2018: Bulan-bulan Penuh seribu Pelangi Bagian 2

Kenapa penuh seribu pelangi? Karena aku mengenal banyak warna baru di tahun ini.

Karena di tahun ini aku begitu banyak bertemu orang baru yang tak hanya aku temui tapi rasanya aku mengenali mereka lebih dalam. Tentunya bertemu dan berkenalan adalah hal yang sangat berbeda jauh. Bertemu bisa saja terjadi di keramaian tempat tanpa mungkin mengenalinya, Namun, makna mengenal disini bagiku adalah bisa mengetahui juga kisah dan cerita dari diri yang kutemui itu. Dari mulai haru, senang, sampai sedih kurasakan karena seorang yang kuanggap seperti keluarga sendiripun harus berpulang di kota Beijing. Dan semua naik turun ini ini banyak kurasakan di tahun 2018 ini.

Juli-Agustus: Kembali Lagi Lembaran Baru
Saat itu aku mendapat mandat juga untuk menyelesaikan sebuah ilustrasi untuk buku. Meskipun bidang keilmuan ku bukan di bidang seni, tapi karena hobi ini menjadikanku untuk bisa menjadi illustrator dalam buku ini. Pada bulan ini juga aku menyaksikan banyak momen bahagian kelulusan teman-temanku di Beijing. Bersama Cece dan Bang Afif kami juga sempat kabur sejenak ke kota Tianjin untuk hunting foto. Yang menyenangkan adalah bahwa kami bisa saling memoto.
Kepulangan ke Indonesia juga memberikan cerita tersendiri. Di bulan itu, aku pulang namun seperti hanya sekilas karena kepulanganku lebih sering dihabiskan di luar karena berbagi kegiatan yang ada. Alhasil, mama sempat mengeluh dan menjadikanku harus bertekad untuk pulang juga pada liburan berikutnya.

Berkelana Jeprat jepret bareng afif dan cece, Tianjin

PPIT Edu Expo. Aku terlibat untuk membantu dalam Edu Expo Jakarta, Bandung, dan Bogor. Sambil mewakili studi tiongkok juga, aku mencoba sedikit membantu teman-teman merealisasikan acara yang bertujuan baik ini.  Ada tiga penamaan berbeda dari tiga tim kotaku ini, Tim Bandung lautan api, FF6 Bogor (Fast Furious, Karena kita sempat ngebut2an pas komvoy bawa mobil, jangan ditiru ya), dan tim kokasnya Jakarta (Karena kokas di Jakarta). Disini aku bertemu banyak teman-teman tim yang asiknya diancungi jempol. Kita bisa inisiasi acara dalam waktu yang sangat mepet, memang lelah dan capek sekali menjelang hari H. Tapi ketika bisa berbagi bersama teman-teman rasanya sudah bahagia sekali.

CIDY 2018. Conference of Indonesia Diaspora Youth 2018, mewakili undangan untuk teman-teman PPI Dunia, aku ikut kecebur di dalamnya juga. Tentunya seminar dan workshop kala itu sangat bermanfaat dan semakin ngebuka mata soal Diaspora di dunia. Ini juga hari pertama aku ketemu langsung sama Mbak Ita (Shinta Amalina) ku selama ini kami hanya kerja jarak jauh dan somplak-somplakan jarak jauh. Tapi si pemegang rekor Muri itu di hari itu sudah berasa akrab banget rasanya, baru ketemu aku udah diunyel-unyel dan aku dicubitin,  dan enak banget aku ngecengin dia juga tentang rekor MURInya sebagai perempuan termuda S3.

Ekspedisi Cilincing. Program live-in yang dilaksanakan oleh Departemen Sosialnya PPIT ini sungguh menyenangkan karena disini kita ditantang buat lagi-lagi keluar dari zona nyaman dan terjun ke masyarakat. Unik karena lagi-lagi disini aku bertemu dengan teman-teman baru yang punya warna dan ceritanya sendiri. Hingga kusadari bahwa semua manusia di Bumi ini unik dan special. Sama seperti keluarga kecil yang menjadi tempat tinggalku saat itu. Banyak cerita masyarakat yang membuatku tenggelam juga di dalam kisahnya. Lagi-lagi membuatku untuk lebih bersyukur dan bangga bisa berkenalan dengan teman-teman yang mau terlibat di program ini.

September-Oktober: Yang Tak Disangka
Bulan ini setiba di Beijing akupun tak tahu kenapa begitu sakitnya hati menyesuaikan lagi harus keluar dari zona nyaman setelah kembali dari tanah air. Dimana tahun peneilitian bagiku adalah tahun yang cukup serius karena dibebani dengan tanggung jawab untuk terus menghasilkan progress yang secara keilmuan harus benar. Rangkaian rutinitasku pun dari pagi hingga malam pada hari biasa adalah kembali bereksperimen atau ke laboratorium.

Pun terkadang bersama rekan Urban Sketcher Beijing aku masih suka melepas penat dengan ikut sketchwalking dan pameran bareng. Namun, terhitung di semeseter ini kegiatan livesketching ku sedikit berkurang intensitasny disbanding semester sebelumnya.

Banyak berita tak disangka yang menjadikan aku, elke, Tiffany, dan beberapa teman-teman PPIT Pusat yang harus tiba-tiba terjun untuk mengurus Rapat Kerja Tengah Tahun (RKTT) di Beijing. Beruntungnya, disini Elke bisa sangat diandalakan dan enak diajak kerjasama. Tak lupa juga teman-teman Permit kepengurusan baru juga sangat enak untuk digandeng. Menjadikan pekerjaan ini lelah namun menyenangkan untuk dijalani.

Selain itu aku ditawarkan untuk bisa masuk dalam tim Indonesia Diaspora Connect oleh Foundernya Bang Arief, awalnya aku keberatan karena terlampau banyak amanah yang aku lewati. Namun, setelah aku mempertimbangkan bahwa misi dan visi IDC ini sangat baik untuk jangka panjang. Jadilah aku sepakat untuk bergabung.

November-Desember: Semua Tentang Penelitian
Di bulan ini aku berhasil menggandeng Kak Made (Pegiat dan mahasiswa S3 Porto University) dan Kak Riri (Traveler dan aktivis Lingkungan) untuk jadi bagian dari roda Greentastik_id ke depannya. Lalu, di bulan ini aku bagaikan tertampar oleh banyak pengingat soal penelitianku di bagian kedua ini yang cukup mengurus mental karena sulitnya bidang penelitian yang menharuskan ku belajar lintas jurusan. Pun tantangannya disini bukanlah seperti di Indonesia yang bisa dengan bebas berdiskusi dan belajar bersama. Konsep disini lebih ‘Self Study’ dan mandiri juga diperkuat dengan tekad kerja keras.

Photo Competitin mewakili Indonesia

Berita terbaik adalah setelah aku mengikuti seleksi kontes fotografi yang cukup ketat dan dinilai langsung oleh ahli fotografer. Karena kompetisi ini tak hanya mencakup pemuda dan pelajar, tapi juga seluruh masyarakat umum maupun professional. Alhamdulillah dari total seribu lebih karya yang masuk, foto ku masuk ke dalam Top 50 Best Shot. Disini ada kategori lain untuk Online Vote dimana butuh like dari akun lain di Wechat. Usahaku hanya rajin membagikan di grup dan berharap di bagikan kembali oleh teman-teman dan Alhamdulillah tidak sedikit dari mereka membantuku menyebarkan link voting ini.

Pada akhirnya Alhamdulillah di acara puncak penyerahan penghargaan, fotoku “Beijing Art Never Dies” mendapatkan juara III untuk kategori Expert Views (Penilaian juri professional) dan juara I untuk Online Voting. Di hari bahagia ini, ada kejadian mengesalkan dimana aku tersangkut di dalam yurongfu karena reseleting macet dan menyebabkan aku harus merusak paksa jaketku itu. Lalu Plakat penghargaan ku yang setelah di foto gelinding di tangga lantai dua hingga pecah atasnya. Namun, semua itu tetap kusyukuri karena proses dibalik gambar ini yang kunikmati.

Mendekati akhir tahun, tepatnya 27 Desember, ada kejadian yang berikutnya membuatku sedih namun jadi membuatkau semakin bersyukur. Salah satu lab teman seangkatanku di Beijing Jiaotong University kebakaran dan memakan tiga korban mahasiswa meninggal. Aku dan pihak kampus turut bersedih dan dampak ini membuat semua lab eksperimen kami dan kampus lain jadi semakin ketat. Namun, aku jadi semakin bersyukur bahwa dulu aku nyaris menjadi bagian dari lab Teknik Lingkungan itu, namun Professor struktur lebih memilihku berada di Lab Gujian. Entah Wallahualam apa yang terjadi jika aku tetap bersikekeh di lab teknik lingkungan tempat kejadian itu.

29 Desember, Fun For Fun ke greatwall. Bareng Departemen PPI Tiongkok dan Penulis novel Candi Brahu Pak Yos. Kita ditantang untuk lari 2 Km di Tembok Raksasa. Cukup menarik, dengan dalih mendapatkan medali aku mencoba ambil tantangan itu lalu sambil menyelam minum air juga sempat menuliskan dan mendokumentasikan perjalanan teman-teman disini.

Pada 30 Desember, tanggal yang sempat ku tak hiraukan karena itu hari lahirku dahulu kala yang mana setiap detik mengingatkan ku akan segala kesalahan yang kulakukan. Namun, aku juga senang karena doa-doa, hadiah-hadiah, dan motivasi dari keluarga, sahabat, teman-teman dan saudara. Di hari itu, aku kebanjiran beberapa peritilan hadiah, buku, bahkan ucapan baik dari kawan Indonesian ku maupun kawan internasional ku di jurusan dan dorm dan itu cukup membuatku senyum. Dan yang terpenting di siang hari sambil makan siang, mendapat banyak wejangan dan bekal super dari kakak-kakaku di Beijing yang sudah seperti kakak sendiri, sebutlah Mba Aang, ci Okky, dan Mbak tika. Di malam hari pun, tak kalah spesial oleh TED ku, Elke si Elpiji dan Tiffany si Cabe memberikan surprise yang bukan kejutan. Mereka pun menghabiskan tanggal 30 ku ini sambil rapat PUSMEDKOM PPIT sampai keesokan harinya. Benar-benar 2018 ini aku banyak bertemu orang-orang yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri. Aku sayang mereka semua, semua adalah pelangi bagiku.

Terakhir, di hari terakhir 2018 pun, aku dihadapakan oleh Deadline akhir tahun terkhusus untuk labku tercinta. Alhasil aku menghabiskan banyak waktu di lab dan dorm untuk membantu menyelesaikan laporan dan presentasi yang nantinya akan disampaikan pada pemerintah Shaanxi di awal tahun.

Teruntuk Mama, Papa, Keluarga, SLK, LKM UNJ, Event Hunter Indonesia (EHI), UNJkita.com, Lingkar Pengajian Beijing (LPB), PPI Dunia, PPI Tiongkok, Greentastik Indonesia, Urban Sketcher Beijing, Pustaka Kaji, Indonesian Diaspora Connect, Studi Tiongkok, CAYC 2018, ISCES 2018, Tim Gujian, semua sahabatku dan teman-teman yang terlibat dalam tahun 2018 ini. Terimakasih tidaklah cukup, tapi aku bersyukur karena semua bisa jadi pelangiku disini.

Beijing, Desember 2018. Saat aku menyadari dan bersyukur bahwa yang kualami adalah pelangi darimu Ya Rabb.

0 comments:

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch