Kembali Sembuh


Oleh Annisa Dewanti Putri 
Lukisan Paul Robbinson "Mother and Daughter" Sumber: www.redraggallery.co.uk

            Wajah itu tersenyum. Tanpa perlu berkata-kata, hanya mencoba mengutarakan apa yang ingin ditimpalinya. Melalui ekspresi hangat ia mengangkat bibirnya itu. Mata yang begitu lemah memandang namun penuh perhatian. Ibu memang selalu begitu. Itulah yang terjadi kali setiap aku mencurahkan hati dan pikiranku kepadanya. Meski tak banyak komentar, aku tahu ia cukup memperhatikan. Setidaknya aku tambah yakin setelah dipeluknya.

            “Bu, aku memiliki sahabat yang aku rasa ketulusanya melebihi dari sekedar sahabat, rasanya cukup menyenangkan bertukar pikiran denganya,” seruku sambil membalikkan beberapa lembaran pekerjaan yang telah kuselesaikan. Itu setidaknya salah satu kalimat yang pernah kucoba utarakan. Berharap ada timbal balik dari Ibu, aku terkadang tak hentinya berceloteh tentang apapun.

            Pernah sekali waktu aku berbicara soal Entablature. Sebuah kosakata baru mengenai komponen unik antara kolom dan tumpukan diatas balok. Sebuah pengistilahan langka dalam arsitektur. Aneh memang. Bagiku, sebenarnya tak masuk akal aku harus berbicara soal itu pada Ibu yang hanya lulusan Sekolah Menengah. Tapi begitulah, bagiku orang tua adalah tempat kita bisa menyalurkan keluh kesah maupun suka kehidupan. Ialah tempat kita pertama berbicara Mama, atau mungkin Papa, Ibu, Ummi atau panggilan lazim lainya seorang anak.

            Soal kata, memang tak pernah keluar banyak dari mulutnya yang selalu tersenyum itu. Ini terjadi sejak delapan tahun lalu ia menderita suatu kelainan yang bisa dikatakan penyakit cukup langka. Dari segi medis ia sempat divonis Myastenia Graphis. Ada lagi sebuah vonis dengan berbagai macam pengistilahan yang bisa membuat telinga gatal. Tak jarang sekarang, semakin banyak penelitian dan kecanggihan teknologi kesehatan, maka semakin banyak berbagai versi penyakit.

            Hingga suatu hari, Karena merasa lelah dengan penyelesaian secara medis yang tak berujung, alternatif dicoba untuk ditempuhnya. Sebuah jalan yang sebenarnya tak kusangka. Ia dipaksa untuk tidak bergantung pada obat.

            Menderita. Hingga tak kutahan rasanya melihat geraman kesakitan tanda ia membutuhkan obat andalanya itu untuk menghilangkan rasa sakitnya itu. Matanya sendu berharap belas kasihan. Namun tak ada yang mampu meredakanya. Hanya sebuah pil yang ia andalkan.

            Pernah sekali ketika ia terjaga semalaman tak bisa tidur menahan sakitnya itu. Aku hanya bisa menemaninya memeluknya membantunya untuk merasakan ruang mimpi indah yang sudah lama tak ia rasakan.

            Penyakit. Hal ini yang paling bisa menjadi duri bagi manusia. Duri tajam penyiksa namun juga pengingat bahwa manusia bukanlah apa-apa dibanding penciptanya Allah ta’ala. Suatu kali pernah kuberkisah untuk menengkan hati Ibu, bahwa ia bukanlah yang terparah dalam penyakitnya. Seorang Presiden semacam Ir. Soekarno pun pernah sakit dalam detik-detik proklamasi. Bahkan, seorang Nabi Ayub AS juga sepanjang hidupnya mengalami sakit. Pengingat bagi manusia. Bahwa terkadang harta, materi, fisik dan raga tak akan berarti ketika ia diurai rasa sakit.

            Baginya, hati dan pikiran lebih berharga dikala itu. Ya, saat itu sejak mencoba mengurangi penggunaan obat Ibu kembali menjadi Ibu yang kuingat saat masih berumur 6 tahun. Sikapnya kembali, ia seperti mencoba peduli layaknya dulu sebelum ia sakit. Wajah penuh perhatian mencoba merujuku untuk istirahat sejenak. Ia membaca wajahku yang lelah.

            Darisini aku menyadari bahwa ia kembali sehat, bukan hanya secara raga namun juga jiwa. Yang dulu pernah ada kembali menempel pada jiwanya. Ia Ibuku. Yang dulu selalu berkata, “Nak, kamu kenapa?” Yang selalu merasa sedih dikala aku sedih, dan selalu merasa senang dikala aku bahagia. Ialah Ibu yang mencoba kembali sembuh, yang selalu kami rindu.


Jakarta Timur, 29 Juli 2015

2 komentar:

  1. penyakit memang menyiksa setiap manusia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, namun itu bisa jadi pelajaran berharga buat kita sebagai manusia yang tak ada apa-apanya dibanding sang oenguasa :) terimakasih telah mampir ya

      Hapus

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch