Suatu Hari di Musim Gugur

Daun yang tergores. Sumber: Penulis, 2017

Daun memang tak pernah abadi. Ia berubah, tak hanya warna, tapi lekukan kulitnya layak kulit manusia ikut keriput. Umurnya hanya sebentar. Ia menjadi pengingat akan waktu yang selalu berputar. Terkadang ia mengingatkan daun lainya untuk jangan lupa menanggalkan diri.

Ia tak jatuh sendirian. Teman-temanya setia ikuta berjatuhan setelah berubah menjadi sosok yang tak diinginkan. Jalan beraspal hanya mampu menjadi penolong sebelum ia jatuh ke lubang lebih dalam.
Begitupula dengan angin, ia hanya membantu meringankan beban agar daun tak sakit menghantam jalan.

Kembali ke warna. Warna sebagai refleksi. Yang cerah tak selamanya cerah. Begitupula yang pudar. Tanda adanya perubahan momen yang ada kalanya dinantikan atau adakalanya diabaikan. Sang manusia hanya bisa berfoto denganya.

Sementara gugur menjadi cerita. Dibalik gugur daunlah sang tokoh utama. Antara daun menguning yang selalu dicari sang kertas. Tanpa daun, kertas itu tak pernah jadi goresan. Jadi kisah dinatara gugur berakhir di kisah antara kertas, buku, dan coretan.

Beijing, 28 November 2017.

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch