2018: Bulan-bulan Penuh seribu Pelangi Bagian 1


Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Januari-Februari: Saatnya Saling berbagi
Saat itu Januari menjadi saat kepulangan sejenak ke Indonesia. Tak lain bulan ini bersama tim School of Talk dari Studi Tiongkok telah mengenalkan ku dengan banyak sosok-sosok baru dari hasil wawancara dengan mereka. Unik, nyatanya setiap orang punya caranya sendiri dalam membantu orang lain.

 Tak lain saat itu pula teman-teman LKM UNJ mengadakan kajian malam bersama bersama diriku mengenai kisah kota sekaligus launchingnya Buku Pasar Ibukota dimana aku adalah salah satu penulisnya bersama rekan Eros. Jiwa membaca ini rasanya tertampar ketika bisa berbagi juga dengan teman-teman mahasiswa baru. Dilanjutkan dengan sesi sharing soal Sponsorhsip bersama unjkita.com menjadikanku mengenal lebih baru teman-teman dari kampus hijauku.

Pada bulan Februari, Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Tiongkok (Permit) Beijing bersama beberapa Ormas seperti Lingkar Pengajian Beijing (LPB), KKIB, OBM Manggala, BICF, dll mengadakan acara Bakti Sosial bersama. Saat itu, LPB hanya diwakili oleh aku dan Mbak Anggi, Namun, di hari Baksos aku berkenalan dengan banyak kawan baru yang menyenangkan dan sangat asik untuk diajak kerja sama. Tentunya mereka adalah kawan-kawan satu kota di Beijing. Yang selanjutnya aku semakin semangat ketika diajak untuk ikut kegiatan mereka.

Pertengahan Februari, aku memutuskan mengajak kedua orang tuaku berlibur ke Kuala Lumpur sebelum aku kembali ke Beijing. Sedikit ingin membuat neneku juga tersenyum. Namun disela sela itu aku menyempatkan bertemu dengan geng Indonesian Student and Youth Forumku. Rupanya mereka sudah bekerja dan pindah ke KL semua.

Sebelum pulang kembali ke Beijing, teman-teman event hunter Indonesia (EHI) pun juga menggagas sebuah kegiatan dimana aku menjadi mentor dan narasumber. Kami membuat beberapa video terkait program beasiswa Chinese Government Scholarship (CGS). Disini, aku semakin terkesima oleh pergerakan dan karya dan semangat teman-teman Indonesia. Mereka adalah entrepreneur sejati.

Sebelum Kembali, aku bersama Dina dan Farhan mewakili stud tiongkok juga menyempatkan untuk hadir Bakti Sosial di Warung Yatim Maseng. Sedikit mengingatkan kami untuk terus berbagi dengan cara apapun itu.


Baksos Permit-LPB-KKIB-Manggala
Baksos bareng Studi Tiongkok, Dina Chaerani (Plan Indonesia) dan Farhan (Duta Bekasi 2015)


Buku Antologi Eros

Berlibur sejenak Ke KL
Habis Live Bareng TIm Event Hunter Indonesia soal Beasiswa (Para calon Pengusaha Muda ini) 


Maret-April: Duka yang tak Disangka
Saat itu memasuki bulan baruku di kota Beijing, aku kembali bersama Filone dan Ibu Alm.Yani (Orang KBRI) yang sengaja menyamakan jadwal tiket pesawatnya agar bisa kembali bersamaku karena beliau memerlukan kursi roda. Bulan itu juga aku terjun ke Laboratoriumku kembali. Laboratorium special yang khusus membahas tentang bangunan bersejarah di Tiongkok. Khususnya, disini aku membahas mengenai uji non destruktif untuk kayu dan evaluasi terhadap deformasinya.

Tantangan terberat berada di Lab yang notabennya sebagian besar adalah Mahasiswa Tiongkok sendiri adalah mereka memiliki standar akademis yang lebih tinggi. Ditambah jika aku harus mendapat sumber pula yang  berbasis Bahasa Mandarin. Kejadian itu pun terulang hingga aku tebiasa dengan sebutan ‘anak lab.’ Pun semakin banyak mahasiswa baru yang baru saja tiba dan mendaftar di Lab ini hingga sampai sekarang aku tak hafal semua nama mereka yang berjumlah 35 orang itu.

Tak lama di akhir Maret, aku mendapat kabar duka dari yang mereka bilang saudara somplak kembaranku Vika, Alm.Bu Yani meninggal dunia, aku tak menyangka, dia seperti Ibu kami di Beijing namun secepat itu dia harus pergi dan saat-saat itu kita membantu dalam prosesi dllnya sampai Jenazah dipulangkan dan aku merasa bertanggung jawab juga berada disamping kawanku itu yang sedang rapuh setelah ditinggal Alm. Ibu. Namun selang beberapa minggu keadaan mulai pulih.

Pada April 2018, kantor Internasional memanggilku untuk mewakili Indonesia dan Mahasiswa Asean dalam China-Asean Youth Summit di kota Shandong. Di sana aku bertemu banyak mahasiswa Indonesia juga yang mewakili dan beberapa mahasiswa Internasional. Yang unik, selama 3 hari kebiasan nomaden ku sejak semester lalu tidak hilang. Meski aku disediakan hotel namun nyatanya temanku dari Shanda yang juga merupakan ketua PPIT Qingdao membujukku untuk selalu nginap di tempatnya karena dia juga tinggal sendiri. Jadilah hanya koperku yang bermalam di hotel. Di forum ini aku mengenal puluhan sosok baru yang sangat unik.

bersama Alm. Ibu Yani sepulang ke Beijing
Delegasi Indonesia untuk ACYF 2018


Mei-Juni: Keberkahan Pindah Ruang
Senangnya hati ketika Jurnal PPI Dunia sebagai bagian dari gebrakan dan milestone pertama di bagian akademis terwujud dimana saat itu aku, Bang zakki, Mba Shinta, Bang Hakam, menjadi inisiatornya. Terlalu lelah memang mengingat proses ini begitu rumit dan cukup menguras pemikiran dan menjadi jembatan karya untuk bidang penelitian. Tapi setidaknya dari sana menjadi lega apa adanya karena Prorgam kerja yang kita harus inisiasi dan sempat dianggap remeh berhasil diwujudkan menjadi JURNAL PERTAMA dalam sejarah PPID. Alhamdulillah.

Saat bulan itu juga menjadikanku tercemplung di Organisasi PPI Tiongkok pusat. Yang mana menjadi cukup tantangan terberat karena aku belum melepaskan amanatku di PPI Dunia. Namun, demi niat kebaikan aku menerima panggilan itu dan pun juga berhasil menggeret beberapa teman-teman kepercayaan ku untuk bisa duduk bersama di organisasi ini. Tanpa mereka, kerjaku bukanlah apa-apa sampai sekarang. Lebih-lebih aku semakin mengenal banyak pelangi baru dan kisahnya disini.
Juni saat itu penelitianku bertajuk lingkungan membuatku terpilih mewakili Indonesia dalam International Student Conference on Environmental and Sustainability (ISCES) 2018 tepatnya di Shanghai. Aku bertemu dengan empat orang delegasi Indonesia lain yang mana mereka adalah hal terunik yang sama-sama memiliki misi lingkungan yang sama bersamaku. Pun, banyak delegasi dari negara lain yang menjadikan diri ini memiliki banyak perspektif baru soal lingkungan. Aku merasakanya ketika saat presentasi dan Focus Group Discussion. Alhamdulillah di acara ini pun aku mendapat penghargaan ‘Best Presentation.’

Pun selanjutnya kelompokku juga berhasil membuat video ‘Eco City.’ Yang hanya kami usung dalam semalam suntuk. Lagi-lagi di Shanghai ini kelakuan nomadenku tak hilang ketika harus mengunjungi seorang teman di Shanghai dan lalu aku terbujuk untuk menginap dan kembali keesokan harinya. Bukan hanya itu, di hari berikutnya akupun ikut buka bersama teman-teman permusim dan hari berikutnya di KJRI Shanghai. Betapa indahnya karena dalam waktu seminggu itu aku telah mengenal sekitar 180an teman-teman baru yang berbeda dan berhasil masuk ke beberapa kisahnya sehingga membuatku banyak belajar.

Kembali dari Shanghai, keesokan harinya aku harus kembali berangkat ke Shanxi, dimana tempat penelitianku berada. Aku berangkat bersama tiga orang kawan labku yang mana mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah aku selama seminggu terpaksa berpikir keras dalam berbahasa. DItambah saat itu adalah bulan puasa yang mendekati lebaran. Sempat aku cemas bahwa aku tidak aku tidak akan berlebaran bersama teman-teman sepenasib sepenanggungan di Beijing. Lebih-lebih aku mencoba mencari masjid terdekat namun nihil. Selisih masjid adalah sejam dan di Kota Wanrong ini tidak ada kendaraan umum selain taksi. Masya Allah H-1 sebelum lebaran kami akhirnya menyelesaikan pengambilan data itu dan pada saat itu aku bisa merayakan Idul Fitri di KBRI bersama kawan-kawan Indonesia ku dan itu cukup mengobati rasa rindu lebaran dari keluarga dan rumah.

Jurnal Perdana PPIDunia
Best Paper dalam ISCES 2018. Alhamdulillah
Petualangan Penelitian di Shanxi

Buka Puasa bareng Ibu KJRI Shanghai, Bu Ining


********Bersambung ke Bagian kedua********

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch