Taipei, Sebuah Perjalanan Sekotak Pengalaman

Oleh: Annisa Dewanti Putri

Semua keberangkatan menuju ibukota Negara Taiwan ini berawal dari ide dan semangat Dosenku Ibu Ririt Aprilin yang meyakinkan untuk bisa ikut mengirimkan abstrak sederhana mengenai topik terkait tersebut, terkhusus mengenai bangunan. Maka setelah mengawali penulisan abstrak yang bagiku sama saja sudah memulai suatu langkah menuju jalan tertentu, maka aku harus mengakhirinya juga.

Saat itu hari Selasa, 20 Mei 2014. 
Langit Jakarta terlihat cerah. Bersama kedua orang tua aku berangkat menuju bandara Internasional Soekarno Hatta. Kepergianku dari tanah air saat itu bertujuan untuk menghadiri International Symposium on Reliability Engineering 2014. Sebuah simposium yang membahas mengenai masalah manajemen resiko dalam bidang teknik.

National Taiwan University of Science & Tech.
Jadwal dihari itu sebenarnya tak cukup padat, hanya sebuah wellcome reception yang dihadiri oleh delegasi yang sudah lebih awal sampai, termasuk kedua dosenku (Ibu Ririt Aprilin S, dan Ibu Sittati Musalamah). Aku melewatkan momen itu karena baru menginjakkan kaki di Kota Taipei sekitar pukul 21.20 waktu setempat. Kedatanganku lagi-lagi disambut oleh dosenku dan temannya yang turut mengantar (Mbak Lilik dan Mas Yusuf).  

Mba lilik merupakan mahasiswi Taiwan Tech (NTUST) yang sedang mengambil program Phd, ia juga seorang chef handal. Sementara, Mas Yusuf adalah seorang lulusan Master yang sedang bekerja di Taiwan. Mereka mengantar kami sampai depan Dorm sekaligus Guest House yang letaknya masih dalam area kampus National Taiwan University of Science and Technology. Ungkapan terimakasih teramat tak terhingga untuk mereka. :D

Malam itu karena acara telah selesai, aku hanya bisa menikmati istirahat dalam kamar yang kata dosenku telah direservasi oleh Professor Chien Kuo Chiu untuk kami. Kamar itu begitu nyaman menyambut tubuh ini yang begitu lelah, terimakasih banyak Ibu Ririt dan Profesor Chien.

Rabu, 21 Mei 2014.

Langit diluar jendela terlihat murung dan hujan. Namun, semangat ini tetap membara untuk langsung salat dan bersiap-siap mengikuti ISRERM 2014. Pukul 05.30 waktu Taiwan sudah menunjukkan kondisi langit yang sudah mulai siang. Namun, pukul 08.30 adalah waktu tepat aku harus bersiap di depan kamar untuk berangkat bersama kedua dosen.

Acara berlangsung di International Building Taiwan Tech. Letaknya persis disebelah gerbang masuk kampus. Rangkaian acara di hari itu diawali dengan Opening Ceremony diikuti dengan materi oleh Prof. Luis Esteva asal National University of Mexico. Ia berbicara mengenai evaluasi kegempaan pada bangunan tidak beraturan.  Dr.John Chien Chung Li juga memberikan materi perihal Proyek Wu Yang yang cukup menarik.

Agenda berikutnya adalah terkait simposium delegasi. Delegasi yang telah melengkapi full paper dipersilakan untuk mempresentasikanya di depan para peneliti, mahasiswa, dosen, ahli dan pihak lainya dalam simposium ini. Kedua dosenku termasuk yang mendapatkan jadwal presentasi dihari ini.  Kunjungan TBTC adalah yang berikutnya, namun akan membuahkan tulisan tersendiri.

Usai agenda simposium telah selesai, aku memutuskan untuk ikut bersama dosen-dosenku keluar untuk makan malam di Kota Taipei. Malam disana begitu hidup, manusia masih mencari arah dibawah gemerlapnya lampu dan cahaya gedung. Taipei adalah kota, namun ia bukanlah nekropolis (sebuah kota mati yang memisahkan diri). Semua manusia membaru menjadi satu dalam wadah moda transportasi publik.

Aku mencicipi menaiki salah satu moda tersebut, MRT. Bersama mbak Lili kami ditemani dan sampai pada sebuah resto Halal yang menyediakn menu Nuo Ro Mien, begitulah katanya. Sejenis mie dengan kuah daging yang kami makan bersama dimsum sapi. Pulang dengan keadaan gerimis kami lalui lagi. Perjalanan selama di Taipei dilalui menggunakan Bus seharga ± 12-15 NTD. Tak lupa demi menghemat kami juga menaiki MRT (Mass Rapid Transit) seharga 20-30 NTD. Terbilang cukup murah karena saat itu nilai 1 NTD adalah ± Rp.360,00.

Hari menegangkan. Kamis, 22 Mei 2014.

Awal sesi dibuka oleh kuliah oleh  Prof. Zhao yang berbicara mengenai metode sederhana dalam Load Resistance Factor (LRFD), kemudian dilanjutkan oleh dua profesor lainya yang tak kalah handal.  Setelah sesi kuliah, seperti biasa agenda berikutnya adalah Parallel Session dan saat itu giliranku.

Aku tak pernah menyangka bahwa harus berbicara mengenai karya tulis yang kubahas  mengenai rumah tradisional Provinsi Papua, didepan para ahli yang tingkat ilmunya jauh diatasku. Aku saat itu merasa seperti seekor burung yang ingin mencoba terbang depan seekor Rajawali. Setelah mencoba santai dan penjelasan dariku berakhir, Profesor Fu Pei sedikit bertanya. Mungkin jawabanku tak terlalu lengkap namun karena waktu, beliau memahami dan mengangguk. Setelah saat itu aku merasa bebas beban.

Pada malam hari setelah simposiusm, kedua dosenku memutuskan untuk berjalan membeli buah tangan di daerah Taipei Main Station. Lagi, untuk menghemat, MRT menjadi andalan transportasi kami. Menggunakan koin biru kecil yang keluar dari mesin, kami sampai di mall sederhana yang merangkap sebagai statsiun juga.

Penutupan. Jumat, 23 Mei  2014

Di hari Jumat, aku tak merasakan kepadatan yang teramat. Mengingat setelah pemaparan Keynote Speaker, hanya diikuti oleh Parallel Session 1. Artinya hanya sampai pukul 15.00 waktu setempat.
Kuliah pertama disampaikan oleh Prof.Chen. Ia membahas mengenai Reliabilitas Global dari struktur yang terkena gempa.  Angka demi rumus berjalan disetiap slide, menjadikan otak seperti harus berkonsentrasi penuh. Dilanjutkan oleh materi Dr. Li Min Zhang terkait evaluasi resiko pada DAM atau bendungan. Bagian ini sedikit mengarah ke perairan. Sampai pada sesi terakhir Prof. Kok Kwang Phoon  menyampaikan risk assessment lebih kearah Geoteknik. Disini aku sedikit sulit menyerap materi, namun kubayangkan semua materi adalah hal yang menarik untuk dipelajari.

Parallel session edisi terakhir berlangsung setelah makan siang. Aku dan ibu ririt menuju ruang 201 yang selanjutnya disusul oleh ibu Sitta. Pembahasan di ruang ini lebih terofkus pada pengamblan keputusan dalam sebuah resiko bencana. Tak salah memilih ruang ini, mengingat banyak hal menarik dari para pemakalah yang disampaikan.

Beberapa diantaranya adalah mengenai ide membuat jalur evakuasi otomatis oleh salah satu mahasiswa NTU (National Taiwan University). Dalam hal ini, aku teringat oleh beberapa ide PKM (Program Kreavitias Mahasiswa) mahasiswa di Indonesia. Mereka sebenarnya memiliki ide yang lebih mumpun dan bisa dikembangkan di tingkat internasional.


Bersama prof. Esteva, Prof. Chien dll.
 Sesi ini dittup oleh pemaparan seorang ahli Psikologi konseling yang tersasar dalam simposium keteknikan ini. Cukup menarik, dosenku sempat berkata “Saya serasa dicuci otaknya setelah banyak pemaparan tentang rumus, lalu nyasar pemaparan mengenai Ilmu Jiwa.” Materi yang dipaparkan memang terkait Teknik Keandalan dan manajemen resiko, namun ia lebih kepada perasaan manusia terhadap sebuah kebijakan atas bahaya yang mungkin mengancam manusia. Dalam hal ini, manusia tak merasa nyaman. Siapakah yang salah, insinyur, psikolog, pemerintah, atau individu tersendiri? 
Semua masih berupa tanda tanya dan tak perlu saling menyalahkan. Itulah akhir simposium dan Penutupan dilakukan.

Epiloge Post Symposium Tour. Sabtu, 24 Mei 2014

Dihari itu penuh dengan cerita karena kami mengunjungi tiga tempat ajaib di Taiwan. Tempat itu adalah National Palace Museum, Yamingkashen National Park, dan Beitou Spring. Pembahasan mengenai ketiga tempat tersebut akan menjadi tulisan tersendiri berikutnya. Hari itu memang hari terkahir yang sungguh bermakna.
National Pallace Museum

Malam terkahir kami bertemu dengan Ms.Candice. Wanita Taiwan yang selalu membuat ketawa dan selalu ingin belajar hal baru mengenai trend Indonesia. Menurutku ia memang sudah mengenal negara Indonesia namun mungkin kebanyakan bagian hitamnya saja. Itu selalu dijadikan lawakan. Satu yang kuingat “We can pay using Leaves in Indonesia.” Teringat Film Susana.

Malam itu malam yang sempurna ketika diakhiri dengan perjalanan menuju Taipei 101 yang selalu kulihat di National Geographic. Sebuah bangunan yang memiliki damper diatasnya untuk menstabilkan beban angin dan gempa yang terjadi.

Banyak hal yang kupelajari dari mengikuti simposium ini, tak lain bahwa resiko dalam hidup perlu dipertimbangkan mengingat manusia sebagai makhluk memiliki Hak untuk hidup. Rasa aman akan berbagai hal terutama bencana menjadi bagian dalam kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow. Manusia butuh dihargai.


Salam dari Penulis :D
 Taipei berbicara hal lain tentang sebuah kota. Terimakasih untuk semua  kesempatan dan support yang telah diberikan untuk mahasiswa ini. Tanpa semua support itu, aku tak mungkin menerima sekotak pengalaman berharga dari negara mungil ini. :D

7 komentar:

  1. makasih juga buat dewanti yang sudah presentasi dengan baik..at least better than me..hihihi

    btw, mbak lilik itu mhswi PhD sekarang..trus mas yusuf itu sudah lulus S2 sejak 2013 dan sedang bekerja di Taipei sekarang..hahaha..

    let's prepare another paper for Korea or Japan..hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh bu, pemaparaan presentasi saya trlalu cupu dan dasar sekali :D haha..

      wah iya >_< aduh maaf bu ririt, sdh saya perbaiki ko wkwkwkwk..

      I really want to, I hope I can XD prlu banyak belajar lagi nih bu

      Hapus
  2. Terimakasih untuk kak Dewanti yan telah memotivasi adik -adiknya di LKM untuk selalu berkariya dan jangan takut salah dalam berkariya,dan selalu motivasi kami untuk terus berproses dalam menjalankan sesuatu untuk mencapai tujuan.

    Tetap semagat dan tetap terseyum kaka dewan sang Inspirasi,Kami adik -adikku akan mengikuti jejakmu mengarungi dunia untuk memperkaya Ilmu untuk kemudahan hidup dan cakap menghadapi masalah. ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Hamdan juga yg telah selalu menularkan semangatnya kpd yg lain termasuk saya. Semangat hamdan tak pernah padam layak sebuah filsuf pemimpin di tulisan hamdan itu.
      Selain mengarungi dunia, karungi juga Indonesia yang merupakan berlian tmpt kita tinggal.
      Semangat hamdan sang penulis :D

      Hapus
  3. Terimakasih Hamdan juga yg telah selalu menularkan semangatnya kpd yg lain termasuk saya. Semangat hamdan tak pernah padam layak sebuah filsuf pemimpin di tulisan hamdan itu.
    Selain mengarungi dunia, karungi juga Indonesia yang merupakan berlian tmpt kita tinggal.
    Semangat hamdan sang penulis :D

    BalasHapus

Copyright © 2013 Re-Write and Re-Sketch