Monday, February 17, 2020

Pelangi Juang


Pelangi yang tak Disangka. Penulis, 2020

 "Bagiku sederhana, semoga semua baik-baik saja meski hidup sangat berwarna.
Seperti pelangi mungkin, meski tak selalu muncul, tapi setidaknya keberadaanya menjadi senyum yang dirindukan."


Entah judul dan isi relatif untuk saling dikaitkan atau tidak. Tapi, setidaknya tulisan diakhiri dengan pelangi biar ga pusing sepenuhnya. Cerita sedikit tentang sepinya kantor konsultan desain asing untuk Mega Proyek negara ku ini. Biasanya, ada sekitar lebih dari empat puluh karyawan yang mengurus kesemuanya ini. Maklum, ada force majeure yang cukup berdampak pada negara yang baru saja kena penyebaran Virus nCov.

Aku di lantai 3, lantai para engineer dan designer untuk proyek. Mereka semua adalah senior-seniorku. Tapi sekarang hanya bersisa kami berenam, ada aku (Station Engineer), Mr. Sun (Alignment/Jalan), Mr. Chao (Subgrade), Mr. Wang (Geologi), Mr. Wu (Jembatan) dan Mr. Xu (Terowongan). Ini bukanlah bagian dari komplit untuk mewakili setiap bagian. Seharusnya ada bagian struktur, HVAC, MEP, Signal, Communication, dll. Dan perlu diingat, ini baru cakupan dari pihak internal dalam konsultan kami. Betapa banyaknya departemen yang ada.

Untuk pihak eksternal yang berhubungan dengan subkonsultan, supplier, kontraktor, pengawas, owner, bahkan antar konsultan seklipun, sudah beda lagi garis koordinasinya. Jadilah, ini seperti cerita duri baru buat diriku. Aku sangat belajar dari kemendadakan dan sesuatu yang tidak disangka dalam hidup yang bahkan mungkin sering keluar ungkapan itu dari diriku untuk tetap santai dan kalem.

Mungkin tidak berat bagi ragaku, semoga ia selalu pandai berjuang dan tetap sehat. Tapi jiwalah yang terkadang menantang. Untuk bisa merasakan keadaan orang-orang yang disayangi, ketika tau mereka sedang berjuang entah secara jiwa/raga/sakit juga. Inilah menjadi salah satu tanggung jawabku juga. Mereka hadir dalam hidupku dan tentunya kalau kekuatan diikuti dengan tanggung jawab juga. Artinya aku tetap berusaha kuat dan bisa berjuang untuk mereka yang membutuhkanku. Setidaknya berusaha ada untuk senyumnya.

Namun, ya tetap namanya manusia, dibalik lingkaran yang dia hadapi penuh senyum, sesungguhnya mental dan hati ini tetap berjuang. Bahkan Rasanya, bahagia dan dentuman semangat dari orang-orang terdekatku sangatlah berarti, meski terkadang hal itu hilang dan membuatku sangat menanti, terutama untuk orang-orang yang aku sangat pedulikan dan ingin selalu melihat mereka senyum dan baik-baik saja.



Terimakasih untuk semua warna. Itulah pelangi diantara badai yang tak disangka. Dan Pelangi yang tak disangka dipenuhi warna yang kita suka atau tidak suka. Tetaplah pelangi pada akhirnya.

Ditulis di Jakarta, disela-sela meeting yang entahlah.

Read more…

Monday, February 10, 2020

MENJAGA INDONESIA LEWAT FILM (SEMESTA)

Film Semesta. Sumber gambar: cinemags.com
Suatu kali, kamu seakan menjelajah ribuan pulau, terbang di atasnya. Berada dalam angan-angan layaknya burung garuda sampai pada akhirnya kau tersadar bahwa kau menjalajah nusantara.

Menikmati birunya laut dan pesona hijaunya dedaunan. Semua yang menapaki Negeri ribuan pulau ini memang bisa menikmati setiap sisinya. Namun dibalik itu semua, terdapat banyak sosok yang lebih mengindahkan untuk menjaga dibandingkan dengan menikmatinya.

Terhampar nyata seolah berkata “Indonesia, adakah yang akan merawat Indahmu?” Dalam beberapa cuplikan, penonton dibawa terbang di sebuah desa yang memperjuangkan Pembangkit Listrik Tenaga Micro Hidro (PLTMH) di desanya. Disusul dengan pergerakan berikutnya menuju beberapa daerah tanah air yang salah satunya mungkin familiar bagi sebagian orang. Ialah raja Ampat, di balik itu penonton akan menemukan banyak kisah untuk menjaga salah satu pesona Indonesia tersebut.

Lompat ke Bumi Langit, sebuah tempat yang mengangkat permaculture design dalam pengelolaanya dan mungkin telah saya banyak angkat di beberapa tulisan sebelumnya. Menyoal tentang pengelolaan berbasiskan kearifan lokal dan agrikultur. Tempat ini ada di Jogja. Dan masih banyak tempat lain nya yang akan memberikan beberapa perspektif soal pesona nusantara dengan dalih sambil menjaganya.

Penggarapan oleh Tanakhir Production ini benar-benar mengambil genre Dokuemnter yang tidak biasa. Penekanan terhadap keindahan membuat penonton terpesona dengan kontur, gradasi, dan lukisan tanah air yang diperjuangkan. Perpaduan antara soundtrack dan pengambilan gambar cukup mengantarkan imaji menjelajah di tujuh pesona tempat berbeda di Nusantara.

Film berdurasi kurang lebih sembilan puluh menit ini ternyata memang bertemakan lingkungan dan pernah terseleksi untuk di putar di Suncine International Environmental Film Festival (Barcelona, Spanyol). Untuk penyuka film dokuemnter, tentunya mungkin akan memberikan jempol lebih. Terkhusus bagi pecinta alam dan penjelajah.

Satu celotehan dari seorang Elke Devinna yang sering kusapa dengan Sob, sebongkah kalimat pikiran yang selalu terngiang saat ini setiap ada film Indonesia yang muncul. Celotehan itu tentang bagaimana kita mengapresiasi karya anak Bangsa dengan nonton langsung di Bioskop.

Padahal, sebelumnya aku mendengar sebagian orang justru berpikiran buat apa nonton di layar lebar, sementara film di Indonesia bisa di download bebas atau “Nanti paling keluar di TV biasa.” Namun, kacamata itu berbeda setelah aku tersemprot oleh kata-kata sang Dory itu yang mengarah kepada kecintaanya terhadap kearifan lokal. “Terimakasih sob, celotehanmu selalu terngiang di kepalaku, hehe.”

Tentunya pemirsa, penilaian selalu relatif dan bergantung daripada perbandingan dan bahkan cakupan yang dibandingkan. Namun bagi diri ini sebagai seorang Indonesia yang mengagumi Alamnya, sangat mendorong masyarakat untuk setidaknya menikmati film ini. Agar kita semua tersadar, bahwa Indonesia tak hanya bisa dinikmati tapi juga perlu dijaga.

Read more…

Tuesday, January 07, 2020

Postingan Pertama 2020: Perenungan dan Rasa Syukur

Sedikit sketchwalking olehku.
Postingan kali ini adalah yang pertama di 2020. Mungkin isinya sedikit lebih ngawur dari postingan formal biasanya. Anggaplah ini bisa menjadi tulisan renungan dan rasa syukurku agar aku bisa bangkit dan ikhlas dengan semua yang kujalani. 

2019. Tahun berwarna yang berlalu begitu cepat. Mungkin karena begitu banyak warna yang singgah. Kacamata baru silih berganti. Aku menghabiskan waktu bersama banyak orang-orang spesial yang sulit kudeskripsikan satu persatu. Begitu mendalam bermakna. Kepada kamu, orang-orang yang aku pedulikan, semua bayang dan kenanganmu sungguh menempel. Aku tetap berjanji akan ada untuk mereka selagi aku bisa meski terpisah jarak dan waktu sekalipun. Meski aku merasa banyak meninggalkan hal-hal yang menurutku spesial, tapi dalam kesedihan kenangan, aku pun tetap harus menyadari bahwa inilah ruang dan waktu. Satu hal yang perlu diingat, 2019 ini begitu menantang namun membahagiakan.

2020. Aku bersyukur karena aku masih bisa bernapas. Merasakan sehat dan melihat senyum-senyum orang-orang yang aku sayangi. Padahal, pada 2019, banyak sekali kesalahan yang telah kuperbuat, hingga terkadang sesungguhnya menjadi dinamit untuk diriku sendiri. Hingga, aku sadari sampai sekarang aku harus bersyukur atas segalanya dan menghargainya dengan menjaga kesehatan dan semuanya.

Mengapa? Mereka bersandar semua kepadaku. Aku tak terbayang, ternyata aku bertransformasi menjadi tulang punggung secara perlahan. Keadaan berbeda, nampak aku banyak bermain dan ego sebelumnya. Sekarang, ialah aku yang diandalkan dan ditumpukan. Namun, tetaplah aku bersyukur, meskipun begitu banyak yang harus kulakukan untuk menutupi segala sesuatu, Allah Ta alla, selalu memberi jalan untuk bisa melaluinya. Nyatanya ketepatan waktuku hadir di tanah air ini terbilang tepat. Mungkin jika aku memutuskan merantau lagi, semua akan berbeda cerita. Aku bisa saja kembali kepada ego ku kembali.

Ini adalah tantangan. Mengapa? Selama ini aku selalu merasa seperti bocah yang senang bermain tapi tetap harus bertanggung jawab untuk segala masalah yang ada. Namun sekarang, aku tetap di anggap seperti bocah namun menjadi yang diandalkan. Lagi-lagi ego ku diuji. Hingga suatu waktu rasanya pernah aku tumbang secara jiwa dan raga. Orang-orang khawatir dan begitu menjagaku, hingga terbelisat aku terbayang beberapa omongan kawan-kawanku yang bercerita serupa, bahwa ia harus tetap sehat demi menjaga orang-orang yang dia sayangi. Iya, kita baik bukan hanya untuk diri kita tapi untuk orang lain juga. Jadi sehatlah, bangkitlah, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.

Intinya tetap tersenyum, agar yang lain ikut tersenyum. Pernahkan terbayang jika semua manusia mengeluh dan tidak tersenyum. Bahkan yang tadinya bahagia bisa berubah jadi muram, dan yang muram bisa bertambah sedih. Itulah mengapa, meskipun sakit melihat yang sakit, tapi senyum ini harus tetap ada. Memang seolah semua baik-baik saja. Tapi perlu diingat, bahkan segenggam tugas matematika yang dibawa pulang pun bisa jadi bencana ketika senyuman sirna. Dan mungkin terkena penyakit luar biasa bisa terlihat baik-baik saja ketika yang menderita tetap tersenyum semangat. Namun, tidak bisa disalahkan, tingkat kebahagiaan dan rasa syukur orang berbeda-beda. Hargailah.
Walaupun hanya dari sedikit senyuman.

Sekian, apa yang ingin disampaikan di awal tahun. Tulisan ini terbelisat dan tertulis di sela-sela mengerjakan pekerjaan gambar.

Read more…

Thursday, December 05, 2019

Photo Competition Story: Sketch the Journey


Author Picture: Urban Sketching, by the Author.
That day, after we (Indonesian Students) conducted an event in the Embassy of the Republic of Indonesia and went back at night, the lights in front of the Agriculture Exhibition Centre has attracted us. It was the “Art Beijing 2017.” For sure, this 中国农业展览馆 or the National Agriculture Exhibition Centre always held some particular international event.

But that time it was different. The lights were shinier, more colorful, and the main building becomes more interesting. This hobby of mine sketching the place that I visit and then taking a picture of it for life documentation has urge me to do the same to this moment.

Live sketching for me will be the part of the documentation of life adventure, so beside on taking pictures which exactly will provide with realistic pictures on it, Livesketching will be so valuable for me in creating my own memory to through my imagination and thoughts that are thrown along the lines on the paper.

Live sketching the Agriculture Exhibition Centre from Author (3rd Winner). Source: By Author 2017
 For 15 minutes, I have a chance to do a live sketching as I also wait for my friends to take pictures around this event. Then, after the live sketching, this moment between the sketch and the real place has to be in the same frame. And that finally complete my journey to draw this moment in the night between the art, life, and the capital which I call it as the moment that “Beijing art Never Dies.”

This event and opportunity has given me a chance to give a perspective thoughts of how different kind of people and photographers may take the different angle, space and time through urban studies, especially in Beijing, the capital of China.

Live Sketching Every Journey
On every single journey in a new place, I have a mission to at least make one live sketching through one of the angle of that place. It is a hobby that creates a motivation for me to visit new places. After taking the live sketching, I usually take a picture and a photo of my sketches standing in front of the place.

It usually takes 5 until 15 minutes depending on the details I want to make to the sketches. As it is a bit hard for me when I have to adjust with my friends traveling while I walk and use my time to finish it as I am afraid to also disturb their journey. But thank God, they enjoy it also and let me do it, as I finish it quickly. Without them, my pictures aren’t as colorful as my journey. Friends and travel mates are the best for me.

Besides, in the process of sketching and taking picture, I learn a lot of things form the people around me. Usually they talk with me and I learn many things also from them. For example in such a sunny day, I learn so many about the Walls near Guomao that is used for Archery. The old man sits near to me and told me so many stories. As sometimes some Chinese help me to improve my language while I sketch. It happens fast while I enjoy it always.

Finally, After the live sketching, if there is time, for 5 minutes I will water color the picture using my portable watercolor than take a Photo shoot through it. This happens in the recent years as I
hope it keep going in the future. As from here not only by photography that I take a documentation of my journey but also through sketching.

Until now, I have many pictures with sketches inside of it, and I hope one day it could be a bundle of story from my sketches and Photo shots to complete my article also.

Top 500 Pictures. By: Author 2018
 
*This article was taken from the writing of the author participation for the Beijing Photography Competition 2018 "Depiction of New Beijing"

Read more…

Thursday, October 17, 2019

Ketiadaan yang Mengalahkan Keberadaan

Ketiadaan yang dipertanyakan oleh keberadaan. Ilustrasi: Dewan, 2019

Ada kala keberadaan dibutuhkan, menjadi impian, sementara ketiadaan suatu kali datang dan menjadi idola dibalik keberadaan. Yang aku bicarakan adalah abstrak, namun bisa benar adanya. Sesuatu yang dahulu dianggap, menjadi sebuah keberadaan yang berarti. Namun, ruang dan waktu berkata ketiadaan lebih bermakna sementara keberadaan menjadi tidak berarti.

Eksistensi dihargai, keberadaan seseorang dianggap, saat itu Nampak seolah bahagia menjadi bagian dari celah keberadaan.
Suatu hari, nyatanya keberadaan itu fana. Ketiadaan menjadi lebih dihargai dan disenangi. Ia telah berubah menjadi sesuatu yang lebih baik tak ada. Yang tak ada terlihat baginya lebih bermakna. Entah kenapa, tapi memang aneh adanya.

Pun, batu, pasir, kerikil tak pernah dipermasalahkan keberadaanya. Sementara angina yang tiada menjadi masalah baginya. Kali ini mungkin ketiadaan menjadi jawaban akan keberadaan yang sudah mengganggu.

Ketiadaan kali ini lebih disenangi dibandingkan dengan keberadaan. Begitulah yang Nampak seolah sekarang maya. Mungkin, di kala tertentu, ketiadaan adalah jawaban kenyamanan disamping keberadaan yang meresahkan. Ini hanya terjadi jika nyatanya ketiadaan lebih dihargai disbanding keberadaan. Entahlah.

Apa hal ngawur yang kubicarakan dalam tulisan ini, tidak ada tentunya, ya, karena saat ini ketiadaan lah yang menang melawan keberadaan. Hanyalah perspektif yang barangkali bisa dilihat di lain sisi.

Terimakasih.

Sekian Esai Pendek Ngawur

Read more…

Wednesday, September 25, 2019

Efek Domino? Siapapun punya Pengaruh

Ilustrasti efek domino. Oleh: Dewan, 2019
Tahukah kalian soal domino yang disusun lalu dengan satu sentilan jatuhnya domino, bisa merambat kepada domino lain hingga akhirnya semua deretan dormino itu jatuh semua. Inilah konsep efek domino yang bisa berdampak pada hal lainnya.

Sama seperti kehidupan,  bsgaikan rantai makanan, berpengaruh. Apapun bentuk hilangnya rantai makanan itu. Semut sekalipun, akan merusak kehidupan Manusia sang penguasa. Tak hanya itu, bahkan sang angin punya peran membuat semua ladang jadi hijau untuk makan para sapi disana.
Tak jauh dari itu, sang batu juga telah mempengaruhi cederanya kaki si kambing yang berlari.

Inilah efek domino, sebuah perubahan yang berpengaruh sekecil atau sebesar apapun itu. Bahkan, sekelas hanya mengatai seorang anak kecil dengan sebutan A, bisa jadi akan terkenang dan merubah perilakunya hingga kelak ia besar dan menjadi pemimpin. Pun, kita tak pernah tau, antara ia berpengaruh menjadi Pemimpin Tirani atau dengan royalitas tinggi.

Mengaitkan ini dengan kondisi negeri. Nyatanya apa yang terjadi kita tak bisa salahkan secara langsung. Dampaknya memang tak terasa ketika di posisi nyaman. Namun sadarkah, dalam ketidkanyamanan, akan ada saatnya jiwa memberontak. Terasa memang tidak akan ada pengaruh hanya karena protes kecil-kecilan.

Namun, dari hal kecil, sadarkah nantinya bisa berujung besar. Hal yang terlihat biasa menjadi luar biasa. Yang luar biasa lalu menjadi hal biasa. Inilah efek domino, satu tindakan apapun yang manusia hasilkan bisa berujung pada masalah dirinya sendiri.

Apatis tidaklah salah, bentuk apapun bisa menjadi solusi dan punya pengaruh tersendiri. Hanya, setiap manusia perlu mengingat bahwa efek domino dunia ini berlaku di lingkaran mana saja. Perubahan apapun sekecil dan sebesar apapun. 

Melihat kondisi ini, Film Cloud Atlas sedikit mewakili keadaan pengaruh era satu dengan lainnya. Karena suatu pemeberontakan oleh seorang, nyatanya dapat memberikan kesejahteraan ke era berikutnya tanpa disadari.

Begitupula pada masa ini, menyuarakan aspirasi atau bahkan sekedar membagikan info dan tautan terlihat sederhana. Tapi, kita perlu ingat bahwa jika lebih dari seorang lanjut melakukannya, maka akan bercabang menjadi seisi dunia dan jangan tanyakan lagi pengaruhnya.

Layaknya efek domino yang menjalar, semua bisa merasakannya.




Read more…

Saturday, August 17, 2019

Menjelang Merdeka, Bumi Manusia dalam Layar Kaca

Bumi Manusia. Sumber Gambar: KamalInspirasi.com

Judul Film : Bumi Manusia
Sutradara    : Hanung Bramantyo
Penulis : dari Novel Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia)
Pemain : Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva de Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, dll.
Genre : Dokumenter
Tanggal Rilis : 15 Agustus 2019
Negara Produksi: Indonesia

Sinopsis
Minke, seorang pribumi Jawa pada masa kompeni dahulu dilahrikan dari salah satu keluarga pati di Surabaya pada masa itu. Minke yang bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) berkesempatan menjalani kehidupannya layaknya setengah eropa karena  penjajahan masa itu. Suatu ketika, temannya Suhoorf mengajaknya berkunjung ke komplek Wonokromo tempat kawannya Robert Melema dan keluarga tinggal.

Disana, Minke yang memiliki kepribadian ekspatriat nan pribumi memulai konflik batinnya ketika bertemu dengan Annelise, seorang gadis campuran Pribumi dan Belanda. Annelise adalah anak dari Nyai Sunikem yang merupakan jawa asli dan Herman Melema dari Belanda.

Annelise adalah saksi nyata perjuangan Ibunya dalam menjalani kehidupan di keluarganya yang sudah bercampur adu dengan dinamika bersama kompeni belanda. Hingga bagi Annelise, ia ingin menjadi seperti Ibunya yang seorang Pribumi.

Dalam cerita, tapak tilas kehidupan Minke, Annelise, Nyai Sunikem, dan tokoh lainnya dibahas sehingga konflik masa penjajahan dahulu sangat mempengaruhi jalannya cerita dan kepribadian para tokoh untuk bersuara soal ketidakadilan ini.

Ketidakadilan dalam ranah hukum, perlakuan, pengkastaan hingga kepemilikan menjadi konflik dalam setiap adegan dalam cerita, utamanya pada masa kompeni dahulu dimana ras, strata, status, dan sosial budaya menjadi yang sangat diperhatikan. Hingga suatu saat, klimaks ditunjukkan melalui Annelise yang diambil hak asuhnya oleh Walinya di Belanda, sementara Minke dan Ibunya Annelis mencoba bersuara melawan melalui media dan pengadilan. Namun, pada akhirnya tetap tak terkalahkan.

Pada akhirnya, Annelise tidak bisa memilih menjadi Pribumi seperti Ibunya, karena faktor sistem hukum kompeni yang saat itu sangat menekan pribumi. Namun, setidaknya Nyai dan Minke telah melawan dan tidak sepenuhnya kalah karena telah berusaha bersuara kepada penjajah pada masa itu.

Review
Film Bumi Manusia yang notabennya diangkat dari novel seperti kebanyakan beberapa film di Indonesia, menuai beberapa sisi baik maupun kelemahannya dibandingkan dengan novel yang digarap oleh Pramoedya Ananta Toer. Sungguh bisa dimengerti bahwa dalam film hanya diangkat bagian utama dalam apa yang ada di novel dengan mewakili unsur deskriptif secara menyeluruh. Pengemasan ini bahkan tetap berujung pada durasi yang sekiranya tiga jam.

Dalam film Bumi Manusia, mosi, grafis, dan audio cukup mendukung suasana penjajahan dahulu, hingga pengemasan terhadap tokoh dan figure yang dikombinasikan dengan aktor barat atau dari eropa. Tak lupa secara grafis memang benar mengangkat plot pedesaan dan kota pada masanya yang sudah dipengaruhi Colonial-imperial style di kalanya.

Film ini cukup menarik karena memadukan Bahasa dan budaya pada situasi dan kondisi pada masanya. Hingga bisa didapati sebagian pembicaraan menggunakan Bahasa Belanda, dan beberapa Bahasa asing lainnya, tanpa melepas dominasi penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah (Jawa).

Film ini cukup memancing nilai nasionalisme yang cukup tinggi mengingat dirilis menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-74. Di sinilah Indonesia bisa tersentil bahwa untuk memperingatinya, tak hanya perayaan dan kesenangan yang patut diangkat. Tapi perjuangan bagaimana menjadi tuan rumah di negeri sendiri pada kala itu hingg saat ini. Dimana dalam Film Bumi Manusia, Minke dan Masayarakat Indonesia kala itu mencoba bersuara untuk keadilan.

Pun selain itu, ada sedikit celah yang kurang diangkat dalam film. Salah satunya adalah konflik batin dan pemikiran yang dialami tokoh ketika bersuara mengenai apa yang dipikirkan terhadap kejanggalan yang terjadi. Juga konflik melalui tulisan dan media untuk menyatakan kebenaran.

Melalui Minke, Pramoedya AT berusaha menyuarakan apa yang ada dibenak pemikirannya soal pemberontakan yang seharusnya bisa dilakukan dalam membela kebenaran, terkhusus mungkin ketika sebagian besar tulisannya diproses ketika pemikirannya banyak menggelora selama menjadi tahanan politik.

Secara garis besar, apresiasi terhadap karya film Indonesia ini bisa menjadi inspirasi untuk karya lainnya yang menyirati banyak pesan moral, sejarah, budaya, dan nasionalis bangsa Indonesia. Yang secara menyenangkan menyelipkan bumbu drama dan hiburan jenaka.

Hidup Karya Indonesia.
Merdeka. 

Resketsa, 16 Agustus 2019

Read more…

Friday, August 16, 2019

Brutal melalui Game


Ilustrasi oleh Dewan, 2018.

Di tahun 2013, Rockstar GTA series telah merilis versi terbaru serial game yang cukup populer. Grand Theft Auto (GTA) sudah dikenal sejak populer di platform Playstation 2. Saat itu GTA Vice city telah menunjukkan kebolehan nya dengan menampilkan grafis visual yang bisa diperankan secara freeplay hanya dengan menggunakan remote stick. 

Sekarang, seiring berkembangnya platform yang semakin canggih, produser gaming semakin mengembangkan grafis dan kebebasan permainan agar bisa lebih mirip dengan keadaan nyata. Tak hanya GTA, muncullah game lain dengan genre action adventure untuk seluruh platform bahkan sampai di Personal Computer dan Online juga.

Hingga, saat ini mudah sekali melakukan kekerasan secara dunia maya saja melalui game. Menembaki lawan lewat Counter strike. Radikalisme secara maya bisa terjadi dari masing-masing platform.

Bagi Adrian yang masih berumur empat belas tahun, permainan itu cukup menariknya. “Aku bisa nabrak orang, ledakin mobil, terus beli makanan, atau naikin helikopter kalau main GTA,” ujar anak yang masih menggunakan seragam putih merah itu.

Tindakan brutal diakuinya telah dikenal sejak dia memainkan game bertajuk aksi atau perang. Tak salah ketika dia pernah bercerita soal temannya yang pernah mencoba menendangnya dengan gaya atlit game Smackdown.

“Game itu tergantung cara penggunaannya. Jangan anti-game, jangan juga buta pro-game. Tidak semua game memiliki karakteristik yang cocok untuk dimainkan oleh anak semua umur,” tutur Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, seperti dikutip dari Liputan6.com, Kamis (28/4/2016).

Target umur memang sudah tertera di setiap game, sebenarnya tak sembarang gamer yang bisa menikmati game tertentu terkhusus yang mengandung kekerasan dan pornografi ini. Semua kategori umur telah diatur dalam Entertainment Software Rating Board (ESRB). Tindakan radikal dan brutal setidaknya dapat disaring melalui kategori umur tersebut sehingga dunia maya tak menuntut generasi penerus bangsa untuk bertindak sesuai permainannya.

Read more…

Thursday, August 15, 2019

Kisah si Gamelan Bali di Luar Negeri

Sumber Gambar: idntimes.com

Judul Film : Bali: Beats of Paradise
Sutradara : Livi Zheng
Penulis : Ken Zheng
Pemain : Nyoman Wenten, Nanik Wenten,
 Robert Lemelson, Norman Hollyn, Don
Hall, Umar Hadi, Balawan , Judith Hill
Genre : Dokumenter
Tanggal Rilis : 16 November 2018
Negara produksi : Amerika Serikat

Sinopsis:
Bali: Beats of Paradise merupakan film dokumenter musik yang menceritakan kisah di balik layar pembuatan sebuah music video. Uniknya, lagu berjudul Queen of the Hill yang dinyanyikan oleh seorang penyanyi asal Amerika Serikat bernama Judith Hill ini dikolaborasikan dengan tabuhan gamelan Bali. Selain itu, cuplikan diiringi tarian asal Bali serta diisi oleh petikan gitar oleh musisi asal Bali, I Wayan Balawan. Tidak hanya menceritakan mengenai kisah pembuatan musik video, film ini juga mengangkat kisah sosok orang hebat yang telah berjasa dalam keberhasilan kolaborasi antara musik modern dan tradisional dalam video musik tersebut.

Ia juga orang yang telah memperkenalkan gamelan Bali ke berbagai penjuru Amerika Serikat. Tidak sendirian, Bapak Nyoman Wenten ditemani oleh istri tercinta yang juga merupakan seorang penari asal Bali. Dikisahkan bahwa sepasang suami-istri ini sudah berhasil membawa kebudayaan Bali hingga ke mancanegara, bahkan berhasil memainkan gamelan di depan tokoh besar seperti Mao Zedong dan Kim Il
Sung.

Film ini juga menceritakan tentang awal perjalanan Nyoman Wenten jatuh cinta pada sebuah seni, perjalanan hidup. Hingga akhirnya, Ia dan istri memutuskan untuk membawa
kebudayaan ini ke mancanegara dan menjadi dosen Gamelan dan dosen tari di berbagai universitas di Amerika Serikat.

Review:
Inspirasi kisah film ini diakui oleh Livi Zheng sang sutradara, lahir dari kegelisahan pribadinya, dimana sebenarnya gamelan sudah dipakai di berbagai film besar, salah satunya Avatar dan Star Trek. Namun, orangorang banyak yang tidak tahu apa itu gamelan. Berawal dari keprihatinan tersebut, maka timbulah keinginan untuk membawa nama gamelan agar lebih dikenal, salah satu caranya
melalui film ini.

Tema film dokumenter ini memang terbilang unik, karena menggabungkan dua hal aliran yang bertolak belakang yakni tradisional dan modern. Namun, disamping hanya sebuah film,
juga dihasilkan karya lain yaitu sebuah video musik hasil perpaduan dua hal
tersebut.

Bagi siapapun yang menonton film ini juga dapat merasakan bahwa sepanjang film terdapat nuansa
kebudayaan Bali yang kental, dimulai dari audio hingga visual, walau tidak semua bagian mengambil latar di Bali.

Film ini juga menceritakan inspirasi mendalam, mengenai orang-orang
hebat yang selalu berjuang agar kebudayaan tradisional Indonesia tetap hidup dan mampu memberi sentilan pada setiap orang yang sudah mulai melupakan kebudayaan tradisional. Bahkan, orang luar negeri lebih tertarik dan ingin berusaha memadukannya dengan musik
modern.

Namun dibalik segi konsep cerita yang sudah sangat baik, disayangkan bahwa puncak dari film ini, yaitu video musik yang diangkat, gamelan bali yang menjadi bintang utama dalam film cenderung kurang menghiasi perpaduan suaranya. Sehingga, jika musik didengarkan tanpa visual, pendengar kurang bisa merasakan atmosfer gamelan yang diangkat. Secara keseluruhan, film ini menjadi
inspirasi bagi karya anak bangsa.

Sebuah tontonan wajib masyarakat Indonesia, terutama yang berada diluar negeri, untuk mengingatkan bahwa dimanapun berada, tidak pernah ada alasan untuk tidak meneruskan dan
menjaga kebudayaan yang tersimpan di Indonesia.

Elke Devinna, Jurusan Jurnalistik,
Communication University of China,
Beijing

*Tulisan ini pernah diterbitkan di Tabloid Yinnihao, Edisi 3, Vol. 1, Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok.

Read more…

Wednesday, July 24, 2019

Because Im Also a Human




“A heart, something that is unpredictable, something that we call as abstract feelings, something that is in a human being.”

A human that tried the best to give the smile to the world. Something that people call as domino effects, positive vibes, and even positive influences. It always depends on our heart. Trying to say that I am okay, and you are also okay. A smile with optimistic believe that you can give good impacts to the world, and so will you.

It looks easy to sometimes give people motivations and spirit. But, humans are still humans. Did you realize that one day, a smile can also fade out. Not in front of people, but from the smile itself. It is easy to always keep the smile for the people. But yeah it’s hard to keep the smile for ourselves.

The change to what happen to a different phase of life gives you a new memory. While, sometimes it feels like a blink on an eye. The memories becomes just stories. While humans are wandering of what will happen in the future. I also miss the past, the memories inside of it, especially the smile of the people inside of it.

The hardest part is to leave the people in the memories, but yeah as they said, life must go on right. It is very weird yet annoying, that our smile fades because of this. Becoming the person that we don’t use to be. Missing people inside the story.

Time flies, sometimes you need to forget yourself, and let the others replace what it should be. Remember, the blessings to keep back the smiles. Remember that the blessing are bigger than the problem. That is what this human should remember.

Realize, that the world weren’t all about materials, but the other values that may pop out with unexpected humans and feelings around it. Yes, still to notice, that because I’m still a human, and maybe in some points I might lose the smiles from this and I hope to bring it back again. 

Not perfect, cannot always be positive, not that easy to be what we want to be. Because, I’m also a human.


But still for that smile, to highlight it all, to make you realize

"that your blessings are bigger than your problem."

Read more…