Monday, May 04, 2020

Dari Desain Ekologis Menuju TOD?


Oleh: Annisa Dewanti Putri

“A developed country is not a place where the poor have cars, it’s where the rich ride public transportation” ujar Enrique Penalosa, Mayor kota Bogota (1998-2001).

Urban Sustainable Transportation saat ini menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam kesuksesan perkembangan kota (Drastiani, 2019). Ini adalah bagian dari kelanjutan dari skala desain menuju lingkup yang lebih besar lagi. Belajar dari kota Palembang yang sudah memulai proyek pendukung TOD melalui LRT (Light Rapid Transit). Bagi sebagian Urbanis, proyek ini memang  menjadi dilema. Apakah menjadi pemenuhan untuk kebutuhan sesaat, atau memang dikembankan berkelanjutan memadu prinsip TOD.

Transit oriented Development atau disingkat TOD adalah istilah yang masih belum familiar di khalayak umum. Konsep ini berusaha menggabungkan beberapa elemen yang terpusat dalam satu komunitas untuk keperlruan masyarakat umum. Tentunya, berdasarkan Ditjen Tata Ruang, TOD dimaksudkan untuk pengembangan kawasan seitar simpul transit, integrasi angkutan umum massal juga transportasi tidak bermotor,  pengurangan kendaraan bermotor.

TOD berusaha menjadikan Mixed Used Community yang mendorong manusia untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk hidup dekat dengan jalur servis transit dan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat kepada kendaraan sendiri (Still 2002, Bernick, and Cerveri 1997). Dari poin ini, TOD menjadi sarana untuk bisa mengurangi emisi karbon dan menuju kota berkelanjutan.

TOD mengadaptasi 6 kunci dari konsep smart growth yaitu Compact, Multi use development, yang mana ruang bisa didgunakan untuk berbagai keprluan masyarakat. Open space atau sarana ruang terbuka untuk keperluan konservasi. Pengembangan mobilitas juga menjadikan TOD menjadi kawasan yang saling terintegrasi antara moda transportas public sehingga memudahkan masyarakat berpindah antara moda satu ke lainnya.

Infill, redevelopment, dan adaptasi dari penggunaan ulang untuk area yang sudah dibangun. Mendayagunakan fasilitas yang sudah ada menjadi ruang public masyarakat. Keuntungan yang bisa ditarik dari sisi keberlanjutan lingkungan yaitu mengurangi kemacetan lalu lintas sebagai salah satu sumber Pencemaran Udara. Selanjutnya, TOD menekan penggunaan bahan bakar juga bisa menjadi konservasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa meningkatkan kualitas udara yang lebih baik.  Interaksi positif masyarakat, meningkatkan akses dan kesempatan untuk pekerja, dan kesehatan juga kedekatan masyarakat.


Gambar: Ilustrasi Konsep TOD. ITDP, 2014. 

Menurut Nirwono, peran angkutan umum semakin besar, modal share angkutan umum menurun hingga 27 persen (2010). Dengan menyatukan sistem yang berbeda antar moda, menyusun keanekaragaman penggunaan, menjadikan variasi dalam pemilihan alternatif perjalanan mendukung konsep yang ada.

Kenyamanan dan kepercayaan masyarakat terhadap akurasi perjalanan melalui TOD menjadi bagian daripada motivasi yang menyandarkan mereka untuk menggunakan transportasi publik. Kesediaan layanan meningkatkan daya guna masyarakat sehingga di kemudian hari dapat menekan ledakan.

Sekarang, mengikuti perkembangan teknologi dan moda transportasi, lingkungan keberlanjutan memang tidak akan terlepas dari peran pemerintah dan masyarakat dalam menjalankan sistemnya. Dalam wacana Proyek Strategi Nasional (PSN), perencanaan dengan konsep TOD memang sudah mulai diselipkan setelah berbagai proyek transportasi TOD, barangkali ialah konsep angan atau benar adanya sebagai konsep Integrasi transportasi dan lingkungan masyrakat. Bisa jadi suatu konsep untuk menjadikan kota memiliki desain ekologis yang tidak wacana belaka.

Referensi:
Fritz Akhmad Nuzir, I Nyoman Gede Mahaputra, et al. 2019. Antologi Kota Indonesia. Jakarta: OMAH Library.

Institute for Transportation & Development Policy (ITDP). www.itdp.org diakses pada tanggal 1 April 2020 pukul 11.16 WIB.

Joga, Nirwono. 2017. Mewariskan Kota Layak Huni. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusumawijaya, Marco. 2006. Kota Rumah Kita. Jakarta: Borneo Publications.

Kubba, S. 2017. Handbook of GREEN BUILDING DESIGN AND CONSTRUCTION: LEED, BREEAM, and Green Globes. Joe Hayton.

Laksono, Eko. 2013. Universalis Metropolis. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo.

Rizka Drastiani. 2019. Esai Dilema LRT dengan Rencana Skema Pengembangan Transit Oriented Development (TOD) di Kota Palembang. Jakarta: OMAH Library.

0 comments:

Post a Comment