Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Juli-Agustus: Kembali Lagi Lembaran Baru
Saat itu aku mendapat mandat juga untuk menyelesaikan sebuah ilustrasi untuk buku. Meskipun bidang keilmuan ku bukan di bidang seni, tapi karena hobi ini menjadikanku untuk bisa menjadi illustrator dalam buku ini. Pada bulan ini juga aku menyaksikan banyak momen bahagian kelulusan teman-temanku di Beijing. Bersama Cece dan Bang Afif kami juga sempat kabur sejenak ke kota Tianjin untuk hunting foto. Yang menyenangkan adalah bahwa kami bisa saling memoto.
Kepulangan ke Indonesia juga memberikan cerita tersendiri. Di bulan itu, aku pulang namun seperti hanya sekilas karena kepulanganku lebih sering dihabiskan di luar karena berbagi kegiatan yang ada. Alhasil, mama sempat mengeluh dan menjadikanku harus bertekad untuk pulang juga pada liburan berikutnya.

Berkelana Jeprat jepret bareng afif dan cece, Tianjin

PPIT Edu Expo. Aku terlibat untuk membantu dalam Edu Expo Jakarta, Bandung, dan Bogor. Sambil mewakili studi tiongkok juga, aku mencoba sedikit membantu teman-teman merealisasikan acara yang bertujuan baik ini.  Ada tiga penamaan berbeda dari tiga tim kotaku ini, Tim Bandung lautan api, FF6 Bogor (Fast Furious, Karena kita sempat ngebut2an pas komvoy bawa mobil, jangan ditiru ya), dan tim kokasnya Jakarta (Karena kokas di Jakarta). Disini aku bertemu banyak teman-teman tim yang asiknya diancungi jempol. Kita bisa inisiasi acara dalam waktu yang sangat mepet, memang lelah dan capek sekali menjelang hari H. Tapi ketika bisa berbagi bersama teman-teman rasanya sudah bahagia sekali.

CIDY 2018. Conference of Indonesia Diaspora Youth 2018, mewakili undangan untuk teman-teman PPI Dunia, aku ikut kecebur di dalamnya juga. Tentunya seminar dan workshop kala itu sangat bermanfaat dan semakin ngebuka mata soal Diaspora di dunia. Ini juga hari pertama aku ketemu langsung sama Mbak Ita (Shinta Amalina) ku selama ini kami hanya kerja jarak jauh dan somplak-somplakan jarak jauh. Tapi si pemegang rekor Muri itu di hari itu sudah berasa akrab banget rasanya, baru ketemu aku udah diunyel-unyel dan aku dicubitin,  dan enak banget aku ngecengin dia juga tentang rekor MURInya sebagai perempuan termuda S3.

Ekspedisi Cilincing. Program live-in yang dilaksanakan oleh Departemen Sosialnya PPIT ini sungguh menyenangkan karena disini kita ditantang buat lagi-lagi keluar dari zona nyaman dan terjun ke masyarakat. Unik karena lagi-lagi disini aku bertemu dengan teman-teman baru yang punya warna dan ceritanya sendiri. Hingga kusadari bahwa semua manusia di Bumi ini unik dan special. Sama seperti keluarga kecil yang menjadi tempat tinggalku saat itu. Banyak cerita masyarakat yang membuatku tenggelam juga di dalam kisahnya. Lagi-lagi membuatku untuk lebih bersyukur dan bangga bisa berkenalan dengan teman-teman yang mau terlibat di program ini.

September-Oktober: Yang Tak Disangka
Bulan ini setiba di Beijing akupun tak tahu kenapa begitu sakitnya hati menyesuaikan lagi harus keluar dari zona nyaman setelah kembali dari tanah air. Dimana tahun peneilitian bagiku adalah tahun yang cukup serius karena dibebani dengan tanggung jawab untuk terus menghasilkan progress yang secara keilmuan harus benar. Rangkaian rutinitasku pun dari pagi hingga malam pada hari biasa adalah kembali bereksperimen atau ke laboratorium.

Pun terkadang bersama rekan Urban Sketcher Beijing aku masih suka melepas penat dengan ikut sketchwalking dan pameran bareng. Namun, terhitung di semeseter ini kegiatan livesketching ku sedikit berkurang intensitasny disbanding semester sebelumnya.

Banyak berita tak disangka yang menjadikan aku, elke, Tiffany, dan beberapa teman-teman PPIT Pusat yang harus tiba-tiba terjun untuk mengurus Rapat Kerja Tengah Tahun (RKTT) di Beijing. Beruntungnya, disini Elke bisa sangat diandalakan dan enak diajak kerjasama. Tak lupa juga teman-teman Permit kepengurusan baru juga sangat enak untuk digandeng. Menjadikan pekerjaan ini lelah namun menyenangkan untuk dijalani.

Selain itu aku ditawarkan untuk bisa masuk dalam tim Indonesia Diaspora Connect oleh Foundernya Bang Arief, awalnya aku keberatan karena terlampau banyak amanah yang aku lewati. Namun, setelah aku mempertimbangkan bahwa misi dan visi IDC ini sangat baik untuk jangka panjang. Jadilah aku sepakat untuk bergabung.

November-Desember: Semua Tentang Penelitian
Di bulan ini aku berhasil menggandeng Kak Made (Pegiat dan mahasiswa S3 Porto University) dan Kak Riri (Traveler dan aktivis Lingkungan) untuk jadi bagian dari roda Greentastik_id ke depannya. Lalu, di bulan ini aku bagaikan tertampar oleh banyak pengingat soal penelitianku di bagian kedua ini yang cukup mengurus mental karena sulitnya bidang penelitian yang menharuskan ku belajar lintas jurusan. Pun tantangannya disini bukanlah seperti di Indonesia yang bisa dengan bebas berdiskusi dan belajar bersama. Konsep disini lebih ‘Self Study’ dan mandiri juga diperkuat dengan tekad kerja keras.

Photo Competitin mewakili Indonesia

Berita terbaik adalah setelah aku mengikuti seleksi kontes fotografi yang cukup ketat dan dinilai langsung oleh ahli fotografer. Karena kompetisi ini tak hanya mencakup pemuda dan pelajar, tapi juga seluruh masyarakat umum maupun professional. Alhamdulillah dari total seribu lebih karya yang masuk, foto ku masuk ke dalam Top 50 Best Shot. Disini ada kategori lain untuk Online Vote dimana butuh like dari akun lain di Wechat. Usahaku hanya rajin membagikan di grup dan berharap di bagikan kembali oleh teman-teman dan Alhamdulillah tidak sedikit dari mereka membantuku menyebarkan link voting ini.

Pada akhirnya Alhamdulillah di acara puncak penyerahan penghargaan, fotoku “Beijing Art Never Dies” mendapatkan juara III untuk kategori Expert Views (Penilaian juri professional) dan juara I untuk Online Voting. Di hari bahagia ini, ada kejadian mengesalkan dimana aku tersangkut di dalam yurongfu karena reseleting macet dan menyebabkan aku harus merusak paksa jaketku itu. Lalu Plakat penghargaan ku yang setelah di foto gelinding di tangga lantai dua hingga pecah atasnya. Namun, semua itu tetap kusyukuri karena proses dibalik gambar ini yang kunikmati.

Mendekati akhir tahun, tepatnya 27 Desember, ada kejadian yang berikutnya membuatku sedih namun jadi membuatkau semakin bersyukur. Salah satu lab teman seangkatanku di Beijing Jiaotong University kebakaran dan memakan tiga korban mahasiswa meninggal. Aku dan pihak kampus turut bersedih dan dampak ini membuat semua lab eksperimen kami dan kampus lain jadi semakin ketat. Namun, aku jadi semakin bersyukur bahwa dulu aku nyaris menjadi bagian dari lab Teknik Lingkungan itu, namun Professor struktur lebih memilihku berada di Lab Gujian. Entah Wallahualam apa yang terjadi jika aku tetap bersikekeh di lab teknik lingkungan tempat kejadian itu.

29 Desember, Fun For Fun ke greatwall. Bareng Departemen PPI Tiongkok dan Penulis novel Candi Brahu Pak Yos. Kita ditantang untuk lari 2 Km di Tembok Raksasa. Cukup menarik, dengan dalih mendapatkan medali aku mencoba ambil tantangan itu lalu sambil menyelam minum air juga sempat menuliskan dan mendokumentasikan perjalanan teman-teman disini.

Pada 30 Desember, tanggal yang sempat ku tak hiraukan karena itu hari lahirku dahulu kala yang mana setiap detik mengingatkan ku akan segala kesalahan yang kulakukan. Namun, aku juga senang karena doa-doa, hadiah-hadiah, dan motivasi dari keluarga, sahabat, teman-teman dan saudara. Di hari itu, aku kebanjiran beberapa peritilan hadiah, buku, bahkan ucapan baik dari kawan Indonesian ku maupun kawan internasional ku di jurusan dan dorm dan itu cukup membuatku senyum. Dan yang terpenting di siang hari sambil makan siang, mendapat banyak wejangan dan bekal super dari kakak-kakaku di Beijing yang sudah seperti kakak sendiri, sebutlah Mba Aang, ci Okky, dan Mbak tika. Di malam hari pun, tak kalah spesial oleh TED ku, Elke si Elpiji dan Tiffany si Cabe memberikan surprise yang bukan kejutan. Mereka pun menghabiskan tanggal 30 ku ini sambil rapat PUSMEDKOM PPIT sampai keesokan harinya. Benar-benar 2018 ini aku banyak bertemu orang-orang yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Aku sayang mereka semua, semua adalah pelangi bagiku.

Terakhir, di hari terakhir 2018 pun, aku dihadapakan oleh Deadline akhir tahun terkhusus untuk labku tercinta. Alhasil aku menghabiskan banyak waktu di lab dan dorm untuk membantu menyelesaikan laporan dan presentasi yang nantinya akan disampaikan pada pemerintah Shaanxi di awal tahun.

Teruntuk Mama, Papa, Keluarga, SLK, LKM UNJ, Event Hunter Indonesia (EHI), UNJkita.com, Lingkar Pengajian Beijing (LPB), PPI Dunia, PPI Tiongkok, Greentastik Indonesia, Urban Sketcher Beijing, Pustaka Kaji, Indonesian Diaspora Connect, Studi Tiongkok, CAYC 2018, ISCES 2018, Tim Gujian, semua sahabatku dan teman-teman yang terlibat dalam tahun 2018 ini. Terimakasih tidaklah cukup, tapi aku bersyukur karena semua bisa jadi pelangiku disini.

Beijing, Desember 2018. Saat aku menyadari dan bersyukur bahwa yang kualami adalah pelangi darimu Ya Rabb.

Warcabs feat gengsos Puskom PPIT

Pusmedkom. Pusat Media dan Komunikasi. Ya namanya juga jembatan ya, kalo katanya di jaket ‘No us, No crowd.’ Ga rame kalo ga ada kita. Ibarat kita itu toa, jembatan, speaker dangdutam, tameng, kame kameha kagebunshin sama koran dan papan billboard PPIT kali ya. Apalagi Ikon nya Saitama dan kepala sukunya Kak Mulia.

Oke, berhubung posisi ku ini ga berarti banget (read:deputi) kenapa? Karena sebagian besar pekerjaan support lebih banyak dilakuin teman-teman lain. Makanya mungkin ucapan terimakasih aku ga ketara banget buat kalian sebagai pedang dan tameng PPIT ini. Dijudul aku ngeduluin Gengsos, tapi di cerita aku bakal ngeduluin Warcabsku, kenapa? Karena kalian ga ada duanya. Sama-sama numero Uno Buat aku.

WARTAWAN CABUTAN

Warcabs ini singkatan dari Wartawan cabutan. Kenapa? Karena mereka mahasiswa yang bisa menjelma jadi Wartawan disela sela kuliah. Bayangin, jarang-jarang ada mahasiswa Indonesia ynag mau berkarya lewat tulisan secara intens. Pada dasarnya mereka pahlawan literasinya PPIT.
Teruntuk Kalian, warcabsku.

Buat Ka Reza sang manajer aceh sebagai Manajer Publikasi, makasih banyak kak sudah banyak nularkan banyak gaya system kerja jurnalis ke dalam system kerja PPIT ini, kami jadi sedikit membuka mata soal ini dan link-link ke berbagai media. Mohon jangan tenggelam ya Kak Reza karena dari Kakak kita bisa banyak belajar.

Lalu, teruntuk somplak TED ku, yang aku ceburkan sedari awal. Mulai dari

Elke sang Elpiji, partner in crimeku, mirip julukannya, dia pandai meledak. Aku mulai ngenalin bakatmu ini sejak habis aku rilis tulisan di acara Permit, pemikiran mu kritis dan aku lihat kamu pandai melihat hal dari berbagai kacamata, aku sering tenggelam dari diskusi yang suka kita bicarakan. Ga salah dia Kuceburin jadi Kadiv Artikel pantas pula jurusannya kan juga jurnalistik, linier sekali. Setelah-setelahnya makasih banyak ya udah mau kecemplung di beberapa hal sama aku, roller coaster bareng kita haha berarti banget. Bos KKIB dan RKTT ini Kalo katanya spesial kaya martabak, makanya selalu enak dikuykan. Haha. Tetap drama yak arena dramamu yang selalu dirindukan.

Lalu, ada Tiffany si Cabe, kawan saingan bodoh2anku. Kenapa Cabe? Karena dia Ketua Cabe-cabean, ga deng karena dia Pimred Cabe Rawit. Ga heran kan kenapa aku geret dia jadi kadiv tabloid. Ini kawan somplakku tetangga kampus sebelah yang sering aku rusuhin. Sering berucap kasar, tapi hatinya padahal lembut bagai marshmellow apalagi kalo lagi terharu. Haha. Seneng kompetisi bodoh-bodohan bareng dia. Makasih Be udah sering bantu backup, nemenin main piano dan nyomplakin aku selagi di Beijing. Tetap semangat skripsi komputernya dan lanjut master medianya sang maestro jago bahasa korea. Haha

Lalu ada pejuang kesayanganya nih mulai dari  abjad ya berdasar panggilan.

Ada Aul si aktivis juga. Udah pernah dua kali berarti kesempatan wawancara dia, dari dia petama jadi mentor di School of Talk, ternyata kita ketemu lagi di divisi ini ya mbak aul. Unik, tinggal tingkatan kepolesanmu di bidang tulisan lagi biar ciamik ya. Rilis RKTT nya oke loh hehe. Ada juga

Dhifa Dokter depok hehe, sesuai nama instagramnya. Dokter ini pegiat luar biasa, senang karena pas di Jakarta bisa dikuyin juga untuk aktfi padahal anak Depok. Responya juga oke soal jadi editor. Semangat terus ya Dok, teruslah menulis.

Boss Falah topi blangkon. Ini ciri khas dia sejak pertama kuwawancarain. Ya paling rajin untuk sharing hal-hal konten PPIT dan paling rajin kasih jempol. Ditunggu bos, produksi tulisan-tulisannya ya. Jangan sampe ketuker lagi nama dan tulisannya hehe.

Mas Regra yang kalem. Luar biasa kalemnya, tapi tulisannya tajam. Salut ketika tau tulisannya pernah naik ke media cetak. Cukup loyal dan lagi-lagi mas reg kuy keluarkan ide-idemu, aku tau tulisanmu dasyat.

Risti andalan kita. Kenapa? Karena aku senang sekali dengan konsistensimu yang terus mengupayakan webinar kepenulisan kita saat itu. Meski banyak bentrok tapi kamu tetap menjalankan tugas dengan baik. Pun, tulisanmu juga unik apalagi yang soal Wisuda itu. Lanjutkan dan ditunggu ya kanda, eh yunda. Haha (keinget panggilan ketuker).

Syafii sang Multitalen. Dokter ini ternyata merambah ke dunia kepenulisan juga. Dan bahkan merambah ke dunia lain sampai ke pertandingan naga-nagaan wuhu.. Salut syaf, jurusan mu ga membatasi semuanya. Pun tulisan-tulisanmu juga. Semakin tajam dan terpercaya. Semoga amanah di proyek sosialmu ya aka Natuna Membaca. Aku percaya kamu disana karena suatu alasan.


GENG SOSIALITA

Nah ini dia tameng nya PPIT juga, garda terdepan macam Knights watch nya Game of Throne. Siapa lagi kalo bukan mimin-mimin kecehku.

Mulai dari bossnya Yuri Manajer Dokter Kekininan. Gaya bicaramu yang khas Yur udah bisa nyiptain bom di PPIT sejak sedari awal rapat pertama kita lewat yel-yel. Suka dengan caramu menjaga garis koordinasi dan selalu terus terang apa adanya. Semagat juga ya Yur di PPID, pastinya sulit ya bagi waktu tapi aku yakin kamu bisa dok. Tetap dijaga kesomplakannya biar unik ya. Tetap jadi Yuri dengan gaya khasnya juga yang mendunia.

Lalu ada Wiwin Sobat Siar Sosialita. Penyiar juga, Kadiv  MSM juga, cocok lah jadi mungkin berkicau di dunia Tarik suara plus di dunia sosial media ya win. Makasih banyak udah bisa koordinasi ke teman-teman secara terstruktur ya sampe dari roda oglek sampe roda stabil. Tetap
Semangat ngelabnya juga Bos Sobat Siarku. Hidup lab jangan lupa hepi.

Buat Bos Juragan Stefani. Pengusaha yang forntal dan cukup kritis, jadi andalannya CSM. Tukang ngeledekin pake eskrim. Dan cukup frontal, ayo pake gas sama remnya stef biar makin jago soal Traditional Chinese medicinenya. Oh iya seperti yang kita pernah bahas stef, jangan lupa yuk kita pakai kacamata yang beda-beda, semangat bos kudeta makin jago bisnisny haha.

Nah, gengsos juga punya prajurit andalannya..

Khatami sang atlet. Mabroo makasih banyak buat kerja samanya sampai ke depanpun juga ya. Tulisanmu juga ga kalah menarik soal WIF, sering-sering nulis biar makin top ya kawan teknikku. Tetap sehat ya dan makin jago olahraga. Tetap eksis juga bro di gengsos.

Retha sang instagramable. Aku sering teralihkan sama postinganmu yang instagrammable banget. Cocok ya, jadi gengsos ternyata hehe, tetap semangat jadi CSM garda sosmed versi CK terdepannya ya Retha.

Sry dokter panutan. Aku udah kenal kamu dari tahun 2016. Perjuangan kita bareng bikin visapun masih kuingat. Makasih banyak sudah selalu bantu dan semangatin dimanapun Sry. Tetap semangat menginspirasi ya Sry makasih banyak udah kerja sama bareng CSMer yang lain.

Meisia yang lembut. Meisia sering banget bilang makasih, maaf, tolong dll. Sungguh baik sekali, hehe. Ayo kalau ada apa-apa di grup silahkan melipir aja ya Mei, jangan sampai dipendem sendiri, makasih banyak sebelumnya ya. Dan semangat.

Pantri sang Fast Response. Halo dokter Pantri yang banyak ide dan gagasan solutif juga di bidang sosial media. Kalau katanya Pantri vakum kalau lagi ujian. Wow, setuju karena kita balik ke niat awal ya Pan kalo kita kan Visa Pelajar. Tetap inovatif semangat 2019.

Via Pendiam Jago Dangdutan. Via yang pendiam di grup tapi padahal luar biasa serunya, keinget pas pertama kali wawancarain di akhir dia mau dangdutan sama kita. Semoga makin toplah ya jadi mimin-minin di gengsos kita. Tetap semangat dan sering-sering sharing di grup vi biar teman-teman ga rindu hehe.

Resolusi ke depan: Kuy kita siap-siap lagi jadi tameng penuh gebrakan dan ide yang berbuah karya. Dari mulai bikin copy write, konten, rilis, jebolin tabloid, sebar manfaat lewat live, webinar dan karya-karya lainnya. Tetap konsisten dan selalu inget sama visa pelajar kita. Plus ojo lali Let it Flow dan tetap senyum :) :) :). Salam hangat penuh dashyat dari skywalker kalian. haha (Maaf star wars geek nih).

Ucapan makasih buat teman-teman Media juga yang sudah banyak kasih support teknis, selebihnya maaf ga bisa dideskripsikan nanti bisa jadi kaya cerpen berlembar-lembar, ini aja grup komunikasi sendiri udh 3 halaman. Hehe. Yang jelas gerbarkan pusmedkom makin mantul. Esensi tulisan ini sebenarnya untuk apresiasi dan evaluasi kita bersama ya. Semoga makin baik, jelih, kritis, berpikir out of the kotak, selalu ngedepanin efek domino, dan semangat jadi yang terdepan dan mendukung dari belakang.

Akhir kata, dulu kalian pernah ngecengin aku ga hafal semua anggota dan keluargaku disini. Pada nyatanya aku ga perlu menghafal, tapi cukup mengenal kalian itu udah jadi bagian dari ceritaku disini. Azzekk haha.  Mungkin suatu hari kisah ini yang bakal jadi yang kurindu dari jutaan album yang aku punya dan pernah kutulis. Yaitu album dimana kita bisa jadi pedang dan jadi tameng bareng-bareng.


Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Januari-Februari: Saatnya Saling berbagi
Saat itu Januari menjadi saat kepulangan sejenak ke Indonesia. Tak lain bulan ini bersama tim School of Talk dari Studi Tiongkok telah mengenalkan ku dengan banyak sosok-sosok baru dari hasil wawancara dengan mereka. Unik, nyatanya setiap orang punya caranya sendiri dalam membantu orang lain.

 Tak lain saat itu pula teman-teman LKM UNJ mengadakan kajian malam bersama bersama diriku mengenai kisah kota sekaligus launchingnya Buku Pasar Ibukota dimana aku adalah salah satu penulisnya bersama rekan Eros. Jiwa membaca ini rasanya tertampar ketika bisa berbagi juga dengan teman-teman mahasiswa baru. Dilanjutkan dengan sesi sharing soal Sponsorhsip bersama unjkita.com menjadikanku mengenal lebih baru teman-teman dari kampus hijauku.

Pada bulan Februari, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bersama beberapa Ormas seperti Lingkar Pengajian Beijing (LPB), KKIB, OBM Manggala, BICF, dll mengadakan acara Bakti Sosial bersama. Saat itu, LPB hanya diwakili oleh aku dan Mbak Anggi, Namun, di hari Baksos aku berkenalan dengan banyak kawan baru yang menyenangkan dan sangat asik untuk diajak kerja sama. Tentunya mereka adalah kawan-kawan satu kota di Beijing. Yang selanjutnya aku semakin semangat ketika diajak untuk ikut kegiatan mereka.

Pertengahan Februari, aku memutuskan mengajak kedua orang tuaku berlibur ke Kuala Lumpur sebelum aku kembali ke Beijing. Sedikit ingin membuat neneku juga tersenyum. Namun disela sela itu aku menyempatkan bertemu dengan geng Indonesian Student and Youth Forumku. Rupanya mereka sudah bekerja dan pindah ke KL semua.

Sebelum pulang kembali ke Beijing, teman-teman event hunter Indonesia (EHI) pun juga menggagas sebuah kegiatan dimana aku menjadi mentor dan narasumber. Kami membuat beberapa video terkait program beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS). Disini, aku semakin terkesima oleh pergerakan dan karya dan semangat teman-teman Indonesia. Mereka adalah entrepreneur sejati.

Sebelum Kembali, aku bersama Dina dan Farhan mewakili stud tiongkok juga menyempatkan untuk hadir Bakti Sosial di Warung Yatim Maseng. Sedikit mengingatkan kami untuk terus berbagi dengan cara apapun itu.


Baksos Permit-LPB-KKIB-Manggala
Baksos bareng Studi Tiongkok, Dina Chaerani (Plan Indonesia) dan Farhan (Duta Bekasi 2015)


Buku Antologi Eros

Berlibur sejenak Ke KL
Habis Live Bareng TIm Event Hunter Indonesia soal Beasiswa (Para calon Pengusaha Muda ini) 


Maret-April: Duka yang tak Disangka
Saat itu memasuki bulan baruku di kota Beijing, aku kembali bersama Filone dan Ibu Alm.Yani (Orang KBRI) yang sengaja menyamakan jadwal tiket pesawatnya agar bisa kembali bersamaku karena beliau memerlukan kursi roda. Bulan itu juga aku terjun ke Laboratoriumku kembali. Laboratorium special yang khusus membahas tentang bangunan bersejarah di Tiongkok. Khususnya, disini aku membahas mengenai uji non destruktif untuk kayu dan evaluasi terhadap deformasinya.

Tantangan terberat berada di Lab yang notabennya sebagian besar adalah Mahasiswa Tiongkok sendiri adalah mereka memiliki standar akademis yang lebih tinggi. Ditambah jika aku harus mendapat sumber pula yang  berbasis Bahasa Mandarin. Kejadian itu pun terulang hingga aku tebiasa dengan sebutan ‘anak lab.’ Pun semakin banyak mahasiswa baru yang baru saja tiba dan mendaftar di Lab ini hingga sampai sekarang aku tak hafal semua nama mereka yang berjumlah 35 orang itu.

Tak lama di akhir Maret, aku mendapat kabar duka dari yang mereka bilang saudara somplak kembaranku Vika, Alm.Bu Yani meninggal dunia, aku tak menyangka, dia seperti Ibu kami di Beijing namun secepat itu dia harus pergi dan saat-saat itu kita membantu dalam prosesi dllnya sampai Jenazah dipulangkan dan aku merasa bertanggung jawab juga berada disamping kawanku itu yang sedang rapuh setelah ditinggal Alm. Ibu. Namun selang beberapa minggu keadaan mulai pulih.

Pada April 2018, kantor Internasional memanggilku untuk mewakili Indonesia dan Mahasiswa Asean dalam China-Asean Youth Summit di kota Shandong. Di sana aku bertemu banyak mahasiswa Indonesia juga yang mewakili dan beberapa mahasiswa Internasional. Yang unik, selama 3 hari kebiasan nomaden ku sejak semester lalu tidak hilang. Meski aku disediakan hotel namun nyatanya temanku dari Shanda yang juga merupakan ketua PPIT Qingdao membujukku untuk selalu nginap di tempatnya karena dia juga tinggal sendiri. Jadilah hanya koperku yang bermalam di hotel. Di forum ini aku mengenal puluhan sosok baru yang sangat unik.

bersama Alm. Ibu Yani sepulang ke Beijing
Delegasi Indonesia untuk ACYF 2018


Mei-Juni: Keberkahan Pindah Ruang
Senangnya hati ketika Jurnal PPI Dunia sebagai bagian dari gebrakan dan milestone pertama di bagian akademis terwujud dimana saat itu aku, Bang zakki, Mba Shinta, Bang Hakam, menjadi inisiatornya. Terlalu lelah memang mengingat proses ini begitu rumit dan cukup menguras pemikiran dan menjadi jembatan karya untuk bidang penelitian. Tapi setidaknya dari sana menjadi lega apa adanya karena Prorgam kerja yang kita harus inisiasi dan sempat dianggap remeh berhasil diwujudkan menjadi JURNAL PERTAMA dalam sejarah PPID. Alhamdulillah.

Saat bulan itu juga menjadikanku tercemplung di Organisasi PPI Tiongkok pusat. Yang mana menjadi cukup tantangan terberat karena aku belum melepaskan amanatku di PPI Dunia. Namun, demi niat kebaikan aku menerima panggilan itu dan pun juga berhasil menggeret beberapa teman-teman kepercayaan ku untuk bisa duduk bersama di organisasi ini. Tanpa mereka, kerjaku bukanlah apa-apa sampai sekarang. Lebih-lebih aku semakin mengenal banyak pelangi baru dan kisahnya disini.
Juni saat itu penelitianku bertajuk lingkungan membuatku terpilih mewakili Indonesia dalam International Student Conference on Environmental and Sustainability (ISCES) 2018 tepatnya di Shanghai. Aku bertemu dengan empat orang delegasi Indonesia lain yang mana mereka adalah hal terunik yang sama-sama memiliki misi lingkungan yang sama bersamaku. Pun, banyak delegasi dari negara lain yang menjadikan diri ini memiliki banyak perspektif baru soal lingkungan. Aku merasakanya ketika saat presentasi dan Focus Group Discussion. Alhamdulillah di acara ini pun aku mendapat penghargaan ‘Best Presentation.’

Pun selanjutnya kelompokku juga berhasil membuat video ‘Eco City.’ Yang hanya kami usung dalam semalam suntuk. Lagi-lagi di Shanghai ini kelakuan nomadenku tak hilang ketika harus mengunjungi seorang teman di Shanghai dan lalu aku terbujuk untuk menginap dan kembali keesokan harinya. Bukan hanya itu, di hari berikutnya akupun ikut buka bersama teman-teman permusim dan hari berikutnya di KJRI Shanghai. Betapa indahnya karena dalam waktu seminggu itu aku telah mengenal sekitar 180an teman-teman baru yang berbeda dan berhasil masuk ke beberapa kisahnya sehingga membuatku banyak belajar.

Kembali dari Shanghai, keesokan harinya aku harus kembali berangkat ke Shanxi, dimana tempat penelitianku berada. Aku berangkat bersama tiga orang kawan labku yang mana mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah aku selama seminggu terpaksa berpikir keras dalam berbahasa. DItambah saat itu adalah bulan puasa yang mendekati lebaran. Sempat aku cemas bahwa aku tidak aku tidak akan berlebaran bersama teman-teman sepenasib sepenanggungan di Beijing. Lebih-lebih aku mencoba mencari masjid terdekat namun nihil. Selisih masjid adalah sejam dan di Kota Wanrong ini tidak ada kendaraan umum selain taksi. Masya Allah H-1 sebelum lebaran kami akhirnya menyelesaikan pengambilan data itu dan pada saat itu aku bisa merayakan Idul Fitri di KBRI bersama kawan-kawan Indonesia ku dan itu cukup mengobati rasa rindu lebaran dari keluarga dan rumah.

Jurnal Perdana PPIDunia
Best Paper dalam ISCES 2018. Alhamdulillah
Petualangan Penelitian di Shanxi

Buka Puasa bareng Ibu KJRI Shanghai, Bu Ining


********Bersambung ke Bagian kedua********

by A. Dewanti P

“The Codes are made by the process of learning.”
Live SKetching the USTB Gymnasium. Author, 2018

Building and structures are one of harmless and sensitive case to be overall calculated as single figures. The overall structure that connects between Foundation, Column, Beams, Slabs, joints, and other components will need a deeply considerations toward the planning and designing. Overall, the standards for each component, materials, and even certain part of topic day by day increases due to the development need of infrastructures.

The all case will be very important, as builders know that the consequence of structure failure will overcome to damage and loss of lives. The effect will also impact not only the physically but also psychologically for humans and society. This is why the engineers are nowadays taking a lot of concern related to the Risk Assessment, reliability analysis, and even probability analysis. 

As in the 1750 B.C in Mesopotamia, the earliest code which contains some of building rule values here are written. It’s written on the stone carvings. This codex also contains many harsh consequence that may happen if a failure is discovered among it including to the consequence which is related to building structures.

In this codex, the responsibility of builders were defined based on the consequences of failure. If when the building collapsed has killed the owner’s son, then the builder’s son would be put to death. Then maybe, when the owner is the one who died due to the building failure, therefore the builder are the ones that takes this consequence. This creates a path that standards and rules to be followed as one of the things as lessons which is related to consequence, uncertainties, reliability, and probability for all case of procedures.

Now, the world are fitted by its own trust to the building codes that they made even categorized based on materials, or the method that they use. The most popular standard are standards from the International Standard Organization (ISO). Beside the building standards, all related to life procedures and standards are conducted and reviewed in this institution.

The others are namely American Concrete Institute (ACI) has developed many parts of standards for Concrete materials. Also, the Euro code based on European standards are known for some methods and standard designs. While, for Indonesian itself has its general standards which is the Standar Nasional Indonesia (SNI) with some more specific standards based on their institution. 

Everything should be checked and reliable to make sure that unwanted uncertainties and probabilities that may happen are to be zero. Which is in this case every standards in the world are also uncertain. Everything changes. Relatively, humans adjust and will try to make it reliable than before. Trustable and more precise to make sure that what is planned and designed are based on the lessons that they have learned before. Even, the standards are made by lessons in the past.

Reference: 
Andrzej S. Nowak, Kevin R. Collins. 2000. Reliability of Structures. New York: Mcgraw Hill Education.
https://www.history.com/topics/ancient-history/hammurabi accessed in 22nd of November 2018.


Night skecthing Sanlitun, 2018
Once upon a time, the night has turn the light.
Trying to imitate the daylight.
Between the skyscrapers.
The city has made it seems alive.
Whether only the colors fade and seems alright.

Then, someday the blackout shut the light
turning off the buildings from each of our sight
Feel the crowd and aware so tight
Its just the reason and not to fight.

The night beside the light,
In the night you will realize,
as when you discover that the city is bright
but only because of the light..

0.3 mm archival ink, 110x166 mm,
Resketsa,
Beijing, 20/10/2018


Author, 2018


conference situation

(16/10/18), The day for the Forum on Northeast Asia and Southeast Asia Energy Interconnection Development gives a chance to the public in introducing the Global Energy Interconnection (GEI) as one of a concept to a Renewable energy and sustainable Development. The GEI system is a system to meet global power demand with clean and green alternatives.

The GEI system here is to implement the United Nations “Sustainable Energy for all” and climate change initiatives, and to serve the sustainable development of humanity. The forum is organized by the Global Energy Interconnection Development and Cooperation Organization. It has attract some cooperation, researches, and academicians around the North east and Southeast Asia countries around the world.

The GEI mainly has a basic concept of Multi Grid, UHV Grid and Clean Energy. By implementing the concept, the green principle of sustainable development will be one of a pathway in dealing global environmental problems. 

As this forum has Release some research findings around ASEAN and energy transition. Clean development and energy interconnection and open cooperation as delivered by Beni Suryadi (Indonesia) has given a chance for ASEAN countries to develop this mission.

This will be the one of the world step for green development movements as it will not only involve governments, organization, company sector, but also researches, academicians including students and society.

-Dewan, Civil Engineering, Beijing Jiaotong University-


Conference Kit







Oleh: Annisa Dewanti Putri[1]


Sketsa Bangunan Tradisional Kayu adat Minang, Rumah Gadang. Sumber: Penulis 2017

Indonesia. Melihat tanah air ini memiliki banyak budaya dan peninggalan bersejarah yang cukup menarik perhatian dunia. Terlihat rapuh namun sebenarnya antik, itulah yang tergambar jika menorah masing-masing peninggalan bersejarah dari sekian tempat diantara ribuan pulau nusantara ini. Ada beberapa yang masih kokoh, dipugar, bahkan di rekonstruksi ulang.

Pemeliharaan bangunan menjadi tantangan sendiri bagi para ahli sipil, arsitek, dan budayawan dimana bangunan cagar budaya yang dihadapi adalah bangunan yang renta dan tidak sembarangan mudah diambil sampelnya untuk diuji. Sementara ini, Indonesia memang taka sing dengan pengujian langsung terhadap material pada bangunan. Sampel uji yang bisa diambil melalui beberapa contoh sampel serupa. Namun, hal ini hanya berlaku bagi bangunan modern yang memiliki data lengkap keadaan eksistingnya muali dari perencanaan, desain, sampai konstruksi.

Bagaimana dengan bangunan bersejarah dan cagar budaya yang data awalnya sulit ditemukan dan tidak tersedia? Hal ini bisa saja terjadi pada bangunan-bangunan dengan nuansa tradisional dan vernakuler. Bangunan yang didirikan dengan berdasar pada pengetahuan, material, dan keahlian masyarakat lokal. Terlebih beberapa bangunan bersejarah yang mana sumber perencanaan ya karena perpindahan cerita yang begitu cepat tidak diketahui tinta birunya.

Sementara, pengujian langsung seperti kuat uji tekan, Tarik, dll dapat merusak komponen bangunan itu sendiri ketika diambil sampel nya, sekarang, peneiliti sedang mengembangkan optimalisasi untuk penggunaan uji lapangan dengan metode Non-destructive Test (NDT). Teknologi ini sesuai namanya yang berarti  uji yang tidak merusak, memberikan solusi untuk material yang hendak diuji namun renta. Dalam artian untuk memperoleh suatu hasil uji dari material itu tidak perlu merusaknya. Hal ini dikarenakan teknologi NDT lebih banyak memanfaatkan sensor dan gelombang untuk mendeteksinya.



Cukup diuji, Lalu diestimasi
Sekarang ini, banyak pilihan dan pengembangan dari teknologi NDT yang banyak dipakai oleh para assessor dan pengamat bangunan atau material. Bahkan untuk lebih akurat lagi ada teknologi semi NDT yang sedikit mengambil sampel dan menggores material guna mendeteksi kerusakan yang terdapat di dalam internal material.


Hal ini menjadi keuntungan karena peneliti atau assessor tak perlu mengambil sampel dari bangunan bersejarah tersebut. Terkhusus bangunan berkayu yang dan candi-candi yang renta sekali untuk diambil sampelnya. Untuk proses pemugaran pun sebelumnya dibutuhkan pemetaan terhadap komponen bangunan yang perlu di restorasi dan tingkat kerusakannya. Melalui NDT, proses ini bisa dilakukan. Dengan menguji secara langsung di lapangan menggunakan salah satu atau beberapa alat kombinasi, hasil deteksi dan pemetaan dapat dilakukan.

Semisal menggunakan Stress Wave analyzer dan Pylodyn test sebagai dua contoh NDT. Dengan menempelkan alat ke kedua sisi material yang hendak diuji, maka hasil waktu tempuh bisa di analisa dan bisa terlihat bagian material mana yang mengalami defect atau kerusakan. Jika waktu tempuh atau Time of Flight lebih cepat dari rata-ratanya artinya kondisi permukaan mulus. Begitupun sebaliknya, maka ada kerusakan yang dilalui yang menyebabkan waktu tempuh lambat.

Dari hasil sesedarhan itu dapat terlihat bagian struktur mana saja yang mengalami kerusakan dan masih dalam kondisi bagus. Disamping itu, dari hasil Time of flight pun, keadaan Modulus Elastisitas yang berkaitan dengan sifat material suatu bangunan dapat dihitung dan dipredisiki menggunakan beberapa pengambilan data.

Dengan begitu, restorasi dapat berjalan lebih singkat, presisi dan terlebih bisa mendeteksi tanpa harus merusak sebagian kecil atau besar bangunan bersejarah yang diamati. Teknologi ini sangat bermanfaat untuk diterpakan terkhusus untuk negara dengan jumalah bangunan bercagar budaya yang cukup tinggi seperti di Indonesia.

Referensi:
M. Teder, K. Pilt, M. Miljan, M. Lainurm, R. Kruuda. Overview of Some Non-Destructive Methods For In Situ Assessment Of Structural Timber: 137-143. 3rd International Conference Civil Engineering`11 Proceedings II Materials and Structures.
S. Gao, X. Wang, M.C. Wiemann, B.K. Brashaw, R.J. Ross, L.Wang. A Critical Analysis of Methods for Rapid and Nondestructive Determination of Wood Density in Standing Trees. Annals of Forest Science. INRA and Springer-Verlag France 2017.
C. Gao, J. Wang and Q. S. Yang. Rapid In-Site Survey and Assessment Method For Structural Members In Traditional Chinese Traditional Timber Structure[J]. Structural Health Assessment of Timber Structures. 2017: 119-130.





[1] Mahasiswa Master of Civil Engineering, Beijin Jiaotong University
Key Laboratory of Ancient Culture Relics, School of Civil Engineering

-Dewan, 李李婉美, Student of Beijing Jioatong University, SKetchwalker-



Since 2016, Iv decide to continue my study in China. Most of all because of its development and technology, well known as one of the populous country in the world. Beside, this country has provide so many interesting culture and heritage to be observed. Before I arrived here, I have promised myself to sketch every site that I visit no matter what I see or Experience.

As 2016, Beijing, the city that I stay, the place where I mostly study, gives so many chance until now for me to discover every single of its urban spaces. Namely the Urban Place which is modern, Traditional cultural space, and even natural place or say it as gardens. Here, you can find it all.
Beside this marvelous city, in the end of the year, I got a chance to visit Qingdao, a city near the beaches. I sketched the Red Landmark of this city also. A landmark which shows the symbols of the movements for the people here.

In the beginning of the year 2017, I was curious of the Urban Sketching Community of Beijing. So I decide to join them sketchwalking in Lama Temple, Yonghegong. My first sketch blending was done with the other sketcher living in Beijing. Then, the next future sketchwalking adventure encourage me to do some sketching also to some of spaces around China.

So, as in one year I discovered mostly places in Beijing including all the landmarks. As I also learn some Chinese language from them as they stop by to ask what am I excactly doing. The Interaction between the city, space, and art happens as I try to sketch some of places here.

The next city I have discovered is Shandong, as this city gives me opportunity to join the Asean-China Youth Forum. It’s a quite peaceful city and that time I just got to sketch the University. Another chance was when I get to sketch Shanghai, another urban city which gives me many interesting spots including the famous Bund in the middle of the city and along the river.
     
Sketching the Cave, Sketching Shanghai, and Sketching Great wall
Sketching the city of Daixin as it was in the event of International Cycling Event 2018, creates another challenges as this city is so silent and hot. But yet, every city and village that I experience deserve to be sketched.

Tianjin gives me another artsy style of the city. It has thousands of artistic views and it glows in the night. A place which is worth it to visit again.  Don’t forget also Gubei Water town, the Cave, and other surrounding cities beside Beijing. I am very sure they are all artsy to be sketched.


 

Sketching Tianjin and Forbidden City


Sketching My Research
I never imagine that my research will be related to one of an ancient timber structure protected by the government. It is full of complexity. Known as one of the Pagoda which is preserved in Wanrong County.

Beside, my research site which is located in Shanxi Province gives me another inspiration to sketch one of an important site to be visited. The ancient Feiyun Building where I met so many obstacles in finishing my research here. Also I found some enjoyments.

A third floor building with timber as its wooden material. As till know Im still struggling and dealing with this problem of research but I really enjoy every single site that I visit there. It will be an interesting life experience that I gain beside sketching China.

Sketching Feiyun Building, 




Sudah terbaca!!

Sangat jarang ada orang yang mau menggabungkan karya literasi dengan karya seni (rupa). Apalagi didukung dengan background keilmuan yang sesuai, teknik sipil.
Annisa Dewanti Putri berhasil memadukannya. Cantik!

Review singkatku untuk buku yang baru selesai kubaca dalam dua kali duduk:

1. Ada prolog baiknya ada epilog. Sebenarnya dibanyak karya literasi, suatu bab yang judulnya sama dengan judul bukunya akan diletakkan di awal atau akhir. Nah buku ini belum memiliki epilog yang greget. Harusnya esai yg berjudul "Kata dalam Sketsa" itu sendiri diletakkan di belakang. Sesuai judulnya, seharusnya esai tersebut bisa menjadi gong yang membelalakan mata, tidak hanya menarasikan sketsa tetapi juga harapan dimasa depan yang akan terus berkarya melalui kata dalam sketsa.

2. Dewan berhasil mempergunakan teknik menulis feature dengan baik. Diksi-diksinya beragam dan menarik. Kemampuannya menulis dengan teknik ini sudah tak perlu disangsikan lagi, karena jam terbangnya menulis diberbagai media cukup tinggi.
Hanya saja, ada beberapa istilah asing yang makna awamnya tak segera tersuratkan. Terkadang pembaca baru mengerti makna sederhananya di beberapa kalimat setelah istilah asing tersebut dimunculkan. Akibatnya, orang awam akan merasa lelah dan bosan membaca, meskipun tujuan awal penulis sesungguhnya ingin memberikan kejutan-kejutan tak terduga.

3. Dalam buku ini terselipkan kisah perjalanan penulis ke Jepang. Awalnya terkesan menyenangkan dengan alur runtut dan detail yang cukup memuaskan rasa ingin tahu pembaca. Namun, dua tempat lain yang penulis coba ejawantahkan ke dalam bentuk tulisan terasa ala kadarnya, seperti hanya pelengkap yang dipaksakan ada. Pembaca jadi bergumam, "njuk ngopo? lalu apa yang istimewa? udah gini aja?"

4. Sarat ilmu baru. Pengetahuan-pengetahuan istimewa dari soal rancangan bangunan hingga pertanian berkelanjutan ditularkan ke pembaca dengan luwes. Layak diberi acungan jempol.

5. Pengingat anak muda untuk selalu menjaga nasionalisme. Kalimat-kalimat yang dilontarkan mengandung makna kebanggaan bagi Indonesia raya meskipun memiliki banyak masalah yang dihadapi. Tercantum pula solusi-solusi teoris tapi tepat dan tidak mustahil untuk diwujudkan, yang dituliskan dengan halus. Tak terkesan menggurui.

6. Dalam beropini, Dewan berbicara fakta yang didukung bukti-bukti nyata. Bahkan referensinya dicantumkan di akhir buku, sesuatu yang seringkali diabaikan para penulis esai. Ada pepatah: penulis boleh salah, tapi nggak boleh bohong; dan Dewan sanggup mengikuti kiblat itu.

Secara keseluruhan, buku ini menarik dan layak untuk dibaca :)
Sangat berharap Dewan bisa kembali menulis dan mengkolaborasikan dengan garis-garis indah sketsa "berwarna"nya yang menawan. Dunia literasi menunggu karya-karyamu selanjutnya.

Sukses selalu Dewan, adek 11 bulanku :)

Oleh: Janne Hillary, UGM
Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch