Zero Waste Indonesia: Plastik Punya Kisah

 
Peranahkah manusia sebagai Khalifah berpikir bahwa sekecil apapun sampah plastik yang ia tinggalkan di muka bumi sama saja meninggalkan kerusakan yang cukup abadi? Plastik. Lama mengurai. Tak pernah lekang oleh waktu. Bagaikan sebuah tameng yang sulit ditembus musuh.

 Konon, Kukusan diketahui masyarakat sebagai kelurahan dengan sanitasi yang buruk. Selain itu, sampah menjadi problema masyarakat. Sampah begitu mudah dipandang mata. Jalan kecil penuh lubang dihiasi bungkus plastik warna-warni. Selokan-selokan dihiasi oleh botol mineral yang sudah remuk tak terpakai. Tak jauh dari persimpangan, terlihat bukit sampah. Tak lain bukit itu selanjutnya dibakar hitam seperti bukit-bukit sebelahnya.

Bakar Sampah di Kelurahan Kukusan


Kumpulan Lapak. Letaknya tak jauh dari Pintu Kukusan Kelurahan yang berada di gerbang menuju Kampus Kuning. Kelurahan Kukusan menjadi saksi lapak-lapak itu berdiri.  Sebuah jalan disamping rel menemani pejalan kaki yang hendak menyusurinya. Tiga tiang sutet itu berjejer menghiasi pandangan mata. Tak lama belokan ke kanan nampak  beberapa lapak untuk berbagai jenis sampah.

Lapak memiliki arti penting dalam siklus 3R (Reuse, Recycle, Reduce). Tanpanya rantai untuk alur tersebut menjadi pecah tak karuan. Kukusan memiliki beberapa zona lapak. Mulai dari lapak logam, lapak Kardus dan Kertas, sampai pada lapak Plastik.

Tak lepas dari zona lapak, Zero Waste Indonesia (ZWI) menyempil di salah satu lahanya. Memberi sedikit harapan pada plastik-plastik tak terpakai. Plastik solid itu tentunya dikumpulkan untuk selanjutnya berakhir menjadi cacahan dan serpihan potong plastik.

Lapak Zero Waste Indonesia
Sekelompok mahasiswa pada mulanya menjadikannya sebagai wadah usaha yang Profit Oriented.  Bagi Fajri dkk, hal ini tak selamanya bisa menjadi bagian daripada tujuan kisah program ZWI ini. Pada akhirnya, uang lebih tak seberapa, untung hanya lebih menutup modal dan upah semata. ZWI setidaknya telah memberikan kisah untuk mencoba mengurangi sampah plastik yang ada. Dengan memberdayakan kaum marjinal disana, plastik bisa berujung duit.


Sebelum mencapai ujung-ujung duit tersebut, alur plastik hingga penjualan perlu melalui beberapa alur. Alur dari ZWI bermula dari sampah plastik yang dikumpulkan dari warga dan beberapa pemulung lainya. Jenis plastik yang diterima adalah jenis Polyethilene Tereftalat (PET) dan (High Density Polyethilene)  HDPE. Untuk sisanya akan menjadi sampah residu. Sampah residu ini yang selanjutnya setiap tiga hari sekali akan dibawa oleh Dinas Kebersihan untuk diproses lebih lanjut.

Sampah yang dipisahkan dan di Press
Setelah dipisahkan berdasarkan jenis plastik, maka sampah plastik dipilih dan dipisahkan berdasarkan variasi warna yang ada. Jika diklasifikasikan berdasarkan jenis plastik dan warna, semua kombinasi tersebut bisa mencapai 30 jenis kantong yang berbeda.

Beralih dari pemisahan jenis berdasarkan warna tersebut, maka selanjutnya dilakukan proses pencacahan dengan mesin pencacah. Disini, akan nampak dua buah mesin pencacah siap memotong plastik-plastik malang tersebut. Selanjutnya hasil cacahan tersebut akan masuk ke bak pembersih untuk selanjutnya dicuci dan disaring.


Salah satu Mesin Pencacah
Kolam Pencucian

 Tahap terakhir daripada Pencucian cacahan plastik adalah dengan menjemurnya. Setelah kering lepas dari air, maka cacahan plastik tersebut siap dibungkus dan dikirmkan ke pabrik-pabrik untuk selanjutnya diolah dan digunakan kembali. Dari sini uang mengalir untuk menghidupi ke-tujuh pekerja ZWI. Sociopreneurship menjadi dasar dari program ini. Memang, tantangan terbesar tak hanya berasal dari dana, kecaman masyarakat dan para pelaku serupa menjadi angin bagi ZWI, namun mau tak mau harus tetap bertahan teguh.

Bagi pemulung yang bekerja disana, tempat itu menjadi sebuah tempat menyimpan pahala. Rumahnya disana menjadi saksi bisu untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Bagi plastik, ZWI telah memberikan tempat singgahnya tersendiri. Menjadikanya untuk bisa berguna dan hidup kembali.

 
Tempat Tinggal Pekerja Zero Waste Indonesia



**Jakarta, 23 November 2015
Kukusan, Depok

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch