Air Mengalir dalam darah Pemuda: Water, Sanitation, and Cities Forum (WSC) 2015


 
Jumat (29/05/15), Sebuah acara bernama Youth Program 2015 sebagai hasil kerja sama antara Kementerian Pekerjaan Umum dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga selesai dilaksanakan. Dalam acara ini pemuda dengan latar daerah berbeda dilibatkan dalam isu perbaikan air bersih, sanitasi, dan Permukiman.. Youth Program 2015 telah mengumpulkan 75 peserta nasional maupun internasional dengan kategori sebaai pemuda yang telah/sedang berkiprah di bidang keciptakaryaan dan sosial.

Acara ini diadakan dari tanggal 23 s/d 29 Mei 2015 sebagai bagian dari rangkaian acara Indonesia International Water Week 2015. Puncak acara diadakan di Jakarta Convention Centre (JCC) Senayan bersamaan dengan forum serupa lain. Sebelum acara puncak, peserta dikerahkan untuk mengikuti Field Trip menuju Komplek Rusun BuddhaTzu Chi dimana terdapat komplek Permukiman yang menerapkan konsep sustainable settlement.

Selain itu, kunjungan lapangan juga dilakukan di daerah kelurahan Lenteng Agung. Dua hal terkait pembelajaran soal lingkungan yang peserta bisa dipetik, yaitu mengenai sistem IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan TPST (Tempat Pengelolaan  Sampah Terpadu). Untuk TPST Lenteng Agung dikelola dan dijelaskan oleh Bapak Sarmili, seorang tokoh lingkungan peraih penghargaan Kalpataru yang menjadikan sampah bernilai ekonomis tinggi. Sementara, IPAL Lenteng Agung yang berbasis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dikunjungi peserta setelahnya.

Tujuan dari kunjungan ini adalah agar peserta meninjau kondisi tiap lokasi dari segi keciptakaryaanya yang meliputi penataan bangunan gedung, penataan permukiman, pengelolaan sampah, air limbah dan minuman. Sebagaimana Bapak Aryananda Sihombing (Direktorat Pengembangan Air Minum, Ditjen Cipta Karya) menyebutkan dalam presentasinya bahwa target 100-0-100 untuk permukiman berkelanjutan adalah pada tahun 2019, sehingga diperlukan peran pemuda dalam mewujudkannya.

Selain itu, bagi Dominik Schott (Delegasi Jerman) kegiatan ini menjadi hal yang penting dalam mengimplementasikan program berkelanjutan. “The field visits were in my opinion very important because you can get in touch with real problems,” tutur Dominik, ketika ditanya soal manfaat kegiatan ini. Baginya acara ini meningkatkan relasi antara beberapa Negara partisipan seperti Jerman, India, Thailand, dan Indonesia, sehingga pemuda dalam lingkungan dapat diberdayakan untuk pembangunan berkelanjutan.

Menjadi Sociopreneur Lingkungan

Disamping  kunjungan lapangan, terdapat beberapa seminar/pelatihan yang dibawakan oleh beberapa tokoh muda inspiratif. Salah satunya adalah Nezatullah Ramadhan sebagai pendiri Yayasan Nara Kreatif yang mengusung yayasan peduli lingkungan pengolahan limbah kertas dan organik menjadi produk berdaya guna serta berdaya jual untuk kegiatan sosial. Neza menjelaskan bahwa  sociopreneurship bukanlah sekedar usaha mendapatkan uang semata, melainkan juga bisa memberikan dampak positif pada lingkungan.

Bagi Direktorat Jenderal Cipta Karya, solusi inovatif dari permasalahan pemukiman kumuh, sanitasi yang buruk, serta keterbatasan sumber air minum yang layak di berbagai wilayah Indonesia diharapkan dapat dikembangkan melalui ide dan kreativitas pemuda. Melalui lomba proposal dan pelatihan sebagai bagian dari acara Youth Program 2015, diharapkan dapat memunculkan ide serta jiwa sociopreneurship pemuda dalam memperbaiki wilayahnya.

Peserta lebih diarahkan kepada pengembangan diri untuk bisa menjadi seorang sociopreneurship muda, terkhusus dalam hal ini yang berkaitan dengan sanitasi dan permukiman. Sebagaimana salah satu peserta, Fajri Mulya Iresha menyebutkan, “Acara ini membuat banyak orang lebih peduli dan beraksi dalam menyelesaikan permasalahan permukiman berkelanjutan.” Sebagai Founder dari Zero Waste Indonesia, Fajri berharap masing-masing daerah juga punya program yang sama agar lebih banyak orang yang bergerak. Dengan acara akhir yang ditutup oleh lantunan lagu-lagu daerah dari Jurang Dik Doank (JDK), peserta Youth Program berpisah dibekali semangat pemuda dengan jiwa nasionalismenya.

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch