Maju dengan Membuka Ruang Dunia (Perpustakaan)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Akademi (Academia), sebagaimana sebuah ruang pertama berbentuk taman tempat  Plato dan muridnya belajar mengenai dunia. Begitupula dengan Pendidikan Tinggi atau yang erat kaitanya dengan nama Universitas, Institut, Sekolah Tinggi dll. Memajukan Pendidikan Tinggi, mengarah kepada memajukan pusat peradaban. Semua hal ini tak akan lepas dari segala aspek dan ruang yang berkaitan mempengaruhi keberadaanya.

Memajukan Pendidikan Tinggi, tak hanya melulu soal sistem akademik, prestasi, kualitas pengajar, dan lainya. Hal lain yang bisa kita maknai adalah sebuah ruang penuh literasi yang bisa mengantar seorang individu untuk mempelajari dunia dan berbagai detailnya. Sebuah ruang penuh lembaran kumpulan penelitian, tumpukan buku, rak-rak, meja, yang erat disebut sebagai ruang perpustakaan.

Ruang dokumentasi penuh kisah melalui berbagai tumpukan buku yang ada, seharusnya bisa
mempertimbangkan kemudahan dalam akses. Tak hanya untuk mahasiswa, dosen dan akademisi lainya, bangunan penuh rak ini bisa menjadi sebuah ruang wisata bagi masyarakat di luar kampus juga. Ruang ini bisa menjadi celah yang mengantarkan masyarakat menuju dunia yang berbeda tentunya melalui berbagai tulisan dalam buku maupun media lainya di Perpustakaan.

Melihat Perpustakaan di Central University City Campus Library (1949) di kota Meksiko bisa dijadikan pelajaran dalam menarik masyarakat untuk berkunjung. Melalui desain arsitektur dan mural pada dindingnya membuatnya menjadi unik, bahkan menjadikanya salah satu warisan dunia. Akses bagi masyarakat begitu terbuka seakan disini proses transfer ilmu dari dunia kepada masyarakat terjadi secara rutin. Tentunya ruang ini menjadi salah satu contoh yang begitu tinggi.

Meski begitu, tak harus menjadi perpustakaan mewah untuk melayani dan menarik masayarakat. Dengan kemudahan akses didukung sarana prasarana yang memadai tanpa komersialisasi,  bisa memancing kebiasaan selain akademisi untuk tetap berliterasi melalui perpustakaan Pendidikan Tinggi. Ini adalah bentuk dari pengabdian masyarakat secara tidak langsung, karena disanalah tujuan lembaran dan buku-buku itu dipajang, tak lain adalah untuk dibaca. Dibaca tak hanya oleh masyarakat kampus, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia.

Tak hanya ruang publik, perpustakaan di suatu instansi pendidikan tinggi dapat menjadi sentra pertemuan berbagai ide dan sarana diskusi untuk beberapa titik. Tinggal bagaimana membentuk batasan ruangnya sendiri sehingga ruang lain khusus untuk melahirkan ide/diskusi dapat dinikmati.  Maka, pandangan bahwa perpustakaan hanyalah tempat untuk membaca sebuah buku perlu ditandai. Teknologi yang maju memungkinkan pengunjung bisa mengakses komputer dan gadget yang tersedia lainya. Ini berperan penting, karena selain dari lembaran, mempelajari berbagai pengetahuan dapat juga dilakukan melalui media elektronik.

 Sebuah ruang  yang bisa menyatukan berbagai profesi dan kalangan masyarakat tak terkecuali melalui pelayanan yang setara. Dengan begini, perguruan tinggi tak hanya menjadi “Universitas magistrorum et Scholarium” yang mana berarti sebagai komunitas guru dan akademisi, namun juga sebagai komunitas masyarakat dan dunia. 



*Dimuat dalam Rubrik Esai Poros Mahasiswa Koran SINDO, edisi Februari 2015.

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch