Teka-teki Cinta dalam Sejarah Jakarta (Review Film)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

sumber Gambar: Anakfilm.com
Judul: Adriana
Sutradara: Fajar Nugros
Produksi: Visi Lintas Film
Tahun: 2013
Genre: Romansa, Misteri, Sejarah


Cinta nampaknya tak selamanya mengarah pada jalan sesat, tanpa arah. Cinta seolah sudah memiliki jalannya sendiri. Tinggal apakah si subjek ‘cinta’ mau memecahkan jalan untuk menemukan cinta sejatinya atau hanya pasrah menanti jawaban. Itulah gambaran yang setidaknya ingin diangkat oleh film berjudul Adriana.

Film garapan Fajar Nugros, bukanlah hanya berujung teka-teki cinta semata. Dimulai dari pertemuan Mamen (Adipati Dolken) dengan seorang wanita bernama Adriana (Eva Celia) di perpsustakaan Nasional, memercikan kembang cinta Mamen untuk ingin berkenalan denganya. Namun, Adriana tak semudah itu menerima tawaran pertemuan, ia memberikan sebuah petunjuk untuk menemuinya di tempat lain.

Sebagaimana, Adriana seorang pecinta sejarah yang namanyapun diambil dari Adriana Van Den Bosch, anak dari gubernur Hindia Belanda (Jenderal Van Den Bosch). Ia telah setidaknya membawa penonton membuka pintu sejarah ruang Jakarta. Dari petunjuk dan secarik demi secarik kertas yang diperoleh Mamen semua sejarah itu terungkap.

Disinilah petualangan Mamen dimulai untuk bertemu cinta sejatinya. Melalui perjuangan, Mamen bersama Sobar (Kevin Julio), seorang sahabat sepermainan Mamen mencari Adriana. Teka-teki itu ternyata tak hanya sebuah permainan. Teka-teki itu ialah sebuah perjalanan sejarah Jakarta, terkhusus sejarah beberapa monument dan ruang ikonik Jakarta.

Mulai dari teka-teki yang menggiring ke Patung Proklamasi, menemukan teka-teki berikutnya yang menggiring Mamen dan Sobar ke tempat museum Fatahillah berada. Mamen yang awalnya seorang mahasiswa yang sedari dulu lalai akan pelajaran menjadi amat antusias dalam mendalami sejarah, utamanya Sejarah Ibu Kota Jakarta.

Adriana dan Adriana Van Den Bosch
Sumber: grazie.co.id
Namun, misteri cinta dan sejarah tak berhenti disana. Seiring berjalannya kisah, terkuaklah bahwa Adriana sebenarnya adalah kawan lama dari Mamen dan Sobar. Dilema pun bertambah saat Sobar menyatakan bahwa Adriana adalah cinta pertamanya sejak SMA dahulu. Kedua pasangan kutu buku sejarah ini memang sebenarnya terlihat cocok. Sobar yang selalu lebih dahulu menjawab tek-teki dari Adriana sempat membuat Mamen kecewa.

Sobar dan Mamen "Antara Bung Hatta dan Bung Karno"
Persahabatan layaknya dikalahkan oleh cinta tak membuat Sobar jatuh dalam palung. Baginya persahabatan adalah yang utama dari cinta. Pada akhirnya, meski Sobar yang utama kali menyentuh teka-teki terakhir Adriana di atas Monumen Nasional (Monas), Mamen lah yang ia relakan untuk menggandeng cinta pertamanya tersebut mengingat perjuangannya yang lebih keras dari menelusuri sejarah Jakarta itu sendiri. Kisah kedua sahabat inipun dianalogikan dengan persahabatan antara Bung Karno dan Bung Hatta.

Meski sebenarnya, dibalik misteri itu, semua teka-teki sejarah ini nyatanya adalah rekayasa sang guru semasa kecilnya Adriana (Agus Kuncoro) yang sengaja menggiring mereka semua dalam satu titik zero point Jakarta (Monas). Semua itu terkuak pada akhir kisah.
Pancoran Punya Cerita Tempo Dulu
Sumber: fotografer.net
Film ini diperkaya dengan soundtrack memukau karya dari Indra Lesmana. Campur tangannya dalam paduan instrumental dan Jazz klasik menjadikan kota Jakarta yang seolah berada pada Utopia sejarah monumental menjadi kota penuh misteri. Semisal, saat Mamen mempertanyakan arti dari arah Patung Pancoran menunjuk. Patung gagasan Soekarno yang terakhir itu nyatanya ditinggalkan terlebih dahulu oleh Soekarno sebelum rampung.

Alur cerita dari Film ini adalah campuran. Tak jarang penonton dibawa pada petualangan Mamen dan Sobar dalam mencari Adriana yang diselipkan tayangan sejarah setiap ruang Jakarta. Juga tapak tilas yang dilalui Adriana, Mamen, dan Sobar selama masa remaja mereka. Kelemahannya adalah pada penokohan Mamen yang terkesan sangat egois digambarkan dari zaman SMA hingga pada akhir cerita yang selesai dengan Mamen menggandeng tangan Adriana. Sementara, demi sebuah sejarah dan persahabatan, Sobar memilih untuk tulus mengalah.

Secara keseluruhan, Fajar Nugros berhasil membawa penonton dalam Romansa misteri bernuansa sejarah. Indonesia memang memerlukan film-film berkualitas seperti ini yang tak hanya melulu soal cinta tapi juga soal seluk beluk Indonesia. Menjadikan film tak hanya hiburan semata, namun juga wawasan dunia.

6 komentar:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch