Sehari Menggenggam Kyoto

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Jumat, 28 Agustus 2015. Hanya ada waktu sehari kami bisa mengunjungi kota yang katanya bagaikan Jogja nya Jepang. Kyoto, kota di pulau Honshu, Jepang. Kota penuh budaya dimana bisa ditemui rumah ala jepang yang sesungguhnya. Kota dimana shrine dan temple bertebaran di setiap sudutnya.

Saat itu kami pergi berlima. Awalnya bertemu di Umeda Station, Osaka. Barulah mengambil kereta menuju Kyoto Station yang memakan waktu sekitar empat puluh menit. Banyak wisata Kyoto yang bisa dinikmati kaum penjelajah ini, namun jika waktu tak megizinkan, biarlah tiga tempat ini menjadi tujuan kita. Tiga tempat menarik ini yang sangat mewakili Kyoto sehari ini.

Atap Emas di Kinkaku-ji Temple

Kinnkaku-Ji.
Refleksinya begitu indah. Atap berlapis emasnya itu dapat nampak di atas danau yang mengelilinginya. Jam buka untuk Kinkaku-Ji adalah pukul 09.00 s/d 17.00 waktu Jepang. Berbeda dengan kuil Ginnkaku-Ji dimana Gin sebagai perak, disini kinkaku-Ji merefleksikan emas. Ini adalah kuil yang semula berfungsi sebagai Villa milik Shogun Ashikaga.

Harga tiket masuk saat itu ialah 400 yen atau sekitar Rp. 42.500 saat itu. Setelah membayar tiket unik bertuliskan kanji dengan stempel  akan diterima pengunjung. Sedikit lurus akan kita temui sebuah panorama hijau, indah layaknya rerimbunan Kasur hijau menghampar.

Saat itu musim panas. Hijaulah yang ditemui. Di musim gugur, mereka mengatakan bahwa merah oranye yang akan menghiasinya. Lain halnya saat musim semi, bunga sakura bertebaran disana. Sementara, saat musim dingin ada kala seharinya kita bisa melihat selimut salju yang menutupi atap kecil kinnkaku-Ji itu.

Kinnka-Ji dan tamanya memang sangat mewakili taman jepang yang terlihat klasik. Taman jepang dikala periode Muromachi. Semacam inilah kompleksitas yang bisa kita saksikan, tak beda jauh dari beberapa taman lain disekitar.

Disini, bisa ditemui toko souvenir khas Kinnka-Ji yang tak bisa ditemui diluar. Berbagai macam alat kerajinan hingga aksesoris bisa didapatkan. Sebagai contoh untuk kisaran harga gantungan kunci disana antara 450 s/d 1.000 yen. Memang cukup mahal, setidaknya kartu pos dengan gambar Kinnkaku-Ji atau gambar khas jepang lainya bisa didapatkan seharga 90 s/d 100 yen (sekitar Rp.12.000,00 saat itu).

Kunjungan kami saat itu berlangsung sekitar satu jam di Kinkaku-Ji. Keluar dari gapura disana, akan nampak semacam bukit dengan lahan kosong berbentuk bintang yang katanya akan menyala dikala festival atau ritual.

Kyoto Imperial Palace

Menapaki gerbang dan hamparan jalan yang begitu luas, kami sebelumnya perlu memasuki bagian kantor informasi terlebih dahulu. Sedikit berbeda, Kyoto Imperial Palace memanjakan pengunjungnya dengan menyediakan pendaftaran berdasarkan rombongan pengunjung. Pihak pengelola selanjutnya memberikan form untuk selanjutnya diisi pengunjung dan dikumpulkan terlebih dahulu.

Saat itu, kami daftar pukul 11.00 dan mendapatkan giliran rombongan kunjungan pukul 14.00. Meski perlu mendaftar terlebih dahulu, sangat diuntungkan karena tiket masuk disini gratis. Jadilah kami menyempatkan berkunjung ke Kyoto Islamic centre  sebelum jadwal tur rombongan di Kyoto Imperial Palace dimulai. Letak Islamic centre juga tak jauh dari lokasi ini, tepatnya berdekatan dengan Kyoto, School of Medicine.

Kembali sebelum pukul 14.00, maka pengunjung diperkenankan menunggu di ruang tunggu gerbang Kyoto Imperial Palace sebelum semua pengunjung terdaftar berkumpul. Tepat jadwal pukul 14.00, tur pun dimulai dengan mengelilingi setiap sudut. Hal yang sering diungkap oleh tour guide bahwa memang sistem kasta pada zaman dahulu sangat terlihat. Nampak pada semacam garis pemisah dalam setiap bagian  rumah di tempat ini.

Sekitar 1 jam tur berbahasa inggris itu pun selesai. Perlu diingat, untuk pengunjung yang membawa barang berlebih, sebenarnya terdapat fasilitas loker di tempat menunggu. Jadi ada baiknya datang lebih awal agar tidak kehabisan loker.

Puncak di Fushimi Inari

Bagi kami, perjalanan disini memang seharusnya dilakukan saat tubuh dalam keadaan bugar. Tak kalah dengan pendakian biasanya ke puncak gunung, Fushimi Inari menawarkan hal tersebut namun dengan gaya pendakian menggunakan tangga. Layaknya sebuah stairventure, kaki kita ditantang untuk terus mendaki sampai pada puncaknya.

Masuk menapaki jalan yang akan disambut oleh sekitar 10.000 Tori Gate. Seolah-olah seperti domino, sepanjang jalan tersusun sampai pada puncaknya. Untuk menambah semangat, satu hal yang perlu dicatat, bahwa masuk ke Fushimi Inari tidak dikenakan harga alias gratis. Namun, tetaplah tantangan menuju atap puncak Fushimi Inari yang ternyata menyediakan trail (sejenis kereta tua) untuk turun setelah pendakian.

Sesungguhnya, waktu yang terbilang sudah mendekati malam dan tubuh yang sudah lelah sebelumnya membuat kami hanya sampai pada stop point. Sudah cukup memuaskan, disini panorama kota Kyoto sudah bisa terlihat jelas. Namun, lebih menyenangkan lagi jika dilakukan di pagi hari secara santai hingga puncak teratas Mount Inari.

Panorama Kyoto
Meski begitu, pendakian mendekat malam juga tak kalah seru, gemerlap lampu seolah menerangi malam sangat indah dilihat dikala itu. Jadi selamat menikmati dan menggenggam Kyoto lebih erat melalui tempat-tempat luar biasa lain yang tak kalah epic.

Tak lupa, sebelumnya penulis ingin mengucapkan terimakasih special untuk kedua Dosen Penulis, Ibu Sittati Musalamah dan Ibu Ririt Aprilin yang selalu membimbing dan tak pernah kehabisan semangat layaknya Kakashi-Sensei yang membimbing Naruto. Juga untuk rekan seperjuangan, Ines Wahyuniati Riza yang selalu berapi-api bagai matahari. Lalu terakhir Kak Syafri Wardi, sang pemandu cerdas yang handal mengatur waktu dan tak pernah lelah layaknya Ultraman. Tanpa kalian, aku hanyalah setitik debu yang tak mengerti apa-apa di Jepang.

Arigato Gozaimasu.

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch