menjadi solusi mengurangi kejenuhan untuk para petualang yang masih enggan berkeliaran. Hal ini bisa menyenangkan, apalagi jika bertemunya dengan teman-teman lewat Game sambil bertualang bersama.

Inilah Players Unknown Battleground (PUBG), yang baru saja masuk ke season barunya (Season 14) dan mengeluarkan peta arena terbarunya bernama Livik. Sebuah tempat yang bergaya nuansa eropa, dipenuhi suasana musim dingin dan musim semi diantara kincir angin. Ketika terjun bersama teman-teman, kita bisa menikmati panorama taman bunga, air terjun, pemandian air panas, bahkan berkendara selayaknya petualangan di alam bebas.

Semua lokasi yang ditawarkan tentunya kembali ke misi awal para petualang, yaitu menjadi orang atau kelompok terakhir yang selamat dalam permainan. Petualangan dalam game ini pun bertambah seru karena para pemain bisa saling berbincang melalui suara dan chat, sehingga layaknya petualangan bersama di dunia nyata, inilah yang terjadi di dunia virtual.

Fitur ini yang dijadikan ajang pertemuan virtual para pemain dengan pemain lainnya, mereka bisa menikmati panorama petualangan sambil berbincang, membicarakan bisnis, strategi, curhat, bahkan bertukar pikiran. Tak disangka, banyak pemain dan teman-teman yang semakin merasa akrab seolah bertemu dalam permainan ini. Karena melalui petualangan, keakraban dapat terjalin tanpa mengenal jarak dan waktu.

PUBG menjadi permainan petualangan yang bisa melibatkan empat orang pemain dalam suatu ronde permainan. Bahkan, dalam versi Komputer, permainan ini bisa diikuti enam user. Lebih seru lagi, bisa juga membuat room sendiri untuk dimodifikasi jumlah pemain tertentu yang bisa ikut bertualang dalam permainan. Soal lokasi petualangan, tersedia banyak tempat menyesuaikan selera para pemain saat itu.

Lokasi Petualangan Berbeda Suasana

1.      Livik

Bagi kalian yang sedang ingin menikmati bertualang di daerah Eropa, seperti Belanda dan sekitarnya. Peta baru ini adalah gabungan daripada semua suasana musim di peta lain yang berbeda. Dengan luas 4 km2, kamu bisa mencoba berkendara bersama mobil Monster dan melintasi air terjun disini.

2.      Erangel

Dengan peta yang dominan bernuansa Rusia, kita bisa menjelajahi lokasi perumahan dengan banyak reruntuhan, tempat  latihan perang, bahkan kota dan ladang pertanian di sekitarnya. Tempat ini cukup luas untuk dijelajahi bersama karena berukuran 8km x 8 km

3.      Miranmar

Ruang ini cocok sekali jika ingin menjelajah bersama teman dengan suasana padang pasir dan rerumputan bergaya Amerika Latin, Afrika atau Mesir dengan pesona gurun pasirnya sekalipun daerah Asia Tengah. Arena ini cukup berbukit dan luas dengan ukuran 8kmx8km.

4.      Sanhok

Mungkin, para penduduk di negeri Asia Tenggara tidak akan asing dengan suasana tropis dan nama-nama di arena petualang ini. Hijau tropis dengan adanya wisata Gua dan suasana pedesaan sekalipun menjadi perbedaan area ini.

5.      Vikendi

Bagi kamu yang sedang ingin menikmati suasana petualangan di musim dingin bersalju, silahkan terjun dan bertualang bersama teman-teman di peta ini. Kemudian, rasakan juga permainan Jet Skinya.

6.      Cheer Park

Arena ini menjadi arena tambahan dan bebas tanpa misi petualangan. Tempatnya dipenuhi dengan nuansa taman hiburan bermain dan tempat untuk latihan juga menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Masih banyak lokasi tambahan untuk permainan dan petualangan virtual traveler lainnya. Pada maknanya, lewat permainan bisa menjadi ajang silaturahmi sambil bertualang dan virtual traveling bersama ke berbagai suasana negara berbeda. Tak terkecuali dalam kondisi tak menentu yang membatasi sosial dan akses berpergian jarak jauh sekalipun. Selamat bertualang bersama.





 

 

Read more…

Tuesday, June 02, 2020

PELAMPIASAN WARNA-WARNI LK KALA PANDEMI

 "Memang terkadang situasi bisa nampak hitam putih, tapi bagaimana kalau coba ditambahkan sedikit warna-warni, sehingga yang lain menyadari bahwa apapun warnanya pun juga tetap berarti," dalam warna-warni.

Tak lain dan tak bukan karena tahun 2020, sebuah tahun dengan pesona Pandemi COVID19 yang mana imbasnya juga dirasakan oleh pelajar dan pekerja lain di belahan dunia lain juga. Betapa nikmatnya kalau di pikir, kuliah atau kerja daring membuat kita bisa melakukan hal lain secara bersamaan juga dari kejauhan. Terkadang yang buruknya sekalipun (Sambil bermain game). Namun tak apa, itulah Guilty Pleasure yang bisa kita lakukan sementara berusaha produktif di kala ketikdapastian situasi dunia seperti ini.

Ambil kisah sedikit pelambiasan dari Sobku yang bernama Elke Devinna yang selanjtunya berinisial LK, pada semester ini sepenuhnya menjalani kuliah daring. LK ini telah menjadi watermark tak resminya dalam karya di Canvasnya. Mencoba mengingat bahwa jangan lupakan identitas pembuat melalui watermark ketika selesai berkarya. Kali ini, tulisanku sedikit santai, ingin menelisik sedikit warna yang berhasil dihabiskan LK dalam setiap keisengan coretan dalam hidupnya. Haha, entah ini hanya guyonan atau pujian tapi boleh jadi benar, karena ya, sebagai seorang sketcher amatir, aku akui juga kalau karya nya memang berwarna. Inilah yang beberapa diantara kala Pandemi ia tunjukkan.


Sebut saja Nemo, kawannya Dory.


Dia lambaikan tangan-tanganya itu selagi menggores setiap detail yang terjadi pada kertasnya. Ini si Ikan Nemo yang LK ambil contohnya dari semacam buku mewarnai yang sempat dia pakai untuk belajar. Ya, LK memang pernah les mewarnai katanya, artinya jiwa mencampur warna dan gradiennya bisa dibilang cukup sensitif.

Rubah mozilla forefox

Entah apa namun nampaknya LK senang belajar dengan mencontoh apa yang sudah ada. Berikutnya si rubah yang dia lihat dari hasil mencari di internet. Lagi, lagi mari kita tengok sedikit detailnya, ia terapkan gradasi warna campuran pada rerumputan dan kulit si rubah. Media yang dia pakai kali ini adalah Krayon.
daun apa ya, belum sempat tanya LK
Aku belum tau secara detail mengapa dedaunan ini menjadi pilihan berikutnya yang ia gambar di kelas. Shading dan pencahayaan di karya kali ini cukup terang karena aku bisa liat guratan hitam yang memberikan gambaran gradasi warna dari hijau muda menjadi tua. atu dari kuning menjadi hijau.
Koalademit.
Karya terakhir yang tak kalah unik bagiku, adalah sang koala, yang tak bukan adalah disebut sebagai Koalademit. Ini berawal dari aduan LK ketika kameranya ada sedikit bercak sentuhan tak diketahui asalnya. Aku seperti biasa mengolok-oloknya dan bilang kalau itu adalah sentuhan dari Dedemit Bekasi, alhasil tak lama iya menelurkan karya di atas Kanvas nya ini. Menggunakan media berupa Cat Minyak ia bentuk sehingga berujung seperrti itu. Setelah ini, ia bercerita kepadaku bahwa akan terus mencoba berkarya kalau sedang antara bosan dan tidak. Ini wajar, apalagi untuk orang sepertinya yang turun naik moodnya dalam dadakan dan sekejap. Namun, itulah yang unik.

Ada satu hal baru yang kupelajari dari LK, yaitu ia ternyata menyimpan banyak bakat terpendam di hemisfer kanannya. Sebelumnya, aku memang sudah memperkirakan hal ini dari gaya desainya pada pekerjaan lain. Dari cara LK menimbang suatu estetika dan pernah sebenarnya mendapatinya menggambar di Buku sketsaku ketika di GUBEI, gambarnya pun aku posting di tulisan tetntang perjalanan di GUBEI. Tapi aku belum banyak menyadari bahwa ternyata memang dunia seninya sebegitu mendalamnya. Mungkin selama ini sedikit terpoles oleh kegiatan akademis yang lebih banyak melibatkan hemisfer kirinya untuk mendominasi.

Tak heran, akupun juga mengalami hal itu. Sebagai anak Teknik yang bergelut dengan angka, rasanya dunia seni dan musik menjadikanku tempat melampuaskan dari kejenuhan aktivitas otak kiriku yang dipenuhi oleh formalitas keilmuan semata. Ini bukan hanya terjadi pada kita, bahkan Albert Einstein yang terlihat didominasi oleh Sains, mempunyai pelampiasan kuat di bidang musik, Einstein sangat lihai bermain biola yang tak hanya sekedar membaca partitur belaka.

Dewan, 2 Juni 2020,
Saat menjelang New Normal Pandemi

Read more…

Monday, May 04, 2020

Dari Desain Ekologis Menuju TOD?


Oleh: Annisa Dewanti Putri

“A developed country is not a place where the poor have cars, it’s where the rich ride public transportation” ujar Enrique Penalosa, Mayor kota Bogota (1998-2001).

Urban Sustainable Transportation saat ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam kesuksesan perkembangan kota (Drastiani, 2019). Ini adalah bagian dari kelanjutan dari skala desain menuju lingkup yang lebih besar lagi. Belajar dari kota Palembang yang sudah memulai proyek pendukung TOD melalui LRT (Light Rapid Transit). Bagi sebagian Urbanis, proyek ini memang  menjadi dilema. Apakah menjadi pemenuhan untuk kebutuhan sesaat, atau memang dikembankan berkelanjutan memadu prinsip TOD.

Transit oriented Development atau disingkat TOD adalah istilah yang masih belum familiar di khalayak umum. Konsep ini berusaha menggabungkan beberapa elemen yang terpusat dalam satu komunitas untuk keperlruan masyarakat umum. Tentunya, berdasarkan Ditjen Tata Ruang, TOD dimaksudkan untuk pengembangan kawasan seitar simpul transit, integrasi angkutan umum massal juga transportasi tidak bermotor,  pengurangan kendaraan bermotor.

TOD berusaha menjadikan Mixed Used Community yang mendorong manusia untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat kepada kendaraan sendiri (Still 2002, Bernick, and Cerveri 1997). Dari poin ini, TOD menjadi sarana untuk bisa mengurangi emisi karbon dan menuju kota berkelanjutan.

TOD mengadaptasi 6 kunci dari konsep smart growth yaitu Compact, Multi use development, yang mana ruang bisa didgunakan untuk berbagai keprluan masyarakat. Open space atau sarana ruang terbuka untuk keperluan konservasi. Pengembangan mobilitas juga menjadikan TOD menjadi kawasan yang saling terintegrasi antara moda transportas public sehingga memudahkan masyarakat berpindah antara moda satu ke lainnya.

Infill, redevelopment, dan adaptasi dari penggunaan ulang untuk area yang sudah dibangun. Mendayagunakan fasilitas yang sudah ada menjadi ruang public masyarakat. Keuntungan yang bisa ditarik dari sisi keberlanjutan lingkungan yaitu mengurangi kemacetan lalu lintas sebagai salah satu sumber Pencemaran Udara. Selanjutnya, TOD menekan penggunaan bahan bakar juga bisa menjadi konservasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa meningkatkan kualitas udara yang lebih baik.  Interaksi positif masyarakat, meningkatkan akses dan kesempatan untuk pekerja, dan kesehatan juga kedekatan masyarakat.


Gambar: Ilustrasi Konsep TOD. ITDP, 2014. 

Menurut Nirwono, peran angkutan umum semakin besar, modal share angkutan umum menurun hingga 27 persen (2010). Dengan menyatukan sistem yang berbeda antar moda, menyusun keanekaragaman penggunaan, menjadikan variasi dalam pemilihan alternatif perjalanan mendukung konsep yang ada.

Kenyamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap akurasi perjalanan melalui TOD menjadi bagian daripada motivasi yang menyandarkan mereka untuk menggunakan transportasi publik. Kesediaan layanan meningkatkan daya guna masyarakat sehingga di kemudian hari dapat menekan ledakan.

Sekarang, mengikuti perkembangan teknologi dan moda transportasi, lingkungan keberlanjutan memang tidak akan terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan sistemnya. Dalam wacana Proyek Strategi Nasional (PSN), perencanaan dengan konsep TOD memang sudah mulai diselipkan setelah berbagai proyek transportasi TOD, barangkali ialah konsep angan atau benar adanya sebagai konsep Integrasi transportasi dan lingkungan masyrakat. Bisa jadi suatu konsep untuk menjadikan kota memiliki desain ekologis yang tidak wacana belaka.

Referensi:
Fritz Akhmad Nuzir, I Nyoman Gede Mahaputra, et al. 2019. Antologi Kota Indonesia. Jakarta: OMAH Library.

Institute for Transportation & Development Policy (ITDP). www.itdp.org diakses pada tanggal 1 April 2020 pukul 11.16 WIB.

Joga, Nirwono. 2017. Mewariskan Kota Layak Huni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Borneo Publications.

Kubba, S. 2017. Handbook of GREEN BUILDING DESIGN AND CONSTRUCTION: LEED, BREEAM, and Green Globes. Joe Hayton.

Laksono, Eko. 2013. Universalis Metropolis. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Rizka Drastiani. 2019. Esai Dilema LRT dengan Rencana Skema Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Kota Palembang. Jakarta: OMAH Library.

Read more…