Monday, April 14, 2014

Anomali disetiap Sisi (Resensi Buku “Masyarakat Desa”)

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Judul               : Masyarakat Desa “Kumpulan Kisah Anomali Kampung Cikopak”
Penerbit           : Pustaka Kaji
Penulis             : Tim Lembaga Kajian Mahasiswa
Tahun              : 2014

Kota adalah sebuah tempat dimana selayaknya orang mencoba berkumpul mengartikan sebuah ruang yang terus mengalami perkembangan pesat seiring berjalanya waktu. Tak pelak, saat bicara mengenai Kota, akan ada sebuah Desa yang menjadi sisi kebalikanya. Seolah Kota sebagai tempat pusat perekonomian dimana uang dan penghasilan tercipta disasana.

Namun, hal ini akan terasa berbeda saat membaca buku Masyarakat Desa, sebuah buku garapan tim Lembaga Kajian Mahasiswa yang mengangkat kisah anomali dari kampung Cikopak yang mewakili gambaran sebuah desa di Indonesia. Layaknya sebuah Kota, Desa Cikopa dengan segala caranya memiliki cara-caranya tersendiri dalam mempertahankan segala potensi dan sumber dayanya.

Hal tersebut diuraikan setiap babnya dengan keunikan masing-masing. Sebanyak empat bab menghiasi buku mungil ini, bab tersebut mewakili tema pendidikan, sosial, ekonomi dan Pertanian .

Tentunya setiap bab memiliki keunikanya tersendiri. Untuk bab lebih didominasi oleh kisah Mang Unus,, seorang petani yang sekaligus merangkap jadi Bendahara. Hal ini memberikan gambaran bahwa perjuangan seorang petani patut diacungi jempol dibandingkan dengan pekerjaan/profesi lain di Indonesia.

Sementara, bab II yaitu bab yang lebih menceriterakan kondisi ekonomi dari desa Cikopak tersebut. Nyatanya pihak perusahaan Korea yang bergerak di bidang Garmen mulai secara perlahan menghancurkan kebiasaan warga yang sudah terbilang baik dan religiusitas yang mendukung sehingga wanita yang diperkenankan menjadi wanita pekerja, tak diberikan kesempatan dan hak asasi manusia untuk beberapa hal.

Lain halnya dengan Bab III yang menceritakan mengenai pendidikan yang berlangsung di Desa tersebut. Pembahasan terkait fasilitas dan inklusivitas yang terjadi di SDN Tugu tersebut bisa menjadi cerminan untuk pola pendidikan yang terjadi. Cikopak berusaha menerapkan persamaan sistem pendidikan pada murid biasa dengan yang luar biasa. Namun, terdapat sedikit anomali yang terjadi disini.

Begitupula dengan Bab IV, sebuah bab akhir yang tak kalah menarik dibahas yaitu terkait masalah sosial mengenai kepercayaan warga terkait Mak Paraji. Seorang yang terlatih menangani ibu yang melahirkan seperti halnya  bidan. Beliau lebih dipercayai oleh warga dalam hal penangan ini, meski secara prosedur kedokteran masih terbilang kurang. Kepercayaan masyarakat terhadap tradisi ini menjadikan Mak Paraji tokoh wanita yang sangat dibutuhkan warga dan dianggap telah berjasa banyak dalam proses persalinan.

Semua anomali dalam tiap bab di buku ini dibahas dan diakhiri dengan sintesa atau pemecahan masalah yang bisa dilakukan berdasarkan observasi penulis dalam hal tersebut. Buku ini baik dibaca untuk menyadarkan masyarakat mengenai permasalahan yang banyak terjadi dalam sebuah desa dimana Desa Cikopak menjadi salah satu contohnya. Pembahasan setiap bab juga sudah terfokus.

Hanya saja, penggunaan EYD dan tanda baca masih perlu banyak diperbaiki, mengingat banyaknya kata-kata yang salah dan mungkin disebabkan oleh masalah teknis seperti pengetikan. Namun, hal tersebut perlu diperhatikan karena dapat mengubah makna kalimatnya. Meski begitu itulah sedikit kekurangan yang bisa nampak.


Mengenai ketajaman topik yang dibahas, seharusnya banyak teori yang bisa ditelususri dan dikombinasi mengacu pada setiap bahasan. Sehingga sintesa bisa lebih berisi dan terbaca secara teori juga praksis. Secara keseluruhan buku ini amat baik untuk dibaca dan amat baik untuk dijadikan bahan perenungan permasalahn rural yang kemungkinan besar juga bisa terjadi pada desa lain juga. Bagaimanapun juga tim penulis LKM UNJ  telah mencoba menggali hal tersebut.

0 comments:

Post a Comment