Tuesday, June 02, 2020

PELAMPIASAN WARNA-WARNI LK KALA PANDEMI

 "Memang terkadang situasi bisa nampak hitam putih, tapi bagaimana kalau coba ditambahkan sedikit warna-warni, sehingga yang lain menyadari bahwa apapun warnanya pun juga tetap berarti," dalam warna-warni.

Tak lain dan tak bukan karena tahun 2020, sebuah tahun dengan pesona Pandemi COVID19 yang mana imbasnya juga dirasakan oleh pelajar dan pekerja lain di belahan dunia lain juga. Betapa nikmatnya kalau di pikir, kuliah atau kerja daring membuat kita bisa melakukan hal lain secara bersamaan juga dari kejauhan. Terkadang yang buruknya sekalipun (Sambil bermain game). Namun tak apa, itulah Guilty Pleasure yang bisa kita lakukan sementara berusaha produktif di kala ketikdapastian situasi dunia seperti ini.

Ambil kisah sedikit pelambiasan dari Sobku yang bernama Elke Devinna yang selanjtunya berinisial LK, pada semester ini sepenuhnya menjalani kuliah daring. LK ini telah menjadi watermark tak resminya dalam karya di Canvasnya. Mencoba mengingat bahwa jangan lupakan identitas pembuat melalui watermark ketika selesai berkarya. Kali ini, tulisanku sedikit santai, ingin menelisik sedikit warna yang berhasil dihabiskan LK dalam setiap keisengan coretan dalam hidupnya. Haha, entah ini hanya guyonan atau pujian tapi boleh jadi benar, karena ya, sebagai seorang sketcher amatir, aku akui juga kalau karya nya memang berwarna. Inilah yang beberapa diantara kala Pandemi ia tunjukkan.


Sebut saja Nemo, kawannya Dory.


Dia lambaikan tangan-tanganya itu selagi menggores setiap detail yang terjadi pada kertasnya. Ini si Ikan Nemo yang LK ambil contohnya dari semacam buku mewarnai yang sempat dia pakai untuk belajar. Ya, LK memang pernah les mewarnai katanya, artinya jiwa mencampur warna dan gradiennya bisa dibilang cukup sensitif.

Rubah mozilla forefox

Entah apa namun nampaknya LK senang belajar dengan mencontoh apa yang sudah ada. Berikutnya si rubah yang dia lihat dari hasil mencari di internet. Lagi, lagi mari kita tengok sedikit detailnya, ia terapkan gradasi warna campuran pada rerumputan dan kulit si rubah. Media yang dia pakai kali ini adalah Krayon.
daun apa ya, belum sempat tanya LK
Aku belum tau secara detail mengapa dedaunan ini menjadi pilihan berikutnya yang ia gambar di kelas. Shading dan pencahayaan di karya kali ini cukup terang karena aku bisa liat guratan hitam yang memberikan gambaran gradasi warna dari hijau muda menjadi tua. atu dari kuning menjadi hijau.
Koalademit.
Karya terakhir yang tak kalah unik bagiku, adalah sang koala, yang tak bukan adalah disebut sebagai Koalademit. Ini berawal dari aduan LK ketika kameranya ada sedikit bercak sentuhan tak diketahui asalnya. Aku seperti biasa mengolok-oloknya dan bilang kalau itu adalah sentuhan dari Dedemit Bekasi, alhasil tak lama iya menelurkan karya di atas Kanvas nya ini. Menggunakan media berupa Cat Minyak ia bentuk sehingga berujung seperrti itu. Setelah ini, ia bercerita kepadaku bahwa akan terus mencoba berkarya kalau sedang antara bosan dan tidak. Ini wajar, apalagi untuk orang sepertinya yang turun naik moodnya dalam dadakan dan sekejap. Namun, itulah yang unik.

Ada satu hal baru yang kupelajari dari LK, yaitu ia ternyata menyimpan banyak bakat terpendam di hemisfer kanannya. Sebelumnya, aku memang sudah memperkirakan hal ini dari gaya desainya pada pekerjaan lain. Dari cara LK menimbang suatu estetika dan pernah sebenarnya mendapatinya menggambar di Buku sketsaku ketika di GUBEI, gambarnya pun aku posting di tulisan tetntang perjalanan di GUBEI. Tapi aku belum banyak menyadari bahwa ternyata memang dunia seninya sebegitu mendalamnya. Mungkin selama ini sedikit terpoles oleh kegiatan akademis yang lebih banyak melibatkan hemisfer kirinya untuk mendominasi.

Tak heran, akupun juga mengalami hal itu. Sebagai anak Teknik yang bergelut dengan angka, rasanya dunia seni dan musik menjadikanku tempat melampuaskan dari kejenuhan aktivitas otak kiriku yang dipenuhi oleh formalitas keilmuan semata. Ini bukan hanya terjadi pada kita, bahkan Albert Einstein yang terlihat didominasi oleh Sains, mempunyai pelampiasan kuat di bidang musik, Einstein sangat lihai bermain biola yang tak hanya sekedar membaca partitur belaka.

Dewan, 2 Juni 2020,
Saat menjelang New Normal Pandemi

Read more…

Monday, May 04, 2020

Dari Desain Ekologis Menuju TOD?


Oleh: Annisa Dewanti Putri

“A developed country is not a place where the poor have cars, it’s where the rich ride public transportation” ujar Enrique Penalosa, Mayor kota Bogota (1998-2001).

Urban Sustainable Transportation saat ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam kesuksesan perkembangan kota (Drastiani, 2019). Ini adalah bagian dari kelanjutan dari skala desain menuju lingkup yang lebih besar lagi. Belajar dari kota Palembang yang sudah memulai proyek pendukung TOD melalui LRT (Light Rapid Transit). Bagi sebagian Urbanis, proyek ini memang  menjadi dilema. Apakah menjadi pemenuhan untuk kebutuhan sesaat, atau memang dikembankan berkelanjutan memadu prinsip TOD.

Transit oriented Development atau disingkat TOD adalah istilah yang masih belum familiar di khalayak umum. Konsep ini berusaha menggabungkan beberapa elemen yang terpusat dalam satu komunitas untuk keperlruan masyarakat umum. Tentunya, berdasarkan Ditjen Tata Ruang, TOD dimaksudkan untuk pengembangan kawasan seitar simpul transit, integrasi angkutan umum massal juga transportasi tidak bermotor,  pengurangan kendaraan bermotor.

TOD berusaha menjadikan Mixed Used Community yang mendorong manusia untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat kepada kendaraan sendiri (Still 2002, Bernick, and Cerveri 1997). Dari poin ini, TOD menjadi sarana untuk bisa mengurangi emisi karbon dan menuju kota berkelanjutan.

TOD mengadaptasi 6 kunci dari konsep smart growth yaitu Compact, Multi use development, yang mana ruang bisa didgunakan untuk berbagai keprluan masyarakat. Open space atau sarana ruang terbuka untuk keperluan konservasi. Pengembangan mobilitas juga menjadikan TOD menjadi kawasan yang saling terintegrasi antara moda transportas public sehingga memudahkan masyarakat berpindah antara moda satu ke lainnya.

Infill, redevelopment, dan adaptasi dari penggunaan ulang untuk area yang sudah dibangun. Mendayagunakan fasilitas yang sudah ada menjadi ruang public masyarakat. Keuntungan yang bisa ditarik dari sisi keberlanjutan lingkungan yaitu mengurangi kemacetan lalu lintas sebagai salah satu sumber Pencemaran Udara. Selanjutnya, TOD menekan penggunaan bahan bakar juga bisa menjadi konservasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa meningkatkan kualitas udara yang lebih baik.  Interaksi positif masyarakat, meningkatkan akses dan kesempatan untuk pekerja, dan kesehatan juga kedekatan masyarakat.


Gambar: Ilustrasi Konsep TOD. ITDP, 2014. 

Menurut Nirwono, peran angkutan umum semakin besar, modal share angkutan umum menurun hingga 27 persen (2010). Dengan menyatukan sistem yang berbeda antar moda, menyusun keanekaragaman penggunaan, menjadikan variasi dalam pemilihan alternatif perjalanan mendukung konsep yang ada.

Kenyamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap akurasi perjalanan melalui TOD menjadi bagian daripada motivasi yang menyandarkan mereka untuk menggunakan transportasi publik. Kesediaan layanan meningkatkan daya guna masyarakat sehingga di kemudian hari dapat menekan ledakan.

Sekarang, mengikuti perkembangan teknologi dan moda transportasi, lingkungan keberlanjutan memang tidak akan terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan sistemnya. Dalam wacana Proyek Strategi Nasional (PSN), perencanaan dengan konsep TOD memang sudah mulai diselipkan setelah berbagai proyek transportasi TOD, barangkali ialah konsep angan atau benar adanya sebagai konsep Integrasi transportasi dan lingkungan masyrakat. Bisa jadi suatu konsep untuk menjadikan kota memiliki desain ekologis yang tidak wacana belaka.

Referensi:
Fritz Akhmad Nuzir, I Nyoman Gede Mahaputra, et al. 2019. Antologi Kota Indonesia. Jakarta: OMAH Library.

Institute for Transportation & Development Policy (ITDP). www.itdp.org diakses pada tanggal 1 April 2020 pukul 11.16 WIB.

Joga, Nirwono. 2017. Mewariskan Kota Layak Huni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Borneo Publications.

Kubba, S. 2017. Handbook of GREEN BUILDING DESIGN AND CONSTRUCTION: LEED, BREEAM, and Green Globes. Joe Hayton.

Laksono, Eko. 2013. Universalis Metropolis. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Rizka Drastiani. 2019. Esai Dilema LRT dengan Rencana Skema Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Kota Palembang. Jakarta: OMAH Library.

Read more…

Monday, February 17, 2020

Pelangi Juang


Pelangi yang tak Disangka. Penulis, 2020

 "Bagiku sederhana, semoga semua baik-baik saja meski hidup sangat berwarna.
Seperti pelangi mungkin, meski tak selalu muncul, tapi setidaknya keberadaanya menjadi senyum yang dirindukan."


Entah judul dan isi relatif untuk saling dikaitkan atau tidak. Tapi, setidaknya tulisan diakhiri dengan pelangi biar ga pusing sepenuhnya. Cerita sedikit tentang sepinya kantor konsultan desain asing untuk Mega Proyek negara ku ini. Biasanya, ada sekitar lebih dari empat puluh karyawan yang mengurus kesemuanya ini. Maklum, ada force majeure yang cukup berdampak pada negara yang baru saja kena penyebaran Virus nCov.

Aku di lantai 3, lantai para engineer dan designer untuk proyek. Mereka semua adalah senior-seniorku. Tapi sekarang hanya bersisa kami berenam, ada aku (Station Engineer), Mr. Sun (Alignment/Jalan), Mr. Chao (Subgrade), Mr. Wang (Geologi), Mr. Wu (Jembatan) dan Mr. Xu (Terowongan). Ini bukanlah bagian dari komplit untuk mewakili setiap bagian. Seharusnya ada bagian struktur, HVAC, MEP, Signal, Communication, dll. Dan perlu diingat, ini baru cakupan dari pihak internal dalam konsultan kami. Betapa banyaknya departemen yang ada.

Untuk pihak eksternal yang berhubungan dengan subkonsultan, supplier, kontraktor, pengawas, owner, bahkan antar konsultan seklipun, sudah beda lagi garis koordinasinya. Jadilah, ini seperti cerita duri baru buat diriku. Aku sangat belajar dari kemendadakan dan sesuatu yang tidak disangka dalam hidup yang bahkan mungkin sering keluar ungkapan itu dari diriku untuk tetap santai dan kalem.

Mungkin tidak berat bagi ragaku, semoga ia selalu pandai berjuang dan tetap sehat. Tapi jiwalah yang terkadang menantang. Untuk bisa merasakan keadaan orang-orang yang disayangi, ketika tau mereka sedang berjuang entah secara jiwa/raga/sakit juga. Inilah menjadi salah satu tanggung jawabku juga. Mereka hadir dalam hidupku dan tentunya kalau kekuatan diikuti dengan tanggung jawab juga. Artinya aku tetap berusaha kuat dan bisa berjuang untuk mereka yang membutuhkanku. Setidaknya berusaha ada untuk senyumnya.

Namun, ya tetap namanya manusia, dibalik lingkaran yang dia hadapi penuh senyum, sesungguhnya mental dan hati ini tetap berjuang. Bahkan Rasanya, bahagia dan dentuman semangat dari orang-orang terdekatku sangatlah berarti, meski terkadang hal itu hilang dan membuatku sangat menanti, terutama untuk orang-orang yang aku sangat pedulikan dan ingin selalu melihat mereka senyum dan baik-baik saja.



Terimakasih untuk semua warna. Itulah pelangi diantara badai yang tak disangka. Dan Pelangi yang tak disangka dipenuhi warna yang kita suka atau tidak suka. Tetaplah pelangi pada akhirnya.

Ditulis di Jakarta, disela-sela meeting yang entahlah.

Read more…

Monday, February 10, 2020

MENJAGA INDONESIA LEWAT FILM (SEMESTA)

Film Semesta. Sumber gambar: cinemags.com
Suatu kali, kamu seakan menjelajah ribuan pulau, terbang di atasnya. Berada dalam angan-angan layaknya burung garuda sampai pada akhirnya kau tersadar bahwa kau menjalajah nusantara.

Menikmati birunya laut dan pesona hijaunya dedaunan. Semua yang menapaki Negeri ribuan pulau ini memang bisa menikmati setiap sisinya. Namun dibalik itu semua, terdapat banyak sosok yang lebih mengindahkan untuk menjaga dibandingkan dengan menikmatinya.

Terhampar nyata seolah berkata “Indonesia, adakah yang akan merawat Indahmu?” Dalam beberapa cuplikan, penonton dibawa terbang di sebuah desa yang memperjuangkan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) di desanya. Disusul dengan pergerakan berikutnya menuju beberapa daerah tanah air yang salah satunya mungkin familiar bagi sebagian orang. Ialah raja Ampat, di balik itu penonton akan menemukan banyak kisah untuk menjaga salah satu pesona Indonesia tersebut.

Lompat ke Bumi Langit, sebuah tempat yang mengangkat permaculture design dalam pengelolaanya dan mungkin telah saya banyak angkat di beberapa tulisan sebelumnya. Menyoal tentang pengelolaan berbasiskan kearifan lokal dan agrikultur. Tempat ini ada di Jogja. Dan masih banyak tempat lain nya yang akan memberikan beberapa perspektif soal pesona nusantara dengan dalih sambil menjaganya.

Penggarapan oleh Tanakhir Production ini benar-benar mengambil genre Dokuemnter yang tidak biasa. Penekanan terhadap keindahan membuat penonton terpesona dengan kontur, gradasi, dan lukisan tanah air yang diperjuangkan. Perpaduan antara soundtrack dan pengambilan gambar cukup mengantarkan imaji menjelajah di tujuh pesona tempat berbeda di Nusantara.

Film berdurasi kurang lebih sembilan puluh menit ini ternyata memang bertemakan lingkungan dan pernah terseleksi untuk di putar di Suncine International Environmental Film Festival (Barcelona, Spanyol). Untuk penyuka film dokuemnter, tentunya mungkin akan memberikan jempol lebih. Terkhusus bagi pecinta alam dan penjelajah.

Satu celotehan dari seorang Elke Devinna yang sering kusapa dengan Sob, sebongkah kalimat pikiran yang selalu terngiang saat ini setiap ada film Indonesia yang muncul. Celotehan itu tentang bagaimana kita mengapresiasi karya anak Bangsa dengan nonton langsung di Bioskop.

Padahal, sebelumnya aku mendengar sebagian orang justru berpikiran buat apa nonton di layar lebar, sementara film di Indonesia bisa di download bebas atau “Nanti paling keluar di TV biasa.” Namun, kacamata itu berbeda setelah aku tersemprot oleh kata-kata sang Dory itu yang mengarah kepada kecintaanya terhadap kearifan lokal. “Terimakasih sob, celotehanmu selalu terngiang di kepalaku, hehe.”

Tentunya pemirsa, penilaian selalu relatif dan bergantung daripada perbandingan dan bahkan cakupan yang dibandingkan. Namun bagi diri ini sebagai seorang Indonesia yang mengagumi Alamnya, sangat mendorong masyarakat untuk setidaknya menikmati film ini. Agar kita semua tersadar, bahwa Indonesia tak hanya bisa dinikmati tapi juga perlu dijaga.

Read more…

Tuesday, January 07, 2020

Postingan Pertama 2020: Perenungan dan Rasa Syukur

Sedikit sketchwalking olehku.
Postingan kali ini adalah yang pertama di 2020. Mungkin isinya sedikit lebih ngawur dari postingan formal biasanya. Anggaplah ini bisa menjadi tulisan renungan dan rasa syukurku agar aku bisa bangkit dan ikhlas dengan semua yang kujalani. 

2019. Tahun berwarna yang berlalu begitu cepat. Mungkin karena begitu banyak warna yang singgah. Kacamata baru silih berganti. Aku menghabiskan waktu bersama banyak orang-orang spesial yang sulit kudeskripsikan satu persatu. Begitu mendalam bermakna. Kepada kamu, orang-orang yang aku pedulikan, semua bayang dan kenanganmu sungguh menempel. Aku tetap berjanji akan ada untuk mereka selagi aku bisa meski terpisah jarak dan waktu sekalipun. Meski aku merasa banyak meninggalkan hal-hal yang menurutku spesial, tapi dalam kesedihan kenangan, aku pun tetap harus menyadari bahwa inilah ruang dan waktu. Satu hal yang perlu diingat, 2019 ini begitu menantang namun membahagiakan.

2020. Aku bersyukur karena aku masih bisa bernapas. Merasakan sehat dan melihat senyum-senyum orang-orang yang aku sayangi. Padahal, pada 2019, banyak sekali kesalahan yang telah kuperbuat, hingga terkadang sesungguhnya menjadi dinamit untuk diriku sendiri. Hingga, aku sadari sampai sekarang aku harus bersyukur atas segalanya dan menghargainya dengan menjaga kesehatan dan semuanya.

Mengapa? Mereka bersandar semua kepadaku. Aku tak terbayang, ternyata aku bertransformasi menjadi tulang punggung secara perlahan. Keadaan berbeda, nampak aku banyak bermain dan ego sebelumnya. Sekarang, ialah aku yang diandalkan dan ditumpukan. Namun, tetaplah aku bersyukur, meskipun begitu banyak yang harus kulakukan untuk menutupi segala sesuatu, Allah Ta alla, selalu memberi jalan untuk bisa melaluinya. Nyatanya ketepatan waktuku hadir di tanah air ini terbilang tepat. Mungkin jika aku memutuskan merantau lagi, semua akan berbeda cerita. Aku bisa saja kembali kepada ego ku kembali.

Ini adalah tantangan. Mengapa? Selama ini aku selalu merasa seperti bocah yang senang bermain tapi tetap harus bertanggung jawab untuk segala masalah yang ada. Namun sekarang, aku tetap di anggap seperti bocah namun menjadi yang diandalkan. Lagi-lagi ego ku diuji. Hingga suatu waktu rasanya pernah aku tumbang secara jiwa dan raga. Orang-orang khawatir dan begitu menjagaku, hingga terbelisat aku terbayang beberapa omongan kawan-kawanku yang bercerita serupa, bahwa ia harus tetap sehat demi menjaga orang-orang yang dia sayangi. Iya, kita baik bukan hanya untuk diri kita tapi untuk orang lain juga. Jadi sehatlah, bangkitlah, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Intinya tetap tersenyum, agar yang lain ikut tersenyum. Pernahkan terbayang jika semua manusia mengeluh dan tidak tersenyum. Bahkan yang tadinya bahagia bisa berubah jadi muram, dan yang muram bisa bertambah sedih. Itulah mengapa, meskipun sakit melihat yang sakit, tapi senyum ini harus tetap ada. Memang seolah semua baik-baik saja. Tapi perlu diingat, bahkan segenggam tugas matematika yang dibawa pulang pun bisa jadi bencana ketika senyuman sirna. Dan mungkin terkena penyakit luar biasa bisa terlihat baik-baik saja ketika yang menderita tetap tersenyum semangat. Namun, tidak bisa disalahkan, tingkat kebahagiaan dan rasa syukur orang berbeda-beda. Hargailah.
Walaupun hanya dari sedikit senyuman.

Sekian, apa yang ingin disampaikan di awal tahun. Tulisan ini terbelisat dan tertulis di sela-sela mengerjakan pekerjaan gambar.

Read more…

Thursday, December 05, 2019

Photo Competition Story: Sketch the Journey


Author Picture: Urban Sketching, by the Author.
That day, after we (Indonesian Students) conducted an event in the Embassy of the Republic of Indonesia and went back at night, the lights in front of the Agriculture Exhibition Centre has attracted us. It was the “Art Beijing 2017.” For sure, this 中国农业展览馆 or the National Agriculture Exhibition Centre always held some particular international event.

But that time it was different. The lights were shinier, more colorful, and the main building becomes more interesting. This hobby of mine sketching the place that I visit and then taking a picture of it for life documentation has urge me to do the same to this moment.

Live sketching for me will be the part of the documentation of life adventure, so beside on taking pictures which exactly will provide with realistic pictures on it, Livesketching will be so valuable for me in creating my own memory to through my imagination and thoughts that are thrown along the lines on the paper.

Live sketching the Agriculture Exhibition Centre from Author (3rd Winner). Source: By Author 2017
 For 15 minutes, I have a chance to do a live sketching as I also wait for my friends to take pictures around this event. Then, after the live sketching, this moment between the sketch and the real place has to be in the same frame. And that finally complete my journey to draw this moment in the night between the art, life, and the capital which I call it as the moment that “Beijing art Never Dies.”

This event and opportunity has given me a chance to give a perspective thoughts of how different kind of people and photographers may take the different angle, space and time through urban studies, especially in Beijing, the capital of China.

Live Sketching Every Journey
On every single journey in a new place, I have a mission to at least make one live sketching through one of the angle of that place. It is a hobby that creates a motivation for me to visit new places. After taking the live sketching, I usually take a picture and a photo of my sketches standing in front of the place.

It usually takes 5 until 15 minutes depending on the details I want to make to the sketches. As it is a bit hard for me when I have to adjust with my friends traveling while I walk and use my time to finish it as I am afraid to also disturb their journey. But thank God, they enjoy it also and let me do it, as I finish it quickly. Without them, my pictures aren’t as colorful as my journey. Friends and travel mates are the best for me.

Besides, in the process of sketching and taking picture, I learn a lot of things form the people around me. Usually they talk with me and I learn many things also from them. For example in such a sunny day, I learn so many about the Walls near Guomao that is used for Archery. The old man sits near to me and told me so many stories. As sometimes some Chinese help me to improve my language while I sketch. It happens fast while I enjoy it always.

Finally, After the live sketching, if there is time, for 5 minutes I will water color the picture using my portable watercolor than take a Photo shoot through it. This happens in the recent years as I
hope it keep going in the future. As from here not only by photography that I take a documentation of my journey but also through sketching.

Until now, I have many pictures with sketches inside of it, and I hope one day it could be a bundle of story from my sketches and Photo shots to complete my article also.

Top 500 Pictures. By: Author 2018
 
*This article was taken from the writing of the author participation for the Beijing Photography Competition 2018 "Depiction of New Beijing"

Read more…

Thursday, October 17, 2019

Ketiadaan yang Mengalahkan Keberadaan

Ketiadaan yang dipertanyakan oleh keberadaan. Ilustrasi: Dewan, 2019

Ada kala keberadaan dibutuhkan, menjadi impian, sementara ketiadaan suatu kali datang dan menjadi idola dibalik keberadaan. Yang aku bicarakan adalah abstrak, namun bisa benar adanya. Sesuatu yang dahulu dianggap, menjadi sebuah keberadaan yang berarti. Namun, ruang dan waktu berkata ketiadaan lebih bermakna sementara keberadaan menjadi tidak berarti.

Eksistensi dihargai, keberadaan seseorang dianggap, saat itu Nampak seolah bahagia menjadi bagian dari celah keberadaan.
Suatu hari, nyatanya keberadaan itu fana. Ketiadaan menjadi lebih dihargai dan disenangi. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih baik tak ada. Yang tak ada terlihat baginya lebih bermakna. Entah kenapa, tapi memang aneh adanya.

Pun, batu, pasir, kerikil tak pernah dipermasalahkan keberadaanya. Sementara angina yang tiada menjadi masalah baginya. Kali ini mungkin ketiadaan menjadi jawaban akan keberadaan yang sudah mengganggu.

Ketiadaan kali ini lebih disenangi dibandingkan dengan keberadaan. Begitulah yang Nampak seolah sekarang maya. Mungkin, di kala tertentu, ketiadaan adalah jawaban kenyamanan disamping keberadaan yang meresahkan. Ini hanya terjadi jika nyatanya ketiadaan lebih dihargai disbanding keberadaan. Entahlah.

Apa hal ngawur yang kubicarakan dalam tulisan ini, tidak ada tentunya, ya, karena saat ini ketiadaan lah yang menang melawan keberadaan. Hanyalah perspektif yang barangkali bisa dilihat di lain sisi.

Terimakasih.

Sekian Esai Pendek Ngawur

Read more…

Wednesday, September 25, 2019

Efek Domino? Siapapun punya Pengaruh

Ilustrasti efek domino. Oleh: Dewan, 2019
Tahukah kalian soal domino yang disusun lalu dengan satu sentilan jatuhnya domino, bisa merambat kepada domino lain hingga akhirnya semua deretan dormino itu jatuh semua. Inilah konsep efek domino yang bisa berdampak pada hal lainnya.

Sama seperti kehidupan,  bsgaikan rantai makanan, berpengaruh. Apapun bentuk hilangnya rantai makanan itu. Semut sekalipun, akan merusak kehidupan Manusia sang penguasa. Tak hanya itu, bahkan sang angin punya peran membuat semua ladang jadi hijau untuk makan para sapi disana.
Tak jauh dari itu, sang batu juga telah mempengaruhi cederanya kaki si kambing yang berlari.

Inilah efek domino, sebuah perubahan yang berpengaruh sekecil atau sebesar apapun itu. Bahkan, sekelas hanya mengatai seorang anak kecil dengan sebutan A, bisa jadi akan terkenang dan merubah perilakunya hingga kelak ia besar dan menjadi pemimpin. Pun, kita tak pernah tau, antara ia berpengaruh menjadi Pemimpin Tirani atau dengan royalitas tinggi.

Mengaitkan ini dengan kondisi negeri. Nyatanya apa yang terjadi kita tak bisa salahkan secara langsung. Dampaknya memang tak terasa ketika di posisi nyaman. Namun sadarkah, dalam ketidkanyamanan, akan ada saatnya jiwa memberontak. Terasa memang tidak akan ada pengaruh hanya karena protes kecil-kecilan.

Namun, dari hal kecil, sadarkah nantinya bisa berujung besar. Hal yang terlihat biasa menjadi luar biasa. Yang luar biasa lalu menjadi hal biasa. Inilah efek domino, satu tindakan apapun yang manusia hasilkan bisa berujung pada masalah dirinya sendiri.

Apatis tidaklah salah, bentuk apapun bisa menjadi solusi dan punya pengaruh tersendiri. Hanya, setiap manusia perlu mengingat bahwa efek domino dunia ini berlaku di lingkaran mana saja. Perubahan apapun sekecil dan sebesar apapun. 

Melihat kondisi ini, Film Cloud Atlas sedikit mewakili keadaan pengaruh era satu dengan lainnya. Karena suatu pemeberontakan oleh seorang, nyatanya dapat memberikan kesejahteraan ke era berikutnya tanpa disadari.

Begitupula pada masa ini, menyuarakan aspirasi atau bahkan sekedar membagikan info dan tautan terlihat sederhana. Tapi, kita perlu ingat bahwa jika lebih dari seorang lanjut melakukannya, maka akan bercabang menjadi seisi dunia dan jangan tanyakan lagi pengaruhnya.

Layaknya efek domino yang menjalar, semua bisa merasakannya.




Read more…

Saturday, August 17, 2019

Menjelang Merdeka, Bumi Manusia dalam Layar Kaca

Bumi Manusia. Sumber Gambar: KamalInspirasi.com

Judul Film : Bumi Manusia
Sutradara    : Hanung Bramantyo
Penulis : dari Novel Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)
Pemain : Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, dll.
Genre : Dokumenter
Tanggal Rilis : 15 Agustus 2019
Negara Produksi: Indonesia

Sinopsis
Minke, seorang pribumi Jawa pada masa kompeni dahulu dilahrikan dari salah satu keluarga pati di Surabaya pada masa itu. Minke yang bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) berkesempatan menjalani kehidupannya layaknya setengah eropa karena  penjajahan masa itu. Suatu ketika, temannya Suhoorf mengajaknya berkunjung ke komplek Wonokromo tempat kawannya Robert Melema dan keluarga tinggal.

Disana, Minke yang memiliki kepribadian ekspatriat nan pribumi memulai konflik batinnya ketika bertemu dengan Annelise, seorang gadis campuran Pribumi dan Belanda. Annelise adalah anak dari Nyai Sunikem yang merupakan jawa asli dan Herman Melema dari Belanda.

Annelise adalah saksi nyata perjuangan Ibunya dalam menjalani kehidupan di keluarganya yang sudah bercampur adu dengan dinamika bersama kompeni belanda. Hingga bagi Annelise, ia ingin menjadi seperti Ibunya yang seorang Pribumi.

Dalam cerita, tapak tilas kehidupan Minke, Annelise, Nyai Sunikem, dan tokoh lainnya dibahas sehingga konflik masa penjajahan dahulu sangat mempengaruhi jalannya cerita dan kepribadian para tokoh untuk bersuara soal ketidakadilan ini.

Ketidakadilan dalam ranah hukum, perlakuan, pengkastaan hingga kepemilikan menjadi konflik dalam setiap adegan dalam cerita, utamanya pada masa kompeni dahulu dimana ras, strata, status, dan sosial budaya menjadi yang sangat diperhatikan. Hingga suatu saat, klimaks ditunjukkan melalui Annelise yang diambil hak asuhnya oleh Walinya di Belanda, sementara Minke dan Ibunya Annelis mencoba bersuara melawan melalui media dan pengadilan. Namun, pada akhirnya tetap tak terkalahkan.

Pada akhirnya, Annelise tidak bisa memilih menjadi Pribumi seperti Ibunya, karena faktor sistem hukum kompeni yang saat itu sangat menekan pribumi. Namun, setidaknya Nyai dan Minke telah melawan dan tidak sepenuhnya kalah karena telah berusaha bersuara kepada penjajah pada masa itu.

Review
Film Bumi Manusia yang notabennya diangkat dari novel seperti kebanyakan beberapa film di Indonesia, menuai beberapa sisi baik maupun kelemahannya dibandingkan dengan novel yang digarap oleh Pramoedya Ananta Toer. Sungguh bisa dimengerti bahwa dalam film hanya diangkat bagian utama dalam apa yang ada di novel dengan mewakili unsur deskriptif secara menyeluruh. Pengemasan ini bahkan tetap berujung pada durasi yang sekiranya tiga jam.

Dalam film Bumi Manusia, mosi, grafis, dan audio cukup mendukung suasana penjajahan dahulu, hingga pengemasan terhadap tokoh dan figure yang dikombinasikan dengan aktor barat atau dari eropa. Tak lupa secara grafis memang benar mengangkat plot pedesaan dan kota pada masanya yang sudah dipengaruhi Colonial-imperial style di kalanya.

Film ini cukup menarik karena memadukan Bahasa dan budaya pada situasi dan kondisi pada masanya. Hingga bisa didapati sebagian pembicaraan menggunakan Bahasa Belanda, dan beberapa Bahasa asing lainnya, tanpa melepas dominasi penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah (Jawa).

Film ini cukup memancing nilai nasionalisme yang cukup tinggi mengingat dirilis menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Di sinilah Indonesia bisa tersentil bahwa untuk memperingatinya, tak hanya perayaan dan kesenangan yang patut diangkat. Tapi perjuangan bagaimana menjadi tuan rumah di negeri sendiri pada kala itu hingg saat ini. Dimana dalam Film Bumi Manusia, Minke dan Masayarakat Indonesia kala itu mencoba bersuara untuk keadilan.

Pun selain itu, ada sedikit celah yang kurang diangkat dalam film. Salah satunya adalah konflik batin dan pemikiran yang dialami tokoh ketika bersuara mengenai apa yang dipikirkan terhadap kejanggalan yang terjadi. Juga konflik melalui tulisan dan media untuk menyatakan kebenaran.

Melalui Minke, Pramoedya AT berusaha menyuarakan apa yang ada dibenak pemikirannya soal pemberontakan yang seharusnya bisa dilakukan dalam membela kebenaran, terkhusus mungkin ketika sebagian besar tulisannya diproses ketika pemikirannya banyak menggelora selama menjadi tahanan politik.

Secara garis besar, apresiasi terhadap karya film Indonesia ini bisa menjadi inspirasi untuk karya lainnya yang menyirati banyak pesan moral, sejarah, budaya, dan nasionalis bangsa Indonesia. Yang secara menyenangkan menyelipkan bumbu drama dan hiburan jenaka.

Hidup Karya Indonesia.
Merdeka. 

Resketsa, 16 Agustus 2019

Read more…

Friday, August 16, 2019

Brutal melalui Game


Ilustrasi oleh Dewan, 2018.

Di tahun 2013, Rockstar GTA series telah merilis versi terbaru serial game yang cukup populer. Grand Theft Auto (GTA) sudah dikenal sejak populer di platform Playstation 2. Saat itu GTA Vice city telah menunjukkan kebolehan nya dengan menampilkan grafis visual yang bisa diperankan secara freeplay hanya dengan menggunakan remote stick. 

Sekarang, seiring berkembangnya platform yang semakin canggih, produser gaming semakin mengembangkan grafis dan kebebasan permainan agar bisa lebih mirip dengan keadaan nyata. Tak hanya GTA, muncullah game lain dengan genre action adventure untuk seluruh platform bahkan sampai di Personal Computer dan Online juga.

Hingga, saat ini mudah sekali melakukan kekerasan secara dunia maya saja melalui game. Menembaki lawan lewat Counter strike. Radikalisme secara maya bisa terjadi dari masing-masing platform.

Bagi Adrian yang masih berumur empat belas tahun, permainan itu cukup menariknya. “Aku bisa nabrak orang, ledakin mobil, terus beli makanan, atau naikin helikopter kalau main GTA,” ujar anak yang masih menggunakan seragam putih merah itu.

Tindakan brutal diakuinya telah dikenal sejak dia memainkan game bertajuk aksi atau perang. Tak salah ketika dia pernah bercerita soal temannya yang pernah mencoba menendangnya dengan gaya atlit game Smackdown.

“Game itu tergantung cara penggunaannya. Jangan anti-game, jangan juga buta pro-game. Tidak semua game memiliki karakteristik yang cocok untuk dimainkan oleh anak semua umur,” tutur Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, seperti dikutip dari Liputan6.com, Kamis (28/4/2016).

Target umur memang sudah tertera di setiap game, sebenarnya tak sembarang gamer yang bisa menikmati game tertentu terkhusus yang mengandung kekerasan dan pornografi ini. Semua kategori umur telah diatur dalam Entertainment Software Rating Board (ESRB). Tindakan radikal dan brutal setidaknya dapat disaring melalui kategori umur tersebut sehingga dunia maya tak menuntut generasi penerus bangsa untuk bertindak sesuai permainannya.

Read more…