Menjulangnya Kemerdekaan (Arsitektur)

Oleh: Annisa Dewanti Putri
Gambar Sketsa Jakarta, Sumber : Penulis 2014
Saat itu, nampak beberapa bangunan mulai membenahi diri dan menambah ketinggianya. Tak lain, selain roda pemerintahan,  rakyat Indonesia mulai merasakan Euforia kemerdekaan. Tepat tanggal 17 Agustus suara Ir. Soekarno mengalahkan ketinggian semua ujung bangunan di sekitarnya. Membuahkan semangat membara dalam menghidupkan kembali semangat kemandirian.

Manusia mencoba berlomba dalam segala bidang. Terutama yang paling nampak dalam  horison adalah menjulangnya dan semakin munculnya skyscraper terkhusus di Ibukota Jakarta. Tentunya, Founding Father negara ini tak akan mau kalah dengan  Firauan Cheops yang berusaha membangun Piramid tertingginya di Istana Mesir. Bung Karno berusaha membangkitkan semangat merdekanya Indonesia dari berbagai bangunan yang ia tanami.

Dalam buku "Zaman Baru Generasi Modernis" telah dikisahkan beberapa pandangan Bung Karno terkait pembangunan yang ia canangkan demi memberikan kekuatan Modern dan sebagai simbol kemajuan. Terutama dalam bidang Arsitektur yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi peradaban selain daripada bahasa. Dalam hal ini, membangun berarti pula mengatur ruang yang menjadi saksi dalam sebuah peradaban.

Kembali kepada Bung Karno yang berusaha memerdekakan tak hanya secara tubuh namun juga secara jiwa rakyat Indonesia. Di Ibukota sebagai pusat pertama dikumandangkanya kemerdaan, ia kembali menuangkanya pada Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Beliau yang merupakan seorang tokoh anti-Kolonialisme & anti-Imperialisme berusaha membangkitkan gelora kemerdekaan Indonesia di tahun 1962 melalui GBK tersebut.

Lebih-lebih setahun sebelumnya, tepat pada titik Zero Point kota Jakarta dan Lapangan Merdeka, disana mulai menjulang sebuah simbol arsitektur kemerdekaan. Ialah yang disebut Monas atau Monumen Nasional dengan arsiteknya Friedrich Silaban dan Soedarsono. Sebuah Monere yang bukan hanya sekedar tempat mengenang tapi ialah sebagai pengingat untuk manusia di tahun berikutnya, terutama saat kemerdekaan.

Istiqlal pun tak akan kalah sebagai salah satu masjid terbesar se-Asia Tenggara. Dengan gaya arsitekturnya memberikan semangat ruang yang luas dan besar simbol kekuatan kemerdekaan Indonesia dan semangat realigi  yang tinggi. Semua semakin jelas ketika semakin bertambahanya bangunan berikut yang ikut meramaikan Ibukota negara.

Di abad ini, tepatnya setelah 69 tahun kemerdekaan Indonesia, semakin banyak muncul skyscraper dan segala rupa macam arsitektur dengan gayanya masing-masing. Namun, semua itu kebanyakan lebih berorientasi pada paham Kapitalisme belaka. Modal seolah berbicara membawa bangsa ini menjulang tinggi.

Meskipun begitu, Arsitektur kemerdekaan seharusnya dapat menjadi sebuah saksi biksu kemerdekaan Indonesia dari tahun ke tahun dan dapat menjadi tameng untuk sebuah tujuan murni memajukan bangsa bertubuh kecil, namun berjiwa besar ini. Ruang yang besar, disitulah kemerdekaan seharusnya tinggal.

Jakarta, 27 Agustus 2014
Generasi Muda Bicara Kemerdekaan Indonesia

4 komentar:

  1. keren, jadi paham, sedikit banyak, mengenai arsitektur. senang masuk ke "dunia" Arsitektur lewat blog ini. tanggalnya bukan 27 Agustus 2014 wan?

    BalasHapus
  2. keren! bukan sebuah gedung yang menjulang tinggi, tapi gedung yang menandakan sebuah kemerdekaan.

    BalasHapus

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch