Bumi Manusia. Sumber Gambar: KamalInspirasi.com

Judul Film : Bumi Manusia
Sutradara    : Hanung Bramantyo
Penulis : dari Novel Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)
Pemain : Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, dll.
Genre : Dokumenter
Tanggal Rilis : 15 Agustus 2019
Negara Produksi: Indonesia

Sinopsis
Minke, seorang pribumi Jawa pada masa kompeni dahulu dilahrikan dari salah satu keluarga pati di Surabaya pada masa itu. Minke yang bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) berkesempatan menjalani kehidupannya layaknya setengah eropa karena  penjajahan masa itu. Suatu ketika, temannya Suhoorf mengajaknya berkunjung ke komplek Wonokromo tempat kawannya Robert Melema dan keluarga tinggal.

Disana, Minke yang memiliki kepribadian ekspatriat nan pribumi memulai konflik batinnya ketika bertemu dengan Annelise, seorang gadis campuran Pribumi dan Belanda. Annelise adalah anak dari Nyai Sunikem yang merupakan jawa asli dan Herman Melema dari Belanda.

Annelise adalah saksi nyata perjuangan Ibunya dalam menjalani kehidupan di keluarganya yang sudah bercampur adu dengan dinamika bersama kompeni belanda. Hingga bagi Annelise, ia ingin menjadi seperti Ibunya yang seorang Pribumi.

Dalam cerita, tapak tilas kehidupan Minke, Annelise, Nyai Sunikem, dan tokoh lainnya dibahas sehingga konflik masa penjajahan dahulu sangat mempengaruhi jalannya cerita dan kepribadian para tokoh untuk bersuara soal ketidakadilan ini.

Ketidakadilan dalam ranah hukum, perlakuan, pengkastaan hingga kepemilikan menjadi konflik dalam setiap adegan dalam cerita, utamanya pada masa kompeni dahulu dimana ras, strata, status, dan sosial budaya menjadi yang sangat diperhatikan. Hingga suatu saat, klimaks ditunjukkan melalui Annelise yang diambil hak asuhnya oleh Walinya di Belanda, sementara Minke dan Ibunya Annelis mencoba bersuara melawan melalui media dan pengadilan. Namun, pada akhirnya tetap tak terkalahkan.

Pada akhirnya, Annelise tidak bisa memilih menjadi Pribumi seperti Ibunya, karena faktor sistem hukum kompeni yang saat itu sangat menekan pribumi. Namun, setidaknya Nyai dan Minke telah melawan dan tidak sepenuhnya kalah karena telah berusaha bersuara kepada penjajah pada masa itu.

Review
Film Bumi Manusia yang notabennya diangkat dari novel seperti kebanyakan beberapa film di Indonesia, menuai beberapa sisi baik maupun kelemahannya dibandingkan dengan novel yang digarap oleh Pramoedya Ananta Toer. Sungguh bisa dimengerti bahwa dalam film hanya diangkat bagian utama dalam apa yang ada di novel dengan mewakili unsur deskriptif secara menyeluruh. Pengemasan ini bahkan tetap berujung pada durasi yang sekiranya tiga jam.

Dalam film Bumi Manusia, mosi, grafis, dan audio cukup mendukung suasana penjajahan dahulu, hingga pengemasan terhadap tokoh dan figure yang dikombinasikan dengan aktor barat atau dari eropa. Tak lupa secara grafis memang benar mengangkat plot pedesaan dan kota pada masanya yang sudah dipengaruhi Colonial-imperial style di kalanya.

Film ini cukup menarik karena memadukan Bahasa dan budaya pada situasi dan kondisi pada masanya. Hingga bisa didapati sebagian pembicaraan menggunakan Bahasa Belanda, dan beberapa Bahasa asing lainnya, tanpa melepas dominasi penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah (Jawa).

Film ini cukup memancing nilai nasionalisme yang cukup tinggi mengingat dirilis menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Di sinilah Indonesia bisa tersentil bahwa untuk memperingatinya, tak hanya perayaan dan kesenangan yang patut diangkat. Tapi perjuangan bagaimana menjadi tuan rumah di negeri sendiri pada kala itu hingg saat ini. Dimana dalam Film Bumi Manusia, Minke dan Masayarakat Indonesia kala itu mencoba bersuara untuk keadilan.

Pun selain itu, ada sedikit celah yang kurang diangkat dalam film. Salah satunya adalah konflik batin dan pemikiran yang dialami tokoh ketika bersuara mengenai apa yang dipikirkan terhadap kejanggalan yang terjadi. Juga konflik melalui tulisan dan media untuk menyatakan kebenaran.

Melalui Minke, Pramoedya AT berusaha menyuarakan apa yang ada dibenak pemikirannya soal pemberontakan yang seharusnya bisa dilakukan dalam membela kebenaran, terkhusus mungkin ketika sebagian besar tulisannya diproses ketika pemikirannya banyak menggelora selama menjadi tahanan politik.

Secara garis besar, apresiasi terhadap karya film Indonesia ini bisa menjadi inspirasi untuk karya lainnya yang menyirati banyak pesan moral, sejarah, budaya, dan nasionalis bangsa Indonesia. Yang secara menyenangkan menyelipkan bumbu drama dan hiburan jenaka.

Hidup Karya Indonesia.
Merdeka. 

Resketsa, 16 Agustus 2019

Ilustrasi oleh Dewan, 2018.

Di tahun 2013, Rockstar GTA series telah merilis versi terbaru serial game yang cukup populer. Grand Theft Auto (GTA) sudah dikenal sejak populer di platform Playstation 2. Saat itu GTA Vice city telah menunjukkan kebolehan nya dengan menampilkan grafis visual yang bisa diperankan secara freeplay hanya dengan menggunakan remote stick. 

Sekarang, seiring berkembangnya platform yang semakin canggih, produser gaming semakin mengembangkan grafis dan kebebasan permainan agar bisa lebih mirip dengan keadaan nyata. Tak hanya GTA, muncullah game lain dengan genre action adventure untuk seluruh platform bahkan sampai di Personal Computer dan Online juga.

Hingga, saat ini mudah sekali melakukan kekerasan secara dunia maya saja melalui game. Menembaki lawan lewat Counter strike. Radikalisme secara maya bisa terjadi dari masing-masing platform.

Bagi Adrian yang masih berumur empat belas tahun, permainan itu cukup menariknya. “Aku bisa nabrak orang, ledakin mobil, terus beli makanan, atau naikin helikopter kalau main GTA,” ujar anak yang masih menggunakan seragam putih merah itu.

Tindakan brutal diakuinya telah dikenal sejak dia memainkan game bertajuk aksi atau perang. Tak salah ketika dia pernah bercerita soal temannya yang pernah mencoba menendangnya dengan gaya atlit game Smackdown.

“Game itu tergantung cara penggunaannya. Jangan anti-game, jangan juga buta pro-game. Tidak semua game memiliki karakteristik yang cocok untuk dimainkan oleh anak semua umur,” tutur Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, seperti dikutip dari Liputan6.com, Kamis (28/4/2016).

Target umur memang sudah tertera di setiap game, sebenarnya tak sembarang gamer yang bisa menikmati game tertentu terkhusus yang mengandung kekerasan dan pornografi ini. Semua kategori umur telah diatur dalam Entertainment Software Rating Board (ESRB). Tindakan radikal dan brutal setidaknya dapat disaring melalui kategori umur tersebut sehingga dunia maya tak menuntut generasi penerus bangsa untuk bertindak sesuai permainannya.

Sumber Gambar: idntimes.com

Judul Film : Bali: Beats of Paradise
Sutradara : Livi Zheng
Penulis : Ken Zheng
Pemain : Nyoman Wenten, Nanik Wenten,
 Robert Lemelson, Norman Hollyn, Don
Hall, Umar Hadi, Balawan , Judith Hill
Genre : Dokumenter
Tanggal Rilis : 16 November 2018
Negara produksi : Amerika Serikat

Sinopsis:
Bali: Beats of Paradise merupakan film dokumenter musik yang menceritakan kisah di balik layar pembuatan sebuah music video. Uniknya, lagu berjudul Queen of the Hill yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi asal Amerika Serikat bernama Judith Hill ini dikolaborasikan dengan tabuhan gamelan Bali. Selain itu, cuplikan diiringi tarian asal Bali serta diisi oleh petikan gitar oleh musisi asal Bali, I Wayan Balawan. Tidak hanya menceritakan mengenai kisah pembuatan musik video, film ini juga mengangkat kisah sosok orang hebat yang telah berjasa dalam keberhasilan kolaborasi antara musik modern dan tradisional dalam video musik tersebut.

Ia juga orang yang telah memperkenalkan gamelan Bali ke berbagai penjuru Amerika Serikat. Tidak sendirian, Bapak Nyoman Wenten ditemani oleh istri tercinta yang juga merupakan seorang penari asal Bali. Dikisahkan bahwa sepasang suami-istri ini sudah berhasil membawa kebudayaan Bali hingga ke mancanegara, bahkan berhasil memainkan gamelan di depan tokoh besar seperti Mao Zedong dan Kim Il
Sung.

Film ini juga menceritakan tentang awal perjalanan Nyoman Wenten jatuh cinta pada sebuah seni, perjalanan hidup. Hingga akhirnya, Ia dan istri memutuskan untuk membawa
kebudayaan ini ke mancanegara dan menjadi dosen Gamelan dan dosen tari di berbagai universitas di Amerika Serikat.

Review:
Inspirasi kisah film ini diakui oleh Livi Zheng sang sutradara, lahir dari kegelisahan pribadinya, dimana sebenarnya gamelan sudah dipakai di berbagai film besar, salah satunya Avatar dan Star Trek. Namun, orangorang banyak yang tidak tahu apa itu gamelan. Berawal dari keprihatinan tersebut, maka timbulah keinginan untuk membawa nama gamelan agar lebih dikenal, salah satu caranya
melalui film ini.

Tema film dokumenter ini memang terbilang unik, karena menggabungkan dua hal aliran yang bertolak belakang yakni tradisional dan modern. Namun, disamping hanya sebuah film,
juga dihasilkan karya lain yaitu sebuah video musik hasil perpaduan dua hal
tersebut.

Bagi siapapun yang menonton film ini juga dapat merasakan bahwa sepanjang film terdapat nuansa
kebudayaan Bali yang kental, dimulai dari audio hingga visual, walau tidak semua bagian mengambil latar di Bali.

Film ini juga menceritakan inspirasi mendalam, mengenai orang-orang
hebat yang selalu berjuang agar kebudayaan tradisional Indonesia tetap hidup dan mampu memberi sentilan pada setiap orang yang sudah mulai melupakan kebudayaan tradisional. Bahkan, orang luar negeri lebih tertarik dan ingin berusaha memadukannya dengan musik
modern.

Namun dibalik segi konsep cerita yang sudah sangat baik, disayangkan bahwa puncak dari film ini, yaitu video musik yang diangkat, gamelan bali yang menjadi bintang utama dalam film cenderung kurang menghiasi perpaduan suaranya. Sehingga, jika musik didengarkan tanpa visual, pendengar kurang bisa merasakan atmosfer gamelan yang diangkat. Secara keseluruhan, film ini menjadi
inspirasi bagi karya anak bangsa.

Sebuah tontonan wajib masyarakat Indonesia, terutama yang berada diluar negeri, untuk mengingatkan bahwa dimanapun berada, tidak pernah ada alasan untuk tidak meneruskan dan
menjaga kebudayaan yang tersimpan di Indonesia.

Elke Devinna, Jurusan Jurnalistik,
Communication University of China,
Beijing

*Tulisan ini pernah diterbitkan di Tabloid Yinnihao, Edisi 3, Vol. 1, Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok.




“A heart, something that is unpredictable, something that we call as abstract feelings, something that is in a human being.”

A human that tried the best to give the smile to the world. Something that people call as domino effects, positive vibes, and even positive influences. It always depends on our heart. Trying to say that I am okay, and you are also okay. A smile with optimistic believe that you can give good impacts to the world, and so will you.

It looks easy to sometimes give people motivations and spirit. But, humans are still humans. Did you realize that one day, a smile can also fade out. Not in front of people, but from the smile itself. It is easy to always keep the smile for the people. But yeah it’s hard to keep the smile for ourselves.

The change to what happen to a different phase of life gives you a new memory. While, sometimes it feels like a blink on an eye. The memories becomes just stories. While humans are wandering of what will happen in the future. I also miss the past, the memories inside of it, especially the smile of the people inside of it.

The hardest part is to leave the people in the memories, but yeah as they said, life must go on right. It is very weird yet annoying, that our smile fades because of this. Becoming the person that we don’t use to be. Missing people inside the story.

Time flies, sometimes you need to forget yourself, and let the others replace what it should be. Remember, the blessings to keep back the smiles. Remember that the blessing are bigger than the problem. That is what this human should remember.

Realize, that the world weren’t all about materials, but the other values that may pop out with unexpected humans and feelings around it. Yes, still to notice, that because I’m still a human, and maybe in some points I might lose the smiles from this and I hope to bring it back again. 

Not perfect, cannot always be positive, not that easy to be what we want to be. Because, I’m also a human.


But still for that smile, to highlight it all, to make you realize

"that your blessings are bigger than your problem."
Beijing Museum Interior

Luasnya dataran Tiongkok tak pernah terlepas dari ciri khas bangunan tradisional pada setiap wilayahnya. Ciri khas oriental dengan atap dan sambungan yang begitu menumpuk menjadikan Negeri Tiongkok memiliki ciri khasnya sendiri dalam memberikan tampak bangunanya.

Untuk melihat dan mengenal arsitektur Tiongkok secara secara keseluruhan, wisatawan bisa melakukanya dalam waktu kurang dari sehari. Tak perlu berkeliling Tiongkok, tapi cukup mendatangi Beijing Ancient Architecture Museum ini. Maka keseluruhan sejarah bangunan tradisional dapat dipelajari dan disimak. Secara keseluruhan, museum ini akan menampilkan banyak prototype bangunan tradsional Tiongkok dari zaman ke zaman dan berbagai daerah.

Semua bangunan secara keseluruhan memang didominasi pada zaman dinasti Qing dan Ming. Namun, pernanan dinasti lain seperti Song, dan Tang juga ikut memberikan pengaruh.  Pada dasarnya, melalui museum ini dapat diketahui bahwa bangunan tradisional di Tiongkok bermula menggunakan tanah liat dan kayu, namun selanjutnya di dominasi oleh kayu. Dominasi kayu disini akan mudah menimbulkan kerusakan bangunan baik pelapukan, jamur, dll. Menurut keterangan di museum, para pengrajin mengakali nya dengan mengecat dan memberikan sentuhan seni pada setiap lapisan bangunan. Itulah mengapa bangunan kayu mereka sangat berwarna, dan sebagian besar di dominasi oleh warna merah, biru, dan kuning.

Menjelajahi tiap ruang lebih dalam, maka pengunjung akan menemukan Dougong, sebuah rahasia unik dibalik kuatnya bangunan tradisional Tiongkok. Ialah sebuah sambungan disetiap sisinya. Dougong menjadi unik untuk menjadi komponen dan ciri khas utama bangunan tradisional yang mampu meredam beban gempa dan angin.

Lebih khususnya lagi, perihal bangunan tradisional Beijing adalah yang paling banyak  ditampilkan dalam ruang pameran dan eksebisi disini. Bahkan, menuju pelataran  museum tengah, pengunjung akan menemukan peta relief horizontal kota Beijing dengan skala cukup besar memenuhi seperempat ruangan pameran.

Delapan hal Pedoman 

Kemegahan dari bangunan tradisional di tiongkok dapat ditelisik disini melalui pameran beberapa perkakas dan metode yang dipakai pada peradaban Tiongkok. Delapan poin pekerjaan yang diandalkan mereka yaitu melalui tile work (pekerjaan pengubinan), earth work (pekerjaan lahan), stone works (pekerjaan batu), carpentery work (perkayuan), drawing work (menggambar), oil painting work (pengecatan), scaffolding work (pembentukan rangkaian), dan paperhanging work (pekerjaan kertas gantung). Semua proses ini di tampilkan dalam setiap ruang ekspedisi yang membuat pengunjung semakin mengerti esensi  arsitektur Tiongkok pada masanya.

Tak heran karena kesukaan masyarakat pada angka delapan yang menunjukkan angka kesinambungan, Selain daripada delapan pekerjaan luar biasa, di museum ini juga dapat diketahui bahwa terdapat delapan skala ukur yang dijadikan orang-orang tiongkok untuk membangun bangunan tradisional. Delapan skala itu memaparkan dari penggunaan untuk bangunan tradisional skala kecil hingga yang memiliki skala besar. Biasanya dalam satuan mereka untuk delapan skala tersebut disebut dengan Cai atau 才。

Ada keunikan lainnya dari angka delapan yang masyarakat senangi. Hanya dengan modal tiket 8 yuan atau setara dengan kurang lebih 16 ribu Rupiah, para pengunjung bisa menjelajah ruang dan waktu perkembangan Bangunan tradisional di Tiongkok. Keunikannya, memang karena banyak angka delapan sebagai angka yang dianggap sebagai angka beruntung sehingga  dijadikan ukuran.

Bagaimana cara bisa kesini? Letaknya cukup berseberangan dengan Temple of Heaven yang bisa dijangkau melalui stasiun subway Tiantandongmen di line 5. Jadi akses untuk ke lokasi terbilang cukup mudah. Tak salah untuk dicoba, terutama para penggembar arsitektur dan kebudayaan negeri tirai bambu ini.




Penulis: Annisa Dewanti Putri, @a_dewanti_p

***Pernah dimuat dalam Detik Travel  https://travel.detik.com/dtravelers_stories/u-4029591/mengitip-bangunan-kuno-di-museum-arsitektur-beijing Detik
Somplak TED di Gubei

TED. Entah singkatan itu muncul kapan, mungkin saat kita pertama kali benar-benar menghabiskan dan bertemu untuk suatu tujuan organisasi di kala itu. Organisasi yang menjadikan kita bertiga sering jumpa dan tatap muka karena acara dan agenda. Awalnya niatnya begitu, tidak lama, semua keformalan itu berubah menjadi keseruan yang berujung kegilaan dan kesomplakan belaka. Tiffany, Elke, dan Dewan, itulah TED yang kumaksud. Kesengajaan atau ketidaksengajaan yang terjadi hingga akhirnya, kita anggap TED itu ada karena memang adanya.

Sebelum mengalir lebih jauh ke cerita, biar kujelaskan sedikit siapa tokoh utamanya. Berdasarkan urutan TED, ada T untuk Tiffany, bagiku adalah kawan yang kukenal pertama kali karena berhasil menyelundupkanku untuk kegiatan nomaden ku ke kampus-kampus setiap weekend di kala itu. Nyatanya, perlahan aku tahu bahwa sobatku yang satu ini adalah Pemimpin Majalah Cabe Rawit, aktivis di berbagai organisasi yang memendam banyak bakat seni dan musik terpendam. Itu yang terlihat di sampul, nyatanya Tiffany atau yang lebih kupanggil sebagai Cabe adalah sobat yang penyayang dan sangat sensitif melebihi permen kapas.

Tokoh utama berikutnya untuk E adalah Elke Devinna, seorang soban (sobat dewan) yang biasa ku panggil dengan sebutan Elpiji karena Profile Picturenya juga adalah seorang Boss di berbagai organisasi dan kegiatan. Namun, jika aku menyelami dirinya lebih dalam, ia lebih special dari yang kita pikirkan terutama cara pandang dan ceritanya, layaknya fantasi, bakat dalam jiwa, raga dan pikirannya sangat dalam. Kedua Somplak ini memang sangat mengisi hari-hariku meskipun kita tidak selalu sama zona dan waktunya. 

Diiringi tokoh berikutnya D, dewan, ya inilah aku. Mungkin menurut mereka aku aneh, tapi kadang bodoh tapi katanya pintar, tapi tetap ceroboh, dan sepertinya paling enak jika dijadikan samsag, kena tabok, atau kena marah. Namun seperti biasa, aku ga pernah anggap samsag mereka itu menyakitkan karena menurutku sangat menyenangkan dan kadang tamparan mereka adalah tamparan kasih sayang, lalu ditabok beneran. Haha. 

Mari Kita Berangkat
Oke, sekarang kita masuk saja ke ceritanya. Perjalanan TED ke Gubei Water Town atau 古北口 yang terletak di daerah Minyu, Tiongkok. Konon ini adalah kota air artifisial untuk mewakili Ini nyata, jadi mungkin akan lebih deskriptif dan naratif dibandingkan hal teknikal yang aku paparkan layaknya sebuah travel writer. Nampaknya ini akan lebih ke warna yang kualami. Jadi pagi itu 8.30 CST, seharusnya kami bisa sampai di Donzhimenwai untuk naik bis khusu bertuliskan kearah Gubei, dan turun di stasiun akhir Ticket bisa menuju lokasi adalah 48 Yuan.

Elke saat itu sudah sampai duluan, lalu disusul aku dan Tiffany. Pukul 09.00 pun halte sudah ramai. Namun, kami cukup menunggu sekitar setengah jam untuk berdesak-desakan dan berhasil secara arogan masuk ke armada yang menuju sana. Berhubung saat itu sedang Qingmingjie, mungkin inilah alasan jalanan begitu macat dan ramia. Ditambah di kilometer sekian ada kecelakaan sehingga kami tiba lebih lama pukul 13.30 CST. Selama perjalanan akupun lebih banyak terlelap, efek dari kelelahanku di kampus pada hari-hari sebelumnya. 

kebodohan bersama tiket

Setibanya, kami cukup mengikuti jalan indoor kedalam hingga perlu memindai QR Code di electronic ticket yang sudah dibeli oleh Elke  untuk tur. Untuk informasi, ticketnya bisa dibeli online agar tidak perlu mengantri manual. Saat itu ticket yang kami beli adalah 170 Yuan, dimana 140 untuk masuk kota Gubei nya dan 40 yuan untuk Greatwall Simatai. Air begitu hijau dialiri sungai yang begitu dirawat. Lagi-lagi mungkin karena liburan Qingming maka agak sedikit ramai.

Sesampainya kami memasuki beberapa toko unik di dalam kota itu. Juga melihat banyak display makanan dan figura di jalan. Setelah sedikit menjepret berbagai lokasi yang sedikit menyentil, kami memutuskan untuk makan di kursi seberang sungai. Tempat cukup drama karena harus sambil mendengar orang-orang teriak untuk melihat air mancur memancar. Maka makan disitu ibarat sambil menonton pertunjukan. Meskipun sebenarnya kami yang lebih banyak dilihat orang-orang karena jarang-jarang ada orang piknik seperti kami. Kala itu, kami memutuskan untuk membawa makanan sendiri guna penghematan belaka. 

Elke memasakkan kami bakwan dan jamur yang mengingatkan kembali ke masakan tanah air. Tiffany membawakan desert yang aku lupa namanya apa, hanya enak sekali, rupa seperti kue cokelat dicampur biscuit dan sedikit keju. Aku membawa Pisang dan blueberry, kesukaan Elke dan Tiffany dan nasi kuning yang tidak terasa seperti nasi kuning namun waranya saja yang kuning. Pada akhirnya karena mereka kekenyangan, aku lah sang penghabis semua makanan yang membuatkau sedikit bodoh dan ngefly karena terlampau kenyang. Kalau boleh dibilang makanan mereka enak sekali, sampai sekarangpun masih teringat rasa itu. Sungguh masterchef keduanya itu.

Kekuatan Piknik TED

Seusai makan, kami memutuskan untuk pergi berkeliling lagi karena memang komplek gubei ini begitu luas untuk dijejahi. Maka karena sudah sore, kami putuskan langsun ke Simatai Greatwall sebagai bagian dari Komplek Gubei. Karena, Elke dan Tiffany memutuskan untuk ke Toilet yang ramai, sambil menunggu aku memutuskan untuk livesketching di salah satu sisi kota Gubei. 

Setelah usai, kami menuju pintu untuk menaiki greatwall simatai, namun ternyata baru dibuka kembali untuk malam pada pulu 17.30 CST. Dan karena mengantri saat itu kami memutuskan untuk berkeliling ke tempat lain dahulu sambil memotret dan ke WC lagi. Entah mengapa kami sangat menyukai WC disini berbeda dari WC umum diluar sana yang begitu menyakitkan. Disini begitu asri, indah dan nyaman.
kebodohan sambil menunggu

Sekembalinya kami ke pintu masuk simatai greatwall, kami tetap harus mengantri hingga obrolan demi obrolan kami lewati hingga kami berhasil masuk ke dalam dan ternyata. Simatai Gretwall nyatanya hanya bisa dinaiki dengan Cable Car pada malam hari. Elke terkejud karena ternyata tiketnya hanya untuk masuk. Maka dengan kelihaian berbahasanya dia berhasil menjelaskan ke petugas dan kembali mendapatkan tiket seharga 160 yuan untuk cable car pulang-pergi.

Sesampai di Cable Car, nyatanya kedua sobatku ini takut dengan ketinggian dan ingin rasanya meledek tapi aku tak kuasa hingga mereka hanya saling genggam menggenggam. Lagi-lagi aku terpukau dengan bagusnya pemandangan mengambil sedikit gambar sementara mereka ketakutan semacam sedang dilanda ujian nasional haha. Adik kecil disebelah kami pun ikut menonton drama ketakutan ini. Tapi tetaplah ketika ada kamera mereka pandai sekali menyembunyikan wajah ketakutannya menjadi wajah sok ceria.

Kebodohan Cable Car
Sesampainya diatas, kami perlu mendaki sedikit dua kilometer untuk mencapai deretan Greatwallnya dan mendapat pemandangan keseluruhan Kota Gubei secara nyata dengan lampu-lampu nya yang indah dikala malam. Kami sebentar duduk menikmati pemandangan diatas seraya terbawa fantasi negeri langit diatas kerajaan kota bintang dan lampu.

Kemudian kembali dengan rute yang sama dan menaiki kereta kabel kembali dengan drama-drama ketakutan yang ada namun sekarang lebih mendingan karena mungkin Elke dan Tiffany sudah berhasil menaklukkan ketakutannya sendiri. Maka melalui rute yang berbeda pun kami memutuskan untuk kembali pulang karena khawatir tertinggal bis terkahir. 
   
Niatnya Pulang, Berujung bermalam 

Mengintip momen foto Tiffany, beberapa mengomentari keanehan topi nelayan kami yang sama dipakai namun beda warna. Lalu ada sebuah komentar dari kawan kami “Jika kesana menginap saja karena malam sangat bagus di Gubeikou.” Baik kami tidak ada rencana bermalam disini karena memang bisa melampaui budget kami. Tapi, dibalik ketabulan dan kesantaian itu aku sedikit berfirasat bahwa kami tidak akan keburu bisa pulang hanya aku pikir banyak cara lain.

Mengapa? Hal dadakan seperti ini memang tidak baik namun seringkali kualami dan aku selalu percaya bahwa pada dasarnya selalu ada cara dalam kondisi apapun. Mungkin pikiran ini muncul memang karena aku begitu menikmati tempat ini ditambah saat itu bersama para Somplak TEDku yang mana sangat jarang aku menghabiskan waktu non formal bersama mereka. Seringkali karena perihal akademis dan organisasi. Bagiku momen ini sangat berharga kunikmati bersama mereka apapun yang terjadi sesomplak apapun itu.

Maka… Benar adanya kami kehabisan kendaraan, Elke bertanya banyak orang bahwa semua bisa dan kendaraan untuk kembali sudah habis dan kami tidak bisa kembali. Bukan tidak bisa, namun mungkin banyak cara. Muncullah berbagai ide. Mungkin bisa kusebutkan satu-satu kemungkinan yang bisa ada dan pertimbangan yang bisa dilakukan jika ada yang mengalami keadaan sama seperti kami.

Pertama, ada banyak tawaran taksi gelap untuk menuju lokasi kembali. Saat itu tawarannya adalah 500 Yuan. Tapi perlu dipertimbangakn, ini bisa jadi biaya lebih karena seringkali ketika sampai mereka baru mencharge hal lain selain itu. Taruhlah dari bandara saja, banyak yang bisa kena tertipu sampai 400, bayangkan jika dari luar kota. Baik, kami singkirkan bagian ini.

Kedua, ada suatu cara yaitu mencari penginapan, namun ini mahal jika di dalam komplek, kami sudah cek di media online. Cara menginap kedua adalah ternyata bisa menumpang dengan warga lokal antara 100-150 yuan per orang. Maka kami singkirkan lagi pilihan ini karena kurang lebih akan sama saja jika kami bertiga tidak beda dengan kembali dengan taksi gelap.

Ketiga, ada acara lain yang sedikit nekat yaitu kami mendapat ide untuk mungkin menumpang dengan salah satu travel atau keluarga yang hendak kembali ke Beijing, namun ini sangat jarang karena kita bisa jadi harus melakukan pendeketan lebih dan lebih hati-hati.

Berikutnya, ada terbelisat ide bodoh nan cemerlang dari Elke untuk menumpang tidur di salah satu bis yang mungkin menginap. Namun, kami saat itu tidak menemukan yang benar-benar akan menginap. Tapi hal ini mungkin dilakukan.

Baiklah, ada terbelisat cara lain yaitu biasanya bisa kami lakukan untuk menghabiskan waktu di salah satu tempat makan yang 24 jam, aku yakin tempat ini ada karena adalah lokasi turis dan syukurnya kami menemukannya di dekat pintu keluar. Maka ini adalah ide terbodoh dan sedikit  out of the box kami untuk menumpang makan dan menghabiskan bermalam disini hingga pagi dan kami kembali.

Bungkus. Kami melakukannya , ada sebuah tempat makan sebelah hotel yang kami akhirnya masuki untuk memesan makan malam. Dan sekitar pukul 00.00 makanan kami seharga 124 Yuan itu habis dan kami pakai sisa waktu kami untuk mengobrol menghabiskan waktu hingga terkadang sang pelayan disana mungkin Nampak bingung kami tdiak pulang-pulang. Hingga akhirnya mungkin mereka mengerti bahwa kami disana karena kebodohan kami tidak bisa pulang.

Berakhirlah aku banyak mendapat cerita dan seraya didongengi oleh hal yang berbeda dari kedua sobat ku ini Elke dan Tiffany. Hingga akhirnya aku mendapat mereka menggambar di lembaran lembaran yang biasa kupakai untuk sketsa.

Lagi-lagi aku tenggalam dalam kisah dan goresan mereka hingga pada akhirnya mereka ngantuk dan 
tertidur diatas bangku restoran dan meja. Sampai malam dingin, namun mungkin secara fantasi kami merasa hangat oleh kebersamaan kami. Hingga pada paginya kami bangun karena menggigil. Aku juga seperti sedikit mengigau karena krisis tidur. Inilah yang menyebabkan muka sangat seperti bantal.

Keesokan paginya, di restoran 24 jam kesayangan kami yang ada Wc kesayangan kami juga, kami memutuskan untuk sarapan karena menurut kami cukup enak dan mewah. Maka, untuk sebuah buffet makan pagi kami menghabiskan 48 yuan per orang. Namun, itu sudah sangat kenyang sampai sampai aku melihat Tiffany bolak balik ke Wc dan menambah lagi. Pun Elke memberikan ku oplosan susu kedelai dicampur the creamer dan kawan-kawannya dan ternyata enak.

Baiklah, bagiku segalanya menjadi enak. Meski kadang ada sumbu pendek diantara perjalanan ketabulan ini yang seharusnya bisa lebih teratur kalau kami antisipasi untuk menginap. Tapi, taka pa tanpa cerita ini semuanya tak akan berwarna seperti ini. Dan disini kami melewati dari seru hingga sakit pinggang dan menggigil hialng secara bersamaan sepulangnya dari Gubei. Aku berharap cerita ini akan menjadi momen dalam album kenangan kita sebagai SOMPLAK TED. Wo zhende ai nimen lah..

Kebodohan lagi..



Penampakan Gubei Water Town Jika Bosan melihat penampakan kami.






Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Juli-Agustus: Kembali Lagi Lembaran Baru
Saat itu aku mendapat mandat juga untuk menyelesaikan sebuah ilustrasi untuk buku. Meskipun bidang keilmuan ku bukan di bidang seni, tapi karena hobi ini menjadikanku untuk bisa menjadi illustrator dalam buku ini. Pada bulan ini juga aku menyaksikan banyak momen bahagian kelulusan teman-temanku di Beijing. Bersama Cece dan Bang Afif kami juga sempat kabur sejenak ke kota Tianjin untuk hunting foto. Yang menyenangkan adalah bahwa kami bisa saling memoto.
Kepulangan ke Indonesia juga memberikan cerita tersendiri. Di bulan itu, aku pulang namun seperti hanya sekilas karena kepulanganku lebih sering dihabiskan di luar karena berbagi kegiatan yang ada. Alhasil, mama sempat mengeluh dan menjadikanku harus bertekad untuk pulang juga pada liburan berikutnya.

Berkelana Jeprat jepret bareng afif dan cece, Tianjin

PPIT Edu Expo. Aku terlibat untuk membantu dalam Edu Expo Jakarta, Bandung, dan Bogor. Sambil mewakili studi tiongkok juga, aku mencoba sedikit membantu teman-teman merealisasikan acara yang bertujuan baik ini.  Ada tiga penamaan berbeda dari tiga tim kotaku ini, Tim Bandung lautan api, FF6 Bogor (Fast Furious, Karena kita sempat ngebut2an pas komvoy bawa mobil, jangan ditiru ya), dan tim kokasnya Jakarta (Karena kokas di Jakarta). Disini aku bertemu banyak teman-teman tim yang asiknya diancungi jempol. Kita bisa inisiasi acara dalam waktu yang sangat mepet, memang lelah dan capek sekali menjelang hari H. Tapi ketika bisa berbagi bersama teman-teman rasanya sudah bahagia sekali.

CIDY 2018. Conference of Indonesia Diaspora Youth 2018, mewakili undangan untuk teman-teman PPI Dunia, aku ikut kecebur di dalamnya juga. Tentunya seminar dan workshop kala itu sangat bermanfaat dan semakin ngebuka mata soal Diaspora di dunia. Ini juga hari pertama aku ketemu langsung sama Mbak Ita (Shinta Amalina) ku selama ini kami hanya kerja jarak jauh dan somplak-somplakan jarak jauh. Tapi si pemegang rekor Muri itu di hari itu sudah berasa akrab banget rasanya, baru ketemu aku udah diunyel-unyel dan aku dicubitin,  dan enak banget aku ngecengin dia juga tentang rekor MURInya sebagai perempuan termuda S3.

Ekspedisi Cilincing. Program live-in yang dilaksanakan oleh Departemen Sosialnya PPIT ini sungguh menyenangkan karena disini kita ditantang buat lagi-lagi keluar dari zona nyaman dan terjun ke masyarakat. Unik karena lagi-lagi disini aku bertemu dengan teman-teman baru yang punya warna dan ceritanya sendiri. Hingga kusadari bahwa semua manusia di Bumi ini unik dan special. Sama seperti keluarga kecil yang menjadi tempat tinggalku saat itu. Banyak cerita masyarakat yang membuatku tenggelam juga di dalam kisahnya. Lagi-lagi membuatku untuk lebih bersyukur dan bangga bisa berkenalan dengan teman-teman yang mau terlibat di program ini.

September-Oktober: Yang Tak Disangka
Bulan ini setiba di Beijing akupun tak tahu kenapa begitu sakitnya hati menyesuaikan lagi harus keluar dari zona nyaman setelah kembali dari tanah air. Dimana tahun peneilitian bagiku adalah tahun yang cukup serius karena dibebani dengan tanggung jawab untuk terus menghasilkan progress yang secara keilmuan harus benar. Rangkaian rutinitasku pun dari pagi hingga malam pada hari biasa adalah kembali bereksperimen atau ke laboratorium.

Pun terkadang bersama rekan Urban Sketcher Beijing aku masih suka melepas penat dengan ikut sketchwalking dan pameran bareng. Namun, terhitung di semeseter ini kegiatan livesketching ku sedikit berkurang intensitasny disbanding semester sebelumnya.

Banyak berita tak disangka yang menjadikan aku, elke, Tiffany, dan beberapa teman-teman PPIT Pusat yang harus tiba-tiba terjun untuk mengurus Rapat Kerja Tengah Tahun (RKTT) di Beijing. Beruntungnya, disini Elke bisa sangat diandalakan dan enak diajak kerjasama. Tak lupa juga teman-teman Permit kepengurusan baru juga sangat enak untuk digandeng. Menjadikan pekerjaan ini lelah namun menyenangkan untuk dijalani.

Selain itu aku ditawarkan untuk bisa masuk dalam tim Indonesia Diaspora Connect oleh Foundernya Bang Arief, awalnya aku keberatan karena terlampau banyak amanah yang aku lewati. Namun, setelah aku mempertimbangkan bahwa misi dan visi IDC ini sangat baik untuk jangka panjang. Jadilah aku sepakat untuk bergabung.

November-Desember: Semua Tentang Penelitian
Di bulan ini aku berhasil menggandeng Kak Made (Pegiat dan mahasiswa S3 Porto University) dan Kak Riri (Traveler dan aktivis Lingkungan) untuk jadi bagian dari roda Greentastik_id ke depannya. Lalu, di bulan ini aku bagaikan tertampar oleh banyak pengingat soal penelitianku di bagian kedua ini yang cukup mengurus mental karena sulitnya bidang penelitian yang menharuskan ku belajar lintas jurusan. Pun tantangannya disini bukanlah seperti di Indonesia yang bisa dengan bebas berdiskusi dan belajar bersama. Konsep disini lebih ‘Self Study’ dan mandiri juga diperkuat dengan tekad kerja keras.

Photo Competitin mewakili Indonesia

Berita terbaik adalah setelah aku mengikuti seleksi kontes fotografi yang cukup ketat dan dinilai langsung oleh ahli fotografer. Karena kompetisi ini tak hanya mencakup pemuda dan pelajar, tapi juga seluruh masyarakat umum maupun professional. Alhamdulillah dari total seribu lebih karya yang masuk, foto ku masuk ke dalam Top 50 Best Shot. Disini ada kategori lain untuk Online Vote dimana butuh like dari akun lain di Wechat. Usahaku hanya rajin membagikan di grup dan berharap di bagikan kembali oleh teman-teman dan Alhamdulillah tidak sedikit dari mereka membantuku menyebarkan link voting ini.

Pada akhirnya Alhamdulillah di acara puncak penyerahan penghargaan, fotoku “Beijing Art Never Dies” mendapatkan juara III untuk kategori Expert Views (Penilaian juri professional) dan juara I untuk Online Voting. Di hari bahagia ini, ada kejadian mengesalkan dimana aku tersangkut di dalam yurongfu karena reseleting macet dan menyebabkan aku harus merusak paksa jaketku itu. Lalu Plakat penghargaan ku yang setelah di foto gelinding di tangga lantai dua hingga pecah atasnya. Namun, semua itu tetap kusyukuri karena proses dibalik gambar ini yang kunikmati.

Mendekati akhir tahun, tepatnya 27 Desember, ada kejadian yang berikutnya membuatku sedih namun jadi membuatkau semakin bersyukur. Salah satu lab teman seangkatanku di Beijing Jiaotong University kebakaran dan memakan tiga korban mahasiswa meninggal. Aku dan pihak kampus turut bersedih dan dampak ini membuat semua lab eksperimen kami dan kampus lain jadi semakin ketat. Namun, aku jadi semakin bersyukur bahwa dulu aku nyaris menjadi bagian dari lab Teknik Lingkungan itu, namun Professor struktur lebih memilihku berada di Lab Gujian. Entah Wallahualam apa yang terjadi jika aku tetap bersikekeh di lab teknik lingkungan tempat kejadian itu.

29 Desember, Fun For Fun ke greatwall. Bareng Departemen PPI Tiongkok dan Penulis novel Candi Brahu Pak Yos. Kita ditantang untuk lari 2 Km di Tembok Raksasa. Cukup menarik, dengan dalih mendapatkan medali aku mencoba ambil tantangan itu lalu sambil menyelam minum air juga sempat menuliskan dan mendokumentasikan perjalanan teman-teman disini.

Pada 30 Desember, tanggal yang sempat ku tak hiraukan karena itu hari lahirku dahulu kala yang mana setiap detik mengingatkan ku akan segala kesalahan yang kulakukan. Namun, aku juga senang karena doa-doa, hadiah-hadiah, dan motivasi dari keluarga, sahabat, teman-teman dan saudara. Di hari itu, aku kebanjiran beberapa peritilan hadiah, buku, bahkan ucapan baik dari kawan Indonesian ku maupun kawan internasional ku di jurusan dan dorm dan itu cukup membuatku senyum. Dan yang terpenting di siang hari sambil makan siang, mendapat banyak wejangan dan bekal super dari kakak-kakaku di Beijing yang sudah seperti kakak sendiri, sebutlah Mba Aang, ci Okky, dan Mbak tika. Di malam hari pun, tak kalah spesial oleh TED ku, Elke si Elpiji dan Tiffany si Cabe memberikan surprise yang bukan kejutan. Mereka pun menghabiskan tanggal 30 ku ini sambil rapat PUSMEDKOM PPIT sampai keesokan harinya. Benar-benar 2018 ini aku banyak bertemu orang-orang yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Aku sayang mereka semua, semua adalah pelangi bagiku.

Terakhir, di hari terakhir 2018 pun, aku dihadapakan oleh Deadline akhir tahun terkhusus untuk labku tercinta. Alhasil aku menghabiskan banyak waktu di lab dan dorm untuk membantu menyelesaikan laporan dan presentasi yang nantinya akan disampaikan pada pemerintah Shaanxi di awal tahun.

Teruntuk Mama, Papa, Keluarga, SLK, LKM UNJ, Event Hunter Indonesia (EHI), UNJkita.com, Lingkar Pengajian Beijing (LPB), PPI Dunia, PPI Tiongkok, Greentastik Indonesia, Urban Sketcher Beijing, Pustaka Kaji, Indonesian Diaspora Connect, Studi Tiongkok, CAYC 2018, ISCES 2018, Tim Gujian, semua sahabatku dan teman-teman yang terlibat dalam tahun 2018 ini. Terimakasih tidaklah cukup, tapi aku bersyukur karena semua bisa jadi pelangiku disini.

Beijing, Desember 2018. Saat aku menyadari dan bersyukur bahwa yang kualami adalah pelangi darimu Ya Rabb.

Warcabs feat gengsos Puskom PPIT

Pusmedkom. Pusat Media dan Komunikasi. Ya namanya juga jembatan ya, kalo katanya di jaket ‘No us, No crowd.’ Ga rame kalo ga ada kita. Ibarat kita itu toa, jembatan, speaker dangdutam, tameng, kame kameha kagebunshin sama koran dan papan billboard PPIT kali ya. Apalagi Ikon nya Saitama dan kepala sukunya Kak Mulia.

Oke, berhubung posisi ku ini ga berarti banget (read:deputi) kenapa? Karena sebagian besar pekerjaan support lebih banyak dilakuin teman-teman lain. Makanya mungkin ucapan terimakasih aku ga ketara banget buat kalian sebagai pedang dan tameng PPIT ini. Dijudul aku ngeduluin Gengsos, tapi di cerita aku bakal ngeduluin Warcabsku, kenapa? Karena kalian ga ada duanya. Sama-sama numero Uno Buat aku.

WARTAWAN CABUTAN

Warcabs ini singkatan dari Wartawan cabutan. Kenapa? Karena mereka mahasiswa yang bisa menjelma jadi Wartawan disela sela kuliah. Bayangin, jarang-jarang ada mahasiswa Indonesia ynag mau berkarya lewat tulisan secara intens. Pada dasarnya mereka pahlawan literasinya PPIT.
Teruntuk Kalian, warcabsku.

Buat Ka Reza sang manajer aceh sebagai Manajer Publikasi, makasih banyak kak sudah banyak nularkan banyak gaya system kerja jurnalis ke dalam system kerja PPIT ini, kami jadi sedikit membuka mata soal ini dan link-link ke berbagai media. Mohon jangan tenggelam ya Kak Reza karena dari Kakak kita bisa banyak belajar.

Lalu, teruntuk somplak TED ku, yang aku ceburkan sedari awal. Mulai dari

Elke sang Elpiji, partner in crimeku, mirip julukannya, dia pandai meledak. Aku mulai ngenalin bakatmu ini sejak habis aku rilis tulisan di acara Permit, pemikiran mu kritis dan aku lihat kamu pandai melihat hal dari berbagai kacamata, aku sering tenggelam dari diskusi yang suka kita bicarakan. Ga salah dia Kuceburin jadi Kadiv Artikel pantas pula jurusannya kan juga jurnalistik, linier sekali. Setelah-setelahnya makasih banyak ya udah mau kecemplung di beberapa hal sama aku, roller coaster bareng kita haha berarti banget. Bos KKIB dan RKTT ini Kalo katanya spesial kaya martabak, makanya selalu enak dikuykan. Haha. Tetap drama yak arena dramamu yang selalu dirindukan.

Lalu, ada Tiffany si Cabe, kawan saingan bodoh2anku. Kenapa Cabe? Karena dia Ketua Cabe-cabean, ga deng karena dia Pimred Cabe Rawit. Ga heran kan kenapa aku geret dia jadi kadiv tabloid. Ini kawan somplakku tetangga kampus sebelah yang sering aku rusuhin. Sering berucap kasar, tapi hatinya padahal lembut bagai marshmellow apalagi kalo lagi terharu. Haha. Seneng kompetisi bodoh-bodohan bareng dia. Makasih Be udah sering bantu backup, nemenin main piano dan nyomplakin aku selagi di Beijing. Tetap semangat skripsi komputernya dan lanjut master medianya sang maestro jago bahasa korea. Haha

Lalu ada pejuang kesayanganya nih mulai dari  abjad ya berdasar panggilan.

Ada Aul si aktivis juga. Udah pernah dua kali berarti kesempatan wawancara dia, dari dia petama jadi mentor di School of Talk, ternyata kita ketemu lagi di divisi ini ya mbak aul. Unik, tinggal tingkatan kepolesanmu di bidang tulisan lagi biar ciamik ya. Rilis RKTT nya oke loh hehe. Ada juga

Dhifa Dokter depok hehe, sesuai nama instagramnya. Dokter ini pegiat luar biasa, senang karena pas di Jakarta bisa dikuyin juga untuk aktfi padahal anak Depok. Responya juga oke soal jadi editor. Semangat terus ya Dok, teruslah menulis.

Boss Falah topi blangkon. Ini ciri khas dia sejak pertama kuwawancarain. Ya paling rajin untuk sharing hal-hal konten PPIT dan paling rajin kasih jempol. Ditunggu bos, produksi tulisan-tulisannya ya. Jangan sampe ketuker lagi nama dan tulisannya hehe.

Mas Regra yang kalem. Luar biasa kalemnya, tapi tulisannya tajam. Salut ketika tau tulisannya pernah naik ke media cetak. Cukup loyal dan lagi-lagi mas reg kuy keluarkan ide-idemu, aku tau tulisanmu dasyat.

Risti andalan kita. Kenapa? Karena aku senang sekali dengan konsistensimu yang terus mengupayakan webinar kepenulisan kita saat itu. Meski banyak bentrok tapi kamu tetap menjalankan tugas dengan baik. Pun, tulisanmu juga unik apalagi yang soal Wisuda itu. Lanjutkan dan ditunggu ya kanda, eh yunda. Haha (keinget panggilan ketuker).

Syafii sang Multitalen. Dokter ini ternyata merambah ke dunia kepenulisan juga. Dan bahkan merambah ke dunia lain sampai ke pertandingan naga-nagaan wuhu.. Salut syaf, jurusan mu ga membatasi semuanya. Pun tulisan-tulisanmu juga. Semakin tajam dan terpercaya. Semoga amanah di proyek sosialmu ya aka Natuna Membaca. Aku percaya kamu disana karena suatu alasan.


GENG SOSIALITA

Nah ini dia tameng nya PPIT juga, garda terdepan macam Knights watch nya Game of Throne. Siapa lagi kalo bukan mimin-mimin kecehku.

Mulai dari bossnya Yuri Manajer Dokter Kekininan. Gaya bicaramu yang khas Yur udah bisa nyiptain bom di PPIT sejak sedari awal rapat pertama kita lewat yel-yel. Suka dengan caramu menjaga garis koordinasi dan selalu terus terang apa adanya. Semagat juga ya Yur di PPID, pastinya sulit ya bagi waktu tapi aku yakin kamu bisa dok. Tetap dijaga kesomplakannya biar unik ya. Tetap jadi Yuri dengan gaya khasnya juga yang mendunia.

Lalu ada Wiwin Sobat Siar Sosialita. Penyiar juga, Kadiv  MSM juga, cocok lah jadi mungkin berkicau di dunia Tarik suara plus di dunia sosial media ya win. Makasih banyak udah bisa koordinasi ke teman-teman secara terstruktur ya sampe dari roda oglek sampe roda stabil. Tetap
Semangat ngelabnya juga Bos Sobat Siarku. Hidup lab jangan lupa hepi.

Buat Bos Juragan Stefani. Pengusaha yang forntal dan cukup kritis, jadi andalannya CSM. Tukang ngeledekin pake eskrim. Dan cukup frontal, ayo pake gas sama remnya stef biar makin jago soal Traditional Chinese medicinenya. Oh iya seperti yang kita pernah bahas stef, jangan lupa yuk kita pakai kacamata yang beda-beda, semangat bos kudeta makin jago bisnisny haha.

Nah, gengsos juga punya prajurit andalannya..

Khatami sang atlet. Mabroo makasih banyak buat kerja samanya sampai ke depanpun juga ya. Tulisanmu juga ga kalah menarik soal WIF, sering-sering nulis biar makin top ya kawan teknikku. Tetap sehat ya dan makin jago olahraga. Tetap eksis juga bro di gengsos.

Retha sang instagramable. Aku sering teralihkan sama postinganmu yang instagrammable banget. Cocok ya, jadi gengsos ternyata hehe, tetap semangat jadi CSM garda sosmed versi CK terdepannya ya Retha.

Sry dokter panutan. Aku udah kenal kamu dari tahun 2016. Perjuangan kita bareng bikin visapun masih kuingat. Makasih banyak sudah selalu bantu dan semangatin dimanapun Sry. Tetap semangat menginspirasi ya Sry makasih banyak udah kerja sama bareng CSMer yang lain.

Meisia yang lembut. Meisia sering banget bilang makasih, maaf, tolong dll. Sungguh baik sekali, hehe. Ayo kalau ada apa-apa di grup silahkan melipir aja ya Mei, jangan sampai dipendem sendiri, makasih banyak sebelumnya ya. Dan semangat.

Pantri sang Fast Response. Halo dokter Pantri yang banyak ide dan gagasan solutif juga di bidang sosial media. Kalau katanya Pantri vakum kalau lagi ujian. Wow, setuju karena kita balik ke niat awal ya Pan kalo kita kan Visa Pelajar. Tetap inovatif semangat 2019.

Via Pendiam Jago Dangdutan. Via yang pendiam di grup tapi padahal luar biasa serunya, keinget pas pertama kali wawancarain di akhir dia mau dangdutan sama kita. Semoga makin toplah ya jadi mimin-minin di gengsos kita. Tetap semangat dan sering-sering sharing di grup vi biar teman-teman ga rindu hehe.

Resolusi ke depan: Kuy kita siap-siap lagi jadi tameng penuh gebrakan dan ide yang berbuah karya. Dari mulai bikin copy write, konten, rilis, jebolin tabloid, sebar manfaat lewat live, webinar dan karya-karya lainnya. Tetap konsisten dan selalu inget sama visa pelajar kita. Plus ojo lali Let it Flow dan tetap senyum :) :) :). Salam hangat penuh dashyat dari skywalker kalian. haha (Maaf star wars geek nih).

Ucapan makasih buat teman-teman Media juga yang sudah banyak kasih support teknis, selebihnya maaf ga bisa dideskripsikan nanti bisa jadi kaya cerpen berlembar-lembar, ini aja grup komunikasi sendiri udh 3 halaman. Hehe. Yang jelas gerbarkan pusmedkom makin mantul. Esensi tulisan ini sebenarnya untuk apresiasi dan evaluasi kita bersama ya. Semoga makin baik, jelih, kritis, berpikir out of the kotak, selalu ngedepanin efek domino, dan semangat jadi yang terdepan dan mendukung dari belakang.

Akhir kata, dulu kalian pernah ngecengin aku ga hafal semua anggota dan keluargaku disini. Pada nyatanya aku ga perlu menghafal, tapi cukup mengenal kalian itu udah jadi bagian dari ceritaku disini. Azzekk haha.  Mungkin suatu hari kisah ini yang bakal jadi yang kurindu dari jutaan album yang aku punya dan pernah kutulis. Yaitu album dimana kita bisa jadi pedang dan jadi tameng bareng-bareng.


Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Januari-Februari: Saatnya Saling berbagi
Saat itu Januari menjadi saat kepulangan sejenak ke Indonesia. Tak lain bulan ini bersama tim School of Talk dari Studi Tiongkok telah mengenalkan ku dengan banyak sosok-sosok baru dari hasil wawancara dengan mereka. Unik, nyatanya setiap orang punya caranya sendiri dalam membantu orang lain.

 Tak lain saat itu pula teman-teman LKM UNJ mengadakan kajian malam bersama bersama diriku mengenai kisah kota sekaligus launchingnya Buku Pasar Ibukota dimana aku adalah salah satu penulisnya bersama rekan Eros. Jiwa membaca ini rasanya tertampar ketika bisa berbagi juga dengan teman-teman mahasiswa baru. Dilanjutkan dengan sesi sharing soal Sponsorhsip bersama unjkita.com menjadikanku mengenal lebih baru teman-teman dari kampus hijauku.

Pada bulan Februari, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bersama beberapa Ormas seperti Lingkar Pengajian Beijing (LPB), KKIB, OBM Manggala, BICF, dll mengadakan acara Bakti Sosial bersama. Saat itu, LPB hanya diwakili oleh aku dan Mbak Anggi, Namun, di hari Baksos aku berkenalan dengan banyak kawan baru yang menyenangkan dan sangat asik untuk diajak kerja sama. Tentunya mereka adalah kawan-kawan satu kota di Beijing. Yang selanjutnya aku semakin semangat ketika diajak untuk ikut kegiatan mereka.

Pertengahan Februari, aku memutuskan mengajak kedua orang tuaku berlibur ke Kuala Lumpur sebelum aku kembali ke Beijing. Sedikit ingin membuat neneku juga tersenyum. Namun disela sela itu aku menyempatkan bertemu dengan geng Indonesian Student and Youth Forumku. Rupanya mereka sudah bekerja dan pindah ke KL semua.

Sebelum pulang kembali ke Beijing, teman-teman event hunter Indonesia (EHI) pun juga menggagas sebuah kegiatan dimana aku menjadi mentor dan narasumber. Kami membuat beberapa video terkait program beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS). Disini, aku semakin terkesima oleh pergerakan dan karya dan semangat teman-teman Indonesia. Mereka adalah entrepreneur sejati.

Sebelum Kembali, aku bersama Dina dan Farhan mewakili stud tiongkok juga menyempatkan untuk hadir Bakti Sosial di Warung Yatim Maseng. Sedikit mengingatkan kami untuk terus berbagi dengan cara apapun itu.


Baksos Permit-LPB-KKIB-Manggala
Baksos bareng Studi Tiongkok, Dina Chaerani (Plan Indonesia) dan Farhan (Duta Bekasi 2015)


Buku Antologi Eros

Berlibur sejenak Ke KL
Habis Live Bareng TIm Event Hunter Indonesia soal Beasiswa (Para calon Pengusaha Muda ini) 


Maret-April: Duka yang tak Disangka
Saat itu memasuki bulan baruku di kota Beijing, aku kembali bersama Filone dan Ibu Alm.Yani (Orang KBRI) yang sengaja menyamakan jadwal tiket pesawatnya agar bisa kembali bersamaku karena beliau memerlukan kursi roda. Bulan itu juga aku terjun ke Laboratoriumku kembali. Laboratorium special yang khusus membahas tentang bangunan bersejarah di Tiongkok. Khususnya, disini aku membahas mengenai uji non destruktif untuk kayu dan evaluasi terhadap deformasinya.

Tantangan terberat berada di Lab yang notabennya sebagian besar adalah Mahasiswa Tiongkok sendiri adalah mereka memiliki standar akademis yang lebih tinggi. Ditambah jika aku harus mendapat sumber pula yang  berbasis Bahasa Mandarin. Kejadian itu pun terulang hingga aku tebiasa dengan sebutan ‘anak lab.’ Pun semakin banyak mahasiswa baru yang baru saja tiba dan mendaftar di Lab ini hingga sampai sekarang aku tak hafal semua nama mereka yang berjumlah 35 orang itu.

Tak lama di akhir Maret, aku mendapat kabar duka dari yang mereka bilang saudara somplak kembaranku Vika, Alm.Bu Yani meninggal dunia, aku tak menyangka, dia seperti Ibu kami di Beijing namun secepat itu dia harus pergi dan saat-saat itu kita membantu dalam prosesi dllnya sampai Jenazah dipulangkan dan aku merasa bertanggung jawab juga berada disamping kawanku itu yang sedang rapuh setelah ditinggal Alm. Ibu. Namun selang beberapa minggu keadaan mulai pulih.

Pada April 2018, kantor Internasional memanggilku untuk mewakili Indonesia dan Mahasiswa Asean dalam China-Asean Youth Summit di kota Shandong. Di sana aku bertemu banyak mahasiswa Indonesia juga yang mewakili dan beberapa mahasiswa Internasional. Yang unik, selama 3 hari kebiasan nomaden ku sejak semester lalu tidak hilang. Meski aku disediakan hotel namun nyatanya temanku dari Shanda yang juga merupakan ketua PPIT Qingdao membujukku untuk selalu nginap di tempatnya karena dia juga tinggal sendiri. Jadilah hanya koperku yang bermalam di hotel. Di forum ini aku mengenal puluhan sosok baru yang sangat unik.

bersama Alm. Ibu Yani sepulang ke Beijing
Delegasi Indonesia untuk ACYF 2018


Mei-Juni: Keberkahan Pindah Ruang
Senangnya hati ketika Jurnal PPI Dunia sebagai bagian dari gebrakan dan milestone pertama di bagian akademis terwujud dimana saat itu aku, Bang zakki, Mba Shinta, Bang Hakam, menjadi inisiatornya. Terlalu lelah memang mengingat proses ini begitu rumit dan cukup menguras pemikiran dan menjadi jembatan karya untuk bidang penelitian. Tapi setidaknya dari sana menjadi lega apa adanya karena Prorgam kerja yang kita harus inisiasi dan sempat dianggap remeh berhasil diwujudkan menjadi JURNAL PERTAMA dalam sejarah PPID. Alhamdulillah.

Saat bulan itu juga menjadikanku tercemplung di Organisasi PPI Tiongkok pusat. Yang mana menjadi cukup tantangan terberat karena aku belum melepaskan amanatku di PPI Dunia. Namun, demi niat kebaikan aku menerima panggilan itu dan pun juga berhasil menggeret beberapa teman-teman kepercayaan ku untuk bisa duduk bersama di organisasi ini. Tanpa mereka, kerjaku bukanlah apa-apa sampai sekarang. Lebih-lebih aku semakin mengenal banyak pelangi baru dan kisahnya disini.
Juni saat itu penelitianku bertajuk lingkungan membuatku terpilih mewakili Indonesia dalam International Student Conference on Environmental and Sustainability (ISCES) 2018 tepatnya di Shanghai. Aku bertemu dengan empat orang delegasi Indonesia lain yang mana mereka adalah hal terunik yang sama-sama memiliki misi lingkungan yang sama bersamaku. Pun, banyak delegasi dari negara lain yang menjadikan diri ini memiliki banyak perspektif baru soal lingkungan. Aku merasakanya ketika saat presentasi dan Focus Group Discussion. Alhamdulillah di acara ini pun aku mendapat penghargaan ‘Best Presentation.’

Pun selanjutnya kelompokku juga berhasil membuat video ‘Eco City.’ Yang hanya kami usung dalam semalam suntuk. Lagi-lagi di Shanghai ini kelakuan nomadenku tak hilang ketika harus mengunjungi seorang teman di Shanghai dan lalu aku terbujuk untuk menginap dan kembali keesokan harinya. Bukan hanya itu, di hari berikutnya akupun ikut buka bersama teman-teman permusim dan hari berikutnya di KJRI Shanghai. Betapa indahnya karena dalam waktu seminggu itu aku telah mengenal sekitar 180an teman-teman baru yang berbeda dan berhasil masuk ke beberapa kisahnya sehingga membuatku banyak belajar.

Kembali dari Shanghai, keesokan harinya aku harus kembali berangkat ke Shanxi, dimana tempat penelitianku berada. Aku berangkat bersama tiga orang kawan labku yang mana mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah aku selama seminggu terpaksa berpikir keras dalam berbahasa. DItambah saat itu adalah bulan puasa yang mendekati lebaran. Sempat aku cemas bahwa aku tidak aku tidak akan berlebaran bersama teman-teman sepenasib sepenanggungan di Beijing. Lebih-lebih aku mencoba mencari masjid terdekat namun nihil. Selisih masjid adalah sejam dan di Kota Wanrong ini tidak ada kendaraan umum selain taksi. Masya Allah H-1 sebelum lebaran kami akhirnya menyelesaikan pengambilan data itu dan pada saat itu aku bisa merayakan Idul Fitri di KBRI bersama kawan-kawan Indonesia ku dan itu cukup mengobati rasa rindu lebaran dari keluarga dan rumah.

Jurnal Perdana PPIDunia
Best Paper dalam ISCES 2018. Alhamdulillah
Petualangan Penelitian di Shanxi

Buka Puasa bareng Ibu KJRI Shanghai, Bu Ining


********Bersambung ke Bagian kedua********

by A. Dewanti P

“The Codes are made by the process of learning.”
Live SKetching the USTB Gymnasium. Author, 2018

Building and structures are one of harmless and sensitive case to be overall calculated as single figures. The overall structure that connects between Foundation, Column, Beams, Slabs, joints, and other components will need a deeply considerations toward the planning and designing. Overall, the standards for each component, materials, and even certain part of topic day by day increases due to the development need of infrastructures.

The all case will be very important, as builders know that the consequence of structure failure will overcome to damage and loss of lives. The effect will also impact not only the physically but also psychologically for humans and society. This is why the engineers are nowadays taking a lot of concern related to the Risk Assessment, reliability analysis, and even probability analysis. 

As in the 1750 B.C in Mesopotamia, the earliest code which contains some of building rule values here are written. It’s written on the stone carvings. This codex also contains many harsh consequence that may happen if a failure is discovered among it including to the consequence which is related to building structures.

In this codex, the responsibility of builders were defined based on the consequences of failure. If when the building collapsed has killed the owner’s son, then the builder’s son would be put to death. Then maybe, when the owner is the one who died due to the building failure, therefore the builder are the ones that takes this consequence. This creates a path that standards and rules to be followed as one of the things as lessons which is related to consequence, uncertainties, reliability, and probability for all case of procedures.

Now, the world are fitted by its own trust to the building codes that they made even categorized based on materials, or the method that they use. The most popular standard are standards from the International Standard Organization (ISO). Beside the building standards, all related to life procedures and standards are conducted and reviewed in this institution.

The others are namely American Concrete Institute (ACI) has developed many parts of standards for Concrete materials. Also, the Euro code based on European standards are known for some methods and standard designs. While, for Indonesian itself has its general standards which is the Standar Nasional Indonesia (SNI) with some more specific standards based on their institution. 

Everything should be checked and reliable to make sure that unwanted uncertainties and probabilities that may happen are to be zero. Which is in this case every standards in the world are also uncertain. Everything changes. Relatively, humans adjust and will try to make it reliable than before. Trustable and more precise to make sure that what is planned and designed are based on the lessons that they have learned before. Even, the standards are made by lessons in the past.

Reference: 
Andrzej S. Nowak, Kevin R. Collins. 2000. Reliability of Structures. New York: Mcgraw Hill Education.
https://www.history.com/topics/ancient-history/hammurabi accessed in 22nd of November 2018.

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch